Bab Empat Puluh Enam: Menyelamatkan Nyawamu

Kartu Hitam Xiao Serliang 2495kata 2026-02-07 23:10:40

Setelah memikirkan semuanya dengan jelas, dada Shi Lei tetap terasa sesak, meski ia tahu sebelumnya ia sebenarnya punya kesempatan untuk keluar tanpa cedera. Namun kini, ia hanya bisa menerima tantangan yang datang setiap minggu, berulang tanpa henti.

Sekilas tampak mudah, seolah hanya perlu menghamburkan uang saja. Namun Shi Lei tahu, jika ia benar-benar berpikir seperti itu, cepat atau lambat ia akan bernasib sama seperti pria yang ia lihat malam itu—mengendarai mobil mewah, tampak menawan di permukaan, namun pada akhirnya tak mampu menghindari nasib tragis.

Pasti ada rahasia tersembunyi di balik semua ini. Kartu hitam itu mustahil hanya ingin melihat seseorang berfoya-foya. Toh, seiring naiknya level dan bertambahnya limit, sehebat apa pun seseorang menghamburkan uang, pasti akan ada saat ia tak sanggup menghabiskan semuanya.

Level!

Ya, level! Inilah yang kini paling ingin dipahami Shi Lei.

Dulu Tongkat pernah menyinggungnya, tapi Shi Lei tak terlalu peduli, menganggapnya sekadar istilah khusus saja. Namun kini, ia sadar betapa erat kaitannya level itu dengan dirinya.

Pada tahap percobaan pemula, di minggu keempat saja limitnya sudah mencapai delapan puluh ribu yuan. Sekarang sudah masuk tahap resmi, dan ia belum tahu berapa besar limitnya. Dari pria yang dieliminasi itu saja, bisa ditebak ia mampu membeli Porsche, berarti limit mingguannya setidaknya sudah mencapai jutaan yuan.

Menyadari itu, Shi Lei segera memeriksa saldo rekening di ponselnya, tapi ternyata tak ada uang sepeser pun di dalam kartu. Meski sudah lewat tengah malam, limit minggu ini rupanya belum juga dikreditkan. Ini berarti, memasuki tahap resmi, Tongkat pasti masih punya aturan yang perlu dijelaskan kepadanya.

Shi Lei pun memutuskan mengambil inisiatif, bertanya langsung pada Tongkat. Lagipula, ia sudah paham kalau Tongkat hanya sekadar perwakilan, dan ia tidak lagi takut menyinggung mahluk aneh itu.

“Pada tahap percobaan pemula, sebenarnya kalian hanya ingin menilai apakah aku layak ikut bermain dalam permainan ini. Jelas sekarang aku sudah memenuhi syarat itu. Jadi, setelah masuk tahap resmi, apakah sistemnya juga dibagi ke dalam beberapa level seperti game online?”

Tongkat merasa sangat kesal, jelas tak suka dengan sikap Shi Lei. Sebelumnya, tak pernah ada peserta yang berani bersikap begini padanya.

Namun ia tak berdaya. Ia memang tidak bisa menghukum Shi Lei semaunya.

Selain itu, ia juga wajib menjawab pertanyaan Shi Lei, karena itu merupakan salah satu tugas yang diberikan kartu hitam. Ini pun termasuk informasi yang boleh diketahui Shi Lei di tahap ini.

“Kau sekarang berada di level satu, yaitu level terendah pada tahap resmi.”

“Bagus, jadi total ada berapa level?” tanya Shi Lei lagi.

Dengan sangat tidak senang, Tongkat menjawab, “Dengan levelmu sekarang, kau belum punya hak untuk tahu jawabannya.”

“Kalau begitu, beritahu saja seluruh hal tentang level yang boleh aku ketahui!” ujar Shi Lei.

Tongkat memaki, “Benar-benar bawahan licik!” Tapi ia tetap harus menjelaskan, “Level satu—”

Shi Lei langsung memotong, “Sekarang aku sudah paham, istilah ‘bawahan’ itu pasti hanya kau ciptakan sendiri. Mungkin karena kau merasa diri sebagai budak kartu hitam, jadi kau ingin aku dan para pendahuluku juga jadi budakmu, bukan? Begitu aku menerima sebutan itu, aku akan selalu takut dan tak berani banyak bertanya tentang kartu hitam. Jadi, istilah ‘bawahan’ itu sebetulnya tak wajib. Menurutku, hubungan antara aku dan kartu hitam lebih seperti antara pemberi kerja dan karyawan. Kartu hitam adalah bos, aku karyawan, sedangkan kau, itulah satu-satunya budak di sini. Lihat betapa baiknya aku, aku bahkan tak menyebutmu budak, cukup pelayan saja, kau pasti tahu bedanya. Mulai sekarang, panggil aku Tuan Shi, atau kalau kau tidak suka, sebut saja aku karyawan.”

