Seratus Lima Puluh: Seribu Kali
Gaofei menatap sekop di tangannya, lalu mengambil kuda-kuda dan mendorongnya ke depan.
"Kecepatan sodokanmu itu payah, sama sekali tidak becus!"
Komandan Regu Lao Wang menggelengkan kepalanya dengan nada kecewa.
Gaofei tidak terima, menarik kembali sekopnya, lalu menyodorkannya lagi.
Namun, Lao Wang bahkan tidak melihatnya dan berkata, "Kamu masih jauh tertinggal, banyak-banyaklah berlatih."
Usai berkata demikian, Lao Wang bangkit hendak pergi, dan Gaofei buru-buru mengikutinya.
Lao Wang tiba-tiba berhenti, berbalik menatap Gaofei, lalu mengarahkan pandangannya ke sekop di tangan pemuda itu.
Gaofei memandang komandan regu itu dengan ekspresi tak berdaya dan berkata, "Komandan Regu Lao Wang, ini bukan senapan, dilatih seperti apa pun tidak ada rasanya."
"Tidak ada rasanya? Itu karena di dalam hatimu tidak ada senapan. Seorang prajurit yang di dalam hatinya tidak ada senapan tidak akan pernah bisa menjadi penembak jitu yang hebat. Kebetulan tempat ini sunyi, tidak akan ada orang yang datang dan menertawakanmu. Duduklah di sini dan berlatihlah menyodorkan senapan sebanyak seribu kali. Kalau sudah selesai, kamu boleh kembali."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Lao Wang langsung pergi.
Gaofei merenung sejenak. *Ada yang tidak beres,* pikirnya. *Aku mengejarnya keluar untuk mendengarkan cerita, bukan untuk berlatih menyodorkan sekop. Ini melenceng dari niat awalku mengejarnya tadi.*
Setelah memikirkan hal itu, ia kembali mengejar Lao Wang.
"Seribu kali!"
Lao Wang berbalik lagi dan melotot ke arah Gaofei sambil melontarkan satu kalimat itu.
Gaofei terpaksa menghentikan langkahnya, memandangi punggung Lao Wang yang semakin menjauh, sementara hatinya merasa sangat tidak keruan.
"Sadarlah sedikit, jangan coba-coba bermalas-malasan di belakangku."
Tepat saat Gaofei berpikir bahwa tidak ada orang yang mengawasi sehingga ia bisa bermalas-malasan, Lao Wang yang sudah berjalan jauh tiba-tiba berseru dari kejauhan.
"Meremehkanku rupanya!"
Gaofei bergumam kecil, lalu mengambil kuda-kuda dan langsung menyodorkan sekop di tangannya.
"Satu!"
Gaofei menariknya kembali sambil berseru, "Dua!"
Begitu angka itu disebut, sekop di tangannya kembali disodorkan ke depan.
...
Lao Wang berjalan kembali ke area markas dan melihat Leng Yu serta Xu Heizi sedang berlatih di palang sejajar di area latihan depan. Ia pun mengubah arah langkahnya dan menghampiri mereka.
Melihat Lao Wang mendekat, Leng Yu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku bajunya beserta pematik api, lalu melemparkannya ke arah Lao Wang.
Lao Wang menangkapnya, mengambil sebatang, dan setelah menyalakannya, ia memasukkan kembali bungkus rokok itu ke dalam sakunya sendiri. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada palang sejajar dan merokok seorang diri.
"Bagaimana?" Leng Yu tiba-tiba bertanya.
"Bakatnya lumayan, tapi fondasinya kurang kokoh dan masih harus banyak berlatih. Aku tidak berani menjamin seberapa hebat dia nantinya, tapi ruang untuk berkembang masih sangat besar. Semuanya tergantung pada kedisiplinan dirinya sendiri."
Lao Wang menjawab dengan nada datar, seolah-olah urusan itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Komandan Regu Lao Wang, ini adalah pertama kalinya sepanjang sejarah kamu memuji seseorang berbakat. Apakah kamu tidak berniat menerima murid lagi?" tanya Xu Heizi saat itu.
Lao Wang menjentikkan abu rokok di jarinya dan berkata dengan cuek, "Ini tentara, buat apa cari-cari murid? Komandan kompi atau wakil komandan kompi tinggal bilang saja kalau mau aku melatih seseorang. Tapi, aku hanya akan mengarahkan jalurnya, aku ini..."
Lao Wang menyelesaikan kalimatnya dengan gelengan kepala.
"Komandan Regu Lao Wang, sikapmu ini tidak baik rasanya. Bagaimanapun juga, kamu adalah penembak jitu terbaik di peleton pengintai kita. Terus-menerus mendekam di dapur tentara bukanlah hal yang benar."
"Aku sudah tua, tidak bisa tidak mengakui usia. Dapur tentara sudah sangat bagus dan cocok untukku. Wakil komandan kompi tidak usah membujukku lagi. Kalian para pemimpin harus lebih banyak membina darah baru. Militer adalah tempat yang membutuhkan darah segar, dan para prajurit mudalah yang menjadi napas baru militer. Jangan selalu mengarahkan pandangan kalian pada kami para prajurit tua ini. Sudahlah, kalau tidak ada urusan lain, aku mau kembali dulu."
Lao Wang membuang puntung rokoknya, bahkan tanpa pamit kepada Leng Yu dan Xu Heizi, ia langsung berbalik dan melangkah pergi.
"Lao Wang, latihan apa yang sebenarnya kamu berikan padanya?" tanya Leng Yu.
