Bab Lima Belas: Pembukaan yang Membawa Keberuntungan
Pakaian musim dingin yang dikirim lewat kargo tiba kemarin sore. Sesuai dengan arahan sebelumnya dari Lingsiaosiao, ibunya menata jaket musim dingin dan jaket bulu angsa bersama beberapa sweater, kaus, dan celana jins, lalu memakaikannya pada manekin. Di kepala manekin diberi topi berbulu tebal dan lehernya dililitkan syal rajut yang tampak hangat sekali.
Pakaian lain digantung oleh ibu Lingsiaosiao di rak, dikelompokkan berdasarkan model dan warna. Setiap seri dipajang dengan model andalannya di bagian paling luar. Penataan seperti ini menimbulkan kesan seperti toko pakaian bermerek yang memperhatikan padu padan busana. Sambil memperhatikan tata letak itu, Lingsiaosiao terus-menerus mengangguk puas. Usahanya selama berada di ibu kota, setiap malam mengajak ibunya keliling pusat perbelanjaan untuk mencari inspirasi, ternyata tidak sia-sia. Begitu mengingat hari-hari ketika siang berbelanja barang dan malam menjelajahi mal, ia tak bisa menahan diri dari rasa menggigil.
Di hari pertama pembukaan toko, tanpa banyak promosi sebelumnya, jumlah pelanggan memang tidak banyak. Kebanyakan yang datang adalah orang-orang yang kebetulan lewat dan sekadar ingin melihat-lihat. Namun, tetap saja ada beberapa yang tertarik dan membeli karena modelnya menarik. Ibu Lingsiaosiao pun sibuk melayani pelanggan, tak henti merekomendasikan produk dan menerima pembayaran. Tas kecil tempat menyimpan uang tampak menggembung di pinggangnya, dan sesekali terlihat lembaran uang pecahan besar di dalamnya.
Begitu masuk toko, Xu Xiaoying langsung memegang dan memeriksa setiap pakaian sambil terus berkata bahwa ia suka semuanya. Mumpung ruang ganti sedang kosong, ia mencoba hampir semua pakaian yang bisa dicoba. Tapi karena uang sakunya sedikit, meskipun harga modal, uang di sakunya tetap tidak cukup untuk membeli.
Saat ibunya sedang tidak sibuk, Lingsiaosiao mengambil pakaian yang sudah ia siapkan untuk kedua sahabatnya.
"Qingqing, Xiaoying, ini hadiah dariku untuk kalian. Semoga kalian suka." Lingsiaosiao memilihkan setelan olahraga bergaya santai untuk kedua temannya. Berbeda dengan model olahraga longgar seperti seragam sekolah yang banyak dijual, setelan ini mirip dengan setelan beludru klasik dari sebuah merek terkenal di masa depan. Warnanya cerah dan potongannya pas badan. Begitu melihatnya saat kulakan, Lingsiaosiao langsung jatuh hati. Meski harganya agak mahal, ia tetap membujuk ibunya untuk membelinya dalam jumlah lebih banyak.
Wu Qingqing yang pendiam mendapat setelan biru muda, sedangkan Xu Xiaoying yang ceria mendapat setelan merah muda. Lingsiaosiao sendiri juga menyimpan satu set, tapi sejak kembali ke masa lalu, ia lebih suka pakaian berwarna netral, jadi miliknya berwarna hitam.
Wu Qingqing memegang pakaian itu dengan wajah kemerahan, entah karena malu atau terharu. Setelah beberapa saat, ia mengembalikan pakaian itu ke tangan Lingsiaosiao. "Lingsiaosiao, pasti baju ini mahal sekali. Aku tak bisa menerimanya."
Xu Xiaoying menimang-nimang pakaian itu lama, matanya berbinar-binar. Melihat Wu Qingqing mengembalikan hadiah, ia pun menahan keinginan dan ikut mengembalikannya, "Benar, Lingsiaosiao. Toko tante baru saja buka, kami seharusnya beli untuk mendukung, bukan malah menerima gratis. Itu tidak baik."
Dua sahabatnya tidak serta-merta menerima hadiah hanya karena kedekatan mereka, hal itu membuat Lingsiaosiao merasa senang. Ia merasa pilihannya dalam berteman sudah tepat. Tapi mengapa dulu ia bisa langsung jatuh hati pada Jiang Zizhuo dan terjerumus begitu dalam? Ia sendiri pun tak memahaminya.
"Itu hadiah dari aku dan ibuku untuk kalian. Terimalah saja. Kalau kalian sungkan, belajarlah dengan sungguh-sungguh. Kalau aku ada soal yang tidak bisa, aku bisa bertanya ke kalian. Tapi setelan ini memang terlalu tipis untuk dipakai sekarang, tunggu musim semi tahun depan. Kita pakai bareng-bareng ke sekolah, pasti kelihatan cantik sekali."
