Bab Tujuh Puluh Delapan: Kutukan Langit
Di luar kantor asisten pemerintahan, sudah banyak tandu yang terparkir. Sejak terakhir kali mengalami kemalangan, si asisten tua yang licik itu segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Perselisihannya dengan bupati Zhu sudah jadi rahasia umum, bahkan kabarnya di istana sudah ada yang mulai mengajukan tuntutan terhadap dirinya.
Saat ini, ia berada di ujung tanduk; kini ia memilih berpura-pura sakit, menunggu putusan dari istana. Siapa sangka, pada saat seperti ini, wabah besar mulai menunjukkan gejalanya.
Wabah seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa dihindari hanya dengan mengaku sakit. Ia masih ingat jelas, lima belas tahun silam, penyakit ganas melanda, menyebabkan seratus ribu jiwa tewas, menyapu bersih daerah selatan. Setelah itu, pemerintah pusat melakukan perhitungan, puluhan pejabat daerah di selatan digulung, rumah mereka disita, keluarga mereka dimusnahkan, dan pejabat yang dipancung atau dipecat tak terhitung jumlahnya.
Singkatnya, dengan begitu banyak korban, pemerintah harus memberikan pertanggungjawaban kepada rakyat. Maka harus ada yang dijadikan kambing hitam, dan hukuman berat itu hanyalah cara untuk meredam kemarahan rakyat, tanpa sedikit pun alasan yang masuk akal.
Seluruh jajaran pejabat di Istana Jinling pun diliputi ketegangan. Para bupati dari setiap daerah bergegas datang ke kantor asisten pemerintahan, memenuhi ruangan utama.
Asisten pemerintahan itu hendak menuju ruang depan untuk naik ke kursi kehormatan, namun seorang pejabat pencatat datang melapor, “Tuan, ada utusan dari ibu kota.”
“Dari ibu kota?” Ia tertegun sejenak, musibah baru saja terjadi di sini, kini utusan dari ibu kota sudah tiba? Siapakah gerangan yang datang ini?
Setiap urusan menyangkut ibu kota, ia tak berani bersikap sembrono. “Siapa orangnya?”
“Katanya dari kediaman Adipati Beihai.”
Alisnya mengerut tajam, raut wajahnya pun tampak tegang. Adipati Beihai adalah kerabat istana, bahkan konon punya hubungan erat dengan Pangeran Zhao. Ia pun langsung bersikap waspada. “Cepat, persilakan masuk.”
Tak lama kemudian, masuklah seorang pria berpenampilan seperti cendekiawan. Meski ia jelas bukan pejabat, namun gerak-geriknya tampak angkuh di hadapan asisten pemerintahan itu; hanya sedikit membungkukkan badan, sudah dianggap memberi salam.
Asisten pemerintahan itu justru tak berani bersikap seenaknya, ia membungkuk dalam-dalam, “Bolehkah saya tahu siapa Tuan?”
“Tak perlu banyak tanya,” jawab pria itu dingin. “Saya diutus Adipati Beihai, semula ke Jinling untuk urusan resmi, tapi pagi ini baru tahu Jinling terkena wabah. Kudengar... selain Kabupaten Jiangning, juga di Xuanwu, Qixia, dan Pukou sudah ada yang tertular. Sekarang suasana mencekam, bukan?”
Dengan cemas ia mengiyakan, “Benar, benar, benar. Hamba memang hendak mengumpulkan seluruh pejabat daerah untuk bersiap menghadapi wabah ini.”
Wajah pria itu tetap tanpa ekspresi, hanya memandang dingin, “Wabah seperti ini, bisakah manusia mencegahnya?”
Ia pun terdiam.
Belasan tahun lalu, wabah ganas melanda selatan; pemerintah sudah melakukan segala upaya, namun apa gunanya? Ketika wabah muncul, para tabib pun tak mampu menawarkan solusi. Satu-satunya langkah pemerintah adalah menutup desa yang terjangkit; jika satu kabupaten kena, seluruh kabupaten ditutup. Tapi tetap saja, tak ada yang bisa sepenuhnya mencegahnya.
Pria itu tertawa sinis, “Sekarang engkau pemimpin satu daerah. Ketika wabah terjadi, menurutmu ini bencana alam atau ulah manusia?”
Ia buru-buru menjawab, “Bencana alam, bencana alam.”
Tentu saja harus dibilang bencana alam. Kalau ini ulah manusia, siapa yang jadi biang keladinya?
Tatapan pria itu tajam, seolah mampu menembus hati, hanya tersenyum samar, “Kalau ini bencana alam, mengapa langit murka, menurunkan malapetaka sebesar ini?”
Ia terdiam, tak mampu menjawab.
Pria itu melanjutkan, “Di ambang maut pun kau masih pura-pura tuli dan bisu? Segala bencana di dunia adalah peringatan dari langit. Sejak dulu kala, banyak raja yang mengakui kesalahan diri saat bencana melanda. Kini tiba-tiba muncul wabah besar, ini adalah kelalaian para penguasa!”
