Jilid Pertama: Permulaan Bab Seratus Empat Puluh Enam: Pawai Seratus Hantu
Sebuah dinding hancur berkeping-keping akibat hantaman brutal. Di tengah reruntuhan batu bata dan puing-puing, Yuan Mu melompat keluar dengan kecepatan kilat.
Duar!
Seepal bola api melesat bagaikan misrud. Yuan Mu tiba-tiba mengubah arah dan berhasil menghindari serangan tersebut. Bola api itu meledak hebat, meninggalkan sebuah lubang besar di atas tanah.
Yuan Mu melompat dengan ganas ke dinding yang lain dan kembali melancarkan satu pukulan keras. Dinding itu langsung jebol, menciptakan sebuah lubang besar seukuran manusia. Namun, sebelum ia sempat melarikan diri, tiga suara desingan angin yang memecah udara terdengar secara tiba-tiba dari arah belakangnya.
"Sialan!" Yuan Mu sempat melirik tiga bola api yang melesat dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Secara naluriah, ia langsung berguling di atas tanah. Dinding yang baru saja dijebolnya itu pun menjadi sasaran empuk dan hancur berkeping-keping dihantam oleh ketiga bola api mirip rudal tersebut.
"Pfih, pfih, pfih!" Di tengah kepulan debu yang pekat, Yuan Mu bangkit dengan kondisi yang sangat mengenaskan, memuntahkan pasir dan kerikil yang masuk ke dalam mulutnya.
Namun, hanya karena jeda yang singkat itu, api misterius yang terus mengejarnya bagaikan bayangan penasaran kini telah berhasil menyusul dan mengepung Yuan Mu dari segala penjuru.
Mana Nobi Yukina pernah melihat pemandangan yang begitu mengerikan? Tingkat ketakutannya telah melampaui ambang batas ketahanan psikologisnya. Mekanisme pertahanan tubuh manusia seketika menghentikan kesadarannya, membuat matanya mendelik ke atas dan jatuh pingsan seketika.
Menyadari Nobi Yukina berada dalam bahaya dan berisiko terjatuh, Yuan Mu dengan terburu-buru merobek pakaiannya yang sudah compang-camping, lalu melilitkannya dengan erat untuk mengikat Nobi Yukina pada tubuhnya.
Kerak luka akibat ledakan api tadi perlahan-lahan terkelupas, memperlihatkan kulit baru yang merah muda dan mulus di bawahnya. Sungguh daya pemulihan yang sangat tidak masuk akal.
Kendati demikian, daya pemulihan sekuat apa pun tidak lantas menjadikannya abadi. Dikelilingi oleh delapan bola api misterius sekaligus, tekanan yang ia rasakan bagaikan tertindih Gunung Tai, membuat ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi muram.
Huuu, huuuk, huuuk!
Kedelapan bola api misterius itu bergetar secara bersamaan, melepaskan delapan jalur api secepat bintang jatuh yang saling bersilangan dan menyerang tanpa menyisakan celah sedikit pun.
Wajah Yuan Mu langsung pucat pasi. Jika ia berada seorang diri, situasinya mungkin tidak akan separah ini. Namun, karena ia kini harus melindungi Nobi Yukina, tingkat bahayanya meningkat berlipat-lipat ganda.
Pilihan yang ada hanya dua: membuang Nobi Yukina demi menyelamatkan diri sendiri, atau diam menunggu kematian.
Di ambang batas antara hidup dan mati, keputusan apa yang harus ia ambil?
"Persetan dengan kalian!"
Yuan Mu menderu marah, ia telah menemukan jawabannya.
Kedua lengannya mendekap Nobi Yukina erat-erat ke dalam dadanya, lalu ia berjongkok dan meringkuk melindungi tubuh gadis itu, membiarkan gelombang api melahap tubuhnya, lebih baik mati daripada melakukan hal yang akan ia sesali seumur hidup.
Duar, duar, duar, duar...!
Bagaikan berada di medan perang yang sengit, kedelapan bola api tersebut menghantam Yuan Mu tanpa ampun. Ledakan demi ledakan bergemuruh bagaikan petir, percikan api beterbangan ke mana-mana, asap tebal mengepul, dan serpihan daging berhamburan.
Yuan Mu menggertakkan giginya menahan rasa sakit yang luar biasa dari awal hingga akhir.
