Bab Tiga Puluh Tiga: Rekonstruksi Tempat Kejadian Perkara
“Iri?,” tanya Qin Yushu dengan raut wajah terkejut saat menuangkan air untuk Bai Ruohong di samping meja makan. Dari ucapannya, tak sulit menebak bahwa ada rahasia atau masa lalu kelam yang sulit diungkapkan.
Bai Ruohong menerima gelas air itu tanpa melanjutkan topik tersebut. “Kulihat suasana rumah ini tak banyak berubah dibandingkan setahun lalu.”
Qin Yushu meraba bantalan sofa, tempat terakhir yang ditinggalkan ayahnya. Mungkin baginya, di situ masih tersimpan secuil kenangan yang membeku.
“Hampir tak ada perubahan. Tahun ayahku mengalami musibah itu aku masih di tingkat tiga kuliah, jadi hanya pulang saat liburan saja. Tahun ini, seharusnya aku magang di semester empat, tapi aku meninggalkan kesempatan kerja di sana dan memilih kembali, lalu mencari pekerjaan di sini.”
Bai Ruohong mengangguk pelan. Jika berada di posisi yang sama, mungkin siapa pun akan bertindak seperti Qin Yushu, rela mengorbankan segalanya demi menemukan kebenaran.
“Sekarang, jelaskan tujuanmu hari ini.”
Qin Yushu mengusap telapak tangannya, lalu mengubah posisi duduk. “Kalian penyelidik sering melakukan rekonstruksi tempat kejadian, bukan? Aku ingin kau mencobanya di sini.”
“Kau tahu soal rekonstruksi tempat kejadian?” Bai Ruohong agak terkejut, tak menyangka Qin Yushu paham tentang hal itu.
Qin Yushu tersenyum tipis. “Selama setahun mencari kebenaran tentang ayahku, aku belajar banyak hal. Itu hanya salah satunya.”
“Baiklah,” Bai Ruohong tak menolak permintaannya. “Tapi waktu terbaik untuk rekonstruksi tempat kejadian adalah 48 jam setelah peristiwa terjadi. Semakin lama, baik ingatan saksi maupun jejak di lokasi akan semakin memudar, bahkan hilang.”
“Andai saja setahun lalu kau sudah datang, mungkin hasilnya akan berbeda.” Qin Yushu mendesah lirih.
“Mengapa begitu?”
Qin Yushu menggelengkan kepala. “Bukan apa-apa, mungkin saja ayahku tidak akan…”
“Cukup,” potong Qin Yushu, tak ingin melanjutkan. Ia mengambil napas dalam, lalu berkata, “Mari kita mulai.”
Bai Ruohong pun tak yakin apakah rekonstruksi ini akan berhasil atau menemukan sesuatu. Di luar negeri, ia pernah melakukannya beberapa kali—memang tak selalu efektif, tapi sangat membantu dalam penyelidikan.
“Dalam rekonstruksi ini, aku akan berperan sebagai ayahmu untuk sementara,” jelas Bai Ruohong, menyampaikan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan.
“Baik, pertama kita kumpulkan fakta,” ujar Bai Ruohong sambil berdiri dan berjalan ke tempat rak sepatu, dari sana ia bisa melihat hampir seluruh tata ruang rumah. “Menurut hasil penyelidikan waktu itu, selama tiga hari sebelum diduga bunuh diri, ayahmu tak pernah keluar rumah. Bila dibandingkan dengan kebiasaan sebelumnya, ini sangat tidak wajar.”
“Artinya, selama tiga hari itu, ia mengalami tekanan batin yang berat. Jika memang ayahmu pelakunya, maka ia hanya menunggu nasib. Inilah titik konflik pertama, yakni pertentangan dalam kondisi psikologisnya.”
Setelah menjelaskan, Bai Ruohong meninggalkan rak sepatu dan melangkah ke lorong tengah. “Pada kasus bunuh diri, umumnya tidak ada perlawanan, jadi posisi barang-barang di rumah tidak banyak berubah. Tempat bunuh diri pun jelas, yakni di sofa yang baru saja kau duduki.”
“Tunggu dulu,” sela Qin Yushu, “apakah mungkin ayahku dipaksa bunuh diri lalu dipindahkan ke sofa?”
“Kemungkinan itu tidak ada,” Bai Ruohong menggeleng. “Laporan hasil otopsi jelas menyebutkan, kondisi tangan dan kaki sesuai dengan penyebab kematian. Jika mayat dipindahkan, pelaku tak mungkin bisa menata posisi tubuh sealamiah itu.”
