Bab 27: Keluarga Zhang
Huang Tian duduk di kursi, menatap Zhang Lanhua yang terduduk di lantai di depannya. Rasa muak berkali-kali membuncah di dadanya. Baru saja ia menelepon ayahnya; sang ayah sudah tahu dan sedang dalam perjalanan pulang. Sebenarnya ayahnya hendak pergi ke kota untuk mengambil persediaan barang, tapi ketika barang-barang baru saja dipilih, seorang tetangga lama menelpon memberitahu bahwa ada masalah di rumah. Akhirnya, ayah Huang Tian mempercayakan barang-barang itu pada beberapa rekan yang ikut berbelanja, lalu membeli tiket pulang dan diperkirakan malam nanti sudah tiba di rumah.
Kota tempat tinggal keluarga Huang Tian memang berada di pinggiran kota besar, keluar dari kawasan pinggiran lalu menempuh perjalanan mobil sekitar setengah jam saja sudah sampai. Jika buru-buru, sehari bolak-balik pun tidak masalah.
Zhang Lanhua melihat dirinya sudah menangis dan berteriak sekian lama, namun tak ada seorang pun yang datang menanyakan kabarnya atau menolongnya berdiri. Para tetangga hanya berdiri di luar rumah keluarga Huang, sesekali melongok ke dalam, terkadang terdengar bisik-bisik yang samar masuk ke telinganya, tapi tak satu pun yang membela dirinya. Tatapan mereka padanya, meski berusaha disembunyikan, tetap saja menyiratkan rasa tidak suka yang dapat ia rasakan.
Sebagai perempuan yang bisa bersama suaminya mengembangkan usaha dari toko kecil hingga membuka beberapa cabang di seluruh kota, Zhang Lanhua sangat paham apa artinya "pahlawan sejati tak cari masalah di depan mata". Ia melirik Huang Tian yang tampak malas memperdulikannya, lalu menghapus air mata dan ingus dari wajahnya. Menahan nyeri di kaki dan wajah, ia menatap Huang Tian dengan penuh kebencian, berkata, “Masalah hari ini, tunggu ayahmu pulang, kita akan membicarakannya dengan jelas.”
Selesai berkata, tanpa menunggu tanggapan Huang Tian, ia beranjak pergi dengan langkah berat. Meski satu tangan menutupi pipi dan salah satu kakinya pincang, masih terlihat jelas ia tidak mengalami cedera serius.
Zhang Lanhua mengabaikan rasa sakit di kakinya, melangkah cepat meninggalkan pasar. Di sana tak ada satu pun orang yang berpihak padanya, bahkan sikap semua orang tampak tak bersahabat. Anak lelaki keluarga Huang entah kenapa tiba-tiba berani memukulnya. Jika ia tetap tinggal, siapa tahu sebelum suaminya pulang ia bisa saja dipukuli lagi. Dulu ini adalah hal yang tak pernah terbayangkan. Semua orang tahu keluarga mereka kaya, punya hubungan dengan biro usaha dan pajak, tak ada yang berani melawannya, apalagi berani mengangkat tangan. Tapi hari ini, anak lelaki keluarga Huang membuatnya sadar, kekuasaannya belum cukup besar untuk menutupi langit. Selama ini orang-orang menahan diri hanya demi kebutuhan hidup dan karena sudah terbiasa dengan sifatnya, selama masih dalam batas toleransi semua orang.
Tapi jika ia berani melampaui batas kesabaran orang lain, mereka tak akan patuh begitu saja. Mereka bisa mengusir satu dua keluarga, tapi mustahil bisa mengusir semua orang. Lagi pula, jika mereka mau pun, pihak berwenang pasti tidak akan membiarkan. Jika hanya urusan kecil atau sesekali saja, orang-orang itu mungkin masih mau membantu. Tapi jika terlalu sering merepotkan dan meminta hal yang berlebihan, yang akan celaka justru bukan orang lain, melainkan diri mereka sendiri. Zhang Lanhua sangat sadar posisi keluarganya di mata pihak berwenang.
Inilah dunia yang menjunjung hukum dan kebebasan, bukan lagi zaman feodal di mana segalanya bisa diatur dengan uang. Kalau diam-diam masih bisa, tapi kalau sampai tercium media atau jadi perhatian publik, hukum pasti akan turun tangan. Para bangsawan kerajaan yang tak punya kerjaan itu justru menunggu-nunggu kasus besar atau rakyat kecil yang tertindas, supaya bisa dengan penuh semangat mendorong semua lembaga untuk menuntaskan masalah secara adil di depan umum. Urusan keluarga mereka memang tidak sampai menarik perhatian para bangsawan itu, tapi sekali saja tercium media dan sampai ke telinga masyarakat, tamatlah mereka. Tak akan ada yang membela mereka di hadapan publik.
Selama ini keluarga mereka baik-baik saja karena media lokal yang tahu urusan mereka sudah mereka suap. Lagi pula, bukan masalah besar, semua orang memilih aman dan nyaman. Orang-orang pasar juga tipikal yang takut masalah, asal bisa hidup tenteram, semua akan baik-baik saja. Sesekali mereka juga akan mentraktir makan dan mengobrol dengan para pedagang, sekadar menenangkan suasana.