Begitu asap tebal mulai memudar, bagian punggung Yuan Mu yang tidak tertutupi pakaian sudah tidak berbentuk lagi. Tubuhnya benar-benar hangus terbakar menjadi arang, kulitnya robek dan menganga, mengepulkan asap putih tipis. Di tengah daging yang membusuk dan menghitam itu, bahkan tulang-tulangnya yang terpanggang tampak dengan jelas.
Sementara itu, Yuan Mu tetap berjongkok tanpa bergerak sedikit pun, bagaikan sesosok mayat.
Kedelapan bola api misterius itu bergetar dengan liar, seolah-olah sedang merayakan kemenangan mereka. Tak lama kemudian, kedelapan api itu bergabung menjadi satu, perlahan-lahan memadat membentuk siluet sesosok manusia yang terbuat dari api.
Inilah wujud asli dari api misterius tersebut.
Sambil berjalan mendekati Yuan Mu yang sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, api misterius itu menurunkan lengannya. Nyala api yang berkobar seolah-olah memiliki nyawa sendiri, menjalar dari ujung jarinya dan memadat membentuk sebilah pedang katana.
Api misterius itu berdiri di hadapan Yuan Mu yang nasibnya masih belum diketahui. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, sementara fitur wajahnya yang samar-samar menampilkan senyuman kejam dan sinis.
Seketika berikutnya, siluet manusia berapi itu mengayunkan pedangnya dengan kuat ke bawah, berniat untuk memenggal kepala Yuan Mu!
Trang!
Tepat saat bilah api yang tajam itu hampir menebas kepala Yuan Mu, sebuah tangan besar yang hangus arang tiba-tiba terulur dari udara kosong dan mencengkeram bilah pedang tersebut untuk menghentikan lintasannya.
Wajah api misterius yang kabur itu tampak tertegun, tidak dapat memahami dari mana datangnya tangan besar tersebut.
"Sialan, sangat suka bermain api, ya? Ngomong-ngomong, aku juga punya api, cobalah rasakan ini!"
Sebuah suara penuh kebencian dan dingin bagaikan iblis neraka tiba-tiba bergema. Tubuh Yuan Mu yang tadinya gosong seperti arang perlahan-lahan bangkit berdiri. Lapisan serat arang di permukaan kulitnya retak dan terkelupas, sementara gumpalan api biru menyembur keluar tanpa terkendali, langsung mengubahnya menjadi obor manusia berwarna biru.
Wusss...
Nyala api biru itu datang secara misterius, membakar udara hingga bergetar hebat. Seolah-olah memiliki kesadaran sendiri, api tersebut menghindari Nobi Yukina yang berada di pelukan Yuan Mu, lalu merambat naik ke pedang api milik musuh dan terus menjalar membakar ke seluruh tubuhnya.
Di dunia ini, sungguh ada api yang dapat membakar dan mengasimilasi api lainnya?
Sungguh di luar nalar.
Pandangan mata Yuan Mu setajam bilah pisau. Api misterius itu tampaknya merasakan bahaya yang mematikan, ia mengeluarkan raungan tanpa suara yang tampak mengerikan sembari berjuang mati-matian untuk melepaskan pedang api di genggamannya.
Anehnya, seolah-olah ada kekuatan misterius yang merekatkan pedang api itu dengan erat di tangan api misterius tersebut, membuatnya hanya bisa pasrah menyaksikan api biru menjalar dari bilah pedang ke lengannya, lalu membakar seluruh tubuhnya dalam sekejap.
Makhluk gaib bernama api misterius yang tubuh aslinya tersusun dari api, justru tewas terbakar oleh api. Adakah hal yang lebih ironis dari ini?
Yuan Mu menatap bagaikan dewa iblis saat api misterius itu perlahan-lahan berubah menjadi abu di dalam kobaran api biru. Ekspresinya setenang air, tanpa menunjukkan fluktuasi emosi apapun.
Begitu bahaya telah berlalu, Yuan Mu akhirnya jatuh berlutut dengan lemas. Nyala api biru yang berkobar tadi dengan patuh menyusup kembali ke dalam pori-pori kulitnya.
Keringat bercucuran deras di tubuh Yuan Mu. Ia menumpukan kedua tangannya di atas tanah sambil bernapas tersengat-sengat.
