Seratus Lima Puluh Lima
Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang utama Sekolah Menengah Nomor 8. Karena tidak memiliki izin, kendaraan dari luar dilarang masuk. Xu Mohai memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, sementara Ling Xiaoxiao mengangkat tas punggungnya dan bersiap untuk turun. "Kak Han, Kak Xin ada di kedai Mengji, ya?"
Xu Mohai mengangguk. "Dia bilang sudah bertahun-tahun tidak melihat kedai Mengji, jadi dia sudah datang sejak pagi. Dia ingin melihat seperti apa kedai Mengji sekarang."
"Kalau begitu, pergilah ke kedai Mengji untuk menemaninya. Aku akan menaruh barang-barangku dulu lalu menyusul sendiri, jaraknya juga tidak jauh." Ling Xiaoxiao masih memiliki kepekaan seperti itu.
Xu Mohai mengangguk pelan. "Kendaraan tidak boleh parkir terlalu lama di depan Sekolah Menengah Nomor 8. Aku akan menunggumu di kedai Mengji. Datanglah setelah kamu selesai merapikan barangmu, jangan terlalu lama."
"Baik, aku mengerti." Entah karena sudut pandangnya terhadap Xu Mohai telah berubah, Ling Xiaoxiao saat ini tidak memiliki kebiasaan mencari-cari kesalahan atas ucapannya. Ia menyetujuinya dengan patuh lalu turun dari mobil.
Musim dingin di Bincang sangatlah dingin, terutama bagi seseorang yang baru saja turun dari mobil berpenghanggar ruangan, rasa dinginnya akan terasa semakin menusuk. Ling Xiaoxiao tanpa sadar bergidik, lalu menyampirkan tas punggungnya dan berjalan dengan langkah lebar menuju area asrama. Sambil berjalan, ia berpikir untuk memberi tahu Kak Zhen nanti bahwa rencana hari ini telah berubah.
Kamar asrama telah kosong selama hampir sebulan. Saat mendorong pintu, Ling Xiaoxiao mendapati lantai telah tertutup lapisan debu. Musim dingin di utara membutuhkan penghangat ruangan, dan pada masa itu pembakaran gas alam belum begitu populer; pemandangan umum untuk menghangatkan ruangan adalah dengan membakar batu bara. Begitu banyak abu dan sisa pembakaran batu bara, debu pun akan jauh lebih tebal dibandingkan musim-musim lainnya. Ling Xiaoxiao meletakkan tas punggungnya di atas kursi, mengingat pesan Xu Mohai, ia berniat mengunci pintu dan pergi ke kedai Mengji terlebih dahulu. Membersihkan asrama sepulangnya nanti sore pun masih sempat.
Belum seberapa jauh ia berjalan keluar dari area asrama, ia mendengar seseorang memanggil namanya dari belakang. Dengan perasaan heran, Ling Xiaoxiao menoleh ke belakang dan melihat Yue Pingjun serta Jiang Zizhuo keluar dari area asrama. Merasakan tatapan Jiang Zizhuo tertuju padanya, entah mengapa Ling Xiaoxiao merasa sedikit canggung dan memalingkan wajahnya, menunduk tipis karena tidak berani membalas tatapan itu, sehingga ia melewatkan seulas senyum tipis yang tersungging di bibir Jiang Zizhuo.
"Xiaoxiao, kamu baru saja kembali? Kak Han meminta kita untuk segera pergi ke kedai Mengji menemani Kak Xin mengobrol, ayo kita jalan sekarang." Yue Pingjun tetaplah cerewet seperti biasanya. Begitu melihat Ling Xiaoxiao, ia langsung teringat pada Kak Zhen. "Apakah Kak Zhen juga pulang hari ini? Kenapa tidak kelihatan?"
