Bab Tiga Puluh Delapan: Insiden yang Dipicu oleh Setengah Roti Kukus (1)
Mendengar dirinya akan diundang, Gao Fei segera mengambil mantou dari mulutnya, menatap Zhang Yuan dengan wajah penuh kegembiraan dan berkata, “Baiklah, aku ingat itu. Aku juga tak menuntut kau traktir makan besar, nanti cukup traktir aku beberapa bungkus keripik pedas saja.”
“Keripik pedas?” Zhang Yuan tampak agak terkejut.
Gao Fei mengangguk, “Benar, keripik pedas, yang dijual di koperasi seharga lima puluh perak sebungkus.”
Melihat Gao Fei tidak sedang bercanda, Zhang Yuan pun tersenyum, “Oke, asal ada kesempatan ke koperasi, pasti kubelikan sepuluh bungkus untukmu.”
“Deal, aku catat ya. Sekarang kau utang sepuluh bungkus keripik pedas padaku.”
...
Gao Fei menggigit mantou dengan santai, berjalan menuju lemari sterilisasi di dapur. Setelah mencuci peralatan makan, mereka memang harus mengembalikannya ke lemari itu.
Dalam hati, Gao Fei berpikir bahwa utangnya pada Wang Yang, empat bungkus keripik pedas, akhirnya bisa ia lunasi. Selain itu, ia bahkan mendapat tambahan enam bungkus untuk dirinya sendiri.
Seusai makan, mereka kembali ke asrama. Tak lama kemudian, tiba waktunya menonton televisi. Mungkin karena lelah berlatih, Gao Fei merasa menonton televisi kini menjadi kenikmatan tersendiri.
Setelah tiga puluh menit waktu menonton selesai, semua kelas kembali ke asrama. Sesuai instruksi pelatih, mereka mulai mempelajari peraturan dan tata tertib. Gao Fei, yang sudah berada di kelas, memegang buku catatan dan melamun, tiba-tiba mendengar keributan dari luar. Dengan rasa penasaran, ia berdiri dan mengintip ke luar jendela.
Ketua kelas, Wang Gang, juga terganggu oleh suara ribut di luar. Ia menoleh dan melihat Gao Fei sedang mengintip. Wang Gang pun berdiri, mendekati Gao Fei, dan menepuk pundaknya.
Gao Fei mengangkat bahu yang ditepuk Wang Gang. Ia benar-benar tidak ingin diganggu saat ini.
“Jangan ganggu, pergi sana, mainlah di tempat lain.”
Saat itu, Wang Yang pelan-pelan menarik Gao Fei. Merasa terganggu, Gao Fei menoleh, “Sudah kubilang, jangan...”
Begitu melihat ketua kelas di belakangnya, Gao Fei langsung diam dan tak berani berkata apa-apa lagi.
“Gao Fei, jangan terlalu penasaran. Kalau itu bukan urusanmu, jangan ikut-ikutan. Duduk kembali dan lanjutkan pelajaran peraturanmu. Biar aku yang keluar melihat.”
Setelah Wang Gang keluar dari asrama, Gao Fei dan Wang Yang yang bertubuh kecil dengan cekatan berjalan ke pintu. Mereka membuka pintu sedikit dan menempelkan mata ke celahnya, mengintip ke luar.
“Itu prajurit senior dari dapur, kan?” bisik Gao Fei, melihat prajurit senior berbicara dengan pelatih di luar.
Wang Yang juga mengintip lekat-lekat. Ketika ia melihat prajurit senior itu membawa setengah mantou di tangannya, ia menoleh ke arah Zhang Yuan yang sedang belajar tekun.
“Gao Fei, kurasa Zhang Yuan akan kena masalah.”
“Maksudmu Zhang Yuan kena masalah? Ada apa memangnya? Aku kok agak bingung,” jawab Gao Fei, menunduk menatap Wang Yang yang lebih pendek darinya.
“Lihat, prajurit senior dari dapur itu membawa setengah mantou. Kalau kau ingat saat makan tadi, Zhang Yuan terakhir menyisakan setengah mantou dan tidak menghabiskannya. Ia keluar membawa setengah mantou itu. Aku curiga, setengah mantou yang dibawa prajurit senior itu adalah sisa Zhang Yuan.”
