Bab 007: Dia Juga Bisa Bertindak Tanpa Peduli Cara
“Anakku, kamu sudah 29 tahun tapi belum juga cari pasangan. Apa kamu berniat hidup sendiri sampai tua?”
“Ibu, kenapa bilang 29 tahun? Aku baru 18 tahun ditambah 132 bulan.”
“Jangan ngaco. Dengar ya, tahun ini kalau kamu pulang tanpa bawa pacar, ibu akan cariin kamu pasangan lewat perjodohan.”
“Perjodohan? Ya sudah, cariin aku kakek-kakek aja. Yang penting punya rumah, tabungan, dan pensiun.”
“Bagus. Pantas saja kamu nggak pernah mau pacaran, rupanya kamu naksir sama si Kakek itu. Jujur, kamu sudah diam-diam janji sehidup semati dengannya ya? Dasar Kakek itu, umur segitu masih berani-beraninya menggoda anakku. Biar ibu samperin sekarang juga.”
Sang anak hanya bisa memandang dengan pasrah. “Silakan saja, tapi aku ingatkan, anak Kakek itu adalah anggota Armada Luar Angkasa, seorang prajurit robot tempur. Kalau di depan dia ibu macam-macam lalu ditangkap, aku nggak bakal mau menjemput ibu di kantor polisi.”
Orang-orang biasa di Federasi memang sangat menghormati para prajurit, apalagi Federasi sedang berada dalam masa peperangan. Kehidupan damai di Bumi Biru, di mana orang-orang bisa pergi ke kebun binatang menonton simpanse dan monyet, bukan sebaliknya menjadi tontonan binatang, semua itu berkat prajurit Federasi yang mempertaruhkan nyawa membangun garis pertahanan di garis depan.
Menahan musuh agar tak menginjakkan kaki di planet ini.
Dan di antara para prajurit Federasi, pasukan robot tempur adalah yang paling dihormati. Bukan hanya karena tampilan mereka yang gagah saat mengemudikan robot, tapi juga karena dari jutaan prajurit Federasi, hanya tiga ratus ribu yang bisa menjadi prajurit robot. Padahal jutaan prajurit itu sendiri sudah disaring dari delapan miliar manusia Federasi.
Dengan kata lain, tiga ratus ribu prajurit robot tempur itu dipilih dari delapan miliar manusia. Setiap orangnya benar-benar satu di antara sejuta.
“Huh, hebat sekali. Semua gara-gara kamu nggak becus. Kalau kamu menikah lebih awal dan kasih ibu cucu, barangkali sekarang dia sudah bisa ikut wajib militer.”
“Menikah lebih awal pun, anaknya paling-paling baru delapan tahun umurnya.”
“Kenapa? Anak delapan tahun nggak bisa jadi prajurit robot? Bikin saja robot yang lebih kecil, kenapa tidak?”
Sang anak tak bisa membantah. Tapi tiba-tiba ia teringat kalau hari ini adalah hari dimulainya perekrutan militer di Kota Phoenix Baru. Bergegas ia menyalakan televisi untuk menonton siaran langsung.
Ibunya yang cerewet pun akhirnya diam, ikut menonton televisi. Semua warga Federasi sangat menaruh perhatian pada perekrutan ini, karena untuk pertama kalinya militer mengadakan perekrutan secara langsung dan terbuka di seluruh Federasi. Sebelumnya, kecuali wajib militer, semua proses pendaftaran dilakukan secara sukarela dan harus lulus seleksi.
Banyak orang di dunia maya mulai menyebarkan kekhawatiran, mengabarkan bahwa Federasi sudah nyaris tak mampu menahan garis depan melawan bangsa asing. Katanya, monyet-monyet Kekaisaran sudah menemukan cara membuka gerbang teleportasi langsung di Bumi Biru. Pasukan robot Kekaisaran akan meloncat keluar dari gerbang itu, dan perang pun akan bergeser dari garis depan menuju bumi sendiri.
Pemerintah Federasi membantah keras kabar tersebut, menegaskan bahwa ini hanyalah rekrutmen biasa, usaha memperbarui sistem lama, dan sebagainya. Ada yang percaya, ada yang tidak, tapi siapa pun yang mereka percayai, saat perekrutan dimulai, tidak terhitung banyaknya orang yang memperhatikan.
“Para penonton, di sini televisi Kota Phoenix Baru, saya reporter Jing Pei, melaporkan langsung dari stadion kota. Karena hari ini akhir pekan, sangat banyak orang datang ke sini. Selain peserta yang mendaftar seleksi militer, banyak juga keluarga yang mengantar. Sekarang, mari kita coba wawancarai mereka... Pak, Pak, jangan berdesak-desakan ke dalam, di dalam itu tempat verifikasi data peserta. Lebih baik bapak saya wawancarai saja.”
Gambar di televisi membuat ibu dan anak di ruang tamu itu sama-sama terkejut.
“Kakek Ji?”
Seruan serupa menggema di banyak rumah di kawasan itu, juga di bengkel tempat Ji Xinghe bekerja selama empat puluh tahun, di kantor polisi Kota Phoenix Baru, dan bahkan di rumah tahanan tempat Ji Xinghe sempat menginap beberapa hari lalu.
Karena orang yang sedang berusaha mendorong masuk ke kerumunan itu, dan dihentikan oleh reporter, adalah Ji Xinghe sendiri.
