Bab Empat: Pemuda, Pisau Terbang, Menyelamatkan Gadis
Orang sering berkata, bergaul dengan orang baik akan menjadi baik, bergaul dengan orang jahat akan menjadi jahat. Sungguh suatu keanehan, Li Hulu mengikuti Hao Si Pincang dan mempelajari segala macam trik nakal, namun sama sekali tidak meniru kebiasaan berandal Hao Si Pincang itu. Sebenarnya, ini bukan hal yang perlu diperdebatkan. Ada tiga orang yang berperan penting: Song Tiga, Burung Layang-layang, dan Mbah Miao penjual telur teh. Walaupun Li Hulu dekat dengan orang sejahat Hao Si Pincang, di sekelilingnya selalu ada orang-orang baik dan hangat seperti Burung Layang-layang dan Mbah Miao. Tapi yang paling berpengaruh adalah Song Tiga. Walaupun dua tahun belakangan dia mulai jadi mandor dan jarang berhubungan dengan Li Hulu, dulu dia sering memberi banyak nasihat dan merekomendasikan buku-buku menarik. Saat membaca buku-buku itu, Li Hulu sebenarnya tidak terlalu paham maknanya, tapi dia bisa menangkap inti ajarannya, seperti kelembutan hati Jia Baoyu, kelicikan Wei Xiaobao, dan cinta membara Hu Yizhi.
Pada suatu hari di bulan Desember 1991, Li Hulu yang berusia empat belas tahun baru saja pulang berlari dari luar. Dengan cekatan ia melepas beban timah dan karung pasir di sekujur tubuhnya, lalu mengambil beberapa pisau lempar dari saku dan mulai berlatih ketajaman mata di halaman. Si Pincang Tua memandangnya dengan penuh dengki dari dalam rumah, matanya tajam menusuk ke arah Li Hulu yang tak pernah meleset melempar pisau. Ia merasa hari balas dendam semakin jauh. Walaupun diam-diam ia sudah memulihkan kemampuannya, kemajuan pesat Li Hulu dan keunggulan usianya membuat jarak di antara mereka makin tak terkejar.
Pukul setengah sebelas pagi. Di depan Stasiun Utara Kota Ha.
Ketua preman Stasiun Utara, "Tiang Bendera Besar", sedang berdiri berjemur bersama anak buahnya di samping pintu masuk stasiun. Petugas pengawas dari kantor polisi stasiun, Liu Diankun, datang dengan topi miring, berdiri di depan mereka. "Barusan ada penumpang penting melapor ke kantor polisi, katanya kehilangan barang. Kalian punya waktu sepuluh menit untuk menemukan barang itu, bentuknya kotak kayu kecil. Ingat, jangan coba-coba membuka isinya. Apa pun isinya, jangan dipikirkan, kalau tidak, kalian bisa mati tanpa tahu penyebabnya."
Di kantor polisi, Chu Lie yang mukanya penuh masalah mondar-mandir dengan gelisah di ruang jaga. Baru berusia dua puluh satu, Chu Lie adalah penyidik termuda di bawah komisi khusus Kementerian Keamanan. Kali ini ia datang untuk mengawasi kasus besar pembasmian kelompok pencuri "Macan Timur Laut" yang menjadi target kementerian. Tak disangka, baru tiba di Kota Ha, malah dia yang jadi korban pencurian. Yang paling tak bisa diterima, sampai sekarang pun ia tidak tahu kapan pencuri itu beraksi. Dengan kemampuan dan kepekaannya, bisa-bisanya ia kehilangan tas tanpa sadar—benar-benar tak masuk akal.
Li Hulu membawa kantong anyaman plastik hitam, berjalan santai menuju lapak Mbah Miao penjual telur teh. Ia mengeluarkan selembar uang sepuluh yuan dari sakunya, dilempar ke kotak uang Mbah Miao, lalu tanpa banyak basa-basi langsung mengambil dua telur teh, bahkan kulitnya pun tidak dikupas, dimakan habis dengan rakus. Ia juga mengambil cangkir teh besar dari belakang lapak dan meneguk teh melati dengan lahap.
"Nyolong tas penumpang lagi?" tanya Mbah Miao sambil menunjuk kantong hitam di tangan Li Hulu.
