Bab 165 Siapa yang Harus Menghubungi Duluan
Tanpa terasa, satu minggu telah berlalu, dan kerugian sebesar sepuluh ribu yuan itu akhirnya tidak lagi menghantui benang pikiran Shi Lei.
Shi Lei menghitung pengeluarannya selama seminggu ini, setiap transaksi dicatat dengan sangat jelas. Totalnya mencapai lebih dari sembilan puluh ribu yuan, bahkan batas pengeluaran Shi Lei dari beberapa minggu sebelumnya masih belum habis terpakai.
Satu juta yuan, jika dirata-rata setiap hari harus menghabiskan lebih dari tiga puluh ribu, tetapi sekarang, Shi Lei hanya menghabiskan sedikit lebih dari sepuluh ribu setiap harinya.
Ini terutama karena Shi Lei benar-benar tidak fokus minggu ini. Sepuluh ribu yuan—tidak, di dalam hati Shi Lei, itu adalah kerugian yang melebihi empat ratus ribu—ia bahkan menghabiskan waktu selama lima hari penuh hanya untuk memulihkan diri.
Pada hari Sabtu, Zhang Meimei menelepon dan mengabarkan bahwa dia dan Zhang Liangliang baru akan kembali pada Minggu malam, jadi minggu ini Shi Lei tidak perlu datang untuk memberi mereka bimbingan belajar.
Di tengah pembicaraan, Zhang Liangliang merebut telepon itu dan dengan penuh semangat menceritakan semua hal yang mereka lakukan selama seminggu ini. Gadis itu sangat bersemangat hingga luar biasa, ini mungkin adalah masa-masa paling membahagiakan baginya dalam lebih dari satu tahun terakhir. Bukan hanya karena bersenang-senang, tetapi yang utama adalah karena hubungannya dengan sang ibu telah pulih, dan ia kembali merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Antusiasme Zhang Liangliang sangat menular pada Shi Lei, membuat suasana hatinya menjadi jauh lebih baik.
Berkat panggilan telepon ini pula, Shi Lei mendadak teringat bahwa tugas utamanya adalah menghabiskan jatah yang diberikan oleh kartu hitam, serta memaksimalkan penggunaan dana pribadinya yang ada di tangan untuk melipatgandakan kekayaan aslinya, alih-alih terjebak dalam penyesalan dan kejenuhan di sini. Bukankah hanya sepuluh ribu yuan? Dirinya masih memiliki lebih dari tujuh puluh, hampir delapan puluh ribu yuan. Dengan modal ini, ditambah dengan kartu jari emas investasi, dia masih bisa merajai pasar saham dengan gemilang. Toh itu adalah investasi yang normal, kartu hitam tidak mungkin membuat ulah yang aneh-aneh.
Setelah menutup telepon, Shi Lei kembali bersemangat. Ia berjanji kepada Zhang Liangliang bahwa ketika mereka kembali pada Minggu malam, dia akan menjemput mereka di bandara. Gadis itu begitu gembira hingga hampir bernyanyi di ujung telepon.
Tujuan yang teguh, melangkah maju dengan berani! Aku ini kan pria yang akan menjadi raja bajak laut! Eh, bukan, maksudku aku adalah pria yang akan menjadi dewa saham!
Shi Lei berlari turun, memanggil taksi, dan langsung meluncur menuju Klub Wuwei.
Ia memutuskan untuk memesan satu meja penuh hidangan vegetarian yang lezat, lalu meminta sebotol Lafite tahun 1982, dan menikmati makan besar!
Di tengah perjalanan, Shi Lei tiba-tiba teringat pada wanita gila yang membawanya ke Klub Wuwei itu. Benar juga, wanita gila ini sudah hampir dua minggu tidak menghubunginya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apakah dia sudah tidak ingin menghubunginya lagi?