Merasa dirinya semakin handal, Ji Xinghe yang sempat mampir menempa senjatanya sendiri, datang sedikit terlambat sehingga di hadapannya sudah ada lautan manusia. Ia pun merasa kecil kemungkinan bisa menerobos masuk.
“Pak, Pak?”
Reporter Jing Pei menyodorkan mikrofon ke depan Ji Xinghe, memanggil di tengah keramaian, “Bapak mau mengantar cucu untuk ikut seleksi militer, ya?”
Ji Xinghe tanpa ekspresi, berpikir sejenak, lalu melepaskan niat menerobos kerumunan. Ia harus mencari jalan lain, demi tujuannya ia rela melakukan apa saja. Mencuri pesawat polisi saja ia berani, apalagi urusan lain.
“Bukan. Saya bukan mengantar cucu ikut seleksi.”
“Oh? Kalau begitu, mengantar anak bapak?”
“Bukan juga. Karena... anak saya sudah jadi tentara. Namanya Ji Chenxing, lulus dengan peringkat tiga dari Akademi Militer Longzhou jurusan robot tempur, sekarang jadi prajurit robot di pasukan khusus Armada Luar Angkasa.”
Keramaian di sekitar tiba-tiba mereda, orang-orang menatap Ji Xinghe dengan rasa kaget, iri, dan hormat.
Jing Pei tidak menyangka bisa bertemu narasumber penting, ia bertanya dengan antusias, “Jadi, bapak mau melihat putra bapak, Ji Chenxing? Apakah beliau ikut seleksi? Apakah beliau akan tampil menunjukkan keahlian robot tempur? Apakah kali ini peserta baru bisa langsung masuk pasukan robot?”
Ji Xinghe terdiam sejenak. Walau sudah bulat tekadnya, tetap saja ada hal yang sulit diucapkan. Ia menarik napas, menenangkan diri, lalu menatap kamera.
“Bukan, anak saya tidak ikut seleksi ini. Karena... dia sudah gugur.”
Sekelilingnya langsung diam. Keheningan itu seperti merambat ke mana-mana, hingga puluhan ribu orang di luar stadion Kota Phoenix Baru pun ikut terdiam.
Faktanya, keheningan itu terjadi karena banyak orang sedang menyaksikan siaran langsung di ponsel mereka. Mereka melihat Ji Xinghe, mereka mendengar kata-katanya.
Dan jumlah penonton yang melihat Ji Xinghe bukan cuma puluhan ribu, bahkan bukan hanya warga Kota Phoenix Baru. Setiap sesi perekrutan di Federasi diadakan serentak di sepuluh kota, dan Kota Phoenix Baru memiliki penduduk terbanyak, sehingga penontonnya pun paling banyak.
“Turut berduka cita.”
Jing Pei akhirnya sadar dan mengucapkan belasungkawa sambil membungkuk dalam-dalam pada Ji Xinghe. Momen itu direkam kamera dan tersebar luas, menggetarkan hati banyak orang, meski ada juga yang mencibir reporter itu lebay.
“Pak, pengorbanan anak bapak demi seluruh umat manusia. Kami takkan membiarkan pengorbanannya sia-sia. Kami pasti akan membalaskan dendam untuk anak bapak, dan untuk semua pahlawan yang gugur di garis depan. Kami, Federasi...”
“Nona, boleh saya bertanya sesuatu?” Ji Xinghe memotong ucapan Jing Pei yang mulai menyentuh-nyentuh emosi. Tak seorang pun menyalahkannya, sebab dia adalah ayah seorang pahlawan.
“Silakan, Pak.”
“Dendam anak saya, kenapa harus orang lain yang membalaskan?”
Hah?
Semua orang di sekitar terdiam, para penonton di rumah pun sama tertegun.
Jing Pei dengan cepat merespons, “Pak, karena anak bapak berkorban untuk kita semua, untuk seluruh Federasi. Maka sudah menjadi tugas dan kewajiban kita untuk membalaskan dendam itu. Dari sudut pandang Federasi dan Kekaisaran, ini bukan sekadar dendam pribadi, melainkan...”
“Tunggu.” Ji Xinghe kembali memotong, lalu bertanya, “Jadi maksudmu, karena anak saya berkorban demi seluruh Federasi, maka semua warga Federasi punya tanggung jawab dan kewajiban untuk membalas dendam itu?”
Apakah aku salah bicara? Apa kata-kataku akan dipelintir? Jangan-jangan aku sudah mengatakan sesuatu yang tak seharusnya?
Pikiran Jing Pei berputar cepat, lalu ia mengangguk mantap.
“Benar, begitulah maksud saya.”
“Nona, saya ini warga Federasi, kan?”
“Tentu saja.”
“Jadi, saya juga punya tanggung jawab dan kewajiban membalaskan dendam anak saya?”
“Eh?” Jing Pei benar-benar tidak paham arah pembicaraan Ji Xinghe. Namun ia mengangguk, “Tentu saja. Bapak bukan hanya warga Federasi, tapi juga ayah dari beliau. Sudah pasti bapak punya hak dan kewajiban itu.”
Akhirnya, Ji Xinghe menghadap kamera dengan wajah tanpa emosi dan bertanya, “Kalau begitu, saya ingin mendaftar jadi tentara. Saya ingin ke garis depan melawan bangsa asing. Saya ingin membalaskan dendam anak saya. Ada masalah?”
Semua orang yang melihat wajah renta Ji Xinghe, yang mendengar suaranya yang parau, langsung terlintas dalam benak mereka: Tidak ada masalah.