"Kalau nggak nyolong, mau makan apa? Di rumah masih ada adik perempuan, lho. Aku juga sebenarnya pengen kerja yang halal, jaga tas atau angkat barang, tapi coba lihat diriku, siapa yang mau memperkerjakanku? Sudahlah, Mbah, mendingan Mbah terus jualan telur teh. Aku, Li Hulu, meski mencuri, tetap punya kode etik, kalau pun nyolong, aku ini pencuri budiman, kayak Chu Liu Xiang," ujarnya, lalu pergi tanpa menunggu kembalian, memanggul kantong hitamnya.
Di antara anak buah Tiang Bendera Besar ada pencopet perempuan bernama "Kendi Samping". Tubuhnya kecil seperti sepeda motor polisi roda tiga, matanya besar, wajah tirus, hidung mancung, mulut mungil, kulitnya Li Hulu tak pernah perhatikan, yang jelas dari jauh tampak putih, dari dekat baunya menyengat karena kosmetik murahan, membuat Li Hulu malas meliriknya. Begitu meninggalkan lapak telur teh Mbah Miao, Li Hulu sudah mencium aroma parfum yang sangat dikenali para pencopet Kota Ha. Begitu menoleh ke atas, Kendi Samping berdiri dengan gaya congkak: "Hei bocah, mau tanya, hari ini kamu kerja di Stasiun Utara nggak?"
Li Hulu mundur selangkah, wangi menyengat itu hampir seperti obat bius, dia takut kalau terlalu lama menghirup, bisa pingsan. Perempuan ini ibarat obat bius instan. "Wah, ini kan Kendi Samping, kakak. Kok main ke wilayah Selatan kami?"
"Jangan banyak omong, jawab aja, datang ke sana nggak? Laki-laki sejati kalau berbuat, harus berani mengaku."
Li Hulu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putih bersihnya. "Kak, kalau saja di wajahmu nggak tebal banget pakai bedak kayak cat tembok, kamu pasti cantik banget. Tapi gara-gara bedak tebal itu, cowok-cowok jadi malas mengagumi."
Kendi Samping meludah, "Bocah, umurmu juga belum seberapa, sudah ngerti yang namanya cantik?"
"Kecantikan itu datang dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Kalau membuat hati nyaman, itu namanya cantik. Jujur saja, Kak, kamu memang cantik, cuma bedakmu itu..."
"Bisa nggak pakai istilah 'cat' segala?" Kendi Samping memotong ceramah Li Hulu, tapi dalam hati mengakui, bocah ini juga ada benarnya. Tiap hari nongkrong di Stasiun Selatan sambil baca buku memang nggak sia-sia.
"Kak, kalau nggak ada urusan lagi, aku pamit dulu. Aku jaga wilayah Selatan sendirian, makan pun susah, mana sempat nyolong di wilayah kalian di Utara?" Li Hulu pergi dengan santai. Kendi Samping baru sadar, bahkan belum sempat melihat isi kantong hitam Li Hulu, buru-buru mengajak dua orang mengejar.
Li Hulu terlihat berjalan santai, tapi dalam sekejap menghilang di depan. Ketika Kendi Samping dan anak buahnya sampai di tikungan, mereka hanya menemukan gang sempit, di sampingnya ada toilet umum berbau menyengat. Kendi Samping mengarahkan dua pencopet lelaki masuk ke toilet pria, sedangkan dia sendiri masuk ke toilet wanita. Li Hulu berdiri di atas atap rumah warga, mengamati Kendi Samping masuk, lalu tiga pria dewasa pun ikut masuk. Seperti pepatah, serangga beradu, burung pemangsa menunggu di belakang. Li Hulu tahu tanpa melihat, Kendi Samping kena sergap preman lain.
"Kakak, hebat juga kamu. Dari Stasiun Utara ke sini, sepanjang Jalan 19, kamu sudah comot empat tas. Sudahlah, serahkan saja," kata salah satu pria sambil mencekik leher Kendi Samping ke dinding. Cekikannya kuat, Kendi Samping sampai tak bisa bersuara.
Dengan logat khas Kota Shen, satu kalimat itu membuat hati Kendi Samping tenang. Ternyata hanya preman biasa, bukan “Lei Zi”. Lagipula, dua kawannya masih di toilet pria, kalau terjadi apa-apa, dia tak gentar. Kendi Samping yang sudah berpengalaman di dunia hitam, walaupun perempuan, tak kalah berani dari laki-laki. Kalau sudah kepepet, dia bahkan berani mencukur alis lawan.
