Salju beterbangan menutupi langit, panah melesat menembus rusa putih, tawa dan kisah para pendekar, asmara menggantung di atas danau hijau. Setiap pemuda penuh darah panas di tanah Tionghoa menyimpan
Cuaca di awal musim gugur masih berubah-ubah seperti wajah anak kecil; baru saja langit cerah tanpa awan, tiba-tiba saja mendung telah menggelayut di angkasa. Zheng Xiaobai bergegas pulang ke asrama pekerja sekolah, menerobos rintik hujan tipis sebelum hujan deras benar-benar turun.
Zheng Xiaobai bekerja sebagai petugas kebersihan di Sekolah Menengah Ketiga Kota Xingyu, biasanya bertugas merawat taman-taman yang ada di lingkungan sekolah. Kalau ingin bicara lebih halus, ia bisa disebut sebagai tukang kebun.
Namun, tukang kebun seperti dirinya jelas tak bisa disamakan dengan para guru di sekolah yang juga kerap dijuluki “tukang kebun” sebagai kiasan. Pekerjaan yang ia lakukan sepuluh kali lebih berat, gajinya bahkan lebih dari tiga kali lipat lebih rendah.
Tapi mau bagaimana lagi, ia memang tak punya koneksi. Meski lulusan Universitas Pendidikan, kini universitas pun tidak lagi menjamin penempatan kerja. Tak berarti punya ijazah pasti dapat pekerjaan bagus. Setiap sekolah di kota ini sudah melebihi kuota pegawai.
Untuk bisa menjadi guru di tengah kondisi seperti ini, harus punya jaringan yang kuat dan modal yang cukup besar, tak boleh kekurangan salah satunya!
Sayangnya, Zheng Xiaobai tak punya satupun. Ibunya seorang pekerja yang sudah di-PHK, ayahnya lumpuh bertahun-tahun, tabungan keluarga nihil, utang malah bertumpuk, apalagi mau menyogok supaya bisa jadi guru—itu benar-benar mustahil!
Jadilah, setelah lulus dari Universitas Pendidikan, Zheng Xiaobai hanya bisa mendapatkan pekerjaan sebagai petugas kebersihan sekolah. Bahkan pekerja