Mengubah Kegelapan Menjadi Terang 8
Li Yingsheng telah mengetahui beberapa rahasia milik Nanxi, tetapi ia masih merasa itu belum cukup. Malam masih panjang. Ia merasa agak lapar, lalu berseru, "Si Hitam!"
Orang berbaju hitam langsung muncul di hadapannya.
Dengan nada letih, Li Yingsheng berkata, "Pergi, suruh dapur memasakkan semangkuk mi untukku. Banyakkan minyak wijen, kurangi irisan daun bawang."
Orang berbaju hitam mengangguk, berbalik dan berjalan keluar.
Terdengar suara Li Yingsheng dari belakang, "Si Hitam, kau tidak ingin tahu apa yang dibawa orang tua itu untukku tadi?"
Orang berbaju hitam sebenarnya sangat ingin tahu. Namun ia tetap menggelengkan kepala.
"Baiklah. Pergilah masak mi."
Orang berbaju hitam keluar dari ruangan. Sebenarnya ia bisa saja memanfaatkan waktu membuat mi itu untuk mengejar orang tua tadi, dan dengan cara-cara khusus, memaksanya mengaku tentang apa yang ingin ia ketahui. Tapi ia tidak akan melakukannya. Sebab, kata-kata Li Yingsheng adalah sebuah ujian. Begitu orang berbaju hitam menunjukkan sedikit saja ketidaksetiaan pada saat yang genting ini, bisa saja ia akan menerima serangan tanpa ampun dari Li Yingsheng.
Serangan semacam itu akan mematikan. Orang berbaju hitam tidak ingin mencoba-coba batas kesabaran Li Yingsheng. Di Chong'an, orang berbaju hitam hanya boleh mengetahui apa yang diizinkan oleh Li Yingsheng.
Saat orang berbaju hitam pergi ke dapur untuk memasak mi, Li Yingsheng menerima tamu keduanya malam ini.
Tamu itu adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya gemetar kedinginan.
Li Yingsheng menggeleng-geleng kepala, berkata, "Tidak, seharusnya bukan anak-anak. Tidak mungkin kau bisa masuk ke penginapan ini."
Anak itu menggigit bibirnya, memaksakan diri bicara, "Tapi aku sudah masuk."
Li Yingsheng tertawa, "Mungkin kau belum tahu, waktuku sangat berharga. Begini saja, temanku sedang memasak mi untukku. Sebelum ia kembali, selesaikan apa yang ingin kau katakan. Temanku itu tidak sabaran, begitu ia kembali ke kamar ini, aku berani bertaruh satu-dua tael perak, ia pasti akan membunuhmu dengan satu tebasan, karena ia paling benci anak-anak."
Anak itu mengusap debu di wajahnya dengan keras, lalu berkata, "Kakekku sudah mati."
"Orang tua memang pada akhirnya akan mati. Sudah selesai kau bicara?"
"Kakek dibunuh oleh mereka! Aku bersembunyi di atas atap sehari semalam, hanya untuk datang ke sini memberitahumu!" Anak itu berbisik marah.
"Aku sangat bersimpati padamu. Tapi mengadili perkara bukan urusanku, sebaiknya kau lapor ke kepala daerah setempat."
"Pejabat yang membunuh, kau pun tidak mau peduli?" Anak itu tampak tidak puas dengan jawaban Li Yingsheng.
"Pejabat?" Li Yingsheng mendadak merasa anak ini menarik, ingin mendengar lebih lanjut, "Yang kau maksud Tuan Lin, kepala daerah itu? Apa pekerjaan kakekmu? Kenapa ia membunuh kakekmu?"
"Kakekku seorang pengemis," jawab anak itu dengan nada minder, "Ia membawaku mengemis di jalan depan kantor kabupaten. Setiap hari kami hanya menunggu orang kaya dan orang dinas selesai makan, kadang memberi kami satu-dua keping koin tembaga, atau sisa makanan, atau apa pun yang bisa dimakan. Malamnya, kami tidur di kuil dewa gunung di luar kota bersama para pengemis lain. Lalu, malam sebelum kemarin, beberapa petugas membawa kakek keluar, dan kakek tak pernah kembali. Keesokan paginya, aku melihat..."
Air mata anak itu mengalir, ia tak sanggup lagi melanjutkan.
