Bab 0004: Segalanya Bisa Terjadi
Bagaimana cara mengatasi situasi seperti ini? Kepala Zheng Xiaobai terasa nyeri sekali, ia melihat tatapan Zhou Zhiruo yang semakin dipenuhi kebingungan dan dingin menusuk. Ia sadar tak bisa lagi menunda, harus berani bertaruh kali ini!
Zheng Xiaobai pun menghela napas pelan, berlagak tak berdaya dan berkata, “Apa kau tidak tahu? Kau dan ibumu saat muda hampir mirip sekali. Saat pertama kali kulihat dirimu, aku hampir mengira sedang melihat Bibi Zhou di masa lalu! Mungkin kau sudah lupa wajah ibumu, tapi bukankah ayahmu pernah menceritakan padamu?”
Sebenarnya, dalam kisah aslinya sama sekali tidak disebutkan soal ibu Zhou Zhiruo. Zheng Xiaobai pun tak tahu apakah mereka benar-benar mirip, juga tidak tahu kapan ibunya Zhou Zhiruo wafat. Yang ia tahu, saat Zhou Zhiruo bertemu Zhang Wuji di perahu Han Shui, ia sudah menjadi yatim piatu.
Jika ibunya Zhou Zhiruo meninggal saat Zhou Zhiruo berusia delapan atau sembilan tahun, pasti ia masih mengingat wajah sang ibu, dan jika ternyata mereka sama sekali tidak mirip, maka kebohongan Zheng Xiaobai pasti akan langsung terbongkar!
Namun saat ini, Zheng Xiaobai sudah tak punya pilihan lain selain nekat mencoba peruntungannya.
Untung saja, nasib Zheng Xiaobai cukup baik. Setelah mendengar jawaban itu, ekspresi Zhou Zhiruo langsung melunak, bahkan matanya sedikit memerah, “Ternyata kau benar-benar kenalan lama keluarga kami! Maafkan aku, Kakak Aniu, sebenarnya ayahku juga sudah lama tiada. Aku pun tak terlalu ingat peristiwa masa kecilku, jadi tidak mengenalimu tadi, semoga kau tidak marah padaku?”
Zheng Xiaobai justru sangat senang, mana mungkin ia menyalahkan Zhou Zhiruo. Ia lalu berpura-pura terkejut, “Apa? Paman Zhou sudah tiada! Pantas saja aku tak menemukan kalian meski telah menjelajahi seluruh aliran Han Shui. Bukankah Paman Zhou selalu sehat? Bagaimana bisa...”
Zhou Zhiruo menjawab dengan sedih, “Ayahku dibunuh oleh bangsa Tartar!”
“Keparat bangsa Tartar!” Zheng Xiaobai langsung memasang wajah penuh kemarahan, mengepalkan tangan sambil berkata, “Seluruh keluargaku juga dibantai oleh bangsa Tartar! Karena itulah aku datang ke Gunung Emei, berharap bisa berguru pada Perguruan Emei, mempelajari ilmu bela diri, dan suatu hari nanti membasmi Tartar untuk menuntut balas atas dendam darah bangsa Tionghoa!”
Mendengar itu, alis indah Zhou Zhiruo sedikit berkerut, “Kakak Aniu, niatmu memang baik, tapi kulihat langkahmu tidak mantap, napasmu pun tidak teratur, sepertinya kau belum punya dasar ilmu bela diri sama sekali. Di usiamu yang sekarang baru mulai belajar silat, rasanya amat sulit untuk berhasil.”
Zheng Xiaobai melihat Zhou Zhiruo seperti hendak menolak, dengan cepat ia mengangkat tangan memotong perkataannya, menatap gigih dan berkata, “Adik Zhiruo, aku tahu kau benar, tapi aku lebih percaya bahwa tak ada yang mustahil di dunia ini. Selama seseorang bertekad, segalanya mungkin terjadi! Aku hanya berharap kau mau memberi kesempatan padaku. Percayalah, tak lama lagi, aku pasti akan memberimu sebuah keajaiban!”
Demi menyentuh hati Zhou Zhiruo, Zheng Xiaobai benar-benar mengerahkan segala cara, bahkan sampai memakai slogan iklan dari masa depan.
