Bab Tujuh Puluh: Ujian Masuk SMP (Bagian Satu)
Pada senja tanggal 24 Juni, langit yang semula cerah mendadak berubah kelam. Gumpalan awan hitam bergerak cepat berkumpul, menutupi sinar mentari senja hingga tak ada cahaya yang menembus.
Mendadak, kilatan petir besar menyambar langit, tak lama kemudian suara menggelegar menyusul, menggetarkan telinga seakan meledak di dekatnya, benar-benar menggentarkan hati. Lalu, hujan lebat pun turun deras membasahi bumi.
Ibu Ling sedang memasak di dapur. Mendengar suara itu, ia bergegas keluar melihat keadaan, sambil bersungut-sungut kepada Ling Xiaoxiao, “Tiba-tiba saja hujan deras begini, padahal ramalan cuaca bilang beberapa hari ini cerah. Entah ayahmu di stasiun bensin bawa payung atau tidak.”
Musim panas tahun ini belum sekali pun turun hujan. Ayah Ling yang bertugas di stasiun bensin kemungkinan juga belum sempat membawa payung ke sana. Ling Xiaoxiao menatap hujan di luar yang turun sangat deras, berpikir mengantar payung pun tak banyak gunanya.
“Bagaimana kalau aku telepon ayah, minta beliau tunggu sampai hujan agak reda baru pulang? Hujan ini derasnya mendadak, mungkin tak lama lagi juga akan berhenti.”
Ibu Ling menatap angin kencang di luar, tahu bahwa angin sebesar itu, payung pun tak banyak membantu. “Baiklah, ibu masih ada masakan di atas kompor, kamu telepon ayahmu saja.”
Benar saja, seperti yang dikatakan Ling Xiaoxiao, hujan deras itu hanya berlangsung setengah jam lalu reda. Tak lama setelah hujan berhenti, ayah Ling pun pulang, di tangannya membawa ayam panggang.
“Kalau bukan karena mengambil ayam panggang ini, aku tak akan terjebak hujan di toko. Hujannya deras sekali, di daerah utara kota yang tanahnya rendah sampai tergenang air,” kata Ayah Ling sambil masuk ke rumah, menghela napas panjang. Ibu Ling keluar dari dapur, menerima ayam panggang itu, namun matanya sempat melirik tajam, “Disuruh ambil barang saja sudah kecapekan, ya?”
“Ah, tidak, tidak. Maksudnya bukan begitu. Ada lagi yang bisa kubantu?” Ayah Ling melihat istrinya sudah mulai sewot, buru-buru menurunkan suaranya dan berusaha menenangkan.
Malam itu, Ibu Ling memasak hidangan yang sangat mewah. Semua makanan kesukaan Ling Xiaoxiao disiapkan hingga memenuhi meja. Begitu makan dimulai, ia tak henti-hentinya mengambilkan lauk dan daging ke mangkuk putrinya.
“Sayangku, makan yang banyak. Kalau kenyang, tidur pun nyenyak, besok ujian pun semangat.”
Ling Xiaoxiao menatap mangkuknya yang penuh lauk dan daging. Sepotong daging di atas bahkan hampir jatuh. Ia buru-buru menahan tangan ibunya, “Sudah cukup, Bu. Sisanya biar nanti aku ambil sendiri. Jangan kebanyakan, nanti malah kekenyangan, repot urusannya.”
Mendengar itu, Ibu Ling segera menghentikan gerakan sumpitnya. Penyumbatan makanan memang merepotkan; ia masih ingat nenek sempat mengalami hal itu awal tahun lalu dan butuh waktu lama untuk pulih.
Ayah Ling meneguk sedikit arak putih dari cawan kecilnya. Sensasi pedas arak keras itu membuat alisnya berkerut.
“Sayang, besok ujian jangan tegang. Jawab saja sesuai kemampuanmu. Kalau tak lolos ke SMP Delapan Bincheng juga tak apa, kita masuk saja ke SMA Satu Kabupaten. Setidaknya ayah dan ibumu tak akan terlalu merindukanmu.”
Ayahnya memang pandai bicara! Ini menenangkan atau malah sebaliknya? Ling Xiaoxiao menunduk, tak tahan untuk tidak membalikkan bola matanya, “Ayah dan ibu tak usah khawatir. Lihat saja, aku baik-baik saja. Pasti bisa masuk SMP Delapan Bincheng. Tunggu saja kabar baik dariku.”
“Itu baru anak perempuanku!” seru Ibu Ling gembira sambil menepuk punggung Ling Xiaoxiao, “Penuh semangat, anakku tahun ini sudah banyak kemajuan, pasti bisa masuk SMP Delapan Bincheng.”
Hujan deras semalam membuat langit keesokan harinya cerah kembali, awan gelap menghilang, langit pun biru membentang.
Matahari yang garang kembali bercokol di langit, panasnya tiada berkurang sedikit pun.
