Bab Sembilan Aliansi Ayah dan Anak
Sekarang, Ling Xiaoxiao benar-benar merasa takut setiap kali mendengar kata “menambah stamina”. Ia refleks bergidik, dan ketika melihat ibunya tiba-tiba menjadi begitu bersemangat, ia cepat-cepat menambahkan, “Ma, tiga sekolah itu mana semudah itu untuk masuk? Lagi pula, meskipun dipaksakan bisa lulus, segala macam biaya macam-macam juga kita nggak sanggup bayarnya.”
Ibu Ling kelihatannya memang selalu tegas dan berjiwa besar, namun sebenarnya ia punya satu kelemahan: penghasilannya yang kecil. Tak peduli seberapa keras ia bekerja di pabrik, ia selalu saja ditekan oleh ketua kelompok dan kepala bengkel. Ibu Ling sangat ingin menghasilkan banyak uang, ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya, apapun itu. Karena itu, melihat ayahnya yang membujuk dengan begitu sabar dan ibunya yang keras kepala, Ling Xiaoxiao tanpa pikir panjang langsung mengeluarkan jurus pamungkas untuk menyentuh kelemahan ibunya. Orang tuanya saja tak sanggup membiarkan dirinya sendiri hidup susah, apalagi Ling Xiaoxiao sendiri, ia pun tak ingin membiarkan orang tuanya menjalani hidup yang berat.
“Biaya sekolah kan sudah ditetapkan sama untuk seluruh provinsi? Kalau di sini kita sanggup, di sekolah bagus pun pasti sanggup juga, kan?” Ucapan ibu Ling saat itu benar-benar sederhana.
“Ma, meski biaya sekolah sama, tapi makin bagus sekolahnya, makin besar biaya les tambahannya. Itu pelajaran tambahan pagi dan malam yang diajar guru juga ada biayanya. Belum lagi kalau nanti harus tinggal di asrama, ada biaya asrama dan biaya hidup juga.” Ling Xiaoxiao menghitung satu per satu dengan jarinya di depan ibunya, dan setiap kali ia sebutkan satu biaya, wajah ibunya makin kelam. Begitu Ling Xiaoxiao selesai bicara, wajah ibunya sudah benar-benar hitam.
“Masuk SMA saja sudah sebanyak itu biayanya?” Ibu Ling agak terpaku menatap ayah Ling, dan melihat muka suaminya pun tak terlalu bagus.
“Itu sebabnya, Ma. Kalau Mama mau aku lebih giat belajar supaya Mama bangga, Mama juga harus berusaha keras cari uang.” Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya Ling Xiaoxiao menunjukkan maksudnya.
Wajah ayah dan ibu Ling tampak bingung. Kalau tak kerja di pabrik, harus cari uang dari mana? Lagi pula, gaji pabrik saja kadang tak keluar, walau keluar pun jumlahnya tak cukup untuk biaya les.
“Ma, masih ingat nggak dulu aku pernah bilang kita bisa coba usaha kecil-kecilan sendiri?” Ling Xiaoxiao mencoba mengingatkan hal lama.
Ibu Ling berpikir lama, baru teringat kalau dulu pernah membicarakan soal berdagang, “Tapi mana semudah itu berdagang? Setengah hidupku dihabiskan di pabrik, mana ngerti caranya?”
Nada suara ibu Ling yang memang sudah cemas kini terdengar lebih tinggi dan nyaris tajam. Ia memang sedang galau, dan kini tambah bingung setelah mendengar ucapan putrinya. Selama ini ia selalu berusaha jadi yang terbaik. Kalau saja saat naik jadi ketua kelompok dulu tidak dijegal kepala bengkel, mungkin sekarang ia sudah lebih sukses dari kepala bengkel itu. Justru karena kemampuannya yang menonjol, kepala bengkel jadi merasa terancam dan memanfaatkan kerabatnya untuk menekan ibu Ling, tak memberinya kesempatan bersinar.
Ling Xiaoxiao masih ingat, di kehidupan sebelumnya ketika gelombang besar reformasi ekonomi sampai ke kota kecil mereka, banyak buruh yang dirumahkan. Tak ada lagi pekerjaan yang bisa menampung begitu banyak orang. Akhirnya, sebagian besar orang memilih merantau atau memulai usaha sendiri. Ibu Ling, yang harus mengurus anak, tak mungkin merantau, dan ia pun tak tega mengeluarkan modal untuk berdagang. Akhirnya, atas saran adik iparnya, ia membantu menjaga lapak orang lain. Karena sikapnya yang ramah, penampilan menarik, dan pandai berpenampilan, dagangan di lapak itu pun selalu laris. Pemilik lapak sampai menaikkan gajinya supaya ibu Ling tidak pergi. Andai saja Ling Xiaoxiao tidak masuk kelas tiga SMA dan ibu Ling tidak khawatir anaknya tak ada yang urus, ia pasti tidak akan berhenti. Pemilik lapak itu sangat berat melepas ibu Ling.
