Bab Empat Puluh Tiga: Orang Gila dan Sapi Perahan
Matahari condong ke barat, pendar senja kian memerah.
Xiao Chen memegang sebilah pedang, mendengarkan deru pedang yang bergemerincing dari luar Paviliun Pedang, lalu mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala.
Lao Ba duduk di ambang pintu, memperhatikan pemandangan di luar dengan penuh minat.
Sambil menjinjing labu tuaknya, ia meneguk seteguk arak, lalu menoleh dan bertanya kepada Xiao Chen, "Anak muda, jika kau tidak segera menunjukkan sikap, pemuda bermarga Wu itu sepertinya akan celaka!"
"Tenaga dalamnya sudah lama habis. Sekarang, ia memaksakan tenaga dalam yang tersisa untuk berlatih pedang."
"Hahaha!" Belum selesai ia berbicara, mata Lao Ba membelalak lebar.
"Ia sudah muntah darah! Jika berlatih satu jurus lagi seperti ini, habislah meridian dan titik akupunkturnya!"
Bagaimanapun juga, hati Xiao Chen bukanlah terbuat dari besi.
"Sungguh bodoh, bagaimana bisa ada orang yang sebegitu keras kepalanya?"
Xiao Chen menggerutu dengan marah, dengan hati-hati meletakkan pedang yang sedang ia lap, lalu berjalan keluar Paviliun Pedang dengan cening berkerut.
Jika meridiannya benar-benar rusak dan titik akupunkturnya terluka,
sedikit saja ketidakberuntungan, itu akan berdampak seumur hidup pada kultivasinya.
Sekeras apa pun hati Xiao Chen, ia tetap tidak sanggup melihat seseorang dengan bakat lumayan mengalami kerusakan kultivasi karenanya!
Ia berjalan keluar pintu.
Ia menatap ke arah Wu Tianming, dan alisnya kembali mengerut.
Xiao Chen kembali mengutuk dalam hati, menyebutnya bodoh!
Sekarang, Wu Tianming bukan hanya sekadar muntah darah.
Urat-urat di wajahnya bahkan sudah menonjol keluar.
Jika ia terus memaksakan tenaga dalamnya, meridian anak itu dikhawatirkan akan meledak!
Di luar Paviliun Pedang, tanah telah menjadi compang-camping dan ditumbuhi tanpa sehelai rumput pun akibat tebasan energi pedang yang berseliweran.
Tampaknya, setiap kali Wu Tianming berlatih pedang, ia tidak pernah menahan diri sama sekali!
Pada saat itu, Lao Ba kembali meneguk araknya.
Ia bangkit berdiri, menutup pintu Paviliun Pedang, melambaikan tangan kepada Xiao Chen, lalu pergi seorang diri.
Sambil berjalan, Lao Ba bergumam kecil pelan, "Pemuda bermarga Wu itu benar-benar keras kepala."
"Namun, melihatnya berlatih Ilmu Pedang Menelan Matahari seharian ini, ia bisa dianggap sebagai orang yang tulus!"
"Ketegaran hatinya yang tak kenal menyerah ini benar-benar bagaikan sepotong batu giok mentah!"
Xiao Chen tentu saja mengerti maksud tersirat dari ucapan Lao Ba.
Tidak lain dan tidak bukan, pria tua itu sedang membujuknya!
Pada akhirnya, Xiao Chen mau tak mau mendongak dan membentak ke arah Wu Tianming, "Hentikan!"
*Syuwing!*
Pedang panjang di tangan Wu Tianming bergetar.
Meskipun ia tahu menghentikan gerakan secara paksa tanpa memedulikan aliran tenaga dalam dapat mendatangkan bahaya serangan balik, ia tetap menggertakkan gigi dan berhenti.
Setelah menyarungkan pedangnya, Wu Tianming menyeka noda darah di sudut bibirnya lalu tersenyum kepada Xiao Chen, "Junior memintaku berhenti, maka aku berhenti!"
