Bab Lima Belas: Reruntuhan
Isolani menciumi pipi Dongfang Bubai dengan lembut seraya berbisik, "Selain manusia, semua ras di benua ini sama saja. Jika sudah menikah, kita akan mengikuti suami ke mana pun ia pergi. Sekali kita menyerahkan tubuh kita, maka dia adalah pria kita untuk selamanya, hidup atau mati tak akan pernah terpisahkan."
Dongfang Bubai tertegun sejenak. Tiba-tiba, secercah cahaya melintas di benaknya, dan ingatan yang sempat hilang mengalir deras seperti air bah. Entah karena gairah yang dipicu oleh Isolani atau karena hantaman kekuatan dahsyat yang ia miliki, ingatan yang sempat lenyap sejak pertempuran di Laut Kematian kini kembali sepenuhnya.
Hanya dalam sekejap, Dongfang Bubai telah kembali tenang.
Pada saat ini, ia teringat pada Jenderal Iblis Monuo yang sedang mandi di bawah air terjun. Wanita itu seolah tidak peduli dengan kehadiran Kahanlu, sang Dewa Pembantai dari ras Orc, yang berada di dekatnya. Entah apakah dia merupakan spesies unik dari ras iblis, atau apakah ada hubungan yang tak terlukiskan di antara dirinya dan sang Dewa Pembantai Orc tersebut.
Isolani membuka matanya yang indah, yang kini berkaca-kaca. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Dongfang Bubai dan bergumam seperti orang yang sedang bermimpi, "Sekarang, kau sudah menjadi suamiku. Tolong sayangi Isolani dengan baik, ya?"
Pakaian yang perlahan meluruh dari tubuhnya menarik Dongfang Bubai kembali ke dunia nyata.
Wajah tampannya sedikit memerah. Dengan dorongan energi Bunga Matahari (Kuihua), pakaian di tubuhnya seketika terlepas seolah-olah seekor ngengat yang menanggalkan kepompong musim seminya.
Dongfang Bubai mendekap tubuh giok Isolani yang lembut dan membaringkannya ke atas tempat tidur, lalu menindihnya dengan penuh gairah. Ia mencium puncak dada Isolani yang kencang, sementara satu tangannya dengan lembut membelai pinggul Isolani yang berisi. Isolani, yang sudah terbuai dalam pesona, seketika merasakan rona merah menjalar di wajah cantiknya dan mengerang pelan karena malu.
Melihat wajah kemerahan dan bibir yang ranum itu, Dongfang Bubai tak lagi mampu menahan hasrat di dasar hatinya. Ia beralih mencium bibir merah Isolani yang menggoda.
"Eungh!" Isolani tersentak. Ia belum pernah merasakan sensasi aneh seperti ini. Di tengah haru, seolah ada api yang tiba-tiba berkobar di hatinya, dan gelombang panas mengalir cepat ke seluruh tubuhnya, membuat wajahnya kian memerah.
Tanpa sadar, lidah Isolani yang kecil dan manis telah terisap ke dalam mulut Dongfang Bubai. Isolani merasa sekujur tubuhnya panas membara. Antara tersiksa namun juga merasa nikmat, tubuhnya yang panas menggeliat seperti ular yang melilit kaki Dongfang Bubai.
Di dalam hati Dongfang Bubai, serangkaian bayangan aneh melintas. Ia melihat banyak wanita cantik bak bidadari sedang bersuka ria dengannya. Wajah mereka terasa begitu akrab, namun juga sangat asing. Dalam sekejap, belasan bayangan wanita berputar di depan matanya—termasuk Monuo, Imoli, Xuewu, bayi iblis, dan Hanya—sebelum akhirnya sosok-sosok itu memudar dan menyatu menjadi sosok Isolani di depannya.
Entah sejak kapan, tubuh panas Dongfang Bubai dan Isolani telah menyatu. Matahari terbit dan tenggelam, hari berganti hari. Entah kapan waktunya, Isolani yang baru pertama kali menjadi seorang istri merasa lelah dan perlahan terlelap dalam mimpi manis. Saat sinar fajar pertama menyingsing di ufuk timur, Dongfang Bubai bangkit dari tempat tidur. Pakaian yang berserakan di lantai, terpicu oleh energi Bunga Matahari, melayang satu per satu secara ajaib dan kembali melekat di tubuhnya.
Ia menoleh ke arah Isolani yang masih terlelap. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia seolah melihat sisa air mata. "Wanita selamanya adalah makhluk yang lemah," desahnya pelan. Ia mengibaskan lengan bajunya, jendela terbuka, dan Dongfang Bubai melesat keluar, menghilang ke dalam cahaya fajar.
Setelah Dongfang Bubai pergi, Isolani yang sedari tadi berpura-pura tidur perlahan membuka matanya yang berair. Ia merasa mungkin dirinya tidak akan pernah bertemu pria itu lagi seumur hidupnya. Justru karena intuisi wanita inilah, ia rela menyerahkan tubuhnya yang paling berharga kepada Dongfang Bubai pada malam sebelumnya.
