Jilid Pertama Awal Bab Kedua Permainan Para Pemberani
Yuan Mu merasakan darah di seluruh tubuhnya nyaris membeku. Meski ia pernah mengalami peristiwa aneh ketika kakaknya lenyap tanpa jejak, kali ini ia tetap merinding ketakutan. Menatap boneka pengganti di tangannya, Yuan Mu merasa seolah-olah ini semua hanyalah ilusi yang tak masuk akal.
Sebuah aplikasi ponsel, sungguh bisa memengaruhi kenyataan?
Apakah ia sudah kehilangan akal sehat, atau dunia memang sudah menjadi terlalu gila?
Untuk sesaat, pikirannya kacau balau hingga tak mampu berpikir jernih. Dengan susah payah, ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku, menyalakannya dengan tangan gemetar. Perlahan, ia menenangkan kegelisahan dalam dadanya dan memaksa diri menganalisis situasi saat ini.
(Situasi sekarang terlalu aneh, sebaiknya aku mulai menganalisis dari awal...)
(Permasalahan bermula dari Chen Yaobin, dialah yang mengirimkan tautannya, dengan kata lain, dia pasti mengetahui kebenarannya. Aku harus menghubunginya dulu!)
Yuan Mu adalah tipe orang yang tegas. Kalau bukan begitu, dulu ia takkan nekat kabur dari rumah. Setelah mengambil keputusan, ia langsung menelepon Chen Yaobin lewat panggilan suara di WeChat.
Anehnya, panggilannya tak kunjung dijawab hingga akhirnya terputus. Yuan Mu tak patah semangat, ia menelepon Chen Yaobin berkali-kali, namun tak sekali pun diangkat.
Ia teringat pesan terakhir dari Chen Yaobin yang seolah-olah sedang menghadapi ancaman.
Kegelisahan Yuan Mu pun memuncak.
Sejak mereka berpisah, hubungan mereka memang sudah seperti orang asing. Selama lebih dari sepuluh tahun, komunikasi bisa dihitung dengan jari. Namun, persahabatan yang terjalin sejak kecil tak bisa dipungkiri. Jika Chen Yaobin benar-benar dalam bahaya, Yuan Mu tak mungkin berdiam diri.
Masalahnya, ia sama sekali tak tahu di mana keberadaan Chen Yaobin, bahkan jika ingin menolong pun tak tahu harus mulai dari mana.
Bertanya pada orang tua Chen Yaobin?
Itu mustahil. Sejak peristiwa hilangnya Yuan Ya, sifat Chen Yaobin berubah drastis. Orang tuanya secara naluriah menyalahkan Yuan Mu yang dianggap membawa pengaruh buruk pada putra mereka. Hubungan dua keluarga yang dulunya sangat dekat pun hancur berkeping-keping.
Melapor ke polisi?
Juga tidak bisa. Bukan hanya Yuan Mu tak punya bukti apa-apa, ia bahkan tidak tahu di mana Chen Yaobin berada. Bagaimana meyakinkan polisi?
Sepertinya semuanya menemui jalan buntu. Yuan Mu terpaksa menekan perasaan cemas dan diam-diam mendoakan keselamatan Chen Yaobin, lalu kembali menganalisis situasinya.
(Kalau tak bisa mengonfirmasi pada Chen Yaobin, aku hanya bisa menebak-nebak sendiri.)
(Pertama, selama bertahun-tahun, sepertinya Chen Yaobin tak pernah berhenti mencari kakakku. Ia bahkan sempat beberapa kali menghubungiku, sayangnya aku memilih berpura-pura tak tahu... Kembali ke pokok masalah, sepertinya ia belakangan ini memperoleh terobosan besar dalam pencariannya, dan mungkin mendapat ancaman dari kekuatan yang tak bisa dilawan, entah itu individu, organisasi, atau... kekuatan gaib?)
(Kurang informasi, harus dilewati dulu... Selanjutnya, menganalisis aplikasi ponsel misterius itu. Sulit dibayangkan ada aplikasi yang bisa memengaruhi kenyataan. Jangan-jangan ini acara reality show TV? Atau hipnotis?)
(Tak mungkin dijelaskan secara ilmiah. Boneka itu jelas-jelas muncul begitu saja di tanganku. Jelas bukan trik sulap atau ilusi optik.)
(Dengan kata lain, sistem terbalik itu juga merupakan manifestasi kekuatan gaib?)
(Katakanlah, saat menyelidiki kasus hilangnya Yuan Ya, Chen Yaobin tanpa sengaja bersentuhan dengan kekuatan gaib, lalu ketika dalam bahaya, ia menyerahkan petunjuk temuannya padaku. Ini cukup masuk akal.)
(Tapi... saudaraku, bisakah aku benar-benar melaksanakan kepercayaanmu?)