"Kau bilang akan menjadi pesuruhku! Maksudnya, apa pun yang aku katakan pasti akan kau patuhi, begitu?" Xiao Chen mendesah pasrah, lalu bertanya lagi kepada Wu Tianming.
Wu Tianming mengangguk, "Benar!"
"Kalau begitu, sekarang aku menyuruhmu pergi, dan jangan pernah datang menemui ku lagi selamanya, apakah cara ini bisa?"
Begitu ucapan itu terlontar, Wu Tianming justru tersenym, "Junior Xiao, untuk hal yang satu ini mohon maaf hamba tidak bisa menyanggupinya!"
"Karena aku telah menyetujui pertaruhan ini, bagaimanapun juga aku harus menepatinya!"
"Sekarang giliranmu tahu cara mencari celah?"
Sudah menduga bagaimana Wu Tianming akan menjawab, Xiao Chen sebenarnya hanya bertanya untuk menguji.
Ia mendesah dalam hati, lalu menghembuskan napas panjang.
Xiao Chen berusaha melembutkan ekspresinya semaksimal mungkin, lalu berkata kepada Wu Tianming, "Sebenarnya apa yang harus kulakukan agar kau mau membatalkan pertaruhan ini?"
Namun setelah itu, Wu Tianming justru mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan terdiam seribu bahasa.
Ia tampak bertekad bulat untuk menepati pertaruhannya dengan Xiao Chen.
Xiao Chen kembali merasa pasrah tiada tara, lalu berkata kepada Wu Tianming, "Kau adalah murid sekte dalam Sekte Shushan."
"Sejauh yang kutahu, persaingan di antara para murid di sekte dalam sangatlah sengit."
"Jika kultivasimu terus-menerus mandek, kau terancam akan disingkirkan dari Shushan!"
"Jika kau mendedikasikan diri menjadi pesuruhku, bagaimana kultivimu bisa maju? Apa kau tidak takut ditendang keluar dari Shushan?"
Tanpa berpikir panjang sedikit pun, Wu Tianming menjawab dengan suara tegas, "Tentu saja aku takut! Tapi, aku lebih takut menjadi orang yang tidak memegang janji pada diri sendiri."
"Ucapan yang telah terucap, bahkan jika harus mati pun harus ditepati!"
"Sungguh orang yang luar biasa aneh!" Xiao Chen kembali mendengus kesal dalam hati.
Ia ingin sekali bertanya dengan benar kepada Wu Tianming ini, apakah ada cara agar pria itu berhenti mengganggunya.
Tiba-tiba, Xiao Chen melihat alis Wu Tianming sedikit terangkat, seolah-olah teringat akan sesuatu.
Tanpa diduga, pemuda itu mendahului Xiao Chen dan berkata, "Jika Junior khawatir kultivasiku tidak bisa maju, mengapa tidak membimbingku saja secara langsung!"
"Bukankah setelah Senior Putri bertarung tanding denganmu, ilmu pedangnya langsung mengalami kemajuan pesat."
"Jika aku mendapat bimbingan darimu, Ilmu Pedang Menelan Matahari milikku pasti juga akan mencapai kesempurnaan!"
Xiao Chen tertegun.
Kata-kata barusan sama sekali tidak terdengar seperti sesuatu yang bisa diucapkan oleh Wu Tianming!
Dengan kepribadiannya yang sekeras batu granit itu, mana mungkin ia memiliki otak untuk memikirkan ide seperti ini?
Tepat saat Xiao Chen diliputi kebingungan.
Tiba-tiba, pikirannya tersentak, dan ia menangkap satu poin penting.
"Tunggu sebentar, siapa yang kau sebut sebagai Senior Putri barusan?"
"Apa yang kaulakukan sekarang ini, apakah diajarkan oleh Liu Qing'er?"
Xiao Chen tiba-tiba teringat kata-kata yang diucapkan Liu Qing'er dengan suara pelan saat wanita itu pergi kemarin.
Ia bahkan teringat bagaimana senyuman aneh yang dilayangkan Liu Qing'er kepadanya beberapa kali sebelum pergi.
Semakin Xiao Chen mengingat hal-hal itu, ia semakin yakin.
