Jilid Pertama Awal Bab Empat Puluh Empat Orang Misterius
Huaa!
Tepat ketika telapak tangan raksasa yang nyaris menutupi langit menderu turun, tekanan dahsyat menekan tubuh Yuan Mu kuat-kuat ke tanah. Kedua tangannya mencengkeram tanah tanpa sadar, sampai kuku-kukunya pecah pun ia tak menyadarinya.
Saat ia hampir saja remuk menjadi daging cincang di bawah telapak itu, tiba-tiba seorang pria seperti muncul dari kehampaan dan berdiri tepat di depannya.
Braaak!
Sebelum Yuan Mu sempat bereaksi, pria itu melakukan sesuatu yang luar biasa di depan matanya.
Mengangkat tangan.
Mengangkat lengan.
Menyongsong telapak raksasa itu.
Dia benar-benar menahan telapak Buddha raksasa itu hanya dengan satu tangan?
Gelombang udara hebat meledak dari titik benturan, fenomena fisika yang terjadi ketika udara terkompresi sampai batas maksimumnya dan pecah.
Seorang pria dengan postur tubuh biasa, mampu menahan telapak tangan sebesar rumah?
Benarkah ini? Tidak mungkin!
Mata Yuan Mu hampir melompat keluar, kepalanya berdengung, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Seperti menahan langit yang runtuh, pria itu berdiri tegak, satu tangan menahan tekanan telapak raksasa yang terus-menerus menekannya, seperti seekor semut yang mengangkat seekor gajah—pemandangan yang amat mengguncang.
Gelombang udara yang dahsyat menyapu wajah Yuan Mu hingga terasa perih, nyaris membuatnya kembali terlempar.
“Kirain siapa yang baru saja masuk ke area tingkat tiga, ternyata cuma anak bawang?” ujar pria itu tanpa menoleh ke belakang, berdiri santai, seakan menahan telapak raksasa Buddha itu adalah hal sepele. Meski telapak Buddha itu menekan dengan segala kekuatannya, pria itu tetap tak tergoyahkan—benar-benar pemandangan yang luar biasa.
Yuan Mu terperangah, tak habis pikir. Yang membuatnya kaget bukan perkataan pria itu, tapi suara yang ia dengar.
Itu suara yang sangat ia kenal.
Suara Chen Yaobin!
Tatapannya makin tajam, dan siluet pria itu sangat mirip dengan Chen Yaobin yang ada di ingatannya. Seketika Yuan Mu teringat ucapan Feilong sebelumnya, bahwa dia pernah melihat Chen Yaobin di Swan Residence.
Benarkah dia?
“…Tikus, itu kamu?” Yuan Mu bertanya dengan suara bergetar, setengah berharap, setengah takut.
Tikus adalah julukan Chen Yaobin, lengkapnya Tikus Bin, dalam dialek Guangdong mirip dengan nama seekor ikan.
Sayangnya pria itu tak menjawab. Tubuhnya yang ramping mendadak mengerahkan kekuatan yang dahsyat, dan situasi yang tadinya seimbang langsung berubah. Telapak raksasa yang seharusnya mampu menekan mereka hingga menjadi bubur daging, justru didorong mundur hingga terlempar.
Bum! Bum! Bum!
Dalam getaran hebat yang mengguncang bumi, patung Buddha itu terjungkal, ekspresi wajahnya tetap dingin, dan telapak tangannya yang penuh retakan mulai hancur berantakan.
Namun Yuan Mu tak memperhatikan pemandangan luar biasa itu. Ia hanya memandang pria itu penuh harap, perasaannya campur aduk.
“Jangan ganggu aku di saat penting seperti ini! Pergilah mati!”
Pria itu tampaknya belum puas hanya membanting Buddha. Ia melompat puluhan meter ke udara, lalu menghantam dada patung yang sedang berusaha bangkit.
Kraak!
Suara pecah yang tajam terdengar jelas di jembatan batu yang sunyi, menembus jantung Yuan Mu seperti jarum.
