Bab Kesembilan Puluh Delapan: Ribuan Luka yang Mengoyak
“Kau tahu tidak? Justru karena kepura-puraanku yang egois itulah Norn kehilangan nyawanya. Demi menemukan pelaku, aku bahkan lupa apa sebenarnya tujuan awal melapor pada polisi.” Dalam benak Bai Ruohong, seketika terlintas kembali adegan dalam mimpinya malam itu.
“Aku bermimpi Norn duduk di kursi lapuk, dikelilingi kegelapan. Dengan suara serak, ia berteriak padaku, bertanya kenapa aku tidak menolongnya. Darah merah di tubuhnya menyatu dengan matanya, itu adalah pemandangan yang hanya ada di neraka. Padahal, seharusnya orang itu bukan dia…”
Qin Yushu ragu sejenak, namun akhirnya ia mengulurkan tangan, mengusap lembut punggung Bai Ruohong. Kini ia mulai mengerti mengapa pernyataan itu membuatnya kecewa.
“Jadi, Paman memilih membantuku karena ingin menebus rasa bersalahmu pada Kakak Norn, ya?”
Bai Ruohong mengangguk. “Itulah pikiranku di awal, tapi—”
Qin Yushu tersenyum, memotong ucapannya, “Paman, aku sebelumnya tak pernah tahu masa lalumu seperti ini. Jika kau terus membantuku, lama-lama kau akan merasa ini menjadi beban. Masalah ayahku sudah menyebabkan begitu banyak orang kehilangan nyawa, aku tidak ingin kau juga terikat oleh hal ini dalam hidupmu ke depan. Jadi, biarlah urusan ayahku kutangani sendiri.”
“Tidak, ini bukan sekadar membantumu, tapi juga membantuku sendiri. Aku tak ingin tragedi Norn terulang lagi. Jika kebenaran kematian ayahmu tidak terungkap, justru itulah yang akan benar-benar memengaruhi hidupku ke depan.”
Nada bicara Bai Ruohong berubah. “Masih ingat saat pertama kali aku datang ke rumahmu, dan mengomentari bingkai foto?”
Qin Yushu mengangguk, “Aku ingat jelas, kau bilang punya foto bisa menjadi kenangan, dan kau sangat iri.”
“Benar, lucunya, aku bahkan tak punya satu pun foto bersama dia. Bukankah itu ironis?” Nada bicara Bai Ruohong penuh sindiran.
“Itu bukan masalah besar, kok—” Qin Yushu mencibir, “Paman, bagiku, kenangan yang tersimpan dalam hati jauh lebih berarti daripada sekadar foto bersama.”
Bai Ruohong tersenyum tipis. “Benarkah begitu?”
Qin Yushu mengangguk mantap, “Jadi, Paman, kau sudah memutuskan untuk terus menyelidiki ini sampai tuntas?”
Bai Ruohong melirik arlojinya, lalu berdiri. “Tentu, dan kebenaran itu perlahan sudah mulai terkuak.”
***
Pukul 9 malam, Tim Khusus Kota Yunqing
Jia Zhanghe tidak menyadari malam telah merayap naik ke jendela. Ia terburu-buru menyeruput mi instan di meja, sementara matanya terus terpaku pada layar komputer. Berbagai dokumen terus bermunculan di jendela pesan di bawah.
“He Ge, sudah cocokkan data dasar Zhuang Yihua dan Tian Guiyang?” tanya Jiang Xincheng. Belum sempat dijawab, Bai Ruohong sudah mendorong pintu dan masuk. “Bagaimana hasil penyelidikan kalian?”
“Hong Ge, sini lihat, ini betul-betul penemuan penting—” Jia Zhanghe kembali menyedot mi, bahkan tak sempat mengelap mulut, lalu menyerahkan laporan cetak dari Jiang Xincheng. “Zhuang Yihua dan Tian Guiyang dulunya sama-sama berasal dari Kota Linyi, mereka teman seangkatan di SMP yang sama. Hanya saja, Tian Guiyang kemudian masuk sekolah kejuruan, jadi hubungan mereka putus.”
Sembari membolak-balik laporan, Bai Ruohong bertanya, “Bagaimana hubungan mereka di sekolah?”
Jia Zhanghe menggeleng. “Dari info yang kami dapat, mereka tampaknya tidak pernah berinteraksi, kelas dan angkatan beda, Tian Guiyang setahun lebih tua dari Zhuang Yihua. Kami juga sudah tanya wali kelas dan beberapa teman seangkatan, semua bilang tak punya kesan apa-apa. Maklum, sudah bertahun-tahun, mereka pun lupa-lupa ingat.”