Dongfang Bubai kembali memasuki reruntuhan. Agar tidak menarik perhatian Iblis Api Hitam, ia bergerak secara diam-diam dan gesit di antara dinding-dinding runtuh yang telah sunyi selama jutaan tahun. Kekuatan spiritualnya yang luar biasa menyebar luas, mencari setiap pergerakan sekecil apa pun di dunia persepsinya.
Tiga hari berlalu, namun Iblis Api Hitam seolah lenyap ditelan bumi. Meski telah mencari di seluruh penjuru reruntuhan berkali-kali, Dongfang Bubai tetap tidak menemukan jejaknya. Bahkan, aura Iblis Api Hitam dan monster-monster yang bersembunyi di reruntuhan itu pun hilang tanpa bekas, seolah menguap dalam sehari.
Dongfang Bubai mendarat di atas reruntuhan berbentuk lingkaran yang sangat besar dan megah, menyerupai istana kuno dari zaman prasejarah. Ia sudah mendatangi tempat ini tiga kali, dan meski tidak menemukan keanehan, ia selalu memiliki firasat kuat. Setelah pencarian lain gagal, ia memutuskan untuk mencoba peruntungannya di sini sekali lagi.
Istana itu terbagi menjadi tiga bagian: bagian dalam adalah tempat tinggal keluarga kerajaan, bagian tengah adalah tempat pertemuan militer dan aula istana, sedangkan bagian terluar adalah benteng pertahanan yang kokoh dengan menara pengintai.
Dongfang Bubai berdiri di atas menara raksasa yang telah roboh. Bata kelabu dan karat yang menempel adalah jejak sejarah yang dihantam cuaca dan waktu. Di luarnya terdapat menara meriam dan benteng raksasa yang telah hancur. Hingga hari ini, aroma pertempuran dan aura perang seolah masih tertanam kuat di bangunan kuno yang telah dimakan usia ini.
Namun, kedatangan Dongfang Bubai bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk mencari Iblis Api Hitam dan mendapatkan "Sumber Segala Makhluk" yang konon ada di reruntuhan ini.
Pandangannya menyapu sekeliling, dan kesadarannya meluas bagai air bah. Dengan kekuatannya saat ini, tidak ada materi atau kehidupan yang bisa luput dari jangkauannya. Tiba-tiba, gerakannya terhenti.
Apa yang ia lihat? Di atas sebuah prasasti giok yang terkubur jauh di bawah tanah dan menonjol keluar dari tumpukan salju abadi, terdapat ukiran aksara piktograf kuno yang serupa dengan tulisan tulang ramalan zaman prasejarah. Dongfang Bubai hanya pernah mempelajari sedikit tentang tulisan ini dari buku-buku kuno Sekte Iblis. Yang membuatnya terkejut adalah, mengapa budaya Timur kuno seperti ini muncul di tempat ini? Apakah peradaban di dua dunia yang berbeda ini memiliki kesamaan, ataukah keduanya berasal dari satu akar yang sama?
Dongfang Bubai memutuskan untuk memeriksa prasasti giok tersebut. Dengan satu gerakan tangan, prasasti yang telah terkubur selama jutaan tahun itu bergetar hebat. Salju berguguran, dan bongkahan prasasti raksasa itu perlahan terangkat dari dalam tanah.
Untuk mempelajari teknik rahasia "Sembilan Putaran Derivasi" dari peninggalan Sembilan Li, Dongfang Bubai pernah mempelajari aksara tulang ramalan kuno ini secara mendalam. Jadi, meski aksara di prasasti ini terasa asing, ia tetap bisa memahaminya.
Setelah hampir setengah jam menelaah, Dongfang Bubai menyadari bahwa prasasti ini mencatat kalender kuno yang telah lama punah, serta mencatat setiap peristiwa besar yang terjadi di negara tersebut.
Ternyata dugaannya benar. Di prasasti ini, ia menemukan catatan rinci tentang reruntuhan tersebut, serta asal-usul dan lokasi penyimpanan "Sumber Segala Makhluk".
Menurut prasasti tersebut, reruntuhan ini dulunya adalah ibu kota Kekaisaran Aslabei, sebuah kekaisaran militer yang luas dan sangat kuat. Namun, kekaisaran itu hancur setelah kebangkitan bangsa asing. "Sumber Segala Makhluk" adalah artefak pelindung milik Dewi Kehidupan, Rulu Arinda, yang memiliki kemampuan ajaib untuk menciptakan segala sesuatu dan memulihkan kehidupan.
Dari catatan tersebut, Dongfang Bubai tahu bahwa artefak itu disembunyikan di Kuil Kehidupan. Namun, kuil itu menghilang dari Kekaisaran Aslabei setelah kekalahan pengikut Dewi Kehidupan dalam pertempuran melawan Dewa Jahat puluhan ribu tahun silam.
Meski begitu, Dongfang Bubai memiliki intuisi bahwa Kuil Kehidupan berada di suatu tempat di dalam reruntuhan istana ini. Karena setiap tempat suci artefak selalu selaras dengan hukum lima elemen dan posisi bintang, ia yakin bahwa dengan memecahkan rahasianya, ia akan mampu menemukan lokasi kuil tersebut.