Bab Sepuluh: Kembalikan Uangku
Lampu lalu lintas itu dengan angkuh mengayunkan lengannya, masing-masing tangan memegang sebuah pemantik. Ia menekannya, nyala api menyembul, lalu dilepas, kemudian ditekan lagi, begitu berulang-ulang.
Tiba-tiba, Batu merasakan adegan ini seperti pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah melodi berputar-putar di benaknya, tanpa sadar ia pun mulai bernyanyi pelan.
“Aku menerjang badai, berjalan sesuka hati, semua menatap penuh kagum, aku takkan pernah menoleh ke belakang...”
Lampu-lampu lalu lintas di seberang jalan itu tertegun. Mereka memang sedang menirukan salah satu adegan dari film anak jalanan, tapi kenapa Batu tiba-tiba menyanyikan lagu latarnya? Ini benar-benar di luar dugaan.
Batu masih melanjutkan lantunannya, “Mengubah dunia, aku menulis hukumku sendiri, serigala liar bermata tajam yang garang.”
Sebagai pemimpin dari ketiganya, Lampu Merah merasa dirinya dipermalukan. Dengan marah ia melemparkan pemantiknya ke arah Batu, seraya berteriak, “Tutup mulut!”
Batu menangkis pemantik itu dengan satu tepukan, lalu melirik sekelilingnya. Dalam hati, ia heran, “Aku nggak salah jalan kok, kenapa malah ketemu lagi sama tiga hantu ini?” Sekaligus, ia merapatkan genggaman di kantong celananya.
“Kau, ke sini!” Lampu Merah tampaknya mengira Batu sudah gentar, lalu mulai meniru gaya jagoan film jalanan. Ibu jari kirinya ia selipkan ke telinga, berpura-pura mengorek kotoran telinga, sementara tangan kanannya menunjuk ke arah Batu, telunjuknya mengisyaratkan agar Batu mendekat.
Batu makin tegang, ia menutup kantongnya lebih erat dan berseru, “Mau apa lagi?”
“Bro, akhir-akhir ini keuangan kami lagi seret. Dulu pernah minjem duit sama kamu, rasanya kamu orangnya baik dan gampang dimintain tolong. Tolong bantu lagi, pinjemin duit ke kami, ya?”
Lampu Hijau dan Lampu Kuning yang berdiri di belakang Lampu Merah tertawa dengan niat buruk. Batu pun akhirnya sadar, gara-gara waktu itu ia terlalu mudah dimintai uang dan sama sekali tak peduli dengan ratusan ribu yang hilang, ketiga hantu ini jadi mengira ia mudah dibodohi, dan kini ingin mengulanginya.
Padahal, waktu itu Batu memberi uang karena ia belum tahu peraturan dunia ini, dan akibatnya ia harus gundul seperti telur rebus. Tongkat kekuasaan sudah jelas mengingatkan, waktu itu Batu baru pertama kali melanggar, jadi hanya bagian paling tak penting saja yang diambil darinya. Tapi kini, setelah ia mengerti betul aturannya, kalau sampai uangnya tetap diberikan pada ketiga hantu ini, dengan sifat Tongkat itu, yang hilang darinya pasti bukan sekadar bulu ketiak atau bulu kaki.
Dompetnya masih berisi tiga ratus ribu. Meski hanya satu setengah persen dari dua puluh juta, namun jika Tongkat itu ingin memberi pelajaran dengan mengambil bagian tubuh yang penting, akibatnya akan jauh lebih serius.
“Maaf, hari ini aku nggak bawa uang banyak. Lain kali kalau mau pinjam, bilang dulu sebelumnya, biar aku bisa bawa uang lebih. Gini aja deh, besok aku ambil sejuta dari ATM, nanti langsung kuberikan ke kalian, gimana?”
Lampu Kuning mengangguk, “Anak ini memang tahu aturan.”
Lampu Hijau juga ikut mengangguk, “Besok di sini lagi ya, kami tunggu. Kalau besok kamu nggak datang, awas, kubunuh kamu!”
Mendengar itu, dua hantu tolol itu berbalik hendak pergi. Lampu Merah yang marah besar, menendang pantat kedua temannya sambil memaki, “Kalian otaknya tahu nggak dipakai? Anak ini jelas lagi nipu kita, nggak kelihatan? Kalau besok dia nggak datang, mau cari dia di mana?”
Dengan satu tendangan, Lampu Kuning dan Lampu Hijau akhirnya sadar, dan mereka pun naik pitam. Mereka serempak menyerbu Batu dan membentak, “Anak muda, jangan sok nggak tahu malu! Pinjam uang sama kamu itu karena kami masih menghargaimu, sekarang cepat keluarkan semua uang yang kamu bawa!”