Salah satu pria lain sudah memperhatikan kecantikan Kendi Samping. Standar selera orang ini jelas jauh di bawah Li Hulu, bagi dia, siapa pun yang bermata indah pasti menarik. Bagi dia, Kendi Samping seperti bidadari. Ia langsung meraba wajah Kendi Samping, berkata, "Wangi sekali. Bos, gimana kalau kita pakai dia rame-rame, lalu habisi sekalian? Lagian jam segini nggak ada orang." Sambil bicara, tangannya mulai bergerak ke dada Kendi Samping.
"Dasar, nggak tahu sopan santun! Kalau kode etik pencuri saja nggak tahu, setidaknya tahu dong kalau tembok punya telinga. Kamu nggak lihat tadi dia bawa dua orang?" Bos besar memaki. "Nggak tahu juga gimana nasib Si Lima dan Si Enam, dua senjata ada di mereka, seharusnya nggak ada masalah."
Dari atas atap, Li Hulu sudah tahu jawabannya. Dua pencopet yang datang bersama Kendi Samping kini diikat oleh dua pemuda yang masuk bareng mereka, sekarang sedang latihan menelan kaus kaki tanpa air minum. Mereka terpaksa menelan kaus kaki sendiri plus dua milik perampok. Para pencopet hidup serba kekurangan, mana sempat mencuci kaus kaki. Dua perampok juga sama saja. Empat kaus kaki sekaligus masuk mulut, pasti rasanya luar biasa. Li Hulu melihat para pencopet itu sampai matanya melotot menahan mual.
Setelah Si Lima dan Si Enam selesai, mereka memberi isyarat ke temannya. Di toilet wanita, bos besar tersenyum puas, "Sekarang kita bisa bicarakan soal dompet dan soal kamu. Kalau kamu kooperatif, kami lepaskan, kalau tidak, hari ini kamu bakal tenggelam di lubang kotoran."
Ucapan bajingan itu makin menjijikkan. Li Hulu tak tahan lagi, dari atas atap ia melemparkan pisau. Tepat menancap di pergelangan tangan bos yang sedang mencekik. Bos itu kesakitan dan melepaskan cekikannya. Kendi Samping langsung menunduk dan lari keluar. Pria kecil yang tadi hendak melecehkan mencoba menghadangnya, tapi Li Hulu kembali melempar pisau, kali ini menancap di telapak tangannya. Kendi Samping memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari toilet wanita. Begitu sampai di pintu, terdengar suara tembakan. Rupanya Si Lima dan Si Enam keluar dari toilet pria, melihat Li Hulu di atas atap dan langsung menembak. Namun, pisau terbang Li Hulu yang dilontarkan saat melompat dari atap mengenai pipi Si Lima.
Kendi Samping saat itu sudah panik, tak sempat takut, berlari sekencang-kencangnya. Li Hulu muncul dari balik pintu, "Lewat sini! Cepat!"
Dituntun Li Hulu, Kendi Samping berlari hingga kehabisan tenaga. Baru sampai di depan pintu besar berwarna hitam, Li Hulu berhenti dan duduk untuk istirahat.
"Tenang saja, di sini wilayahnya ruwet sekali, orang luar pasti tersesat. Mereka nggak bakal bisa mengejar. Lagi pula, suara tembakan tadi pasti bikin Lei Zi turun tangan. Bisa jadi para preman itu bakal sial hari ini," kata Li Hulu sambil tetap menggenggam tangan Kendi Samping yang terasa lembut. Satu sisi ia mengintip ke ujung gang, satu sisi menenangkan Kendi Samping.
Kendi Samping tidak buru-buru menarik tangannya, malah diam-diam mengamati bocah di sebelahnya. Baru kali ini dia memperhatikan Li Hulu dengan saksama. Wajahnya bersih, gigi dan bibir rapi, berbeda dengan kebanyakan bocah jalanan, kelihatan terawat. Saat tersenyum, dua baris giginya putih bersih, bahkan nafasnya pun wangi pasta gigi.
"Kak..." Li Hulu ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu, tapi malu-malu. Kendi Samping bertanya dengan ramah, "Ada apa? Karena kamu sudah menolongku, apa pun permintaanmu akan kuturuti."