Menghindari tatapan Jiang Zizhuo, Ling Xiaoxiao berusaha menahan semburat merah yang hendak merambat ke wajahnya. Ia mengambil jarak beberapa langkah ke samping lalu berkata, "Kak Zhen baru bisa tiba sore nanti, sepertinya sekarang dia sudah berada di dalam bus. Aku baru saja meneleponnya tadi dan memberitahunya bahwa waktu berkumpul diubah menjadi siang hari, jadi dia bisa langsung kembali ke sekolah begitu tiba."
"Kak Zhen baru sampai sore nanti ya, sayang sekali." Yue Pingjun mendesah kecewa sambil menendang-nendang kerikil kecil di jalan setapak. Padahal ia berencana mengenalkan Kak Zhen kepada Kak Xin.
Keduanya memiliki postur tubuh yang tinggi dengan kaki yang panjang. Mereka berjalan cepat dan dalam waktu singkat sudah bisa melihat kedai Mengji dari kejauhan. Tiba-tiba Yue Pingjun menepuk kepalanya sendiri. "Gawat, barang yang diminta ibuku untuk diberikan kepada Kak Xin tertinggal di asrama. Zizhuo, Xiaoxiao, aku harus kembali mengambilnya sebentar. Tolong sampaikan kepada Kak Xin dan Kak Han untukku ya."
Sambil berbicara, ia berbalik dan berlari kecil bagaikan angin. Dalam sekejap, sosoknya sudah menghilang tanpa jejak. Ling Xiaoxiao menunduk menatap ujung sepatunya sendiri. Sekarang hanya tersisa dirinya dan Jiang Zizhuo. Bagaimana ini?!
"Ayo jalan, Kak Xin sepertinya sudah menunggu lama." Mungkin menyadari kecanggungan Ling Xiaoxiao, sudut bibir Jiang Zizhuo terangkat membentuk senyuman, meski ia cukup budiman untuk tidak tertawa bersuara. Hanya sepasang mata panjangnya yang melengkung indah, memancarkan suasana hatinya yang sedang baik saat ini.
Dari sudut matanya, Ling Xiaoxiao menangkap senyuman di wajah itu, membuat jantungnya kembali berdegup kencang. Apakah orang ini tidak tahu bahwa saat ia tersenyum, wajahnya tampak begitu mempesona bagaikan angin sepoi-sepoi dan rembulan yang terang? Tersenyum begitu terang di hadapannya seperti ini sungguh, keterlaluan sekali...
Jika seseorang bertanya bagian mana dari diri Jiang Zizhuo yang paling memikat, Ling Xiaoxiao pasti akan menjawab matanya. Berbeda dengan mata bulat besar milik Ling Xiaoxiao, mata Jiang Zizhuo berbentuk agak panjang dengan sudut luar yang sedikit terangkat. Saat tersenyum, matanya membentuk lengkungan yang sangat indah. Bulu matanya panjang dan lebat, sementara manik matanya hitam legam serta menyimpan kedalaman, memandangnya seolah ada bintang-bintang berpijar. Sepasang mata seperti itu, ketika melepaskan tatapan dinginnya dan beralih memandang seseorang, selalu berhasil membuat hati siapa pun bergetar.
Jika dinilai menggunakan standar pria tampan di masa depan, Jiang Zizhuo jelas tidak memenuhi kriteria tersebut. Penampilannya kurang rapi, rambutnya yang sudah sebulan tidak dipotong mulai memanjang dan sedikit berantakan tertiup angin di dahi serta telinganya; mantel wol hitam dengan panjang di atas lutut itu bukanlah model yang pas di badan, malah tampak sedikit kedodoran; celana jins yang tampak agak luntur warnanya dipadukan sepasang sepatu kets setengah baru dan setengah lama; tanpa mengenakan syal ataupun kacamata hitam, tidak ada satupun hiasan pada seluruh tubuhnya, yang ada hanyalah semangat masa muda yang tak terbendung serta aura tubuhnya yang jangkung dan tegap.