"Aku tidak mau dengar tentang koin tembaga, sisa makanan, atau kuil dewa gunung," ujar Li Yingsheng dengan dingin, "Ceritakan yang berguna, kalau tidak kau tidak akan keluar hidup-hidup dari ruangan ini, aku jamin."
"Aku memang tak pernah berharap keluar hidup-hidup!" Anak itu tiba-tiba berlari ke dekat jendela, tanpa rasa takut berkata, "Kalau kau tidak dengar ceritaku sampai habis, aku akan berteriak keras-keras lalu melompat dari jendela ini. Kira-kira apa yang akan dipikirkan para petugas di luar sana?"
Li Yingsheng bertepuk tangan dua kali untuknya, berkata, "Benar-benar berani dan cerdik! Jika arwah kakekmu melihatmu dari surga, pasti ia bangga. Tapi ini lantai tinggi. Kalau kau lompat, kau bisa mati. Sedangkan Lin Jingzhai dan aku, tetap hidup seperti biasa. Jadi, apakah kau benar-benar ingin mati?"
Anak itu ragu sejenak, lalu berkata, "Yang kutahu, ada orang menitipkan sepucuk surat pada kakek untuk disampaikan pada pejabat itu."
"Siapa?"
"Aku... aku tidak tahu, aku tidak kenal dia... Sepertinya, badannya tinggi, seperti tentara..." Anak itu mengingat-ingat kejadian itu, bicaranya terbata-bata.
"Hmm," tanya Li Yingsheng sambil berpikir, "Kau masih ingat bentuk surat itu?"
"Aku ingat! Ada gambar bunga mei di atasnya!" seru anak itu spontan.
Li Yingsheng tertawa, "Ingatannya bagus. Benar, surat bermotif bunga mei. Tapi jika si pengantar dibunuh, bukankah itu tidak ada hubungannya dengan si penulis surat?"
Anak itu tertegun, lalu balik bertanya, "Kau yang menulis surat itu?"
"Nampaknya Lin Jingzhai membiarkanmu hidup adalah kesalahan besar," ujar Li Yingsheng sambil menatap anak itu dengan kagum, "Kalau kau dewasa nanti, mungkin kau akan menjadi yang terbaik di bidang ini. Jika kau beruntung masih hidup sampai hari itu."
Pipi anak itu memerah mendengar pujian itu, tapi ia tetap melanjutkan, "Kenapa surat yang kau tulis untuk pejabat kabupaten harus dikirimkan diam-diam lewat kakekku?"
"Itulah masalahnya," jawab Li Yingsheng, "Memang benar aku menulis surat untuk Lin Jingzhai, tapi aku mengirimkannya secara resmi lewat pos pemerintah ke Chong'an, tidak perlu lewat tentara atau melalui kakekmu secara diam-diam untuk diselipkan ke Lin Jingzhai. Dan yang paling penting, aku tidak pernah memakai kertas bermotif bunga mei."
Anak itu menunduk berpikir sejenak, lalu berkata, "Jadi, ada yang memalsukan suratmu?"
Li Yingsheng menatap anak itu dengan serius, "Semua suratku kutulis sendiri, tak bisa dipalsukan. Tapi amplop dan cap sangat mudah dipalsukan."
Anak itu memang cerdas, namun usianya masih terlalu muda untuk langsung menangkap inti masalah. Melihat anak itu terdiam, Li Yingsheng berkata, "Nak, terima kasih sudah memberitahuku hal penting. Sekarang kau boleh pergi, kurasa aku sudah mendengar langkah kaki temanku yang tak sabaran sedang naik ke atas."
Anak itu memandang Li Yingsheng dengan ragu, "Tempat ini dijaga ketat, bagaimana aku bisa keluar?"
Li Yingsheng tertawa, "Kau pasti bisa keluar, aku tahu itu."
Anak itu pun tersenyum kikuk, mengacungkan jempol pada Li Yingsheng, lalu melompat ke jendela dan menghilang ke dalam kegelapan.
Terdengar suara pintu berderit terbuka. Orang berbaju hitam membawa semangkuk mi panas dengan aroma minyak bawang yang harum memenuhi ruangan. Ia meletakkan mi di atas meja, lalu bertanya, "Tuan, tadi aku seperti mendengar suara orang lain."
"Begitukah?" Li Yingsheng berkata lambat-lambat, "Kau salah dengar. Tak ada siapa pun yang datang. Aku lapar, kau mau makan juga?"