Xu Xiaoying jadi tergoda mendengar kata-kata Lingsiaosiao, apalagi setelan seperti ini belum pernah ia lihat di kabupaten mereka. Setelah ragu sejenak, ia pun memutuskan untuk sedikit menebalkan muka dan kembali memeluk pakaian itu. Wu Qingqing yang melihat Xu Xiaoying luluh, dan warna biru muda itu adalah favoritnya, akhirnya dengan malu-malu mengulurkan tangan dan menerima pakaian itu. Namun, ia tetap berbisik, "Tanpa baju ini pun, kamu tanya apa saja pasti akan kubantu." Lingsiaosiao tak bisa menahan tawa melihat sikap malu-malu Wu Qingqing yang jarang muncul. Xu Xiaoying dan Wu Qingqing pun merasa sikap mereka sendiri agak berlebihan dan ikut tertawa bersama.
Karena sudah masuk waktu makan, pengunjung toko makin sedikit. Ibu Lingsiaosiao yang sejak pagi sibuk akhirnya bisa duduk sebentar. Lingsiaosiao mengambil termos dari balik meja kasir dan menyerahkannya kepada ibunya, yang langsung membuka tutupnya dan meneguk air dengan lahap.
"Bisnis toko ternyata lebih melelahkan daripada kerja di pabrik. Kalau bukan karena ayahmu ikut membantu, aku pasti kewalahan." Ibu Lingsiaosiao menaruh termos dan menatap putrinya. Meski bernada mengeluh, sorot matanya menunjukkan suasana hati yang cukup baik.
"Kalau terlalu sibuk, kita bisa cari orang untuk bantu jaga toko," ujar Lingsiaosiao sambil mengelus daun telinganya, tiba-tiba teringat pada bibinya. Dari semua kerabat, ia paling suka dengan bibinya. Saat kecil, setiap liburan ia selalu menginap di rumah bibi, dan sang bibi selalu memasakkan makanan enak serta membelikannya minuman manis di warung. Dalam ingatannya, selain ibunya, bibi adalah orang yang paling hangat padanya. Sepupunya, putri bibi, hanya terpaut dua tahun darinya. Mereka tumbuh besar bersama, dan dari semua sepupu, ia paling suka padanya. Sepupunya itu cantik, pandai berbicara, dan selalu bisa membuat anak-anak dan orang dewasa tertawa, sementara ia sendiri ikut-ikutan tersenyum geli di samping mereka.
Baru setelah mengingat bibi, ia sadar bahwa sejak kembali ke masa lalu, ia belum pernah bertemu bibi dan sepupunya. Dulu, saat liburan musim panas, bibi membawa sepupunya ke kabupaten lain untuk bersilaturahmi, dan baru kembali saat sekolah sudah mulai. Setelah ia terlahir kembali, waktunya habis untuk belajar, nyaris setiap hari dijadwalkan sampai ke detik, jadi belum sempat bertemu bibi ataupun sepupunya.
"Bagaimana kalau kita minta bibi untuk bantu jaga toko? Dulu bibi pernah membantu di lapak orang, pasti sudah terbiasa. Lagi pula, sekarang kehidupan keluarga bibi sedang sulit. Anggap saja kita sekalian membantu mereka," usul Lingsiaosiao. Ucapannya langsung mengena di hati ibunya. Ia memang sangat sayang pada adik laki-lakinya. Melihat kehidupan keluarga adiknya makin sulit, apalagi pabrik tempat mereka bekerja sudah lama tak membayar gaji. Hidup mereka hanya mengandalkan penghasilan istri adiknya yang bekerja serabutan, jadi keuangan pun sangat pas-pasan.
Setelah melalui pagi yang sibuk, ibunya memang merasa satu orang saja di toko tidak cukup. Saat harus makan atau ke kamar kecil, toko jadi tak ada yang menjaga. Itu jelas tidak baik. Ibunya memang tipe yang cekatan, begitu terpikir langsung ingin menelpon. Tapi Lingsiaosiao buru-buru menahan, "Ma, soal begini lebih baik dibicarakan langsung, bukan lewat telepon. Setelah toko tutup nanti, kita ke rumah bibi saja. Rumah kita juga dekat, jadi gampang."
Saat itu ayahnya masuk dari luar, membawa beberapa kotak makanan. "Anak-anak pasti lapar, kan? Ayah sudah pesan beberapa lauk dari rumah makan sebelah, ayo cuci tangan dulu lalu kita makan bersama." Ia menaruh kotak-kotak makanan di atas meja kasir, dan Lingsiaosiao dengan sigap mengambil koran dari bawah meja untuk dijadikan alas. Mumpung masih sepi, mereka pun duduk mengelilingi meja kasir dan menyantap makan siang bersama.