Bab Enam Puluh: Pembunuhan di Atas Kapal

Panduan Ibu Penjaga Bakpao Seruling Berdesir Angin 2341kata 2026-03-31 21:29:34

“Sudah lebih dari tiga bulan berlalu. Janin itu kini telah stabil. Perempuan itu tidak menggugurkan kandungannya. Berdasarkan getaran samar yang kurasakan beberapa waktu lalu, meskipun aku belum bisa memastikan seratus persen bahwa dia berada di Kota Gelombang Zamrud, arahnya memang menuju ke sana. Untuk benar-benar memastikan keberadaannya, setidaknya kita harus menunggu sampai bayi itu lahir. Pada saat itu, getarannya akan menjadi jauh lebih jelas dan kita dapat menentukan wilayah tempatnya berada.”

“Kau tidak khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, lalu anakmu tidak pernah lahir?” tanya Mo Hongfeng. Ia tidak setenang Xuanyuan Ye dalam memikirkan hal itu.

“Jika benar demikian, apa lagi yang bisa kukatakan? Anggap saja anak itu memang tidak berjodoh menjadi putraku.” Xuanyuan Ye mengatakannya dengan ringan, tetapi di dalam hati ia tahu, jika hal itu benar-benar terjadi, dirinya pasti akan sangat terpukul.

Mungkin karena dugaan yang tidak menyenangkan itu, suasana hati Xuanyuan Ye menjadi agak gelisah. Ia merasa sesak dan ingin keluar berjalan-jalan. Baru saja ia bangkit, Mo Hongfeng memanggilnya.

“Kalau mau keluar, jangan pergi seperti itu. Apa kau ingin menciptakan masalah untukku? Kenakan topengmu, baru pergi.” Mo Hongfeng meraih sebuah topeng perak dari meja teh. Topeng itu tidak memiliki hiasan rumit dan hanya menutupi bagian wajah hingga menyisakan dagu. Ia melemparkannya kepada Xuanyuan Ye.

Xuanyuan Ye menangkap topeng itu lalu langsung memasangnya di wajah. Tanpa berkata apa-apa, ia keluar dari kabin.

“Benar-benar orang yang tidak pernah membuat orang lain tenang,” gumam Mo Hongfeng, lalu melanjutkan minum arak dengan santai.

Angin sungai menyapu wajah, membawa kesejukan dan melenyapkan gerah musim panas. Sambil memandangi ombak yang bergulung-gulung dan mendengarkan gemuruh air, Xuanyuan Ye mengembuskan napas pengap. Ia merapikan rambutnya yang diterpa angin. Ketika menunduk, ia melihat seorang perempuan muda di geladak sedang menggendong seorang bocah lelaki berusia lima tahun sembari tersenyum lembut, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Di sampingnya, seorang lelaki kurus menggendong bayi berusia beberapa bulan. Ia memandangi ibu dan anak itu sambil tersenyum tipis.

Benar-benar keluarga yang bahagia dan harmonis.

Xuanyuan Ye tanpa sadar ikut tersenyum. Namun, ketika hendak mengalihkan pandangan, ia melihat dua sosok mencurigakan berjalan menuju keluarga beranggotakan empat orang itu. Kilatan dingin melintas sesaat, tertangkap oleh mata Xuanyuan Ye, membuat tatapannya seketika membeku.

Hmph, mereka berani melakukan pembunuhan di atas kapal keluarga Mo. Sungguh tidak tahu hidup mereka sendiri.

Tubuh Xuanyuan Ye bergerak. Ia melompat turun dari tempat tinggi dengan gerakan ringan, bagaikan sehelai daun yang melayang jatuh. Dalam sekejap, aksinya menarik perhatian banyak penumpang biasa. Mereka berseru kagum melihat ilmu meringankan tubuhnya.

Si Yeran tentu saja melihat gerakan Xuanyuan Ye. Terlebih lagi, ketika melompat turun, lelaki itu sempat melemparkan isyarat tersembunyi kepadanya. Seketika Si Yeran menyadari ada sesuatu yang tidak beres di belakangnya. Ia berbalik dan tepat pada saat itu melihat dua pembunuh yang bersembunyi di antara kerumunan. Belati yang disembunyikan di balik lengan baju mereka melesat ke arah pinggang dan jantungnya.

Si Yeran mundur tiga langkah, tepat menghindari serangan mematikan dari dua arah. Ia mencabut pedang lentur yang terselip di pinggang, lalu menyerahkan bayi itu kepada Feng Tianyu.

“Cepat pergi. Datanglah kepada lelaki yang baru saja melompat turun itu. Seharusnya dia bisa melindungimu.”

Si Yeran tidak mengenal Xuanyuan Ye. Namun, karena peringatan lelaki itu, ia memutuskan agar Feng Tianyu dan kedua anak tersebut meminta perlindungan kepadanya. Sementara itu, ia sendiri maju menghadapi kedua pembunuh yang menyamar sebagai rakyat biasa. Dalam sekejap, senjata mereka beradu dan geladak kapal pun kacau-balau.

“San’er, lingkarkan tanganmu di leher Ibu dan peluk tubuh adikmu. Jangan lepaskan,” kata Feng Tianyu. Satu tangannya menggendong San’er, sedangkan tangan lainnya memeluk bayi yang tadi diserahkan kepadanya.

“Ibu, aku tidak akan melepaskan,” jawab San’er dengan patuh.