Shi Lei memeriksa ponselnya dan mendapati bahwa Wei Xingyue telah memperbarui status WeChat-nya dua hari lalu. Itu adalah sebuah foto swafoto. Di dalam foto tersebut, Wei Xingyue tampak begitu tenang dan segar, bagaikan seorang peri yang tidak tersentuh oleh dunia manusia. Namun, Shi Lei tahu betul bahwa di balik wajah yang elok itu, Wei Xingyue memiliki jiwa yang bisa dikategorikan sebagai orang gila.
Keterangan pada foto tersebut berbunyi: "Anak keparat kecil, awas saja nanti kubalas!"
Shi Lei merenung cukup lama, tidak yakin apakah kalimat Wei Xingyue itu ditujukan untuk dirinya. Rasanya memang agak mirip, seperti sedang menyalahkan dirinya karena tidak kunjung menghubungi. Tapi, jika aku tidak menghubungimu, apa kau tidak bisa meneleku duluan? Sebelumnya pun aku tidak pernah berinisiatif menghubungimu, selalu kau yang menghubungiku duluan, kan?
Memikirkan hal itu, Shi Lei merasa sedikit bimbang. Namun, setidaknya ia bisa memastikan bahwa Wei Xingyue masih menyimpan kontaknya dan belum menghapus WeChat-nya. Jika Wei Xingyue benar-benar memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya, wanita itu pasti sudah menghapus WeChat-nya sejak lama.
Setelah ragu sejenak, mobil telah melaju hingga ke kaki Gunung Qinglong, dan di depan tidak jauh lagi adalah Klub Wuwei.
Shi Lei akhirnya memanggil nomor tersebut. Telepon berdering dua kali, dan suara garang Wei Xingyue langsung terdengar dari ujung penerima.
"Anak keparat kecil! Kau akhirnya ingat juga untuk menghubungi Neng-mu ini!"
Entah kenapa, meskipun dimarahi, Shi Lei justru merasa sedikit senang.
Kata-kata yang hampir persis sama itu membuktikan bahwa status WeChat tersebut memang ditunjukkan untuk Shi Lei. Ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa bukan Wei Xingyue yang tidak ingin menghubungi Shi Lei, melainkan wanita itu sedang menunggunya untuk mengambil inisiatif.
Meskipun tidak memahami alasan di balik semua ini, Shi Lei tetap tersenyum dan berkata, "Bukankah kau juga tidak menghubungiku?"
"Neng tidak menghubungimu, memangnya kau tidak bisa berinisiatif menghubungi Neng sekali saja? Ciuman pertama Neng bahkan sudah kau curigai, kau pria tidak tahu diuntung!"
Keringat dingin membasahi dahi Shi Lei. Sopir menghentikan mobilnya dan memberitahunya bahwa mereka sudah sampai.
Sambil mengangguk kepada sopir, Shi Lei mendorong pintu mobil dan keluar. Memegang ponselnya, suasana hatinya tiba-tiba menjadi sangat baik.
"Jangan melebih-lebihkannya begitu. Aku sekarang ada di Klub Wuwei, apa kau mau datang untuk makan? Aku yang traktir."
"Tunggu Neng di sana! Sepuluh menit lagi aku sampai, Neng sudah di puncak gunung!"
"Astaga, kau tidak sedang berpikiran pendek, kan? Kalau aku tadi tidak meneleponmu, jangan-jangan kau berencana melompat dari atas gunung? Sepertinya teleponku ini datang tepat waktu ya. Tapi omong-omong, apa sebenarnya yang membuatmu begitu putus asa!"
Suara bentakan terdengar dari telepon: "Tunggu Neng! Neng akan beri pelajaran sebentar lagi!" Setelah itu, sambungan diputus. Shi Lei berdiri di pintu masuk Klub Wuwei, berpikir dengan sedikit cemas: Mengingat kemampuan bela diri wanita gila itu, ditambah karakternya yang ekstrem, apakah aku harus memanggil master seni bela diri untuk merasuki tubuhku agar bisa merasa lebih aman?
Li Xiaoyu sudah melihat Shi Lei sejak tadi. Melihat Shi Lei menurunkan ponselnya, ia pun tersenyum dan menyambutnya.