Segalanya berjalan tertib, kehidupan keluarga pun semakin baik. Mengingat kejadian barusan, Zhang Lanhua merasa harus memikirkan cara menangani ini dengan benar. Saat dipukul, ia memang terbakar emosi dan rasa sakit, hingga bereaksi spontan. Tapi sekarang ia sadar, mungkin ia memang sudah terlalu keterlaluan. Bagaimanapun keluarga mereka masih harus hidup di sini, kalau bermusuhan dengan semua orang jelas tidak baik. Meski sekarang sudah mengarah ke situ, selama tidak makin memburuk, tidak ada yang melaporkan mereka, mereka masih bisa hidup tenang dan terus mengumpulkan uang. Begitu uang cukup, mereka tak akan bertahan di kota kecil ini. Suatu saat nanti mereka pasti pindah ke kota besar, tinggal di vila, naik mobil sport.
Sepanjang jalan pulang, Zhang Lanhua memikirkan rencana. Ia memutuskan harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan pada semua tetangga di pasar bahwa keluarga mereka juga murah hati, bukan mata duitan, juga memikirkan hubungan antar tetangga.
Lihat saja, anak lelaki keluarga Huang berani memukul dirinya, tapi ia, Zhang Lanhua, demi menjaga hubungan baik sebagai tetangga lama, memilih memaafkan, tidak menuntut apa-apa, tak butuh uang ganti rugi, cukup minta mereka minta maaf di depan umum. Bukankah ini sangat lapang dada? Siapa yang berani bilang ia tidak punya perasaan kemanusiaan? Siapa yang berani bilang keluarga Zhang tidak peduli hubungan antar tetangga?
Dengan cara ini, semua orang pasti akan berterima kasih atas kebaikannya. Di depan banyak orang, membuat keluarga Huang minta maaf, keluarganya pun tetap terjaga kehormatannya. Bukankah ini seperti sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui?
Semakin dipikir, rencananya terasa sangat cemerlang. Meski wajah dan kakinya masih sakit, asal keluarga bisa tetap mencari nafkah dengan tenang, luka ini tak ada artinya. Kelak jika benar-benar sukses, jadi keluarga kaya raya yang terkenal di seluruh negeri, menyingkirkan satu toko kecil itu bukan perkara sulit.
Dengan penuh percaya diri, Zhang Lanhua pulang ke rumah. Di bawah tatapan heran suaminya, Zhang Jue, dan putrinya, Zhang Ling, ia memanggil mereka lalu menjelaskan rencananya.
Mendengar ibunya dipukul Huang Tian, teman sekelasnya sendiri, Zhang Ling yang kaget langsung memerah wajahnya, menjerit, “Bodoh sekali dia berani memukulmu?!”
Di kelas, Zhang Ling adalah murid teladan dan bunga kelas yang paling bersinar. Sementara Huang Tian, nilainya biasa saja, pendiam, tak ada yang membuat iri, kecuali wajahnya yang sedikit lebih rupawan. Selain itu, tidak ada kelebihan lain, bahkan terhadapnya pun sangat dingin.
Di antara semua teman sekelas, hanya Huang Tian yang tak pernah memperhatikannya, berbeda dengan yang lain, khususnya para laki-laki yang berebut untuk mencari perhatiannya. Zhang Ling masih ingat, saat ulang tahunnya, ia dengan baik hati mengundang Huang Tian, namun di depan seluruh kelas, ia malah menolak undangannya dengan tegas. Saat itu, Zhang Ling merasa ingin menembaknya mati di tempat.
Tentu saja, ketika mengundang Huang Tian, sikap Zhang Ling sangat angkuh, seperti dewi agung yang sedang mengasihani rakyat jelata. Ia menganggap Huang Tian hanyalah mainan, salah satu permainannya saja. Ekspresi dan tatapannya seolah-olah Huang Tian seharusnya bersujud dan berterima kasih karena diundang olehnya.
Namun, Huang Tian menolak tanpa ragu. Sejak saat itu, di hati Zhang Ling, Huang Tian hanyalah orang bodoh yang tidak tahu diri, makhluk yang pantas disambar petir.
Kini mendengar ibunya dipukul si bodoh itu, harga dirinya yang tinggi seakan dilumuri lumpur. Ia merasa sangat tersinggung, marah hingga ke ubun-ubun.
“Panggil polisi! Tangkap mereka semua! Sejak kapan keluarga kita boleh dipukul orang dan tidak bisa membalas?!”
Zhang Jue hanya bisa tersenyum pahit, menahan putrinya di sofa, lalu menenangkan, “Jangan buru-buru, dengarkan dulu ibumu. Keluarga mereka juga tidak akan lari, kau takut mereka kabur?”
Zhang Lanhua pun menenangkan putrinya beberapa patah kata, meminta agar tidak terburu-buru, lalu melanjutkan penjelasan tentang rencananya.