Bab Dua Puluh: Ksatria yang Kembali
Perang itu sama sekali belum berakhir, ia hanya bersembunyi dalam keheningan, menunggu satu kesempatan untuk meletus kembali dengan dahsyat—jauh lebih hebat dari pertempuran kecil yang baru saja terjadi! Tengyuan menatap kerumunan mayat yang perlahan menjauh, hatinya mulai tenang. Ia telah memanfaatkan kekuatan yang ia peroleh untuk membungkam indra mereka, mengusir mereka pergi. Ia tahu, mustahil baginya melawan jumlah zombie sebanyak itu seorang diri, kecuali cahaya suci yang ia imani benar-benar turun ke dunia!
Tapi itu mustahil. Ia adalah sosok agung, maha suci dan sakral! Tak mungkin Ia akan hadir hanya demi seorang rasul seperti dirinya. Dewa punya pertimbangan sendiri. Barangkali mereka semua hanyalah sebagian kecil dari para pengikut-Nya, dan dirinya hanyalah satu dari sekian banyak rasul. Nilai seperti itu sama sekali tak berarti bagi keagungan-Nya.
Tengyuan mengerti. Meski ia masih muda, pengetahuannya melampaui banyak orang, sebab ia menerima anugerah Sang Dewa, memperoleh kekuatan yang ia harapkan, dan pengembangan otaknya melampaui manusia biasa.
“Berangkatlah, para prajurit Sang Cahaya! Nama kalian akan terukir dalam kitab suci gereja. Ini adalah pertempuran nan heroik. Kalian adalah pahlawan! Kalian telah melindungi domba-domba Sang Cahaya yang tak berdaya! Kalian membuat mereka merasakan keamanan dan kehangatan…”
Lagu kemenangan yang getir dan megah bergema di hati setiap orang. Belum pernah mereka merasakan kesedihan yang demikian. Tak pernah mereka menduga harus menghadapi perpisahan antara hidup dan mati. Mereka tak pernah takut pada zombie, pun belum pernah dilanda ketakutan seperti ini! Pada saat itu mereka mengerti mengapa bencana ini disebut akhir zaman, mengapa Uskup memaksa mereka berlatih bela diri tanpa henti, mengapa Sang Putri Cahaya berkali-kali memperingatkan bahwa iman pada Dewa harus tulus dan khidmat!
Kini semua menjadi jelas! Tak ada yang bisa didapat tanpa pengorbanan! Mereka harus mempertaruhkan segalanya demi hidup mereka! Karena hidup adalah keseimbangan, adalah pertukaran yang adil!
Awalnya, mereka beriman pada Dewa demi keamanan dan makanan, dan bersyukur karena iman mereka lebih teguh dari kebanyakan orang, sehingga terpilih masuk dalam Persekutuan Suci (nama umum untuk Kedua Belas Legiun), menjadi bagian dari mereka, dan memiliki kekuatan yang tak dimiliki manusia biasa. Namun, mereka tak pernah menyadari betapa berat beban dan tanggung jawab di bahu mereka!
Kini, di hati mereka hanya ada Sang Dewa yang misterius! Karena mereka tahu, saat segalanya mereka serahkan pada keagungan-Nya, mereka akan menerima balasan paling berharga! Mereka bisa melindungi rekan dan keluarga! Membasmi para mayat berjalan yang telah kehilangan kemanusiaan dan kesadaran itu!
Kekuatan iman yang kental dan tak putus-putus mengalir dari tubuh mereka, menembus kehampaan, menembus lapisan-lapisan ruang, memasuki dunia misterius.
“Puji Cahaya! Puji Sang Dewa!”
Orang-orang berjalan pulang ke zona aman dengan tubuh letih. Di barisan terdepan adalah Tengyuan, di sampingnya empat orang mengangkat sesuatu yang ditutupi kain plastik—itulah jasad Komandan Legiun Matahari Terbenam, Zong Hui. Beratnya luar biasa, sampai-sampai keempat pembawa jasad itu merasa seolah sedang mengangkat balok baja padat.
Tengyuan menoleh ke arah jasad yang tertutup di sampingnya, perlahan menutup mata. Kedua matanya yang keemasan perlahan memudar, dan ia kembali pada keadaannya sebagai seorang tunanetra.
……
Di dalam zona aman, semua orang menanti dengan diam para prajurit yang kembali dari medan laga. Sinar putih dari langit menembus tebalnya awan gelap dan jatuh ke bawah, pemandangan yang menggetarkan hati semua orang! Mereka merasakan kehadiran yang sangat familiar—itu adalah aura Sang Dewa!
Kala dari kejauhan, satu per satu sosok muncul di gerbang permukiman, semua orang segera berhamburan menyambut mereka. Mereka bersorak, menjerit kegirangan—ini adalah kemenangan!
“Terima kasih, Cahaya!”