"Tuan Muda Shi, sudah beberapa hari tidak kelihatan!"
Shi Lei berkata dengan sopan, "Manajer Li, akhir-akhir ini saya agak sibuk. Apakah Wei Xingyue pernah datang belakangan ini?"
"Sepertinya tidak. Tuan Muda Shi datang sendirian hari ini?"
"Oh, Wei Xingyue sebentar lagi akan sampai. Ruangan 'Jembatan Kecil Air Mengalir' miliknya itu kosong?"
"Kosong, kosong. Ruangan 'Jembatan Kecil Air Mengalir' itu biasanya memang selalu disiapkan untuk Nona Xingyue. Mari saya antar Anda ke sana sekarang."
Shi Lei melambaikan tangan dan berkata, "Tidak usah, tunggu saja dia di sini, saya bisa pergi sendiri."
Li Xiaoyu tidak banyak bicara lagi. Ia mengangguk, mengantar Shi Lei ke lift, lalu kembali ke lantai utama.
Benar-benar hanya butuh waktu sepuluh menit. Shi Lei bahkan belum sempat memilih menu makanan, ketika Wei Xingyue sudah menerobos masuk bagaikan hembusan angin badai.
"Kau masih ingat cara meneleponku?" Wei Xingyue menatap tajam dengan alis berkerut, ekspresinya seolah Shi Lei adalah musuh yang membunuh ayahnya.
Dalam hati, Shi Lei merasa lega karena wanita itu tidak langsung menyerangnya. Jika tidak, mengingat tingkat keahlian bela diri wanita gila ini, kalau dia sampai harus memanggil master seni bela diri untuk merasukinya, mungkin ruangan privat ini bisa hancur berantakan.
Sambil memasang senyum ramah, Shi Lei menarik kursi untuk Wei Xingyue dan berkata, "Duduklah dulu, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik."
Wei Xingyue duduk dengan gusar, namun ekspresinya tetap sedingin es.
Dengan gaya duduk yang angkuh dan terbuka, Wei Xingyue saat ini sama sekali tidak terlihat seperti peri yang tidak tersentuh dunia fana, melainkan lebih mirip seorang pemimpin bandit wanita yang suka merampas pria tampan di gunung.
"Katakan, kenapa tidak menghubungiku?"
Shi Lei duduk di seberangnya, tersenyum kecil dan berkata, "Bukankah kau juga tidak menghubungiku?"
"Bagaimanapun aku ini seorang wanita! Apa kau benar-benar ingin memaksa Neng-mu ini menggunakan kekerasan?"
"Jangan, jangan! Aku kan tidak tahu situasi apa yang sedang kau hadapi, mana berani aku sembarangan menghubungimu? Kebetulan minggu ini aku juga mengalami beberapa urusan. Baru tadi aku melihat status WeChat yang kau buat dua hari lalu, dan baru tahu kalau kau ternyata tidak menghapusku dari daftar teman WeChat-mu. Kalimat itu juga terlihat agak ditujukan untukku, makanya aku baru punya keberanian untuk menghubungimu. Sebelumnya, aku bahkan mengira kau sudah tidak ingin lagi berurusan denganku!"
Rentetan kalimat itu justru membuat Wei Xingyue tertegun sejenak. Ia mengerutkan alisnya yang indah dan berkata, "Untuk apa juga aku tiba-tiba menghapusmu? Lagipula, kenapa aku tidak ingin berurusan denganmu? Apa kau diam-diam melakukan sesuatu yang mengecewakanku?"
Shi Lei buru-buru melambaikan tangan dan menjelaskan, "Mana berani aku melakukan hal yang mengecewakanmu? Pokoknya, hari itu setelah kau pergi dari rumahku, kau meninggalkan secarik kertas. Aku tidak langsung melihatnya saat itu, baru pulang tengah malam dan melihat kertas itu. Kau bilang ingin mengajakku makan, tapi tidak meninggalkan nomor telepon, ya tentu saja aku mengira kau tidak ingin berhubungan lagi denganku."