Bab 35: Mayat yang Aneh
Ren Wen juga tak ingin lagi memberikan penjelasan apa pun, memang tebakan Bai Ruohong sangat tepat—dibandingkan dengan kasus salib sebelumnya, kali ini ia memang punya kepentingan pribadi.
"Jadi kebetulan belakangan ini ada kasus pembunuhan berantai, dan kau pun dengan mudah bisa meminta bantuan pada Lingxi. Setelah aku menuntaskan kasus itu, lalu kau mengajukan permintaan bantuan, secara logika maupun perasaan aku pun tak bisa menolaknya, bukan?"
Baik karena kepekaan profesional maupun naluri perempuan, sejak permintaan itu terucap semuanya jadi tak lagi penting.
Bai Ruohong melihat Ren Wen diam saja, kembali menunduk melanjutkan makannya. Keduanya seakan sudah saling memahami tanpa kata, dan suasana di kedai itu kembali menegang.
"Kapten Ren—" Bai Ruohong menelan helai mi terakhir, mengelap mulutnya, "Sudah tiga tahun berlalu, kenapa kau yakin aku bisa menemukan bukti yang cukup untuk memvonis pelaku?"
"Bukan yakin juga, aku tahu Lingxi belajar psikologi di luar negeri, mungkin juga pernah mendalami psikologi kriminal, jadi aku ingin tahu apakah dia bisa mengenalkan seorang ahli padaku." Ren Wen menghela napas, "Tapi kau juga tahu urusan keluarga Lingxi, baru saja selesai beberapa waktu lalu. Saat aku mengajukan permintaan ini, dia menyebut dua nama padaku."
Bai Ruohong mulai tertarik, "Dua orang?"
"Benar." Ren Wen mengangguk, "Selain kau, dia bilang di Kota Jiangsong juga ada satu orang yang sangat hebat, tapi sulit untuk dimintai bantuan, jadi hanya kau pilihan yang mungkin."
"Kota Jiangsong..." Bai Ruohong mengulang nama kota itu dalam hati. Itu juga tempat yang pernah disebut Lingxi padanya.
Satu sisi adalah kasus Qin Yushu, satu sisi lagi kasus Ren Wen—jika ada kesamaan, keduanya sama-sama ingin mencari kebenaran tentang ayah mereka. Bayangan ketika ia meninggalkan rumah Qin Yushu melintas di benak Bai Ruohong. Karena sudah berjanji pada Qin Yushu, tak ada alasan menolak permintaan Ren Wen.
"Kapten Ren, ceritakan apa yang terjadi waktu itu."
Hati Ren Wen diam-diam berbunga. Meski dari ekspresi Bai Ruohong tadi ia sudah bisa menebak kemungkinan besar pria itu bakal membantu, tetap saja ketika mendengar jawaban langsung darinya ada rasa bahagia tersendiri.
"Tiga tahun lalu, tepatnya tahun keempat setelah kasus Zodiak terjadi, ayahku mengendus sebuah sindikat perdagangan manusia—khusus untuk anak-anak. Ada satu kesamaan dari anak-anak itu—mereka tak tahu asal-usul mereka, bahkan kami pun sulit menelusuri keluarga asalnya."
"Kalau sistem kepolisian saja tak bisa melacak, mungkinkah mereka anak-anak yang ditelantarkan?" Bai Ruohong mengemukakan pendapatnya.
Ren Wen menggeleng, "Ada juga yang anak-anak panti asuhan. Lalu, dalam penyelidikan kami menerima laporan penemuan jasad di Hutan Luoxia, Kota Yunqing..."
[Tiga tahun lalu, Hutan Luoxia]
Segalanya sunyi di lautan hijau itu, namun kini cahaya lampu berkerlap-kerlip dan para polisi berseragam berseliweran di antara pepohonan.
"Kapten Ren, jasadnya di sana—" Saat itu kepala tim kriminal adalah ayah Ren Wen, Ren Fei.
Ren Fei melintasi tanah yang berlubang-lubang menuju lokasi kejadian. Jasad anak laki-laki itu hanya dibungkus kain meja penuh noda, warnanya sudah pudar, di sampingnya ada kardus rusak dengan tulisan 'Mudah Pecah' di permukaan.
