Bab Empat Puluh Enam: Sang Peramal
Waktu selalu berlalu tanpa terasa, dari terbit hingga terbenamnya matahari. Awan yang perlahan berubah warna menggantung di atas kota yang sunyi, namun sering kali dalam keindahan tersembunyi kejahatan yang sulit ditemukan.
Tak lama kemudian, Ren Wen dan Chen Mingkang keluar dari pintu rumah yang berada tepat di seberang milik Liu Lei. Begitu suara terdengar di lorong yang remang, lampu pun menyala dalam sekejap.
“Guru Chen, aku merasa ada yang aneh dengan pria itu,” ucap Ren Wen setelah berbelok di ujung lorong, pikirannya masih tertinggal pada suasana di dalam rumah tadi.
Chen Mingkang menekan tombol lift, bayangan mereka berdua terpantul di pintu logam. “Aneh bagaimana maksudmu?”
“Walaupun pria itu duduk di kursi roda, aku rasa tinggi badannya lebih dari 185 cm. Selain itu, saat aku duduk di sofa rumahnya, jarak antara sofa dan meja tamu hampir sama persis dengan yang ada rumah Liu Lei.”
“Ada apa lagi?” Angka lantai di layar terus bertambah tinggi.
Ren Wen berpikir sejenak. “Lingkungan rumahnya tidak sesuai dengan penampilannya. Ia tampak lusuh dan kucel, tapi rumahnya sangat rapi. Itu agak bertolak belakang.”
“Ding—” Pintu lift terbuka di depan mereka.
“Itu semua baru permukaan. Kau perhatikan tongkat yang ku sebutkan tadi?” Setelah masuk, Chen Mingkang menekan tombol ke lantai satu.
Ren Wen menggeleng. “Aku terlalu sibuk memperhatikan orangnya, jadi tidak sempat memperhatikan tongkat itu. Memang ada yang aneh?”
“Kau ingat kan, tongkat itu disandarkan di dinding seperti ini?” Chen Mingkang membuat gerakan dengan tangannya di dalam lift.
Ren Wen menatap Chen Mingkang, belum paham maksudnya.
“Ia bilang tongkat itu dipakai untuk rehabilitasi, waktu rehabilitasinya setiap sore, ditambah waktu-waktu lain untuk aktivitas, seharusnya tongkat itu sering digunakan. Tapi di lantai, tongkat itu hanya meninggalkan satu bekas goresan. Kenapa bisa begitu?”
“Maksud Anda, tongkat itu sudah lama tidak dipakai?”
Chen Mingkang mengangguk, tepat saat lift tiba di lantai satu.
“Aku rasa pria itu patut dicurigai, Ren. Meski belum pasti ada kaitannya dengan kasus ini, tapi sejauh ini ada cukup banyak hal yang mencurigakan.”
Ren Wen sama sekali tak terkejut dengan ketajaman pengamatan Chen Mingkang. Dulu saat masih di Jingzhou, dia memang ahli di bidang ini; banyak kasus yang sudah buntu akhirnya bisa terpecahkan berkat kejelian matanya menangkap detail kecil di lokasi kejadian.
Tim Khusus Kota Yunqing
Sepulang ke kantor, Ren Wen melihat Jia Zhanghe terkulai lemas di kursinya, wajah lelahnya membuatnya tampak seperti mayat jika bukan karena dadanya masih naik turun pelan.
“Ayo, jangan lemas begitu! Masa polisi kelihatan seperti itu?”
Jia Zhanghe menggeleng pasrah, “Bos, aku sudah cek rekaman CCTV, juga tanya ke orang-orang di jalan, tetap saja tidak tahu ke mana Hong pergi. Dia juga tak memberi tahu kita, dan tim penyelidik tadi baru saja pergi, besok mereka minta penjelasan.”
“Dia sendiri tidak jelaskan ke mana waktu itu?” Ren Wen menatap Jia Zhanghe dengan curiga.
“Sumpah, bos—” Jia Zhanghe langsung duduk tegak. “Menurutmu, bisa jadi Hong pergi ketemu cewek, makanya dia malu bilang?”
Ren Wen tertegun, lalu mengambil sebuah buku di meja dan melemparkannya ke arah Jia Zhanghe. “Apa yang kau pikirkan? Ini sedang menyelidiki kasus, tahu!”
“Ren, di luar ada seorang gadis mencarimu, katanya harus ketemu denganmu. Sudah ku minta menunggu di bawah,” tiba-tiba seorang petugas piket masuk.
Mendengar itu, mata Jia Zhanghe langsung berbinar. “Bos, kan benar dugaanku, Hong pasti pergi menemui gadis, kalau tidak, mana mungkin—”
“Diam!” Ren Wen melotot tajam, “Suruh dia ke ruang rapat saja.”