Ling Xiaoxiao pernah merenungkan mengapa ia bisa langsung terpikat pada pandangan pertama di masa lalu. Jika ini adalah dunia yang menilai segalanya dari ketampanan wajah, paras Jiang Zizhuo memang tidak jelek, tetapi sama sekali bukan jenis wajah yang membuat orang langsung terpesona dan tak bisa melupakannya. Namun, ketika wajah itu dipadukan dengan aura di sekelilingnya, hal itu menciptakan reaksi kimia yang memancarkan pesona penuh daya tarik yang sulit untuk dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian barulah ia mengerti bahwa aura memesona yang membuatnya terpesona itu adalah bawaan lahir dari seseorang yang berasal dari keluarga terpandang sejati. Keluarga terpandang semacam ini bukanlah tentang kemewahan yang menyilaukan, kekuasaan yang tergenggam di tangan, atau kekayaan yang melimpah, melainkan mereka yang menanamkan kesetiaan, berbakti, keadilan, dan kepatuhan ke dalam tulang sumsum mereka, serta secara kaku memegang teguh prinsip dan batasan moral dalam menjalani kehidupan. Orang-orang seperti ini berintegritas namun tetap lembut, teguh namun penuh kasih sayang.
Aura semacam itu, di tengah era yang moralitasnya mulai runtuh ini, tampak bagaikan percikan api kecil yang terus menerus memikat orang-orang seperti Ling Xiaoxiao yang menyimpan kebaikan dan kerinduan di dalam hati mereka. Begitu terpikat, seseorang akan ingin mendekat; begitu mendekat, seseorang akan ingin mengenal lebih jauh; dan begitu mengenal, seseorang akan mulai menaruh hati...
Tanpa kehadiran Yue Pingjun, langkah kaki mereka berdua menjadi semakin lambat. Padahal jarak yang ditempuh tidaklah jauh, tetapi setelah berjalan begitu lama pun mereka belum juga tiba. Kecanggungan di hati Ling Xiaoxiao telah mencapai puncaknya. Kedua tangannya yang berada di dalam saku mengepal lalu mengendur, berulang kali menenangkan diri sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menatap Jiang Zizhuo. Sambil menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, ia bertanya, "Apakah kamu dan teman Yue adalah kerabat Kak Xin?"
Jiang Zizhuo menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan kerabat, hanya saja hubungan antar para orang tua cukup dekat. Kak Xin dan Kak Han bisa dibilang melihat kami tumbuh besar, mereka seperti kakak sekaligus orang tua. Dulu saat Kak Xin berada di Bincang, aku dan Pingjun masih sangat kecil. Dia dan Kak Han selalu membawa kami pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan."
Ling Xiaoxiao membayangkan masa ketika Huang Xin berada di Kabupaten Quan. Jika ditarik mundur ke masa lalu, pada saat itu mereka memang masih sangat kecil, masih anak-anak kecil ingusan. Mungkin karena kata "anak ingusan" terasa kurang cocok jika disandingkan dengan penampilan Jiang Zizhuo dan Yue Pingjun saat ini, Ling Xiaoxiao menoleh ke samping untuk memandangi profil wajah tampan itu, lalu tak kuasa menahan senyum gelinya.
Melihat Ling Xiaoxiao tersenyum tanpa alasan, Jiang Zizhuo menoleh dan mengangkat alisnya untuk meminta penjelasan. Ling Xiaoxiao buru-buru menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, aku hanya tiba-tiba teringat sesuatu yang lucu."
Karena ia tidak ingin mengatakannya, Jiang Zizhuo juga tidak mendesak untuk bertanya lebih lanjut. Mereka berdua tetap berjalan dengan santai menuju kedai Mengji. Namun, betapapun lambatnya mereka melangkah, jalanan tetap akan ada ujungnya. Begitu melangkah masuk melalui gerbang bangunan kecil itu, Ling Xiaoxiao tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau kecewa, tetapi rasa lega di dadanya adalah hal yang nyata. (Bersambung)