Walau sudah menyiapkan hati, mendengar kepastian itu tetap membuat Qin Yushu merasa sangat kecewa.
“Langkah kedua adalah melakukan analisis,” lanjut Bai Ruohong, berjalan ke ruang kerja diikuti Qin Yushu. “Waktu kematian ayahmu pukul 10.34 pagi. Hasil penyelidikan menunjukkan komputer di ruang kerja ini dinyalakan pukul 5.11 pagi.”
“Pukul lima lebih? Pagi sekali…” Qin Yushu ternyata belum tahu detail kejadian itu.
“Ayahmu melakukan format ulang di komputer. Setelah datanya dikembalikan, ditemukan banyak file terkait kasus rasi bintang. Komputer dimatikan pukul 6.55. Satu setengah jam itulah waktu ayahmu menghapus file-file tersebut.”
Bai Ruohong meninggalkan komputer, mondar-mandir di ruang kerja. “Setelah mematikan komputer, pasti ia merenungkan soal bunuh dirinya dan bagaimana nasibmu setelah itu. Saat-saat itu adalah titik terendah dalam hidupnya.”
Lalu ia keluar dari ruang kerja, membuka pintu kamar Qin Yushu. Tidak banyak perubahan dibandingkan setahun lalu. Layaknya kamar kebanyakan gadis muda, warnanya hangat, dan di meja rias tersusun kosmetik yang namanya pun tak ia kenali.
“Setelah keluar dari ruang kerja, ayahmu masuk ke kamarmu. Di ruangan ini, ia melakukan segala yang bisa untuk merasakan kehadiranmu—meski tak dapat memberitahumu kebenaran. Dalam seluruh peristiwa ini, kau adalah korban yang tak bersalah.”
Bai Ruohong dapat merasakan suasana hati Qin Yushu makin memburuk, namun semua itu adalah analisis yang masuk akal, menggambarkan kondisi jiwa Qin Wei sebelum meninggal.
“Bagaimana kau bisa tahu semua ini?” tanya Qin Yushu, perlahan mengendalikan emosinya.
“Tim forensik pernah memeriksa kamarmu secara menyeluruh, bahkan bisa dibilang nyaris tanpa noda. Saking bersihnya, misalnya kau baru saja membersihkan kamar, lalu membuka jendela, pasti debu luar masuk lagi. Tapi tingkat debu di kamarmu sangat rendah, mengkhawatirkan. Kau paham maksudku?”
Qin Yushu terjatuh duduk di tepi ranjang. Dalam benaknya terbayang sosok Qin Wei yang membersihkan dan merapikan kamarnya. Padahal ia pernah bilang ayahnya tak usah masuk kamar karena ia bisa membereskan sendiri, tapi itulah satu-satunya cara ayahnya meninggalkan kenangan.
“Setelah keluar dari kamarmu, ia menuju ruang tamu. Saat itulah semua jendela dan tirai ditutup rapat,” ucap Bai Ruohong sambil perlahan mengubah ruangan jadi gelap gulita.
“Selesai melakukan semua itu, ia duduk di sofa ini—” Bai Ruohong pun duduk di posisi Qin Yushu sebelumnya.
“Di bawah sofa, ditemukan puntung rokok, padahal setahu kami ayahmu tak pernah merokok. Tapi dari kandungan puntung itu terbukti memang ia yang mengisapnya.” Bai Ruohong terdiam sejenak. “Tak lama kemudian, ayahmu mengakhiri hidupnya di sini.”
Qin Yushu menundukkan wajah hingga menempel di lututnya, perlahan terdengar isak tangisnya. “Ia memilih mengakhiri hidup dengan obat tidur, itu pasti cara yang paling damai, bukan?”
“Tidak. Ayahmu bukan meninggal karena obat tidur.” Sepanjang perjalanan ke sini, Bai Ruohong sudah memikirkan lama—apakah demi menjaga kerahasiaan kasus atau demi hak keluarga, Qin Yushu memang berhak tahu kebenaran tentang penyebab kematian ayahnya.
“Apa maksudmu?” Kepala Qin Yushu terangkat tiba-tiba, matanya sembap dan merah.
Bai Ruohong menghela napas panjang. “Baru hari ini aku ke ruang arsip dan membaca laporan penyelidikan tahun itu.”
“Ayahmu meninggal karena racun bunga Gelsemium, obat tidur hanyalah pengalihan untuk menenangkan masyarakat.”
Saat Qin Yushu masih terpaku dalam keterkejutan, tiba-tiba ponsel Bai Ruohong berdering…