Bab Tiga Puluh Tujuh: Masa Kosong

Psikologi Kejahatan Sang Penjaga Gerbang Kota 2392kata 2026-03-04 05:48:49

Senyum perlahan merayap di wajah Liu Lei, bukan karena kegembiraan telah membersihkan namanya, melainkan ekspresi penuh rasa puas melihat kesulitan orang lain.

"Ketua Ren, sudah tiga tahun, akhirnya kita bertemu juga." Liu Lei tanpa ragu menyapa Ren Wen di depan para wartawan, sama sekali tak gentar.

Wajah Ren Wen tampak sangat suram, cahaya kamera media berkilat di wajahnya, seketika semua perhatian tertuju pada hubungan mereka berdua.

"Itu kan dari tim kriminal kota kita, kenapa dia datang ke sini—"

"Jelas kasus 10.9 ini pasti ada sesuatu yang disembunyikan, kalau tidak, tak mungkin dia terus mengejar seperti itu—"

"Dulu waktu kasus ayahnya terjadi, sempat heboh banget di tempat kita, waktu itu kamu belum datang—"

Keramaian suara media justru membuat Liu Lei makin puas. Ia berjalan ke sisi Ren Wen, menabrakkan bahunya dengan keras, lalu berbisik di telinganya, "Aku akan menjenguk ayahmu."

"Kamu—" Mata Ren Wen menajam, amarahnya memuncak, ia baru saja ingin mengayunkan tinju, namun Bai Ruohong segera menahannya.

"Di sini banyak wartawan, kita bicara di luar." Bai Ruohong menarik lengan Ren Wen, membawanya keluar dari kerumunan.

Ren Wen menepis tangan Bai Ruohong dengan keras, "Kenapa kamu menahan aku? Tidak lihat dia memang butuh dihajar?"

Bai Ruohong tak menanggapi, ia membujuk Ren Wen masuk ke mobil, "Kalau kamu memukul dia di depan media, itu justru akan menguntungkan dia. Nanti opini publik akan berbalik menyerangmu."

"Kamu tidak dengar apa yang dia katakan?" Meski Ren Wen punya status khusus, ucapan Liu Lei tentang ayahnya tetap membuka luka lama dan menaburkan garam di atasnya.

"Sejak dia bicara begitu, aku sudah tahu kasus ini pasti ada yang tidak beres. Sekarang kita harus tenang."

Perlahan-lahan Ren Wen menenangkan diri, mulai berpikir apakah tadi ia terlalu emosional, justru membuat Liu Lei diuntungkan.

"Ayo, kita ke kantor ambil berkas, lalu ke tempat kejadian." Sorot mata Bai Ruohong mengikuti Liu Lei yang naik taksi pergi.

Kawasan Hutan Langit Jingga

Bai Ruohong menatap lebatnya pepohonan di depan mata. Jika bukan karena ada penjaga hutan, tempat ini benar-benar lokasi ideal untuk kejahatan.

"Pondok penjaga hutan ada di atas bukit, kita harus naik mobil dari sini, tapi harus izin dia dulu."

Bai Ruohong mengangguk, melirik papan pengumuman di sebelah kanan: Orang dan kendaraan tak berkepentingan dilarang masuk.

"Jadi penjaga hutan boleh naik mobil sendiri ke atas ya?"

"Benar." Ren Wen menurunkan kaca jendela, udara segar pegunungan langsung masuk ke mobil.

Menyusuri jalan setapak yang berkelok, mobil perlahan naik ke pertengahan bukit. Di depan terlihat pondok kayu yang disebutkan sebelumnya, di sampingnya terparkir sebuah pikap kecil.

Belum sempat Ren Wen dan Bai Ruohong turun mobil, pintu pondok sudah terbuka dari dalam, seorang pria paruh baya berseragam kerja biru keluar.

"Ketua Ren, kalian datang juga," sapanya akrab pada Ren Wen.

Ren Wen tersenyum, menarik Bai Ruohong untuk dikenalkan, "Paman Wang, ini rekan saya bermarga Bai. Beliau penjaga hutan yang selalu bertugas di sini, saat kejadian dia bertukar jadwal dengan Liu Lei."

"Pak Polisi Bai," Paman Wang berjabat tangan dengan Bai Ruohong.