Dan ternyata, kata-kata penuh semangat itu benar-benar mengetuk hati murni Zhou Zhiruo. Bertahun-tahun kemudian, Zhou Zhiruo masih bisa mengingat jelas setiap kata yang diucapkan Zheng Xiaobai hari ini.
“Tak ada yang mutlak di dunia, segalanya mungkin terjadi!”
“Beri aku satu kesempatan, akan kuberikan padamu sebuah keajaiban!”
Kedua kalimat ini bahkan menjadi kata-kata yang paling membekas dan berdampak besar dalam hidup Zhou Zhiruo.
******************
Ketika Zhou Zhiruo, dengan menanggung segala tekanan, memutuskan sendiri menerima Zheng Xiaobai yang telah melewati batas usia sebagai murid, seketika terdengar kembali suara jernih dan merdu di benak Zheng Xiaobai:
“Petualang nomor 03588, tugas pemula ‘Pilihan Faksi’mu telah selesai, dan telah mendapat pengakuan dari tokoh utama Zhou Zhiruo. Penilaian tugas: A+. Hubungan pribadi dengan Zhou Zhiruo bertambah 30 poin, afinitas dengan Perguruan Emei bertambah 10, reputasi di dunia persilatan bertambah 10.”
“Hadiah tugas: Poin atribut bebas 1+1 (bonus A+ 1 poin); poin keterampilan 1+1 (bonus A+ 1 poin); koin reinkarnasi 10+20 (bonus A+).”
“Perlengkapan tempur, satu butir Pil Gila Tingkat Satu (bonus A+). Petunjuk penggunaan: Setelah digunakan, pertahanan pemakai akan berkurang 30%, namun kekuatan serangan meningkat 50%, durasi 100 detik. Catatan: Hanya bisa digunakan oleh petualang, tidak berlaku untuk tokoh cerita. Bisa diperdagangkan, setiap transaksi otomatis mengurangi waktu pakai 10 detik.”
Mendengar suara itu, Zheng Xiaobai sempat tertegun, lalu segera sadar bahwa ia memang bukan satu-satunya orang yang masuk ke dunia reinkarnasi ini. Petualang seperti dirinya, tampaknya cukup banyak di dunia silat ini!
Sebenarnya, dari nomor petualangnya saja sudah bisa ditebak, mungkin sebelum dirinya sudah ada lebih dari tiga ribu orang dari dunia nyata yang masuk ke sini! Namun hubungan antar petualang, apakah mereka saling bekerja sama atau justru menjadi pesaing, Zheng Xiaobai tidak tahu.
Zheng Xiaobai tak sempat memikirkannya lebih jauh, karena suara itu kembali mengingatkan bahwa ia harus segera mendistribusikan poin atribut bebas yang didapat, jika terlambat akan hangus.
Zheng Xiaobai terkejut, segera memusatkan pikiran dan membuka ruang kesadarannya. Ia melihat pada layar cahaya melayang dua bintang emas kecil dan dua bintang perak kecil telah bertambah.
Selain itu, kini ada kolom barang hadiah dan saldo koin reinkarnasi di layar itu. Di kolom barang hadiah, tampak sebuah pil hitam diletakkan diam-diam, mungkin itulah yang disebut “Pil Gila”. Sedangkan saldo koin reinkarnasi tertera angka “30”.
Bintang emas kecil pernah ia lihat sebelumnya, itu tanda poin atribut bebas, sedangkan bintang perak kecil kemungkinan besar adalah poin keterampilan.
Zheng Xiaobai tanpa ragu langsung menambahkan dua poin atribut bebas ke kolom kecerdasan.
Karena sebelumnya saat menambah atribut ke kecerdasan ia mendapatkan hadiah tersembunyi, berarti kecerdasan sangat penting di dunia silat ini. Setelah merasakan manfaat, Zheng Xiaobai tentu tak mau cepat-cepat beralih dari jalan mengembangkan kecerdasan!
Setelah pikirannya kembali terasa segar dan nyaman, Zheng Xiaobai menatap dua bintang perak kecil dan sempat bingung, harus ditaruh di mana ya? Apakah seperti main gim, setelah menambah poin ke satu keterampilan yang dikuasai, keterampilan itu bisa langsung meningkat pesat?
Jika benar seperti itu, berarti ingin belajar ilmu tinggi di dunia reinkarnasi ini jadi mudah sekali. Asal bisa mengumpulkan cukup banyak poin keterampilan, dalam sekejap bisa jadi ahli silat!