Dalam gelap, Yuan Mu terus merokok satu batang demi satu. Ia butuh nikotin untuk menstimulasi pikirannya. Asap rokok memenuhi ruang tamu. Setelah menelaah maksud Chen Yaobin, hatinya penuh dengan perasaan campur aduk.
Seseorang dari luar keluarga, rela mempertaruhkan segalanya demi Yuan Ya.
Namun sebagai adik kandung Yuan Ya, ia sendiri selama lebih dari sepuluh tahun memilih bersembunyi seperti penakut, lari dari kenyataan.
Tiba-tiba Yuan Mu merasa sangat bersalah, bukan hanya kepada Yuan Ya, tetapi juga pada Chen Yaobin.
Waktu terus merangkak, satu bungkus rokok tandas tanpa sisa. Ketika ia mengisap hisapan terakhir, ia mematikan puntung rokok dengan tegas. Tatapannya yang semula ragu kini menjadi teguh.
Karena tak ada jalan untuk melarikan diri, lebih baik hadapi saja!
Yuan Mu membuat keputusan yang sudah terlambat belasan tahun.
Untuk membuktikan apakah sistem itu nyata atau tidak, satu-satunya cara adalah menerima tugas harian dari sistem. Sekalipun ia mungkin harus menghadapi bahaya yang tak terbayangkan, ia tak mau lagi menjadi pengecut.
Toh, nyawanya sudah hancur, tak ada lagi yang bisa ia rugikan. Ia ingin kembali menghadapi dirinya sendiri. Kali ini, ia takkan ragu, takkan lari lagi.
Karena dua orang terpenting dalam hidupnya, mungkin saja sedang menunggu untuk ia selamatkan!
Mengambil ponsel, Yuan Mu tanpa ragu menerima tugas harian itu.
“Tugas harian: Tugas tingkat mimpi buruk — Permainan Pemberani (Ketakutan berasal dari yang tak dikenal; keberanian adalah syarat utama mencari kebenaran. Hadapilah ketakutan dengan gagah berani, hanya setelah berani mengalahkan rasa takut, semuanya akan dimulai).”
“Apakah Anda yakin menerima tugas harian tingkat mimpi buruk? Setelah menerima, tak bisa mundur di tengah jalan!”
“Yakin!”
Tulisan di layar bergetar, lalu muncul informasi baru.
“Mungkin Anda masih meragukan keaslian sistem ini, tapi tak apa, begitu Anda menjalankan tugas kali ini, pandangan Anda tentang dunia akan berubah. Semangat, selesaikan tugas ini dengan baik, dan bertahanlah hidup!”
“Syarat tugas: Siapkan tiga mangkuk nasi penuh dan tiga pasang sumpit. Tepat pukul 4 pagi, pergilah ke persimpangan jalan mana saja, lalu di tengah-tengah persimpangan, ketuklah mangkuk dengan sumpit hingga ketiga pasang sumpit itu patah.”
“Peringatan keras: Selama proses tugas, apapun yang terjadi, Anda TIDAK BOLEH meninggalkan lokasi, jika tidak akibat tak terduga akan terjadi!”
Membaca instruksi tugas itu, bulu kuduk Yuan Mu berdiri. Mengetuk mangkuk di persimpangan jalan, bukankah itu permainan pemanggil arwah terlarang yang dikenal sebagai “makan persembahan”?
Menurut legenda rakyat, pukul empat pagi adalah waktu peralihan malam ke pagi, saat energi Yin paling pekat. Sedangkan persimpangan jalan adalah tempat penuh sial, lokasi kematian mendadak korban kecelakaan lalu lintas. Melakukan ritual mengetuk mangkuk di tengah waktu dan tempat seperti itu konon bisa memanggil arwah.
Soal apakah permainan mistis ini nyata atau tidak, sejak kepergian Yuan Ya yang misterius, Yuan Mu secara naluriah menolak segala hal yang berbau mistis. Tak disangka, suatu hari ia sendiri akan mengalaminya, benar-benar hidup penuh kejutan.
Anak panah sudah melesat, tak mungkin kembali. Dalam situasi sekarang, Yuan Mu sudah tak punya pilihan mundur.
Menekan kegelisahan dalam hati, ia mengecek waktu. Sekarang pukul 3.45 pagi, masih ada sekitar 15 menit untuk bersiap. Kalau terlambat, harus menunggu sehari lagi.
Sebagai pria lajang yang tinggal sendiri, tiga kali makan Yuan Mu selalu mengandalkan pesan antar. Sudah pasti di rumahnya tak ada mangkuk atau sumpit. Untungnya, di dekat rumah ada warung makan yang buka 24 jam, jadi ia tak perlu repot memasak, bisa langsung beli nasi beserta mangkuk dan sumpitnya.