Batu tak berdaya, ia mengeluarkan dompet dan berkata, “Serius, hari ini aku cuma bawa tiga ratus ribu, barusan beli dompet baru, jadi tinggal segini. Lagi pula, aku masih ada urusan. Malam ini aku minta uang ke orang rumah, kalau sudah masuk rekening, langsung kuambil dan kasih ke kalian.”
Lampu Hijau yang bermata tajam melihat dompet Batu, memang hanya tersisa tiga lembar seratus ribuan, lalu berbisik, “Bos, aku lihat sendiri, benar cuma tiga ratus.”
Lampu Merah melirik tajam, “Mau pinjam duit masih protes kurang?!”
Lampu Kuning langsung menuding Batu, “Nggak usah banyak alasan, tiga ratus juga nggak apa-apa, cepat serahkan!”
Batu hanya bisa berharap sambil mengulur waktu, semoga saja ada orang lewat. Tiga orang ini jelas bukan preman beneran, paling-paling cuma berani menindas pelajar sekitar situ. Kalau sampai ada orang dewasa lewat, pasti mereka kabur.
“Nggak bisa, aku ada urusan nanti. Aku sudah janjian ngajak pacar makan malam, dan ATM-ku kosong, menunggu kiriman dari rumah malam ini.”
Begitu mendengar itu, para lampu lalu lintas tambah berang, ketiganya hampir bersamaan memaki, “Kamu masih punya pacar?! Mau bikin kami iri ya!”
Lampu Merah langsung melangkah lebar, merampas dompet dari tangan Batu, sambil mencibir, “Wah, dompetnya keren, merek CK. Jelas anak orang kaya, pewaris harta.”
Batu hanya bisa mengeluh dalam hati. Tiap hari ia bercanda dengan teman sekamarnya mengaku anak orang kaya, mereka sama sekali tidak percaya, tapi tiga hantu ini malah bisa melihat “potensi” dirinya.
“Seperti biasa, kami bukan merampok, cuma pinjam. Dompet ini pasti harganya satu-dua juta, dompetnya kukembalikan, uangnya kami pinjam.” Lampu Merah memasukkan tiga ratus ribu ke sakunya, lalu melempar dompet kembali ke Batu.
Batu langsung cemas, bukannya soal tiga ratus ribu, tapi itu adalah nyawanya! Melihat tiga lembar uang merah itu masuk ke saku Lampu Merah, Batu merasa bagian di antara kedua kakinya seolah-olah kosong dan dingin...
“Kembalikan uangku! Atau aku lapor polisi!” Batu berharap masalah ini bisa diselesaikan secara damai.
Lampu Kuning tak terima, langsung menendang Batu dengan keras. Tak siap, Batu terjatuh ke tanah.
“Sialan, sudah dibilang cuma pinjam, kenapa harus lapor polisi?”
Melihat Batu jatuh, mereka bertiga tertawa lalu berbalik hendak pergi.
Batu bangkit dengan mata memerah. Dipukul begini saja sudah cukup, tapi tiga ratus ribu itu tak boleh hilang. Memang ia masih punya uang saku, tapi ia tak tahu bagaimana Tongkat menghitungnya. Kalau ia menutup kekurangan dengan uangnya sendiri dan semuanya baik-baik saja, tak masalah. Namun, jika Tongkat itu menganggap uang yang diberikan sudah dirampas, dan uang yang ia pakai adalah uang pribadinya, bukankah ia akan rugi dua kali?
Dengan nekat, Batu melompat maju, mencengkeram kerah baju Lampu Merah, suaranya berat, “Kembalikan uangku!”
Para lampu lalu lintas itu tertegun, tak mengerti kenapa Batu jadi seperti ini. Waktu uangnya diambil dulu, Batu malah santai saja dan langsung melemparkan uang. Dulu delapan ratus ribu, sekarang cuma tiga ratus ribu, kenapa ia jadi begitu ngotot?
Lampu Merah membentak, “Lepaskan tanganmu dari bajuku!”
Batu tak peduli, matanya yang merah menatap garang Lampu Merah, mulutnya terus mengulang, “Kembalikan uangku!”
Lampu Merah mengangkat tinjunya, memukul Batu tepat di mata, sambil memaki, “Sialan, sudah dikasih muka malah makin jadi!”
Lampu Kuning dan Lampu Hijau juga maju, menendang Batu hingga ia jatuh lagi.
Dengan pandangan meremehkan, mereka menganggap Batu hanya besar badan, tapi lemah. Ketiganya hendak pergi.
Tiba-tiba, Batu melompat lagi, kembali mencengkeram baju Lampu Merah. Melihat pukulan yang kembali menerjang, ia tak menghindar, membiarkan tinju itu mendarat di wajahnya, tapi mulutnya tetap bersikeras, “Kembalikan uangku!”