Jia Zhanghe mendengus kecil, lalu mengikuti Ren Wen masuk ke ruang rapat, penasaran apakah dugaannya benar.
Ruang Rapat Kecil Tim Khusus
“Kau?” Jia Zhanghe membuka mulut, menatap gadis berambut kuda tinggi di depannya, merasa ada yang ganjil.
Qin Yushu menatap Ren Wen dengan wajah dingin. “Kapten Ren, aku datang sebagai saksi. Sebenarnya, siang itu Polisi Bai menemui aku.”
“Kau?”
Ren Wen tidak tahu apa yang ingin gadis itu lakukan kali ini, tapi melihat ekspresinya, tampaknya memang ada yang dia khawatirkan.
“Kapten Ren, aku tahu di Greenland Xinyuan ada kasus pembunuhan. Tapi aku menunggu seharian di depan kantor polisi dan tidak melihat Bai Ruohong. Apa dia ditahan?” Qin Yushu menekan tangannya di meja, menatap lurus Ren Wen yang duduk di seberang.
“Yushu, apa yang sebenarnya terjadi kemarin sore?”
Kemarin Sore – 90 Menit yang Hilang
Bai Ruohong berdiri di lereng bukit, setelah melihat taksi pergi, ia baru keluar dari hutan setengah jam kemudian. Ia melirik ke arah kamera pengawas di sekitar, lalu melangkah ke utara.
Di sekitar hutan itu, kamera pengawas terpasang hampir di setiap sudut, bahkan ruas jalan pun penuh dengan kamera, membuat siapa pun yang berjalan di sana seolah-olah seluruh gerak-geriknya terpantau.
Bai Ruohong berjalan ke tempat sampah di pinggir jalan, dan tanpa sengaja melihat sebuah toilet umum di pojok jalan. Ia tersenyum tipis, “Ternyata masih ada celahnya.”
Kafe Pantai September
Sejak tadi, Qin Yushu duduk gelisah di dekat jendela, sesekali melirik jam. Bai Ruohong selalu melarangnya menghubungi lebih dulu, namun waktu yang dijanjikan sudah lewat sepuluh menit, ia belum juga muncul.
Akhirnya, saat Qin Yushu nyaris menelponnya, Bai Ruohong muncul di pintu kafe.
“Kenapa baru datang?” tegur Qin Yushu sedikit kesal.
“Jangan tanya—” Bai Ruohong menjilat bibirnya, “Ponselku hilang. Sepertinya tertinggal di rumah Liu Lei.”
“Lalu bagaimana?”
Bai Ruohong menggeleng, “Tak apa. Nanti setelah selesai, aku akan ke rumahnya. Bagaimana hasil pencarian pabrik penghasil Gouweng di seluruh Kota Yunqing yang ku minta?”
“Ini, tapi mungkin masih ada yang terlewat—” Qin Yushu mengeluarkan berkas dari tasnya. “Khusus aku tanyakan, setelah ayahku bunuh diri tahun lalu, sepertinya Yunqing pernah melakukan pembersihan barang itu.”
“Maksudmu?”
“Aku tanya ke beberapa pabrik, banyak pabrik kecil yang sudah ditutup tahun lalu, sekarang hanya bisa beli Gouweng lewat jalur resmi,” jelas Qin Yushu.
“Aku sudah lihat hasil penyelidikan waktu itu, tidak ditemukan asal Gouweng yang digunakan ayahmu. Berarti penjual waktu itu sudah diberantas.” Bai Ruohong mengembalikan berkas pada Qin Yushu. “Sekarang yang harus dipastikan, hubungan semua korban kasus Zodiak dengan ayahmu.”
Qin Yushu menunduk, bicara pelan, “Mana aku tahu, waktu itu aku masih kuliah. Lagipula aku tak terlalu peduli dengan pergaulan ayahku.”
“Kau salah—” Bai Ruohong menghela napas, “Tujuh tahun lalu kau masih SMA di Yunqing. Mulailah dari korban yang paling jauh.”
Setelah bertemu diam-diam dengan Qin Yushu, Bai Ruohong kembali ke rumah Liu Lei. Namun setelah beberapa kali mengetuk pintu, tak ada jawaban. Hatinya tiba-tiba dipenuhi firasat buruk.
Ia keluar dari kompleks, menghentikan sebuah taksi. “Pak, ponsel saya hilang, boleh pinjam telepon sebentar?”
Sopir menatap Bai Ruohong, ragu-ragu menyerahkan ponselnya. “Sekarang ini mana bisa kehilangan ponsel?”
“Kebetulan saja, Pak.” Bai Ruohong menerima ponsel itu dan menelpon Qin Yushu.
“Besok siang, aku akan menemuimu. Jika sampai malam tak ada kabar dariku atau aku tidak muncul, datanglah ke markas dan cari aku.”