Kali ini, Ling Xiaoxiao tidak berangkat ke sekolah mepet waktu seperti saat ujian olahraga. Ia dan Xu Xiaoying sama-sama mendapat jadwal ujian di SMA Empat, yang letaknya cukup jauh dari rumah, jadi setelah sarapan buatan ibu, mereka berangkat lebih pagi ditemani ayah dan ibu.
Ia merasa sudah cukup pagi berangkat, ujian mulai pukul setengah sembilan dan saat tiba di gerbang SMA Empat, jam belum menunjukkan pukul delapan. Namun, ketika sampai, gerbang sekolah sudah penuh sesak dengan murid dan orang tua yang akan ujian. Ling Xiaoxiao berkeliling di antara kerumunan, mencari cukup lama baru bisa menemukan Wu Qingqing dan Xu Xiaoying.
“Kalian datang pagi sekali. Masih setengah jam lagi baru mulai,” kata Ling Xiaoxiao sambil menggandeng mereka menjauh ke tempat yang lebih sepi.
Xu Xiaoying dan Wu Qingqing baru sampai juga, mereka masuk ke kerumunan tadi karena mencari Ling Xiaoxiao. Kini, melihat lautan manusia, mereka merasa sedikit khawatir.
“Mana tahu kamu malah yang datang terlambat. Aku dan Qingqing kira kamu sudah sampai duluan, makanya kami masuk cari kamu,” ujar Xu Xiaoying sambil mengeluarkan tisu dari ranselnya untuk mengelap keringat di dahi.
Tubuh Xu Xiaoying agak berisi, menurut Ling Xiaoxiao ini tipe gemuk klasik yang paling tak tahan panas. Baru pagi saja sudah berkeringat deras.
Di sisi lain, wajah Wu Qingqing tampak pucat dan ia tak tahan untuk batuk. Ling Xiaoxiao langsung khawatir, “Qingqing, kamu kenapa? Jangan-jangan masuk angin?”
Wu Qingqing terbatuk-batuk beberapa kali sebelum bisa berhenti, lalu mengangkat wajah, “Kemarin sore waktu hujan, aku dan ibu lagi belanja di luar. Tak ada tempat berteduh, jadi sedikit kehujanan. Kukira tadi baik-baik saja, tapi pagi ini bangun kepala agak pusing.”
Ling Xiaoxiao langsung cemas. Ia sudah berulang kali mengingatkan agar semua menjaga kesehatan menjelang ujian, tapi ternyata Xu Xiaoying yang ceroboh baik-baik saja, malah Wu Qingqing yang telaten dan hati-hati justru sakit.
“Pusingnya parah, tidak? Sudah minum obat? Nanti saat ujian jangan buru-buru mengerjakan soal, baca pelan-pelan, pastikan dulu baru menulis jawaban.” Ling Xiaoxiao menggenggam tangan Wu Qingqing, mengingatkan dengan sungguh-sungguh. Masuk angin memang merepotkan, terlihat sepele, tapi badan jadi tak nyaman dan mudah menggangu konsentrasi.
“Sudah minum obat. Tenang saja, sekarang sudah mendingan, cuma tenggorokan masih agak gatal, kadang-kadang batuk.” Wu Qingqing tahu kedua sahabatnya khawatir, meski berusaha menenangkan, dalam hati tetap merasa kurang yakin.
Tepat pukul delapan, para peserta ujian dipersilakan masuk ke ruang ujian. Masing-masing sempat berpamitan singkat dengan orang tua, lalu melangkah ke dalam sekolah. Ling Xiaoxiao berpesan kepada ayah dan ibunya agar tidak menunggu di luar, ia akan pulang sendiri setelah ujian. Meski mereka bilang akan langsung pulang, nyatanya sampai ia masuk ruang ujian pun mereka belum juga pergi.
Walau sama-sama di SMA Empat, ketiganya mendapat ruang ujian berbeda. Ling Xiaoxiao di lantai satu paling ujung, Wu Qingqing di lantai dua, dan Xu Xiaoying di lantai tiga.
Lima belas menit sebelum ujian, bel tanda masuk berbunyi. Ling Xiaoxiao menata perlengkapan tulisnya sekali lagi, menaruh botol minum di pojok kiri atas meja, mengambil sebungkus tisu dan meletakkannya di samping botol, memastikan tak ada yang perlu lagi, lalu menaruh tas di meja belakang dekat podium.
Sepuluh menit sebelum ujian, dua pengawas masuk. Ling Xiaoxiao memandang sejenak, ternyata tidak ada yang ia kenal, mungkin guru dari sekolah lain.
Salah satu pengawas meletakkan amplop coklat berisi soal di atas meja guru, lima menit sebelum waktu mulai, ia mengangkat amplop itu, menunjukkan segel masih utuh kepada semua peserta, lalu baru membukanya di hadapan seluruh kelas.
(Bersambung...)