"Ayah, kau datang—" Ren Wen keluar dari garis polisi, menyapa Ren Fei.
Ren Fei mengangguk, lalu menunjuk pria di tengah yang sedang dimintai keterangan, "Dia yang melapor?"
"Benar, dia penjaga hutan di sini. Pagi ini waktu patroli rutin, dia yang menemukan jasad." Ren Wen mengeluarkan peta kawasan hutan, posisi penemuan jasad ditandai lingkaran merah.
"Apakah di sekitar sini ada kamera pengawas? Seharusnya kawasan hutan konservasi negara seperti ini ada pengawasan di sekelilingnya," ujar Ren Fei. Ia tahu tanpa pengawasan, kerja penjaga hutan akan sangat sulit.
"Ada, kami sudah mulai ambil rekamannya. Menurut pelapor, pergantian penjaga hutan di sini seminggu sekali, dan hari ini hari keenamnya bertugas, besok ganti orang."
Ren Wen mengulas situasi singkat, Ren Fei pun tak banyak komentar dan berbalik menuju tim forensik.
"Bagaimana hasil pemeriksaan awal?" tanya Ren Fei, berjongkok dan mengenakan sarung tangan sekali pakai.
Forensik menggeser sedikit kepala bocah itu, "Dari kondisi livor mortis dan rigor mortis, diperkirakan kematian dua hingga tiga hari lalu, tubuhnya penuh luka, bekas hantaman benda tajam dan sayatan, kemungkinan besar ia dipukul semasa hidup, dan pukulan fatalnya di kepala."
Mata Ren Fei menatap rambut bocah itu, darahnya sudah mengering, tempurung kepala remuk dalam-dalam seperti lubang besar—pemandangan yang sangat mengerikan.
"Kapten Ren, coba lihat ini lagi," tim forensik membalikkan tangan bocah itu.
"Jari-jarinya..." Walau sudah bertahun-tahun menjadi polisi kriminal, baru kali ini Ren Fei melihat kekejaman luar biasa pada anak kecil.
Forensik menghela napas, kacamata di balik masker jadi berembun. "Semua sepuluh jarinya dirusak asam hingga tak bersisa sidik jarinya. Tapi dari luka bakarnya, ini dilakukan setelah korban meninggal, jadi ia tak sempat merasakan sakitnya. Tadi aku juga cek sekitar, tak ada bekas asam tumpah."
Ren Fei menatap bocah yang akan selamanya memejamkan mata itu, belum sempat menjalani hidupnya, sudah pergi dari dunia ini—mungkin keluarganya kini sedang mencarinya.
"Kakinya juga ada bekas luka berbentuk ‘L’ di pergelangan, sepertinya baru saja operasi ortopedi, dan di bawah mata kirinya juga tampak bekas penyakit mata."
"Xiao Wen," panggil Ren Fei pada Ren Wen dari belakang, "Catat semua ini, setelah kasus dirangkum periksa ke seluruh rumah sakit kota, cari apakah ada anak yang sesuai cirinya pernah berobat."
"Ada satu hal lagi yang aneh," forensik menambahkan setelah merinci temuan, "Rambut anak ini dipotong sangat rapi, lihat bajunya dan tanah di bawahnya penuh potongan rambut halus."
Barulah Ren Fei menyadari di kerah baju anak itu ada rambut halus, ia pun mengangkat tubuh bocah itu perlahan, dan mendapati memang sesuai yang dikatakan forensik.
"Aneh sekali..." Ren Fei tak habis pikir, "Jika pelaku tega menghilangkan sidik jarinya, kenapa justru rambutnya dipotong rapi setelah meninggal?"
"Kapten Ren, bagian dalam kardus ini kering, bagian luar lembap, mungkin pengaruh lingkungan. Kami juga sudah mengumpulkan semua sidik jari, tapi..." Polisi yang bertugas mengidentifikasi jejak tak melanjutkan, hanya menggeleng.
Ren Fei paham maksudnya. Ia menengadah, menembus lebatnya ranting, menatap langit. Hari itu tak setitik cahaya matahari pun menembus, awan kelabu menutupi seluruh hutan bak jaring raksasa.