“Tak mungkin. Selama mereka pernah berada di tempat yang sama, pasti ada titik temu, hanya saja kita belum menemukannya. Bagaimana dengan catatan mereka? Ada noda masa lalu?”
Jiang Xincheng maju selangkah, meletakkan data yang baru saja ia kumpulkan di depan Bai Ruohong. “Data pribadi Zhuang Yihua bersih, tak ada catatan buruk. Tapi Tian Guiyang berbeda, dulu saat di sekolah kejuruan ia pernah terlibat perkelahian dan dikirim ke lembaga pembinaan remaja.”
Bai Ruohong mengusap dagunya. “Bagaimana penilaian guru mereka terhadap keduanya?”
“Begini—” Jia Zhanghe menarik kursi ke samping Bai Ruohong. “Wali kelas Zhuang Yihua menilainya sebagai anak jujur dan lurus. Teman sekelas bilang dia pendiam, jarang bergaul, tapi prestasinya baik. Sebaliknya, Tian Guiyang terkenal buruk, suka membully, badannya besar, dan selalu membuat onar di sekitar sekolah. Hong Ge, menurutmu, dua orang dengan sifat bertolak belakang begini, bagaimana bisa saling berkaitan?”
“Itulah cara terbaik mengalihkan perhatian orang. Biasanya, seseorang seperti Zhuang Yihua adalah tipe pendiam, atau bisa dikatakan rendah diri. Tapi penyebab rendah dirinya harus dilihat menyeluruh, bisa karena penampilan, tinggi badan, keluarga, atau hubungan sosial. Semua ini membentuk sosok Zhuang Yihua seperti yang digambarkan. Tapi justru tipe seperti dia paling pandai menyimpan rahasia, dan paling sulit ditebak; sebaliknya Tian Guiyang, semua tindakannya terang-terangan, mudah diketahui orang. Justru di tempat yang tampaknya tak mungkin terhubung itulah letak masalahnya.”
“Hong Ge—” Liu Zichuan tergesa-gesa masuk. “Aku sudah temukan hubungan ketiganya!”
“Sudah ketemu? Maksudmu?”
Liu Zichuan mengambil air mineral di meja Jia Zhanghe tanpa basa-basi, langsung diteguk. “Alamat domisili Chen Rui memang di Kota Linyi, tapi awalnya aku tak menemukan info tentang dia. Tapi setelah menelusuri jaringan pertemanan lamanya, aku menemukan seseorang bernama Lin Youkun, pernah dipenjara karena penipuan, dan sempat bergaul dengan Tian Guiyang.”
“Lalu di mana Lin Youkun sekarang?” Jia Zhanghe berdiri dengan semangat.
Liu Zichuan menggeleng. “Sekarang dia kerja di sebuah dealer mobil di Yunqing, aku sudah hubungi, katanya dua hari ini dia sedang pelatihan di luar kota, begitu kembali akan langsung kabari aku.”
Bai Ruohong mengembalikan berkas ke meja. “Bagaimana dengan catatan telepon dan rekening bank Lin Youkun, ada sesuatu yang janggal?”
“Sementara ini belum ada, transaksi keuangannya normal, sama seperti Zhuang Yihua. Selain itu, aku juga sudah menghubungi salah satu teman lama Chen Rui di Kota Linyi, namanya Zhao Ke. Dia mengaku tahu beberapa hal penting, sekarang sedang dalam perjalanan ke sini.”
“Hal penting? Siapa pula Zhao Ke ini?” tanya Jia Zhanghe keheranan.
“Jadi begini. Saat aku kontak lembaga pembinaan remaja, mereka malah memberiku kontak Zhao Ke.”
***
Ruang Rapat Kecil
Zhao Ke yang buru-buru datang dari luar kota tampak sama sekali tak lelah, bahkan terlihat antusias bisa memberikan petunjuk. “Begitu Kepala Chen menghubungiku, aku langsung ingin membongkar perbuatan Chen Rui. Dia benar-benar keterlaluan.”
Bai Ruohong menyodorkan segelas air. “Tuan Zhao, Anda dulu teman sekelas Chen Rui?”
Zhao Ke mengangguk. “Aku takkan pernah lupa, dia dulunya teman sekelasku yang baik.”
“Teman baik?” Bai Ruohong menangkap nada lain dari ucapannya.
“Kalau boleh memilih, aku ingin dia dihukum seberat-beratnya.”