"Paman Wang, bolehkan kami masuk untuk melihat-lihat?" Ren Wen menunjuk ke dalam hutan, sebelumnya mereka memang sudah berkoordinasi.

"Silakan, kalau ada apa-apa panggil saja saya."

Melihat Paman Wang berbalik masuk pondok, Bai Ruohong berbisik pada Ren Wen, "Penjaga hutan ini pegawai negeri ya?"

"Bisa dibilang begitu," Ren Wen merenung sejenak, "Penjaga hutan berada di bawah Dinas Kehutanan, tapi waktu itu jumlah petugas belum penuh, Liu Lei pegawai kontrak."

"Pegawai kontrak? Berarti sementara?"

Ren Wen mengangguk, mengajak Bai Ruohong ke lokasi kejadian. "Benar, aku ingat betul, kontrak Liu Lei itu setahun sekali, saat kejadian kontraknya sudah berjalan dua tahun."

"Jadi alasan menahan Liu Lei apa? Lalai dalam tugas atau penyalahgunaan wewenang?" Bai Ruohong mencoba mengingat pasal hukum yang relevan, tiba-tiba lupa pasal untuk hukuman tiga tahun.

"Penyalahgunaan wewenang, di kontrak tertulis jelas tugas Liu Lei. Dari rekaman CCTV, kami temukan ada orang diam-diam masuk dan memetik sesuatu saat dia bertugas, jadi dia dipenjara."

Sinar matahari menembus celah ranting, menyinari tubuh mereka, hangat namun tidak menyengat. Tempat secantik ini, jika tak ada kasus pembunuhan, akan tetap menjadi surga yang suci.

"Itu—" Ren Wen tiba-tiba berhenti, menunjuk ke sebuah pohon, "Di situlah mayat anak laki-laki itu ditemukan."

Bai Ruohong mengikuti arah tunjukannya, berjalan ke pohon itu, melihat sebuah tanda kecil dengan spidol hitam di batangnya.

"Itu tanda yang dibuat setelah berkonsultasi dengan pihak atas, supaya mudah jika harus datang lagi," Ren Wen berdiri di bawah pohon, menghela napas, "Tapi tanpa tanda pun, aku pasti tetap bisa mengenalinya."

"Waktu kejadian itu bulan Oktober, udara mulai dingin, tanah juga lembap, sesuai dengan kondisi saat kardus ditemukan." Bai Ruohong mengambil segenggam tanah, lalu melemparkannya ke udara.

Ia berdiri dan menatap sekeliling, "Jarak dari sini ke pondok sekitar 200 meter. Kalau kejahatan dilakukan di sini, pertama, tak mungkin jejak darah bisa dibersihkan sebersih ini, kedua, penjaga hutan pasti akan mendengar suara ribut."

"Tunggu, penjaga hutan waktu itu kan Liu Lei, kalau dia pembunuhnya—" Ucapan Ren Wen dipotong Bai Ruohong dengan lambaian tangan.

"Liu Lei tak mungkin pelaku utama, paling hanya kaki tangan, bagian membuang mayat."

"Kenapa begitu?" Ini sama sekali berbeda dengan dugaan Ren Wen.

"Di kawasan hutan alami seperti ini, hampir tak ada orang selain penjaga hutan. Begitu ada yang masuk, pasti terekam kamera. Jadi menemukan mereka lewat CCTV sangat mudah. Karena kalian tidak temukan hal mencurigakan di rekaman, berarti mayat anak itu pasti dibawa masuk lewat jalan utama yang kita lewati tadi."

Ren Wen makin bingung, "Kalau begitu, bukannya Liu Lei justru makin dicurigai?"

Bai Ruohong seperti tak mendengar, berbicara sendiri, "Kalau Liu Lei memang terlibat, perannya hanya untuk mengelabui orang."

"Mengelabui?"

"Waktu kematian anak itu dua hingga tiga hari, dan saat itu Liu Lei sedang berganti jadwal, artinya ada empat hari kosong yang jadi kunci kasus ini." Kini Bai Ruohong faham kenapa polisi tak pernah temukan bukti, karena mereka hanya fokus di waktu kejadian, melupakan empat hari sebelumnya.

Ren Wen memandang lokasi kejadian yang dulu penuh tragedi, kini telah kembali tenang, tertutup daun-daun, bukan lagi kain meja lusuh dan pudar seperti dulu.