Serangan Terkuat
Serangan terkuat!
Zheng Xiaobai hanya bisa tersenyum masam mendengarnya. Semula ia mengira bahwa begitu identitasnya diungkapkan, gadis kecil ini setidaknya akan memberinya sedikit wajah! Namun, siapa sangka setelah sekian lama, pertarungan tetap harus dilanjutkan! Terlebih lagi, gadis ini tetap akan mengerahkan seluruh tenaganya. Meskipun dikatakan hanya satu jurus, jika ia mengeluarkan jurus terkuatnya, itu berarti ia hampir tidak akan menahan diri sama sekali!
"Baiklah kalau begitu, aku ingin melihat seberapa kuat jurus terkuatmu itu!"
Usai berkata demikian, Zheng Xiaobai tidak melakukan gerakan apa pun. Ia hanya berdiri dengan tenang di tempatnya, menunggu Liu Yan melancarkan jurusnya.
Andai kata Zheng Xiaobai mengerahkan Langkah Mengambang di Awan, dengan mengandalkan kemampuan menetralisir gravitasi tersebut, jangankan Liu Yan hanya mengeluarkan satu jurus, bahkan jika ia mengeluarkan sepuluh atau delapan jurus sekalipun, jangan harap bisa melukai Zheng Xiaobai. Namun, jika berbicara secara ketat, menggunakan Langkah Mengambang di Awan untuk menangkis hanya bisa dianggap sebagai menghindar, dan sama sekali tidak bisa dianggap benar-benar menerima jurus lawan.
Zheng Xiaobai tentu tidak ingin dipandang rendah oleh gadis kecil ini, maka meskipun ia tahu betul bahwa ilmu bela dirinya mungkin tidak sehebat lawan, ia tetap harus nekat mencobanya. Tentu saja, jika ia benar-benar tidak mampu menahan jurus Liu Yan tersebut, ia sama sekali tidak akan memaksakan diri. Seberapa besar pun harga dirinya, ia tidak boleh mempermainkan nyawanya sendiri!
Oleh karena itu, untuk menerima satu jurus Liu Yan dengan mengerahkan seluruh kekuatan, Zheng Xiaobai tentu tidak berani bersikap gegabah sedikit pun. Ia langsung memejamkan mata dan beralih menggunakan kekuatan persepsi untuk mengamati setiap gerak-gerik Liu Yan.
Belakangan ini, seiring dengan seringnya Zheng Xiaobai menggunakan kekuatan persepsi, jangkauan persepsinya memang tidak kembali meluas, tetapi dalam hal detail, ia mengalami peningkatan yang nyata. Ia mendapati bahwa dalam kondisi berpersepsi, ia menjadi jauh lebih teliti dan komprehensif daripada mengamati dengan mata telanjang. Di dalam jangkauan persepsinya, jangankan Liu Yan bergerak, bahkan jika ia hanya menggerakkan jari kelingkingnya sekali pun, mustahil bisa lolos dari detksinya. Hal seperti ini sama sekali tidak bisa dicapai hanya dengan pengamatan mata biasa!
Kendati demikian, tindakan Zheng Xiaobai ini di mata banyak orang justru berubah menjadi bentuk keangkuhan yang luar biasa. Berduel dengan seorang ahli tingkat tinggi tetapi malah memejamkan mata, bukankah itu sama saja dengan mencari mati?
Tentu saja, ada pula yang merasa bahwa tindakan Zheng Xiaobai ini justru sangat cerdas. Langkah Bayangan Ilusi milik Liu Yan terlalu luar biasa ajaib, mustahil bisa membedakan mana tubuh asli Liu Yan hanya dengan mata telanjang. Jika demikian situasinya, alih-alih menebak dengan mata, lebih baik mengandalkan pendengaran untuk menilai. Bukankah dengan begitu segala macam teknik pengecoh musuh dari lawan akan kehilangan kegunaannya?