Tapi jika memang begitu, lalu untuk apa punya kecerdasan tinggi?
Namun Zheng Xiaobai tidak lama kebingungan, lalu maklum. Poin keterampilan di dunia reinkarnasi ini mungkin tidak mudah didapat. Contohnya tugas yang baru ia selesaikan, jika gagal nyawanya pun melayang! Jadi poin keterampilan dan atribut bebas itu benar-benar didapat dengan taruhan nyawa!
Sedangkan atribut seperti kecerdasan, meski tampaknya tidak berhubungan dengan kekuatan fisik, tetap dicantumkan di kolom atribut dasar, pasti ada kegunaan nyata. Maka, ia pun tak perlu khawatir atributnya nanti sia-sia!
Adapun koin reinkarnasi, sepertinya itulah mata uang para petualang di dunia ini. Namun, bagaimana menggunakannya harus dipelajari lagi, kemungkinan tidak bisa dipakai sebagai uang sungguhan di dunia ini, melainkan hanya untuk transaksi antar petualang.
Toh barang hadiah bisa diperdagangkan, jadi pasti butuh alat tukar, masa harus pakai uang logam zaman ini, atau bahkan rupiah dan dolar dari dunia nyata?
“Petualang pemberani nomor 03588, selamat! Kau telah berhasil bergabung ke faksi di dunia reinkarnasi ini, dan melangkah ke dunia persilatan! Namun, sebagai insan persilatan, tidak punya ilmu bela diri jelas tak mungkin! Untuk menguasai ilmu tinggi, harus ada guru hebat agar hasilnya maksimal.”
“Tugas pemula ‘Mencari Guru’, petualang nomor 03588, dalam tiga hari kau harus berguru pada salah satu tokoh cerita di faksimu, dan setidaknya meningkatkan satu ilmu bela diri ke tingkat satu.”
“Hadiah tugas: sesuai tingkat keberhasilan, minimal mendapat satu poin atribut bebas dan lima koin reinkarnasi. Hukuman gagal: semua atribut dasar dikurangi satu poin.”
Mendengar suara itu, Zheng Xiaobai sempat tertegun, lalu sedikit lega.
Ternyata tidak semua tugas yang gagal berujung kematian. Hukuman kali ini masih bisa diterima.
Namun, hadiah tugas kali ini juga sedikit, bahkan tidak ada poin keterampilan! Mungkin karena tugas ini relatif lebih mudah.
Lagi pula, kini Zheng Xiaobai sudah diterima sebagai murid dalam di Perguruan Emei, jadi walaupun ia tidak berusaha, pihak perguruan pasti akan memberinya seorang guru. Paling hanya soal guru yang diberikan bagus atau tidak, dan Zheng Xiaobai yakin dengan bantuan Zhou Zhiruo sebagai adik angkat, perguruan tidak mungkin memberinya guru yang terlalu payah.
Namun Zheng Xiaobai segera sadar bahwa kenyataan tak semudah dugaannya. Setelah masuk Emei, ia langsung ditempatkan di asrama barat bersama murid laki-laki, lalu disuruh seorang biksu gemuk bernama Jingkong untuk melakukan pekerjaan kasar, seperti menimba air dan membelah kayu setiap hari. Soal berguru, tak ada seorang pun yang menyinggung!
Dua hari berlalu, Zheng Xiaobai mulai panik, ingin mencari Zhou Zhiruo untuk bertanya, namun asrama timur tempat para murid perempuan tinggal sama sekali tak mengizinkannya masuk.
Setelah susah payah membujuk, ia akhirnya meminta seorang murid perempuan dari keluarga biasa untuk menyampaikan pesan pada Zhou Zhiruo, tapi malah mendapat kabar bahwa Zhou Zhiruo sudah turun gunung sejak kemarin untuk suatu urusan, paling cepat lima atau enam hari baru kembali!
Akhirnya, Zheng Xiaobai terpaksa kembali mencari biksu gemuk Jingkong, menanyakan kapan ia bisa resmi berguru dan mulai belajar silat?
Sekarang Zheng Xiaobai tak peduli akan mendapat guru seperti apa, juga tak memikirkan tingkat keberhasilan tugas. Asal dalam waktu yang ditentukan bisa berguru pada siapa saja, bahkan jika harus pada Jingkong si biksu gemuk itu, ia pun rela!