Epilog 6
Kuil Dewi Laut di Gunung Meizhou berdiri megah di puncak gunung. Tatapan Dewi Laut tampak agung sekaligus penuh kasih, memandang hamparan laut biru tanpa batas. Perahu-perahu nelayan di kejauhan terombang-ambing di atas ombak, seolah-olah tengah bersujud menyembah Dewi Laut. Di bawah patung raksasa setinggi hampir lima belas meter itu, manusia tampak tak ubahnya seperti semut.
Setiap kali para pedagang laut dari Putian kembali dari pelayaran jauh, hal pertama yang pasti mereka lakukan adalah datang ke Kuil Dewi Laut di Gunung Meizhou, menyalakan sebatang dupa, dan mempersembahkan syukur atas perlindungan yang telah membawa mereka pulang dengan selamat.
Qin Shu pun demikian.
Ia berlutut lama di hadapan patung Dewi Laut, memohon ampun atas kegagalannya. Dalam badai ganas beberapa waktu lalu, ia sudah berusaha sekuat tenaga namun tetap tak mampu menyelamatkan semua sahabat seperjalanannya. Karena itu, ia menolak tegas menerima upah seribu tael yang ditawarkan oleh majikannya.
Bertahun-tahun melaut, Qin Shu terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekuatan, tetapi kekuatan tak mampu melawan kelicikan hati manusia. Dewi Laut telah mengajarinya bagaimana mengangkat layar, memegang kemudi, menghindari karang tersembunyi, serta membaca arah lewat gemerlap bintang di malam hari, namun tidak pernah mengajarkan cara mengenali tipu muslihat yang tersembunyi dalam gelapnya hati manusia.
Qin Shu memang tidak menyukai orang itu. Namun ia juga tak bisa memungkiri bahwa keputusan terakhir yang diambil orang itu di lorong rahasia sangatlah bijaksana. Seandainya mereka memaksa terus ke depan, mungkin saja mereka bisa menemukan jalan keluar di “Gerbang Istirahat.” Tetapi setelah terlalu lama terjebak dalam gelapnya lorong bawah tanah, bila tiba-tiba melihat cahaya di pintu keluar, kebutaan sesaat pasti tak terhindarkan. Pada saat itulah, sebilah pedang panjang yang sudah tersembunyi di balik pintu, atau sebilah parang berkarat, bisa dengan mudah mengubah “Gerbang Istirahat” menjadi “Gerbang Kematian.”
Sebelum Lin Jingzhai masuk ke lorong rahasia, Qin Shu telah memperhatikan bahwa pedang panjang di tangan jenazah Lin Yanfu sudah menghilang.
Demi mendapatkan “Batu Penghidupan Kembali,” atau sekadar demi memastikan kerahasiaan Chong’an di masa depan, baik Lin Jingzhai maupun Guo Xiu punya alasan untuk membunuh semua yang masih selamat di bawah Formasi Naga Guncang, termasuk para wanita dan anak-anak yang melarikan diri ke Bukit Angin Dingin.
Untuk bisa bertahan hidup dalam situasi seperti itu, sekaligus menjaga rahasia “Batu Penghidupan Kembali” agar Lin Jingzhai dan Guo Xiu tidak berani bertindak gegabah, tindakan orang itu yang membawa empat orang kembali ke aula utama rumah bundar melalui lorong rahasia adalah satu-satunya pilihan yang benar.
Namun Qin Shu tetap tidak mengerti, mengapa setelah “Batu Penghidupan Kembali” dilempar ke mulut lorong, guncangan di bumi benar-benar perlahan berhenti. Padahal sebelumnya, orang itu berkata bahwa untuk menghentikan Formasi Naga Guncang, “Batu Penghidupan Kembali” harus diletakkan di sisi timur desa.
Sampai hari ini, Qin Shu tidak pernah tahu pasti mana kata-kata orang itu yang benar, dan mana yang dusta. Ia pun sudah tidak ingin lagi mencari tahu.
Bertahun-tahun menjalankan usaha di laut, Qin Shu sudah sering berurusan dengan para pedagang licik yang gemar berbohong. Ia sebenarnya tidak membenci para penipu. Menipu sering menjadi naluri manusia untuk melindungi diri dan mencari keuntungan; ia sendiri pun tidak pernah berjanji bahwa setiap kata yang ia ucapkan selalu benar. Di kampung halamannya, ia punya beberapa teman penipu yang suka membual dan menipu orang polos, namun mereka tetap bisa duduk minum bersama-sama.
Namun kali ini, Qin Shu tidak ingin lagi terlibat urusan apa pun dengan orang itu. Dalam pandangannya, kepercayaan orang itu terhadap dunia hanya terbatas pada kompas di tangannya sendiri.
Mungkin saja, sejak awal orang itu sudah bisa menebak dari perubahan jarum kompas bahwa Formasi Naga Guncang memang sudah hampir berhenti. Formasi itu sendiri barangkali tidak semenakutkan seperti yang ia katakan, mungkin hanya sebuah bencana alam biasa.
Bisa jadi, cerita bahwa mengembalikan “Batu Penghidupan Kembali” ke gunung dan laut dapat menghentikan Formasi Naga Guncang, hanyalah taktik orang itu untuk menjaga nyawa mereka.
Bagaimanapun caranya, pada akhirnya “Batu Penghidupan Kembali” itu sudah dikembalikan ke Desa Nanxi, ke Pegunungan Wuyi, dan benda itu telah kembali ke tempat asalnya.
Hanya saja, rahasia tentang di mana letak “Batu Penghidupan Kembali” kini tidak lagi hanya dipegang oleh kepala suku dan guru tua Desa Nanxi, melainkan berpindah kepada empat orang yang hadir waktu itu untuk dijaga seumur hidup. Kepala suku dan guru tua sudah meninggal secara tragis, lalu siapa lagi yang akan menjadi korban berikutnya?
Qin Shu memohon pada Dewi Laut, agar dirinya dijauhkan dari orang itu, dan kalau bisa, seumur hidup tak perlu lagi bertemu dengannya.