38. Pertemuan Orang Tua dan Konflik 3
“Kalian berdua siapa? Mengapa merundung putriku!”
Ibarat kata, wanita itu lemah, namun seorang ibu akan menjadi kuat. Setelah menyeka sisa air mata di sudut matanya, Zhang Chunxue bangkit dan menatap dingin ke arah dua anak yang baru saja melakukan kekerasan itu.
Kedua bocah nakal itu merasa terintimidasi oleh aura Zhang Chunxue, mereka menyusut dan gemetar di balik punggung orang tua mereka.
“Cara bicaramu itu bagaimana? Mereka semua masih anak-anak, apa yang mereka mengerti!” Sang ibu, yang sejak awal memang punya rasa iri, merasa harga dirinya terusik melihat Zhang Chunxue memiliki fisik dan wajah yang jauh lebih cantik darinya. Ia pun mulai mengoceh tidak karuan.
Alasan ‘masih anak-anak’ membuat Zhang Chunxue sangat geram hingga ia kehilangan kata-kata yang sudah ia susun di kepalanya.
“Bibi, sebaiknya Bibi bicara dengan sopan. Putramu adalah anak-anak, Zhang Yiyi adalah anak-anak, dan aku pun anak-anak. Siapa yang bukan anak-anak di sini!”
“Apa tempat ini pantas untuk anak kecil bicara? Benar-benar tidak punya tata krama!”
Xu Qingfan tidak menghiraukan wanita itu dan melanjutkan, “Sebaiknya Bibi berpikir sebelum bicara. Kecuali putra Bibi pindah sekolah, mereka masih harus hidup dan belajar di sini selama enam tahun. Aku tidak keberatan meluangkan waktu setiap siang untuk memastikan mereka merasakan bagaimana rasanya dirundung!”
“Berani-beraninya kamu! Inikah kualitas siswa yang kalian didik?” Wanita itu menunjuk hidung Xu Qingfan sambil memaki.
“Bibi boleh membuktikan apakah ucapanku ini serius atau tidak. Putra Bibi pasti butuh ke toilet, pasti butuh kembali ke asrama untuk tidur siang, bukan? Hehe!” Xu Qingfan sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
“Kepala Tingkat, inikah kualitas siswa di sekolah kalian?” Sang ayah juga ikut menunjuk hidung Xu Qingfan dengan nada menuntut.
“Xu Qingfan, cara bicaramu itu apa-apaan? Cepat kemari!” Guan Bianyue menghela napas pasrah dan menarik Xu Qingfan ke sisinya.
“Memangnya benar, kok. Disuruh bicara baik-baik malah terus-terusan memakai alasan masih anak-anak. Siapa yang bukan anak-anak? Bagaimana? Giliran putramu yang merundung orang lain tidak apa-apa, tapi giliran putramu yang kena, malah marah-marah? Satu keluarga sifatnya sama saja, tidak tahu malu!” Mulut kecil Xu Qingfan memberondong seperti senapan mesin, membuat kedua orang tua itu naik pitam.
Pfft~
Orang-orang di ruangan itu tidak bisa menahan tawa, sementara wajah kedua orang tua itu menghitam seperti pantat panci.
Zhang Chunxue semakin kagum pada Xu Qingfan, bahkan ia mulai berpikir apakah ia bisa mengangkat anak ini sebagai anak angkatnya.
“Apa yang dikatakan Qingfan benar. Usia muda bukan alasan untuk merundung orang lain. Sekolah Dasar Eksperimental tidak bisa dan tidak akan membiarkan fenomena perundungan terjadi! Kalian berdua, katakan, mengapa merundung siswi Zhang Yiyi!” Setelah mendengar penjelasan Xu Qingfan, Kepala Tingkat justru mengabaikan ancaman anak itu dan merasa bocah ini sangat jujur. Ia bahkan berpikir untuk memasukkan nama Xu Qingfan sebagai calon siswa teladan sekolah di akhir tahun.
Belasan pasang mata di ruangan itu menatap kedua bocah nakal tersebut. Salah satunya yang paling tidak tahan dengan tekanan akhirnya bicara, “Semua orang merundungnya, dia kan bisu...”
“Kau bohong! Teman-teman sekelasku tidak merundung Yiyi!” Xiao Ruanwen berdiri dari kursinya dan menegur anak yang memfitnah kelasnya itu.
Mulut Xu Qingfan sempat dibekap oleh tangan Guan Bianyue, jika tidak, ia pasti sudah ikut menimpali.
“Benar! Yiyi adalah sahabat terbaik Wanning, kami tidak mungkin merundung Yiyi!” Lin Wanning juga mencibirkan bibir kecilnya sambil memelototi anak itu.
Kepala Tingkat menangkap sesuatu yang janggal, “Kau bilang semua orang merundungnya? Siapa saja ‘semua orang’ itu?”
“Wu Neng... Fan Jian... Du Ziteng...”
“Ada juga Zhang Cuihong dan Li Xiaohua!” Kedua anak itu menghitung dengan jari mereka, seolah sedang menyebutkan daftar menu makanan.
Jumlahnya sudah belasan. Wajah Kepala Tingkat menjadi sangat kelam, ia menatap Li Tiefeng.
“Itu bukan siswa kelas saya. Di kelas saya memang ada siswa bernama Li Neng!” Li Tiefeng buru-buru menyanggah.
“Di mana mereka sekarang?” Membayangkan begitu banyak orang yang merundung putrinya, amarah Zhang Chunxue meluap-luap.