Situasi tadi benar-benar sangat berbahaya. Luka-lukanya begitu parah hingga ia sempat mengira dirinya pasti akan mati.
Tak disangka, garis tangannya memang belum waktunya habis!
"Selamat kepada Host karena secara tidak sengaja telah membangkitkan skill tersembunyi 'Warisan Phoenix Abadi yang Tidak Sempurna' yaitu 'Nirwana'. Probabilitas kebangkitan skill tersembunyi ini adalah satu banding satu juta. Setelah bangkit, Host akan memperoleh ketahanan api super kuat. Ke depannya, seluruh serangan berbasis api akan dikurangi kerusakannya sebesar dua pertiga. Pada saat yang sama, saat berada di ambang kematian, Host dapat bangkit kembali melalui api Nirwana. Setiap kali digunakan membutuhkan 20 poin singularitas, mohon gunakan dengan bijak."
Benar sekali, ia sedang beruntung dan berhasil membangkitkan skill tersembunyi dari 'Warisan Phoenix Abadi', sehingga ia bisa lolos dari cengkeraman maut.
Selain itu, ia juga mendapat berkah terselubung dengan memperoleh skill 'Nirwana' yang hampir membuatnya tidak bisa mati. Meskipun skill ini membutuhkan biaya 20 poin singularitas yang saat ini tergolong sangat besar setiap kali digunakan, dengan adanya 'Nirwana' di dalam dirinya, ia ibarat karakter dalam game yang telah memodifikasi nilai nyawa tak terbatas. Di dunia yang seluas ini, ke mana pula ia tidak boleh pergi?
"Ha, ha ha, ha ha ha..."
Yuan Mu berbaring telentang, menutupi wajahnya dan tertawa terbahak-bahak hingga air matanya hampir berlinang.
Skill 'Nirwana' memang layak disebut sebagai skill tersembunyi yang berasal dari 'warisan'. Efek pemulihannya benar-benar luar biasa, bukan hanya seketika menyembuhkan seluruh luka-lukanya, tetapi juga memulihkan kondisinya secara penuh. Harus diakui skill ini sangat memuaskan.
Setelah beristirahat sejenak, Yuan Mu buru-buru bangkit dan pergi dari sana.
Meskipun ia baru saja memperoleh skill 'Nirwana' yang mirip alat curang, ia tidak berniat menyia-nyiakan tabungan poin yang telah dikumpulkannya dengan susah payah di tempat ini. Pengeluaran 20 poin singularitas akibat menggunakan 'Nirwana' tadi benar-benar membuat hatinya terasa sakit.
Tempat terkutuk ini penuh dengan krisis. Entah kapan monster lain akan muncul kembali, yang terbaik adalah bersikap waspada dan bersembunyi terlebih dahulu.
Dengan berjalan hati-hati bagaikan menginjak es tipis, Yuan Mu meninggalkan bangunan tersebut. Setelah mengamati sekeliling dan memastikan tidak ada bahaya, ia langsung menerobos masuk ke dalam kegelapan yang pekat seperti tinta.
Yuan Mu tidak memiliki peta dan tidak tahu di mana posisinya saat ini. Ia hanya berjalan dan berhenti sesekali, pokoknya bertahan sampai fajar tiba berarti ia telah lolos.
Tepat saat ia merunduk dan bersiap melangkah keluar dari sebuah kios terbengkalai, ia tiba-tiba merasa terkejut dan buru-buru menarik kembali tubuhnya, hanya menyisakan setengah kepalanya untuk mengamati keadaan di luar.
Di kegelapan malam di depan sana, tampak samar-samar cahaya api yang berkedip-kedip, disertai dengan alunan musik dan nyanyian. Tak lama kemudian, bayangan-bayangan berkelebat, seolah-olah ada banyak sekali sosok manusia yang sedang berjalan di sana.
Yuan Mu terkejut bukan kepalang. Tubuhnya seolah-olah membeku di luar kendalinya, bahkan untuk mundur pun ia tidak mampu. Situasi seperti ini belum pernah ia temui sebelumnya.
Sebelum ia sempat memahami situasinya, tirai kegelapan itu dengan cepat disibak oleh cahaya terang, dan suara musik simfoni yang meriah pun menggelegar mendekat.