Untuk persimpangan jalan, tak jauh dari rumahnya sudah ada.
Yuan Mu menghitung kasar, waktu masih cukup. Ia pun segera bangkit dan keluar rumah.
Di bawah tatapan aneh dari pemilik warung, ia membeli tiga mangkuk nasi lengkap dengan sumpit, lalu bergegas ke persimpangan jalan terdekat.
Angin dan salju yang menderu sejak sore sudah reda, suhu kini sekitar minus tujuh atau delapan derajat — cukup untuk membuat orang beku hingga mati. Orang-orang biasa tentu sudah lama bersembunyi di selimut, jalanan kota yang luas kini sunyi sepi, seakan hanya Yuan Mu yang tersisa di dunia.
Sesampainya di persimpangan, Yuan Mu memungut beberapa batu bata di tepi jalan untuk membuat penyangga sederhana, lalu mengatur posisi ponsel dan menyalakan fitur siaran langsung.
Benar, Yuan Mu sendiri tak tahu bahaya apa yang akan ia temui. Satu-satunya cara untuk berjaga-jaga adalah menyiarkan langsung situasinya. Kalau ia tertimpa sesuatu, setidaknya para penonton tahu apa yang telah terjadi padanya.
Setelah memastikan sudut kamera, waktu sudah hampir habis.
Yuan Mu menata mangkuk-mangkuk nasi di tengah persimpangan jalan yang tertutup salju tipis. Semua sudah siap, hanya tinggal menunggu pukul 4 pagi.
Jalanan gelap dan lengang, lampu jalan yang suram, angin malam yang menderu seperti lolongan hantu, serta sosok Yuan Mu yang sendirian di tengah persimpangan menciptakan pemandangan yang mencekam.
Waktunya tiba!
Yuan Mu membungkuk, mengambil sepasang sumpit, lalu mulai mengetuk mangkuk. Sepasang matanya menatap tajam sekeliling, tubuhnya tegang, siap menghadapi segala kemungkinan.
Denting, denting, denting!
Suara ketukan mangkuk yang nyaring dan pelan menggema di udara. Entah hanya perasaan, sejak Yuan Mu mulai mengetuk, angin malam bertiup makin kencang, seperti bilah-bilah pisau tak kasat mata yang menggores kulit hingga terasa perih.
Sambil mengetuk mangkuk, Yuan Mu terus waspada memperhatikan sekitar.
Entah bagaimana, ia merasa suhu turun drastis, bahkan sudut matanya menangkap embun beku menempel di hidung.
Sepuluh menit berlalu, segalanya tampak normal, kecuali perasaan merinding di hati Yuan Mu.
Di sebuah platform video pendek, ribuan pengguna begadang menikmati hiburan tengah malam, berharap bisa menonton pertunjukan para gadis cantik sebelum tidur. Seorang lelaki gempal yang malas baru saja melewati video yang tak menarik, tiba-tiba menemukan sebuah siaran langsung.
Ia menatap layar dengan seksama. Yuan Mu tampak sedang berjongkok di persimpangan, mengetuk mangkuk. Lelaki itu langsung terkejut, duduk tegak di tempat tidur, matanya menatap layar tak berkedip, bergumam, “Gila, siapa ini? Nekat banget! Main pemanggilan arwah di persimpangan secara live?”
Ia pun langsung masuk ke ruang siaran.
Hal yang sama terjadi pada banyak penonton lain yang kebetulan melewati siaran Yuan Mu.
Manusia selalu punya rasa ingin tahu. Setelah bosan melihat pertunjukan para gadis, tiba-tiba melihat seseorang nekat memanggil arwah secara langsung, siapa yang tidak penasaran?
Dengan begitu, jumlah penonton siaran Yuan Mu meroket lebih cepat daripada grafik pasar saham, dalam sekejap menembus angka seribu.
Yuan Mu sendiri tak tahu, seluruh pikirannya hanya tertuju pada tugas.
Bagi para penonton ia mungkin hanya seorang streamer yang mencari sensasi, tapi Yuan Mu tahu betul, ia sedang menghadapi ujian hidup dan mati. Sedikit saja lengah, akibatnya bisa fatal.
Krak!
Jantung Yuan Mu berdegup kencang, sepasang sumpit pertama berhasil ia patahkan, sepertiga tugas selesai, keanehan yang ditakutkan belum juga muncul.
Sedikit lega, Yuan Mu mengambil sepasang sumpit kedua dan meneruskan mengetuk mangkuk.
Dalam suasana sunyi dan lengang, suara sekecil apapun terdengar begitu jelas. Di telinga Yuan Mu, suara ketukan itu menggema keras, seolah-olah mengguncang hatinya.
Tiba-tiba, dari sudut matanya, Yuan Mu seolah-olah menangkap sesuatu yang aneh di sekelilingnya.