“Huhu~ aku tidak tahu.” Kedua bocah itu ketakutan melihat wajah Zhang Chunxue yang pucat pasi hingga menangis.
Salah satu orang tua merasa nama-nama itu familiar, ia tiba-tiba teringat bahwa mereka adalah teman sekelas putranya di taman kanak-kanak!
“Apa putrimu juga bersekolah di TK Bunga Matahari?” tanyanya.
Mendengar nama TK Bunga Matahari, Zhang Chunxue menggertakkan giginya. Jadi pelakunya adalah sekelompok bocah kurang ajar itu!
Agar putrinya memiliki teman sebaya, Zhang Chunxue mengirim Yiyi ke TK Bunga Matahari untuk kelas menengah saat usianya hampir lima tahun. Awalnya, Zhang Chunxue berpikir itu adalah ide bagus. Namun kenyataannya, teman sekelasnya justru mengucilkan Yiyi. Setelah tahu Yiyi tuli dan bisu, entah bocah kurang ajar mana yang mengusulkan untuk merundungnya karena Yiyi tidak bisa mengadu pada guru.
Hanya dalam setengah semester, Zhang Chunxue menyadari ada yang tidak beres. Putrinya yang ceria selalu murung sepulang sekolah. Alat tulisnya sering hilang, tas dan bukunya sering basah. Yang paling menyakitkan adalah ketika ia melihat lengan putrinya yang membiru akibat dicubit.
Wanita yang bahkan tidak menangis saat mengurus perceraiannya itu meneteskan air mata untuk pertama kalinya hari itu. Ia benci pada dirinya sendiri yang begitu lalai hingga baru menyadari penderitaan putrinya setelah tiga bulan.
“Apa perlu sampai menangis begitu? Bukankah itu hanya permainan anak-anak...” Wanita tadi merasa Zhang Chunxue terlalu dramatis.
“I... Ibu!” Zhang Yiyi menggenggam erat tangan ibunya. Ia sudah mengenali kedua orang yang merundungnya sejak awal, itulah sebabnya ia bereaksi hebat saat Xu Qingfan menolongnya.
Ia mengira akan jatuh ke neraka lagi, tetapi kali ini seorang malaikat muncul untuk menyelamatkannya. Zhang Yiyi menatap Xu Qingfan, lalu menatap ibunya. Dengan mereka di sisinya, ia tidak takut lagi!
Xu Qingfan akhirnya paham, ternyata dua bocah kurang ajar itu sudah merundung Yiyi sejak TK. Urusan ini belum selesai! Jika tidak memberi mereka pelajaran yang setimpal, Xu Qingfan bersumpah akan mengikuti marga mereka!
“Kepala Tingkat, alat bantu dengar itu sudah dicari sekian lama namun tidak ketemu. Kurasa kita bahas masalah ganti rugi saja dulu!” Xu Qingfan melepaskan tangan Guan Bianyue yang membekap mulutnya. Ia tentu tidak akan memfitnah mereka, ia hanya ingin mengambil alih kendali situasi.
“Terburu-buru sekali. Mungkin sebentar lagi ketemu. Uang untuk sekali perawatanku saja puluhan ribu, apa aku akan kekurangan uang untuk membayar sedikit barang itu!” Wanita itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kakek Kepala Tingkat, katakan bagaimana masalah ini diselesaikan? Mereka merundung Zhang Yiyi seperti itu, tidak mungkin tidak ada hukuman sama sekali!”
Zhang Chunxue menyeka air matanya dan menatap Xu Qingfan dengan rasa syukur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketergantungan pada seseorang, dan anak ini bahkan seumuran dengan putrinya.
“Terlepas dari apakah alat bantu dengar itu ditemukan atau tidak, kalian... siapa nama kalian?”
“Namaku Wu Yifan~”
“Huhu~ Zhai Tianlin.”
“Sial!” Xu Qingfan mengumpat secara tidak sadar.
Semua orang menoleh padanya.
“Tidak apa-apa, lanjutkan saja!” Ia melambaikan tangan.
[Benar-benar bocah kurang ajar dengan nama yang kurang ajar pula!]
Yang pertama tidak perlu dibahas, tapi yang kedua adalah orang yang sangat dibenci Xu Qingfan. Di kehidupan sebelumnya, saat ia lulus kuliah, ia harus menghadapi sistem pengecekan plagiasi yang sangat ketat. Ia sampai harus memutar otak selama dua hari hanya untuk mengubah kalimat agar bisa lolos sistem!
“Wu Yifan dan Zhai Tianlin, kalian berdua masing-masing tulis surat pernyataan penyesalan sebanyak 400 kata, dan akan ada teguran resmi di tingkat sekolah!” ucap Kepala Tingkat.
“Hanya itu?” celetuk Xu Qingfan.
“Qingfan, kau punya pendapat lain?” Kepala Tingkat menoleh dan menatapnya dengan geli.
“Surat pernyataan mereka harus memuaskan teman-teman sekelasku, dan besok mereka harus datang ke kelas kami untuk membacakannya di depan seluruh murid!”
“Baik, aku setuju. Besok aku sendiri yang akan mengantar mereka!”
Xu Qingfan mengangguk puas. Bagi siswa kelas satu, menulis 400 kata dalam semalam adalah hal yang hampir mustahil. Hukuman sebelumnya bahkan tidak memiliki batasan waktu, jadi ia tentu saja tidak puas!
Pertunjukan sesungguhnya baru akan dimulai!
Kedua bocah itu tiba-tiba merasa seolah sedang diawasi oleh binatang buas dan menggigil ketakutan.