Orang-orang bersorak penuh suka cita, tanpa menyadari wajah-wajah duka di hadapan mereka. Mereka larut dalam kegilaan, dalam sorak-sorai, dalam kebahagiaan, ingin sekali menciumi kemenangan ini! Mereka tahu diri mereka kini aman, zombie telah menjauh! Sorak-sorai tak kunjung reda, tapi suasana perlahan berubah hening, karena akhirnya ada yang menyadari ada sesuatu yang janggal; pahlawan-pahlawan di depan mereka tak mengeluarkan satu pun sorakan, wajah-wajah mereka justru dipenuhi duka!
Ada apa ini? Mengapa?
Pertanyaan itu menggantung di benak semua orang, tanpa ada yang benar-benar sadar bahwa ini adalah sebuah peperangan! Sebuah pertempuran yang getir! Satu strategi yang menuntut pengorbanan demi menyelamatkan mereka!
Tiba-tiba, kerumunan membelah, menciptakan sebuah jalan. Dalam sekejap semua orang terdiam, suasana di lokasi itu menjadi begitu hening, bahkan desir angin pun seakan lenyap.
Para prajurit yang baru kembali itu menatap jalan di depan mereka.
“Kesedihan adalah kekuatan besar, ubahlah duka menjadi kekuatan! Prajurit Sang Cahaya, keberanian kalian akan terukir di kerajaan Sang Dewa, abadi sepanjang masa... Kalian telah membuktikan iman kalian lewat tindakan! Kami memuji kalian! Kami memuji Dewa…”
Xiao Feng melangkah perlahan mendekati para ksatria legiun kemenangan itu. Ia mengenakan jubah indah yang dirancang Yun Bo, tampak sangat agung dan terpancar aura kuat yang membuat semua orang terdiam, kata-katanya membawa pujian dan kepedihan, laksana angin musim semi yang menyejukkan hati setiap insan.
“Yang Mulia Uskup…”
Para ksatria itu ingin bicara, namun suara mereka terhenti, beberapa bahkan menangis keras, tangis yang memilukan, menggetarkan jiwa, dan membuat semua orang meneteskan air mata. Saat itulah semua orang sadar bahwa di hadapan mereka adalah sesama manusia—manusia hidup, bukan prajurit baja yang tak berperasaan! Lepas dari gelar dan kekuatan, mereka tetaplah insan yang hatinya rapuh seperti yang lain!
“Rasakan kekuatan dalam hatimu, rasakan kekuatan dari Cahaya Sang Dewa! Rasakan! Percayalah! Percayalah pada Cahaya yang Agung!” Xiao Feng berjalan ke depan, menempelkan telapak tangannya di kepala salah satu ksatria yang menangis, dan cahaya putih susu terpancar dari telapak tangannya, memberikan berkat. Perlahan-lahan, luka di tubuh ksatria itu yang semula belum sembuh mulai menutup dan akhirnya pulih sepenuhnya.
Melihat kejadian itu, mendengar kata-kata lembut dan menenangkan dari uskup yang agung dan suci, mereka makin yakin pada Sang Dewa—Cahaya yang mereka sembah! Nama suci-Nya terus bergema di hati mereka, menghadirkan kekuatan yang luar biasa dan suci.
Inikah kekuatan Cahaya? Begitu damai, begitu hangat?
Tengyuan berdiri diam di sisi Xiao Feng. Ia menatap Jin Yaoyu dan para pemuka agama serta para pemimpin legiun yang selalu setia mendampingi Xiao Feng, lalu mengangguk pelan dan kembali diam.
“Yang Mulia Uskup…” Para ksatria menangis tersedu, tangisan mereka menyesakkan hati siapa pun yang mendengar.
Xiao Feng menggeleng perlahan, matanya menyapu semua jemaat yang menatap ke arahnya. Ia dapat merasakan, pada saat itu, iman para pengikutnya meningkat beberapa persen, bahkan di antara mereka telah lahir umat yang benar-benar saleh! Lahirnya umat saleh ini cukup untuk menutupi kerugian kali ini, namun yang paling penting adalah para ksatria yang baru saja melewati hidup dan mati itu; tekad dan iman mereka kini sekuat baja, menjadi perisai terkuat!
“Besok kita akan mengadakan upacara pemakaman suci! Mengantarkan para ksatria yang gugur ke peristirahatan terakhir! Bersyukurlah kepada Cahaya Yang Agung! Yang telah menganugerahi kita kekuatan dan keberanian, serta menunjukkan arah tujuan kita!”
Suara Xiao Feng yang berwibawa memenuhi benak setiap orang, berulang kali membunyikan alarm dalam hati mereka! Duka tak boleh berlarut-larut. Inilah akhir zaman! Suasana duka tak akan menguntungkan bagi penyebaran iman dan keberlangsungan hidup!