Hanya orang-orang yang berpengetahuan luas seperti Song Yuanqiao yang tahu bahwa Langkah Bayangan Ilusi bukan sekadar mampu menipu mata manusia, bahkan dengan menggunakan teknik mendengarkan angin untuk mengenali bentuk tubuh pun tetap mustahil bisa membedakan mana tubuh yang asli. Sekalipun itu hanya bayangan semu, saat bergerak, bayangan tersebut tetap akan menimbulkan embusan angin. Jika ada yang mengira bahwa memejamkan mata saja sudah bisa membongkar trik itu, maka Langkah Bayangan Ilusi ini tentu tidak ada hebatnya sama sekali!
Oleh sebab itu, begitu melihat reaksi Zheng Xiaobai ini, Song Yuanqiao, Ketua Kongwen, dan yang lainnya tidak kuasa menahan desahan napas. Mereka sama sekali tidak berani menaruh harapan apa pun lagi terhadap hasil duel ini.
Liu Yan sedikitmengerutkan bibirnya dan berkata, "Guru, jika Anda mengira bisa memecahkan Langkah Bayangan Ilusi milikku hanya dengan mengandalkan pendengaran, maka Anda salah besar! Karena itu, kuanjurkan sebaiknya Anda membuka mata sekarang juga! Kalau tidak, aku akan segera melancarkan jurusku, ya?"
"Silakan," jawab Zheng Xiaobai dengan senyum tipis. Ia tetap memejamkan matanya rapat-rapat dan berkata seolah-olah tidak peduli, "Menurutku cara seperti ini sudah sangat bagus. Silakan serang saja."
Liu Yan kembali cemberut dengan nada genit, namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Setela itu, dengan ekspresi tegam, ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju dengan ringan.
"Wus!"
Seiring dengan langkah maju Liu Yan, seribu lebih penonton di sekitar sontak mengeluarkan seruan kaget secara bersamaan.
Kali ini, Liu Yan benar-benar kembali menggunakan Langkah Bayangan Ilusi yang sama seperti sebelumnya. Perbedaannya adalah, kali ini ia memunculkan empat sosok Liu Yan yang persis sama. Ternyata, saat bertarung melawan Master Jingxuan tadi, ia masih menyimpan tenaga. Empat bayangan inilah kekuatan sejati terkuat miliknya.
Jangan dikira empat bayangan hanya bertambah satu dari sebelumnya. Orang-orang yang benar-benar memahami ilmu silat tingkat tinggi ini tahu betul bahwa setiap kali Langkah Bayangan Ilusi memunculkan satu sosok bayangan tambahan, tingkat kesulitannya akan meningkat dua kali lipat dari sebelumnya. Terlebih lagi, bertambahnya satu bayangan bukan sekadar menambah tingkat pengecohan terhadap musuh, melainkan kekuatan yang terpancar saat menyerang juga akan berlipat ganda karenanya.
Song Yuanqiao, Ketua Kongwen, dan yang lainnya menggelengkan kepala sambil menghela napas saat melihat pemandangan itu, membuat mereka semakin tidak menaruh harapan apa pun pada Zheng Xiaobai. Sementara itu, Yin Tianzheng justru membelalakkan matanya cerah. Ia buru-buru berbisik kepada Yin Yewang di sampingnya, "Tak disangka di dalam Sekte Elang Langit kita masih ada bakat sehebat ini! Yewang, setelah pertempuran ini usai, selidiki latar belakang gadis ini dengan baik. Jika tidak ada masalah, angkatlah dia menjadi seorang Kepala Aula!"
Sekte Elang Langit membawahi tiga aula bagian dalam dan lima altar bagian luar. Tiga aula bagian dalam tersebut masing-masing adalah Aula Tianwei, Aula Ziwei, dan Aula Tianshi. Yin Yewang sendiri menjabat sebagai Kepala Aula Tianwei, Kepala Aula Tianshi adalah adik seperguruan Yin Tianzheng, sedangkan Aula Ziwei dipimpin oleh putri Yin Tianzheng, yang juga ibu Zhang Wuji, yakni Yin Susu. Semenjak Yin Susu bunuh diri dengan menusuk lehernya sendiri di Gunung Wudang, posisi Kepala Aula Ziwei itu terus kosong melompong. Hal ini bisa dianggap sebagai bentuk kerinduan Yin Tianzheng terhadap putrinya. Namun, siapa sangka hari ini Yin Tianzheng berniat melanggar aturan dengan mengangkat seorang anggota biasa yang belum pernah menorehkan jasa maupun nama besar untuk menjadi Kepala Aula! Jika benar demikian, kedudukan gadis kecil ini hampir sejajar dengan Yin Yewang!