Segala tindakan yang dilakukan oleh Wu Tianming yang mirip balok kayu ini, jangan-jangan semuanya memang diatur oleh Liu Qing'er!
Benar saja, tubuh Wu Tianming sedikit bergidik, dan tatapannya menjadi kosong!
Melihat reaksi Wu Tianming yang seperti itu, mana mungkin Xiao Chen tidak bisa menebaknya?
Ia kembali mengutuk tajam di dalam hati, lalu membentak Wu Tianming, "Bukankah kau bilang akan mendengarkan kata-kataku?"
"Sekarang aku menyuruhmu jujur, apakah Liu Qing'er yang mengajarimu berbuat begini? Apa lagi yang dia suruh kepadamu?"
"Katakan!"
Seiring dengan bentakan keras Xiao Chen, Wu Tianming menegakkan ekspresinya, dan akhirnya menyerah lalu mengaku.
"Senior Putri mengajariku, selama aku terus mengganggumu, kau pasti akan membimbing ilmu pedangku!"
"LIU! QING'ER!" Xiao Chen menggertakkan giginya, lalu melontarkan geraman penuh amarah.
Dulu ia mengira Liu Qing'er itu mirip orang gila.
Ternyata, jangan-jangan di mata Liu Qing'er, dirinyalah yang tampak seperti orang bodoh yang bisa dipermainkan!
Xiao Chen bahkan merasa, saat pertama kalinya ia diminta oleh Liu Qing'er untuk membimbing ilmu pedang...
Wanita itu sebenarnya sudah sengaja dan aktif mengganggunya agar ia merasa kesal!
"Dia juga bilang......!"
Pada saat itu, suara Wu Tianming kembali terdengar.
"Bilang apa lagi?" Belum sempat Wu Tianming menyelesaikan kalimatnya, Xiao Chen sudah memotong dengan bentakan keras.
"Senior Putri juga bilang, kalau aku membuatmu merasa kesal, sampaikan hal ini kepadamu."
"Asalkan kau mau membimbingku berlatih pedang, aku berjanji tidak akan mencarimu selama jangka waktu tertentu!"
Sambil mengucapkan kata-kata itu, Wu Tianming segera meyakinkan Xiao Chen, "Junior Xiao, tenang saja."
"Meskipun kau membimbingku berlatih pedang, aku akan tetap menepati janjiku untuk menerima kekalahan dan mematuhi taruhan!"
Saat ini, Xiao Chen hampir mematahkan giginya sendiri karena gemas, ia ingin sekali segera mencari Liu Qing'er dan memberinya pelajaran.
Namun sesaat kemudian, tatapannya jatuh kembali pada Wu Tianming.
Bagaimanapun juga, sekarang ada cara agar Wu Tianming berhenti mengganggunya.
Tanpa buang waktu, Xiao Chen membentak Wu Tianming, "Jika aku membimbing ilmu pedangmu, apakah kau benar-benar berjanji tidak akan muncul di hadapanku lagi?"
Hanya itulah satu-satunya pilihan yang dimiliki Xiao Chen saat ini.
Jika Wu Tianming ini tidak pergi dan terus mendatangi Paviliun Pedang setiap hari sambil menatapnya penuh harap, bisa dibayangkan akibatnya nanti.
Jika ia bisa menyingkirkannya sekarang, maka lebih cepat mengusirnya, maka akan lebih baik pula bagi ketenangannya.
Wu Tianming menundukkan kepala sejenak untuk berpikir, lalu mengangkat jarinya di hadapan Xiao Chen.
"Jika kau membimbingku, aku bisa tidak mencarimu selama satu bulan penuh."
"Tetapi, selama periode itu, jika kau memiliki urusan untuk diperintahkan kepadaku, aku akan datang kapan pun dipanggil!"
"Sebulan?" Xiao Chen mendengus kesal dalam hati, namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya dengan penuh penekanan.
"Baiklah, cukup satu bulan!"
"Bagian mana dari Ilmu Pedang Menelan Matahari milikmu yang masih bisa disempurnakan, dengarkan baik-baik!"