Untuk pertama kalinya ekspresi Buddha berubah. Wajah welas asih yang kaku itu berkerut, mulutnya terbuka seperti menjerit tanpa suara, dan dari matanya yang kosong terpancar ketakutan yang mendalam.
Dari tempat pijakan pria itu, retakan seperti jaring laba-laba menyebar cepat. Patung Buddha yang tadinya kokoh dan menekan kini tampak seperti keramik yang dilempar dan pecah.
Patung Buddha itu tidak tinggal diam, ia mengayunkan lengan yang masih utuh ke arah pria itu, suara hempasan yang dihasilkan bagaikan gelombang besar, menunjukkan betapa dahsyat kekuatan serangannya.
Namun pria itu tak memperdulikannya, ia mengangkat tangan santai untuk menahan.
Braaak!
Seperti truk yang menabrak tebing dengan kecepatan penuh, lengan patung Buddha itu menabrak benda yang tak tergoyahkan. Bukannya menyakiti pria itu, justru lengannya sendiri yang hancur berkeping-keping.
“Heh, dewa rendahan saja berani sombong di depanku?” Pria itu mencibir, tenaga di kakinya meledak.
Ekspresi Buddha berubah dari kaget menjadi takut, mulut raksasanya terbuka tertutup, seperti sedang memohon ampun, tapi sia-sia, pria itu tak menunjukkan belas kasihan sedikit pun.
Krak, krak, krak~
Di bawah kekuatan yang mustahil untuk dilawan, patung Buddha itu hancur berkeping-keping, dan dalam sekejap lenyap tanpa jejak.
Setelah menuntaskan semuanya, barulah pria itu berbalik.
Begitu melihat wajah pria itu, Yuan Mu seolah tersambar petir, sampai lupa bernapas.
Wajah tampan yang begitu ia kenal, bekas luka samar di dahinya, semua persis seperti Chen Yaobin dalam ingatannya!
Air mata Yuan Mu mengalir tak terbendung, ia berteriak dengan suara parau, “Tikus, benar-benar kamu? Aku nggak sedang bermimpi, kan?” Dengan mata yang basah ia meraih tangan, berusaha menggenggam sahabat lamanya yang telah lama hilang.
Namun ‘Chen Yaobin’ tampak dingin, bahkan mengejek, tak ada sedikit pun kegembiraan bertemu sahabat lama. Tatapannya kepada Yuan Mu seperti menatap serangga sepele.
“Jadi kamu mau minta ampun dengan cara seperti ini, anak bawang? Setidaknya kamu juga pengguna, nggak malu apa?” ‘Chen Yaobin’ berkata sinis, melangkah perlahan ke arah Yuan Mu.
Berdiri di depannya, ‘Chen Yaobin’ menatap Yuan Mu dari atas, matanya setajam pisau, menggeleng dan mencibir, “Entah apa yang dipikirkan kecoak-kecoak seperti kalian, berani masuk ke wilayah ‘Perusahaan’. Sudahlah, bicara sama anak bawang begini juga percuma, mending mati saja!”
Begitu kata-kata itu berakhir, ‘Chen Yaobin’ mengangkat kaki, menginjak ke bawah secepat kilat tanpa ragu.
Dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan patung Buddha, Yuan Mu pasti akan remuk menjadi bubur daging.
Namun Yuan Mu tak peduli pada bayang-bayang maut yang mengancam. Ia seolah terjatuh dari surga ke neraka dalam sekejap, rasa kecewa dan hampa yang luar biasa menyelimuti hatinya.
Bukan Chen Yaobin?
Tapi jelas-jelas dia Chen Yaobin, bagaimana mungkin aku salah orang?
Lalu kenapa dia tak mengakuiku?
Bahkan ingin membunuhku?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Yuan Mu, otaknya seolah berhenti bekerja.
Saat kematian sudah di depan mata, tiba-tiba suara raungan yang mustahil dibayangkan mengguncang seluruh dunia.
“Roar!”
Raungan itu meledak bagai petir di musim semi, lalu jembatan batu berguncang hebat bagaikan naga bumi yang berbalik badan.
‘Chen Yaobin’ mendadak berhenti, wajahnya berubah sangat buruk, ujung sepatunya tinggal setengah s