Satu tangannya melingkari leher Feng Tianyu, sementara tangan lainnya memeluk pinggang adiknya. Ia meringkuk di dalam pelukan ibunya ketika Feng Tianyu membawanya menerobos kerumunan yang panik menuju tempat Xuanyuan Ye berada. Tak lama kemudian, mereka tiba di sisinya.

“Tolong selamatkan kami.” Feng Tianyu mendongak menatap Xuanyuan Ye. Ia tidak mengetahui wajah lelaki itu, juga tidak tahu mengapa Si Yeran menyuruhnya meminta perlindungan kepada orang asing tersebut. Namun, ia tetap mengikuti perintah itu.

Dari balik topeng, Xuanyuan Ye menatap wajah Feng Tianyu yang dipenuhi bintik-bintik, lalu sedikit mengernyit.

Ia harus mengakui bahwa wajah itu memang sangat buruk rupa. Namun, permohonan dalam sepasang mata yang jernih dan berkilauan itu membuatnya tidak sanggup menolak.

Kilatan niat membunuh melintas. Ternyata masih ada pembunuh lain yang menyusup di antara kerumunan, dan sasaran mereka adalah Feng Tianyu serta kedua anak itu. Jumlah mereka tidak lebih sedikit daripada para pembunuh yang sedang mengepung Si Yeran.

Tatapan Xuanyuan Ye menggelap. Ia mengulurkan tangan, mengambil San’er dari pelukan Feng Tianyu, sekaligus meringankan beban kedua lengan perempuan itu. Setelah menggeser tubuhnya sedikit, ia kebetulan berdiri tepat di jalur serangan dua pembunuh yang hendak menyergap. Dari balik topeng, ia menatap San’er dan bertanya dengan suara tenang, disertai sedikit aroma arak, “Bocah kecil, apakah kau takut?”

San’er memandang Feng Tianyu, lalu menatap Xuanyuan Ye yang menggendongnya—seorang asing baginya. Dengan agak gugup, ia bertanya, “Kalau San’er tidak takut, Paman bisa melindungi Ibu?”

Mata Xuanyuan Ye berbinar. Dalam hati, ia memuji bocah itu. Sungguh anak kecil yang cerdas dan berbakti!

“Jika kau berani menghadapai orang-orang jahat bersamaku, tentu aku bisa melindungi ibumu.”

“Kalau begitu San’er tidak takut. Sedikit pun tidak.” San’er menjawab dengan wajah serius. Ia melingkarkan tangannya di leher Xuanyuan Ye, mengeratkan jemarinya yang saling bertaut, lalu berkata lagi, “San’er sudah memegang Paman erat-erat. Paman boleh bertarung. Aku tidak akan jatuh.”

Hati Xuanyuan Ye terasa sedikit aneh. Namun, saat memandang San’er, tatapannya dipenuhi kekaguman. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum.

“Ha-ha, kalau begitu pegang erat-erat. Jika kau sampai jatuh, ibumu akan kehilangan nyawanya.”

Sambil tertawa, Xuanyuan Ye melangkah. Gerakannya secepat kilat. Tangannya menangkap bilah tajam yang mengarah kepada Feng Tianyu, lalu dengan satu gerakan mematahkan pergelangan tangan lawannya. Ketika tangannya kembali berayun, darah menyembur dan merenggut nyawa pembunuh itu.

“Tidak tahu diri!”

Xuanyuan Ye mendengus dingin dan mengibaskan lengan bajunya. Puluhan jarum beracun setipis bulu kerbau tersapu masuk ke dalam lengan bajunya, lalu jatuh berderak ke geladak ketika ia mengguncangkannya.

Setelah serangan penyergapan itu berhasil ditahan, para pengawal kapal keluarga Mo pun segera bergabung dalam pertempuran. Semua pengacau dibasmi. Bahkan mereka yang tidak sempat dibunuh telah mengakhiri hidup sendiri di tempat setelah misi mereka gagal.

Setelah dihitung, ternyata ada tujuh pembunuh yang menyamar sebagai penumpang. Sasaran utama mereka adalah Si Yeran, sedangkan Feng Tianyu ikut terseret ke dalamnya.

Melihat mayat-mayat yang berserakan di lantai, Feng Tianyu menjadi sangat marah.

Jika sejak awal mereka hanya mengincar Si Yeran, ia masih bisa memakluminya. Namun, kemudian para pembunuh itu berulang kali berusaha merenggut nyawanya. Hal itu sama sekali tidak dapat ia terima.

Plak!

Feng Tianyu berjalan menghampiri Si Yeran sambil menggendong kedua anak, lalu mengangkat tangan dan menampar wajahnya.

“Beginikah maksudmu ketika berkata tidak akan terjadi apa-apa? Mereka bukan hanya mengincarmu, tetapi juga aku dan kedua anak ini. Mereka ingin membunuh kami! Sejak awal aku seharusnya tidak mempercayaimu. Mulai sekarang, urus saja urusanmu sendiri dan biarkan kami mengurus urusan kami. Persetan dengan penyamaranmu, persetan dengan jaminanmu bahwa tidak akan terjadi apa-apa!”

Dengan marah, Feng Tianyu membalikkan badan dan berjalan menghampiri Xuanyuan Ye. Ia membungkuk hormat kepadanya.

“Terima kasih atas pertolongan Anda. Sepertinya Anda tidak kekurangan apa pun, jadi rasanya tidak tulus jika aku mengatakan akan membalas budi. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan memberi hormat kepada Anda. Terima kasih karena telah melindungi kami bertiga, ibu dan anak. Sekarang, mohon serahkan anak itu kepadaku. Terima kasih.”