Lao Wang berbalik, berpikir sejenak, lalu menjawab di luar konteks, "Komandan Kompi, lain kali bisakah kamu mengganti merek rokokmu? Bagaimanapun juga kamu adalah seorang komandan kompi, berpangkat mayor wakil batalion, apakah tidak malu merokok rokok murahan seharga tiga setengah yuan?"
Wajah Leng Yu berkedut menahan kekesalan. Ucapan Lao Wang membuatnya sedikit tidak nyaman, tetapi ia memilih menelan kekesalannya.
Lao Wang kembali membalikkan badan dan berjalan menuju dapur tentara sambil melambaikan tangannya dengan santai ke belakang tanpa menoleh, "Kalau ingin tahu, pergilah ke belakang dan lihat sendiri."
Lao Wang telah pergi. Xu Heizi menatap Leng Yu dan bertanya, "Apakah kita perlu pergi dan melihatnya?"
Leng Yu menggelengkan kepalanya. Ia turun dari palang sejajar dan berkata, "Sudahlah, kembali dan beristirahat saja. Jangan terlalu banyak memikirkan urusan orang lain."
Xu Heizi menatap Leng Yu yang berjalan pergi, lalu melirik ke arah dapur tentara sebelum akhirnya berbalik dan ikut melangkah pergi.
...
Menjelang waktu latihan sore tiba, Gaofei berjalan kembali sambil mengibaskan kedua lengannya dengan gigi terkatup dan wajah meringis.
Latihan menyodorkan sekop tadi benar-benar sebuah penyiksaan. Di awal, latihan itu hanya terasa membosankan, tetapi menjelang akhir, latihan itu berubah menjadi siksaan yang nyata bagi kedua lengannya.
Mengenai apakah jumlahnya sudah mencapai seribu kali, Gaofei sendiri tidak yakin. Di awal ia memang menghitungnya, tetapi begitu melewati angka dua ratus, hitungannya menjadi kacau balur, sehingga ia memutuskan untuk berhenti menghitung sama sekali.
Ia baru kembali setelah kedua tangannya benar-benar terasa begitu lemas hingga tidak sanggup lagi mengangkat sekop.
Lao Wang duduk di bangku kecil di dalam dapur tentara sambil membaca sebuah buku. Buku itu bukanlah buku panduan profesional, melainkan sebuah buku bacaan biasa. Ia tampak begitu tenggelam dalam bacaannya, namun saat Gaofei melangkah masuk, ia tetap mengangkat kepalanya.
"Sudah cukup jumlahnya?" tanya Lao Wang sambil menatap Gaofei.
"Entahlah!" jawab Gaofei dengan jujur. Ia lalu menambahkan, "Aku sedang tidak mood untuk menghitung. Aku berlatih sampai tanganku benar-benar tidak bisa diangkat lagi, lalu aku langsung kembali!"
"Sudah ada rasanya?" tanya Lao Wang lagi.
Gaofei tidak mengerti aspek rasa apa yang dimaksud oleh Lao Wang. Ia mendapati bahwa ucapan komandan regu itu selalu begitu samar dan tidak jelas, membuatnya sama sekali tidak mampu memahaminya.
"Selain rasa pegal dan linu di kedua tanganku, tidak ada rasa apa-apa lagi," jawab Gaofei sejujurnya.
Lao Wang mendorong sebuah baskom stainless steel di sampingnya dengan ujung kakinya hingga bergeser ke dekat kaki Gaofei, lalu mengisyaratkan dengan matanya ke arah teko air di samping, seraya berkata, "Ada air panas di dalam teko, ambil sendiri airnya dan rendam lenganmu di dalam baskom itu sebentar."
Usai berkata demikian, Lao Wang kembali mengangkat bukunya dan melanjutkan pembacaannya dengan penuh konsentrasi.
Gaofei sebenarnya sangat malas bergerak, sungguh-sungguh malas. Namun, ia tetap menuruti perintah itu dengan membuka tutup teko, menuangkan air panas ke dalam baskom stainless steel, lalu menggulung lengan bajunya dan merendam kedua belah tangannya secara mendatar di dalam air hangat tersebut.
Anggota dapur tentara yang lain terbangun dari tidur siang mereka. Melihat Gaofei sedang merendam tangannya, mereka melirik sekilas ke arah Lao Wang, lalu melemparkan tatapan penuh simpati kepada Gaofei.
Seolah bisa merasakan kehadiran orang-orang lain di sekitarnya, Lao Wang bahkan tidak menurunkan bukunya saat ia berkata kepada Gaofei, "Sore ini kompi tidak mengadakan latihan fisik, melainkan pelajaran teori taktis. Gaofei, kembalilah ke peletonmu, tidak perlu tinggal di dapur tentara."
Gaofei berujar "baik" lalu mengangkat tangannya keluar dari baskom stainless steel. Ia mengibaskan sisa air di lengannya dan bersiap untuk pergi.
Lao Wang menurunkan bukunya dan memanggil, "Mau langsung pergi begitu saja?"
Gaofei menoleh, melirik ke arah Lao Wang, dan langsung mengerti. Ia bergegas kembali, membuang air di dalam baskom stainless steel ke saluran pembuangan, lalu meletakkan baskom tersebut kembali ke tempat semula sebelum akhirnya menatap Lao Wang sekali lagi.
Lao Wang tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya melambaikan tangannya kepada Gaofei. Mengerti dengan gestur itu, Gaofei berbalik dan berjalan pergi.