Zhang Yuan sepertinya mendengar pembicaraan mereka. Ia mengangkat kepala dan menatap ke arah Gao Fei dan Wang Yang.
“Ada apa? Kalian sepertinya sedang membicarakanku?”
Gao Fei berbalik pada Zhang Yuan dan melambaikan tangan, “Bukan urusanmu, tak ada hubungannya dengan kita, tak perlu dihiraukan. Lebih baik kau belajar peraturan dengan tenang. Wang Yang, saranku jangan sembarangan bicara, setengah mantou Zhang Yuan tadi tidak hilang, aku yang makan.”
Wang Yang menarik Gao Fei ke samping dan berbisik padanya.
“Gao Fei, apa kau harus selalu menanggung segalanya sendirian? Kenapa harus seperti itu? Sekarang bahkan ketua dapur sudah mencari, walaupun kau mau menanggung, tetap saja tak bisa kau urus sendiri. Selain kita, masih ada yang lain di kelas ini yang melihat kejadian itu. Aku tak percaya kau bisa membungkam semua mulut mereka.”
“Benar-benar aku yang makan, aku tidak bohong padamu. Setengah mantou Zhang Yuan memang tidak hilang,” tegas Gao Fei sekali lagi.
“Gao Fei, sudahlah jangan membodohiku. Hubunganmu dengan Zhang Yuan ‘kan tidak sedekat itu, kenapa kamu bela dia seperti ini? Apa dia sudah memberi sesuatu padamu?”
“Tidak juga, cuma dia janji mau traktir aku keripik pedas.”
“Gao Fei, apa kau tidak punya harga diri? Hanya karena beberapa batang keripik pedas saja kau sudah dibeli? Ini namanya kau menggali lubang sendiri. Ingat, aku sudah memperingatkanmu, jangan selalu menanggung segala hal sendiri. Ini bukan membantu, malah menyusahkan dia.”
Gao Fei tertegun, dalam hati bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia malah menyusahkan Zhang Yuan, toh ia cuma membantu menghabiskan setengah mantou.
Saat itu, prajurit senior dari dapur di luar melihat Wang Gang, ketua kelas, keluar. Ia memperlihatkan setengah mantou yang dibawanya dan berkata, “Ketua Wang, kau datang tepat waktu. Aku memang sedang mencarimu. Tadi ada yang lihat salah satu anak buahmu tidak menghabiskan mantou-nya, di kotak makannya masih ada setengah. Lalu dia langsung mencuci piringnya. Ini, aku temukan setengah mantou ini di pojok dekat wastafel. Kau tahu bagaimana susahnya kami di dapur? Masak dengan susah payah, mendahulukan para prajurit baru, kami sendiri sering tak kebagian. Tapi prajuritmu malah seenaknya membuang mantou. Kalau memang tak sanggup habiskan, jangan diambil. Lagipula, sebagai prajurit, membuang-buang makanan itu sangat tidak pantas. Bukankah slogan kita selalu tentang hidup hemat dan kerja keras? Kau sebagai ketua kelas pasti lebih paham maknanya.”
Pelatih senior Wang Bo’an menerima mantou itu dari prajurit dapur, memperhatikannya baik-baik, lalu menyerahkan mantou itu pada Wang Gang.
“Ketua Wang, kalau memang ini prajurit dari kelasmu yang membuang, urus saja sendiri. Aku hanya ingin tahu hasil akhirnya.”
Wajah Wang Gang langsung berubah masam. Ia berbalik, dan dari depan pintu asrama kelas tiga, memanggil, “Gao Fei, Wang Yang, kalian berdua keluar.”
Pilihan utama Wang Gang soal siapa yang membuang mantou itu adalah Gao Fei dan Wang Yang, karena saat makan hanya mereka yang mengambil paling banyak. Sementara yang lain jumlahnya sudah cukup untuk satu orang.
Mendengar namanya dipanggil, Wang Yang dan Gao Fei saling berpandangan. Wang Yang berbisik pada Gao Fei, “Ingat, jangan semua urusan kau tanggung sendiri, apalagi cuma karena keripik pedas.”
“Kau tidak paham, sudah kujelaskan, setengah mantou Zhang Yuan memang aku yang habiskan. Aku tidak bohong, tanya saja Zhang Yuan.”
“Buat apa tanya-tanya, ketua kelas sudah panggil, ayo kita keluar.”