Tongkat memaki-maki, baru kali ini Shi Lei sadar bahwa Tongkat memang punya emosi dan perasaan. Ia bahkan bisa melontarkan kata-kata kasar (karena terlalu kasar, tidak ditampilkan di sini; silakan bayangkan sendiri).

Setelah puas memaki, Tongkat pun akhirnya mengubah sebutannya, “Karyawan resmi level satu, limit diberikan sekali seminggu, dengan jumlah sepuluh ribu yuan setiap minggu.”

“Berapa lama aku harus bertahan untuk naik ke level dua? Dan berapa limit karyawan level dua? Sudah kubilang, aku ingin tahu semua yang boleh aku tahu, bukan satu per satu harus kutanya.”

Tongkat mendengus, “Karyawan level satu tidak berhak mengetahui detail apa pun tentang level dua. Kenaikan dari level satu ke level dua, secara teori, paling lama setelah menghabiskan satu juta yuan. Setiap saat selama itu, jika penilaianmu cukup tinggi, kau bisa naik level lebih awal.”

Shi Lei berpikir, kalau mengitung lima belas ribu yuan dari tahap pemula, berarti masa terlama jadi karyawan level satu paling sembilan minggu, atau delapan minggu kalau sisa lima ribu yuan bisa dihabiskan dalam sekali transaksi. Bahkan jika tidak menghitung tahap pemula, paling lama hanya sepuluh minggu, belum sampai dua setengah bulan.

Sial, naik level lebih cepat? Siapa juga yang mau naik cepat-cepat? Setelah naik, belum tahu akan jadi bagaimana, limit pun belum jelas. Shi Lei malah ingin selamanya tetap di level satu, sepuluh ribu yuan seminggu, itu masih cukup mudah dijalani.

“Transaksi seperti apa yang dianggap luar biasa?” tanya Shi Lei dengan tenang.

Tongkat menjawab, “Misalnya enam puluh ribu yuan yang kau habiskan minggu lalu.”

“Enam puluh ribu? Uang yang mana?” Shi Lei sudah menduga itu uang untuk biaya pengobatan ibu Sun Yiyi, tapi tetap merasa aneh, sebab uang itu diperoleh dari menjual komputer.

“Bodoh! Kau sungguh mengira uang hasil pengembalian komputer bisa dihitung dalam limit pengeluaran?”

Tongkat akhirnya menemukan kesempatan untuk menyindir, nadanya jadi lebih ringan.

Shi Lei mengernyit, “Aku ingat dulu aku sudah bertanya soal itu padamu, meski tak kau jawab dengan jelas, tapi kau sudah mengakui transaksi komputer itu.”

“Bodoh! Saat itu kau memang belum mengembalikan komputer, jadi memang masuk dalam limit. Tapi kalau sudah dikembalikan, limit akan langsung kembali seperti semula. Masa kau kira bisa seenaknya menggunakan limit, beli barang lalu dikembalikan, terus uangnya jadi milikmu?”

“Uh…” Shi Lei menepuk dahinya, bagaimana bisa ia lupa logika sederhana seperti itu? Waktu itu, demi mengumpulkan biaya operasi ibu Sun Yiyi, ia memang terlalu terburu-buru.

“Kalau aku beli barang, lalu setelah minggu ini aku jual lagi dengan harga lebih rendah, apakah uang itu tetap dihitung dalam limit minggu ini? Misalnya aku jual pakaian yang kubeli beberapa minggu lalu ke temanku dengan harga seribu yuan, apakah limit minggu ini jadi seribu lebih tinggi?”

“Ternyata kau tidak sebodoh itu. Tapi bukan seribu yuan, limit dikembalikan sesuai harga beli barang itu!” jawab Tongkat dengan dingin.

Hati Shi Lei terasa tenggelam, untung saja ia bertanya, kalau tidak, bisa-bisa ia celaka gara-gara hal ini.

Sebenarnya, sebelum dapat jawaban, Shi Lei masih sempat berharap. Kalau memang bisa begitu, setiap minggu ia bisa menghabiskan limit lalu jual lagi minggu berikutnya, bukan hanya menyelesaikan tantangan, tapi bisa menabung juga. Nyatanya, kartu hitam benar-benar menutup semua celah bagi trik curang semacam itu.