Yuan Mu membelalakkan matanya lebar-lebar, seolah-olah melihat pemandangan paling tidak masuk akal di dunia ini.
Dengan pengalamannya berkali-kali keluar masuk zona terlarang dan bertaruh nyawa, sudah sedikit sekali pemandangan yang bisa membuatnya ketakutan. Namun, pemandangan di hadapannya ini begitu sangat mengguncang hingga ia hampir tidak percaya pada penglihatannya sendiri.
Tampak di depan sana sebuah kereta dorong beroda besar berdesain aneh perlahan-lahan mendekat. Di kedua sisinya digantung lampion-lampion putih bertuliskan huruf Jepang. Kereta itu memiliki tiga tingkat geladak. Tingkat pertama adalah yang paling besar, di atasnya berdiri belasan penari wanita mengenakan kimono, memegang kipas kecil, dan menari dengan gerakan serempak membawakan tarian tradisional kuno. Di sekeliling mereka duduk tujuh atau delapan pemusik yang meniup berbagai macam alat musik dengan penuh semangat.
Musik yang sensual dipadukan dengan gerakan gemulai para penari, suasananya persis seperti upacara perayaan di zaman kuno.
Meskipun sangat ganjil melihat pemandangan seperti itu muncul di taman hiburan yang terbengkalai, hal yang benar-benar membuat Yuan Mu terpana justru terletak pada para penari dan pemusik tersebut.
Mereka semua ternyata tidak berwajah!
Di balik rambut mereka, yang ada hanyalah selembar wajah botak yang rata seperti papan putih, tampak sangat aneh dan mengerikan dari sudut pandang mana pun.
Di tingkat kedua kereta tersebut, berdiri dua baris prajurit yang mengenakan baju zirah rotan kuno. Baju zirah itu sudah sangat rusak dan dipenuhi bekas tikaman pedang serta tombak, seolah-olah baru saja digali dari dalam tanah. Para prajurit itu pun berwajah hancur tanpa rupa yang seragam, dengan daging yang telah membusuk, bagaikan sesosok mayat hidup dalam legenda.
Tingkat ketiga adalah yang paling kecil, di atasnya terpasang sebuah gendang raksasa setinggi beberapa manusia. Seekor monster bertubuh raksasa setinggi lebih dari tiga meter, bertelanjang dada, dan memiliki enam lengan sedang memukul gendang dengan sekuat tenaga. Suara tabuhan gendang yang bersemangat itu memecah kesunyian malam dan menggema hingga ke kejauhan.
Di sekeliling kedua sisi kereta tersebut dipenuhi oleh monster-monster beraneka rupa yang bernyanyi dan menari sambil menggeliatkan tubuh mengerikan mereka mengikuti alunan musik, menyuguhkan sebuah perjamuan seratus hantu yang belum pernah terjadi sebelumnya, begitu megah sekaligus absurd.
Yuan Mu merasakan hawa dingin yang luar biasa di dalam hatinya. Kereta itu hanyalah permulaan, di belakangnya masih ada barisan pawai yang membentang panjang tanpa ujung. Entah berapa banyak hantu dan monster yang ikut serta di dalamnya.
Bahkan jika ia memiliki skill sakti sepert 'Nirwana', begitu para monster itu menemukan keberadaannya, dikhawatirkan dalam waktu beberapa menit saja abu jasadnya pun tidak akan tersisa.
Lari, ia harus segera lari!
Yuan Mu bergidik ngeri, lalu menggigit ujung lidahnya dengan kuat untuk menggunakan rasa sakit guna merangsang tubuhnya yang kaku. Begitu sedikit tenaganya pulih, dengan tangan dan kaki yang masih lemas, ia buru-buru berbalik dan melarikan diri.
Saat ini ia sudah tidak memiliki lagi ambisi besar seperti saat pertama kali mendapatkan skill dewa tadi. Di dalam kepalanya hanya tersisa satu pikiran: segera pergi dari pusaran mengerikan ini, secepat mungkin, sejauh mungkin.
Namun, Yuan Mu yang sedang kabur dalam kondisi mengenaskan itu tidak menyadari bahwa beberapa bayangan hitam melintas di langit malam, dan beberapapasang tatapan mata yang dingin bagaikan es sedang mengunci sosoknya dengan rapat, mengikuti ke mana pun ia bergerak bagaikan bayangan.