“Jadi maksud Tuan...” Ia dengan gemetar menunjuk ke atas balok rumah, “Apakah... Sri...”
“Diam!” Pria itu tiba-tiba naik pitam, tersenyum menyeramkan, “Sri Baginda masih belia, apa urusannya dengan beliau? Aku tanya, siapa yang kini memegang pemerintahan?”
Wajahnya pucat pasi, “Sri Permaisuri...”
Pria itu tertawa, “Apa yang sudah dilakukan Permaisuri, hingga langit memberi peringatan?”
“Ini...” Ia makin ketakutan, baru sadar dirinya terjebak dalam situasi rumit, tubuhnya menggigil, “Tapi...”
“Tak perlu tapi-tapian. Akan kukatakan padamu, beberapa bulan lalu, di Jinling ada seorang pelajar yang menulis ‘Gubahan Dewi Sungai Luo’, mengaku bahwa Permaisuri adalah Dewi itu. Permaisuri memang mulia, tapi tetap saja perempuan biasa, hanya seorang wanita, tapi berani menyamar jadi dewi. Mungkin karena itulah langit murka. Bukankah kau pernah membaca ‘Tiga Saran Langit dan Manusia’ karya Tuan Dong?”
Kakinya hampir tak mampu menopang tubuh, nyaris jatuh tersungkur.
Tuan Dong yang dimaksud adalah Dong Zhongshu dari masa Kaisar Wu. Dalam ‘Tiga Saran Langit dan Manusia’, inti pemikirannya adalah ‘resonansi langit dan manusia, kekuasaan raja dianugerahi dewa’. Ia menegaskan bahwa raja adalah putra langit, namun juga mengajukan teori bahwa bencana adalah peringatan atas kelalain penguasa.
Pria itu memandangnya dengan sinis, “Sekarang nasibmu sudah di ujung tanduk. Wabah ini takkan bisa kau kendalikan. Dan bila tak terkendali, kau tahu artinya apa? Bukan hanya jabatamu yang melayang, demi meredam kemarahan rakyat, kau akan hancur lebur. Namun, meski Adipati Beihai kini di ibu kota, aku dapat membantumu. Salahkan saja bencana ini pada Chen Kaizhi. Hanya dengan begitu, Adipati Beihai, bahkan Pangeran Zhao, bisa menyelamatkanmu.”
Namun ia sama sekali tidak merasa lega, malah tubuhnya gemetar hebat. Ia sangat paham, mereka ingin memanfaatkan bencana ini untuk menggoyang kedudukan Permaisuri.
“Mau ke mana, itu pilihanmu. Aku pamit.” Pria itu tak berkata lagi, hanya memberi hormat sekadarnya lalu pergi.
Ia kini menatap kosong, tubuh lunglai, akhirnya jatuh terduduk. Baru setelah pejabat pencatat datang mengingatkan dengan hati-hati, “Tuan... para bupati di luar sudah lama menunggu...”
Barulah ia sadar, buru-buru bangkit, dengan gelisah menuju ruang utama, memandang para bupati yang telah berkumpul. Hatinya kacau, tapi ia tiba-tiba membanting meja, “Wabah ganas merenggut rakyat, ini adalah teguran dari langit! Kudengar ada seorang pelajar bernama Chen Kaizhi yang menulis tentang roh dan dewa, menebar omong kosong. Wabah ini pasti karena ulahnya. Selain penjagaan ketat di tiap daerah, aku perintahkan segera keluarkan surat penangkapan, tangkap Chen Kaizhi, demi memenuhi kehendak langit!”
Para pejabat kabupaten yang hadir langsung tercengang.
Mereka bukan orang sembarangan, semua pejabat penting. Dari nada asisten pemerintahan, mereka tahu ini bukan urusan kecil. Permaisuri mengaku sebagai Dewi Sungai Luo, semua orang tahu. Bahkan ada pejabat daerah yang membangun kuil untuknya demi mengambil hati. Namun kini asisten pemerintahan menuding Chen Kaizhi sebagai penyebar fitnah, bukankah itu berarti menyangkal Permaisuri secara langsung?
Di tengah bencana, tiba-tiba muncul isu sensitif seperti ini...
“Tuan Yang,” Bupati Zhu langsung berdiri, berseru lantang, “Apa seorang asisten pemerintahan bisa menentukan kehendak langit?”
Asisten pemerintahan sudah menduga Zhu akan bereaksi. Ia pun berkata tegas, “Chen Kaizhi adalah rakyat di bawah wilayahmu. Aku perintahkan segera tangkap dia, kalau tidak, jangan salahkan aku bertindak tegas.”
Bupati Zhu jelas tahu bahwa asisten pemerintah hanya ingin memanfaatkan bencana ini untuk kepentingannya. Ia tersenyum, “Urusan sebesar ini, silakan tunjukkan surat perintah, atau minta keputusan dari gubernur.”
Nada bupati Zhu penuh sindiran, membuat asisten pemerintahan naik pitam, “Ternyata kau memang bersekongkol dengan Chen Kaizhi! Bupati Zheng, kau yang lakukan!”