Mendengar usulan Yin Tianzheng yang begitu mendadak ini, Yin Yewang terkejut bukan kepalang. Ia berniat membujuk ayahnya beberapa patah kata, tetapi begitu teringat bahwa setelah mengalami pertempuran ini, Sekte Elang Langit sekalipun mampu selamat dari kehancuran, niscaya akan mengalami luka parah dan kehilangan sebagian besar kekuatan asalnya. Dalam situasi genting seperti ini, tidak ada hal yang lebih penting selain merebut orang-orang berbakat dan merangkul hati pengikut. Jangankan Liu Yan memang adalah bawahannya di Sekte Elang Langit, bahkan jika ia adalah orang luar sekalipun, selama ada peluang untuk merebutnya, mereka harus berusaha sekuat tenaga. Terlebih lagi, usia Liu Yan masih muda, namun tingkat ilmu bela dirinya yang tinggi sudah disaksikan oleh semua orang. Selepas peristiwa hari ini, namanya dikhawatirkan akan segera terkenal di seluruh penjuru negeri. Jika Sekte Elang Langit masih enggan memanfaatkannya dengan baik dan justru disambar oleh kekuatan lain di kemudian hari, penyesalan pun tiada guna lagi!
Memikirkan hal ini, Yin Yewang tidak kuasa menahan diri untuk merasa bahwa keluasan hati dan pandangannya ternyata masih terpaut satu tingkat di bawah sang ayah, sungguh terlalu berjiwa kecil! Seketika itu juga, ia mengangguk patuh dan berkata, "Baik, Ayah."
Kembali pada Liu Yan yang melompatkan Langkah Bayangan Ilusi dan seketika terbelah menjadi empat sosok, sekelilingnya meledak dalam sorak-sorai keterkejutan. Orang-orang dari Enam Perguruan Besar itu baru saja berteriak ketika mereka langsung merasa menyesal. Jika pada saat itu Zheng Xiaobai benar-benar sedang menggunakan pendengaran untuk membedakan di mana tubuh asli Liu Yan berada, bukankah gelombang suara yang ditimbulkan oleh teriakan semrawut mereka ini akan mengacaukan seluruh pendengaran Zheng Xiaobai? Dengan begitu, jangankan Zheng Xiaobai awalnya memiliki peluang sebesar tiga puluh persen, setelah dicampuri oleh ulah mereka, barangkali bahkan peluang satu persen pun tidak akan tersisa!
Kendati demikian, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa pada saat itu Zheng Xiaobai sama sekali tidak sedang membedakan apa pun dengan menggunakan suara. Di dalam dunia persepsinya, meskipun unsur pendengaran tetap ada, faktor yang jauh lebih dominan adalah indra peraba. Zheng Xiaobai utamanya mendeteksi fluktuasi udara untuk menghitung penyebab yang menimbulkan fluktuasi tersebut, lalu melakukan prakiraan akurat sebelumnya. Oleh karena itu, betapa pun bisingnya kebisingan di sekitarnya, dampaknya terhadap dirinya sangatlah minimal.
Ketika Liu Yan mengerahkan Langkah Bayangan Ilusi, di dalam dunia persepsi Zheng Xiaobai, muncullah empat sosok dengan bentuk dan ukuran yang sama persis. Hal ini membuat Zheng Xiaobai terkejut bukan kepalang, sama sekali tidak menyangka bahwa ilmu ringan ini ternyata benar-benar mampu menipu persepsinya!
Namun, tak lama kemudian, seulas senyum tipis terukir di sudut bibir Zheng Xiaobai. Sebab, ia tiba-tiba mendapati bahwa di antara keempat sosok yang serupa itu, meskipun tiga di antaranya juga mampu menimbulkan fluktuasi udara dan suara, di dalam ketiga sosok tersebut justru terdapat sensasi aliran udara!