Karena tahu betul kemampuan ibunya, Ling Xiaoxiao tidak berbelit-belit lagi, “Ma, aku pernah bilang, kita bisa kulakan baju dari Ibu Kota. Modelnya bagus, enak dipakai, modalnya murah pula. Yang paling penting, nggak ada yang jual barang yang sama. Mama bisa pasang harga sesuka hati.”
“Menjual baju itu mana gampang? Lihat saja adik iparmu waktu itu, dia bisa dagang juga karena dibimbing temannya. Kalau nggak ada yang bimbing, bisa apa?” Saat ini, rasa percaya diri ibu Ling benar-benar hilang. Apapun yang dikatakan putrinya, ia langsung membantah.
Ling Xiaoxiao melirik jam dinding yang sudah menunjuk lewat jam satu siang. Ia harus segera bersiap masuk sekolah. “Ma, gimana kalau sore nanti Mama pikirkan baik-baik, nanti malam kita bicarakan lagi.”
Ayah dan ibu Ling pun memandang jam di dinding. Mereka juga harus bersiap berangkat kerja. Ibu Ling memandang suami dan anaknya dengan ragu, nada suaranya masih dipenuhi ketidakpercayaan diri, “Baiklah, nanti sore Mama pikirkan lagi.”
Melihat ibunya akhirnya luluh, Ling Xiaoxiao pun tak mendesak lagi. Ia kembali ke kamar, mengambil jaket dan buku referensi untuk belajar siang nanti, lalu bersiap keluar.
“Nak, tunggu. Kita berangkat bareng,” kata ayah Ling sambil mengambil jaket dan mengikuti Ling Xiaoxiao ke luar rumah.
“Nak, apa hari ini kamu terlalu menekan ibumu?” Meski ayah Ling sangat menyayangi anaknya, ia juga suami yang baik. Melihat istrinya tadi sampai linglung karena perkataan putrinya, ia merasa sangat iba.
“Pa, coba pikir, setiap masuk masa produksi, ketua kelompok Mama selalu cari-cari masalah, potong jam kerja, potong insentif, dan selalu kasih Mama kerjaan paling berat. Papa, Mama diperlakukan seperti itu, apa Papa nggak sakit hati?” Ling Xiaoxiao menatap ayahnya dengan sungguh-sungguh.
Ayah Ling mengangguk tanpa sadar. Baik istri maupun anaknya harusnya diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Ia sendiri saja tidak pernah tega berkata keras, apalagi orang lain yang berani menindas, jelas ia sakit hati.
“Aku juga sakit hati,” Ling Xiaoxiao lalu memeluk lengan ayahnya. “Mama tiap hari kerja keras, tapi gaji pun tak keluar, buat apa lanjut? Lagi pula, Pa, Papa sudah lihat berita belum? Sejak pemimpin baru berkuasa, reformasi makin besar-besaran. Banyak pekerja pabrik di Ancheng yang sudah diberhentikan, waktu itu Mama juga cerita ke tante lewat telepon, di Fengcheng setelah kunjungan Perdana Menteri, reformasi juga mulai. Pa, kita ini cuma kota kecil. Kalau daerah industri besar dan ladang minyak saja sudah direformasi, kita pasti kena juga. Daripada nanti semua orang dipecat dan berlomba-lomba berdagang, lebih baik kita mulai lebih awal, supaya sudah punya tempat.”
Ayah Ling merasa bangga, menepuk kepala putrinya dengan lembut. “Dabao, pernah nggak kepikiran, Mama itu dari dulu kerja di pabrik, bahkan jualan di kaki lima saja belum pernah. Apa kamu nggak takut uang yang Mama siapkan buat sekolahmu malah habis semua?”
Ling Xiaoxiao menggeleng, “Pa, percaya deh sama Mama. Dia sangat mampu. Di pabrik saja bisa sukses, apalagi kalau usaha sendiri. Aku yakin Mama nggak akan rugi, jadi aku nggak takut sama sekali.”
“Dabao benar, Mamamu memang sangat mampu. Kita harus percaya pada dia. Nanti malam, kita berdua bujuk Mama lagi sama-sama,” ujar ayah Ling mantap, sudah bulat membiarkan istrinya berdagang sendiri.
Setelah pembicaraan itu, ayah dan anak pun berangkat ke tempat masing-masing, ayah ke pabrik, anak ke sekolah. Meski Ling Xiaoxiao sangat menginginkan salah satu dari tiga SMA itu, ia tahu harus pandai menakar keadaan. Ujian seleksi provinsi sudah di depan mata, dan kali ini sangat penting karena baru pertama kali diadakan serentak di seluruh provinsi.