Sebenarnya, di dalam tubuh manusia memang terdapat kandungan udara, dan seiring dengan pernapasan seseorang, udara di dalam tubuh manusia pun akan membentuk siklus aliran di dalam sistem pernapasan. Akan tetapi, karena terhalang oleh kulit, Zheng Xiaobai mustahil bisa merasakan hal tersebut. Oleh karena itu, ketiga sosok yang dapat ia rasakan memiliki aliran udara di dalamnya itu jelas-jelas hanyalah bayangan semu yang diciptakan oleh Liu Yan menggunakan metode khusus.
Empat sosok Liu Yan yang persis sama menyerbu ke arah Zheng Xiaobai secara bersamaan dari empat arah yang berbeda. Menghadapi pemandangan yang mencengangkan ini, banyak orang mulai merenung di dalam hati: seandainya diri merekalah yang diserang oleh Liu Yan dengan cara seperti ini, satu-satunya jalan keluar adalah menggunakan kecepatan tertinggi untuk menyongsong salah satu sosok secara proaktif. Tak peduli apakah sosok itu tubuh asli atau bayangan semu, ia harus menghancurkannya dengan kecepatan kilat.
Jika kebetulan memilih tubuh yang asli, tentu itu adalah hasil yang terbaik. Sebaliknya, jika yang terpilih ternyata hanya sebuah bayangan semu, bayangan itu setidaknya bisa dihancurkan terlebih dahulu untuk melepaskan diri dari kepungan beberapa bayangan lawan, barulah memikirkan bagaimana cara menghancurkan sisa bayangan lainnya satu per satu.
Begitu direnungkan seperti itu, semua orang lantas menyadari bahwa ternyata Langkah Bayangan Ilusi ini tidaklah menakutkan seperti yang mereka bayangkan. Ilmu ringan ini memang sangat misterius, tetapi ia hanya mudah mengejutkan lawan pada penggunaan pertama sehingga membuat lawan gagal mengerahkan kemampuan terbaiknya. Namun, jika seseorang sudah bersiap sejak awal, ilmu misterius ini tidak akan mampu memainkan peran yang terlalu besar!
Kendati demikian, apa yang sama sekali tidak diduga oleh semua orang adalah Zheng Xiaobai justru tampak tidak memikirkan hal itu sama sekali. Dari awal hingga akhir, ia hanya berdiri di sana sambil memejamkan mata dan tersenyum, tanpa menggeser langkah kakinya barang sedikit pun. Hingga keempat sosok Liu Yan sudah berada tepat di hadapannya, barulah ia tiba-tiba berbalik badan, membalikkan tangan menjadi kepalan, lalu menghantamkan tinjunya ke arah sosok yang menyergap dari belakang.
Mungkinkah ia benar-benar mampu mengandalkan pendengaran semata untuk membedakan mana yang merupakan tubuh asli di antara keempat sosok tersebut?
Para penonton di sekeliling tertegun seketika. Meskipun banyak orang enggan mempercayai hal tersebut, ketika mereka melihat keyakinan yang terpancar di wajah Zheng Xiaobai, mau tidak mau mereka kembali mempercayainya.
Hanya Liu Yan sendiri yang mendapati hal itu justru menghela napas di dalam hati, merasa sedikit kecewa terhadap guru yang baru pertama kali ditemuinya ini. Kendati ia sudah sejak lama menduga bahwa guru ini pastilah seorang petualang yang begitu terobsesi dengan seni alkimia hingga mengabaikan ilmu bela diri, namun memiliki bakat istimewa, oleh karena itu ia semula tidak berharap ilmu bela diri Zheng Xiaobai bisa setinggi apa. Akan tetapi, ia tetap merasa sangat kecewa. Kekecewaannya tertuju pada sikap arogan dan sembrono yang ditunjukkan oleh Zheng Xiaobai barusan. Apakah orang seperti ini benar-benar bisa menjadi seorang Master Alkimia yang hebat?
Di dalam benak Liu Yan, tanda tanya besar pun mulai bermunculan.
(Bersambung...)
Catatan Penulis: Terima kasih kepada pendekar "Sui Feng Qi Wu" atas dukungan hadiahnya sekali lagi, serta terima kasih kepada tiga pendekar yaitu "Sui Feng Qi Wu", "Di Diao She Hua T", dan "Huyingquan" atas dukungan tiket bulanan kalian.
Masih ada satu bab lagi malam ini!