Bab Empat: Batu Sembilan Permata?
“Haa!” Sebuah bayangan tinju melayang dengan suara angin ke arah Michius. Dalam keadaan terdesak, Michius memutar tubuhnya dan menerima pukulan itu dengan punggungnya.
“Bumm!”
Michius terlempar beberapa meter jauhnya akibat pukulan itu, wajahnya memerah dan setitik darah mengalir di sudut bibirnya.
Sang penyerang, melihat Michius masih mampu menerima pukulannya meski dalam keadaan seperti itu, sadar bahwa serangannya telah gagal. Tubuhnya bergetar sesaat, lalu sebelum Ge Fei dan yang lain sempat bereaksi, ia dengan cepat menghilang tanpa ragu sedikit pun.
Setelah penyerang itu pergi, Mi Bin dan yang lain baru tersadar, mereka segera bergegas mendatangi Michius dengan wajah cemas.
“Kau tidak apa-apa?”, tanya mereka serempak.
Ge Fei tampak menyesal dan berkata pelan, “Semua ini salahku yang terlalu ceroboh, kalau tidak, kejadian seperti ini tidak akan terjadi.”
Michius tersenyum dan menghapus darah di sudut bibirnya, lalu berkata pada mereka, “Apa aku terlihat seperti orang yang terluka? Tenang saja, aku benar-benar baik-baik saja!”
Melihat warna wajah Michius perlahan kembali normal, mereka tahu ia berkata jujur. Hati mereka yang sempat berdebar kini mulai tenang, sebab peristiwa penyerangan sebelumnya masih membekas dalam ingatan mereka.
“Kekuatan orang tadi sebenarnya tidak terlalu hebat, jika berhadapan langsung aku bahkan yakin bisa mengalahkannya,” ujar Michius sambil tersenyum.
“Yang penting kau tidak apa-apa. Sebaiknya kita segera kembali ke penginapan, aku merasa tempat ini tidak aman,” kata Chacasy sambil menengok ke sekeliling. Pertarungan singkat tadi memang menarik perhatian banyak orang.
“Ya!” Mereka mengangguk dan segera mempercepat langkah menuju penginapan.
“Aku baru ingat, mereka adalah tim juara dalam pertandingan peringkat Aula Bela Diri kali ini!” Seru seseorang dari kerumunan yang hendak bubar.
“Aku juga ingat, yang tadi hampir diserang itu Michius!”
“Benar, itu Michius, tak salah lagi!”
“Entah siapa penyerangnya tadi, apa dia tak tahu akibat menantang Aula Bela Diri Kota Air Biru itu?”
“Benar, meski Michius masih muda, tapi sangat kejam. Bukan tidak mungkin penyerang itu juga akan menerima nasib yang sama seperti Aula Bela Diri Kota Air Biru.”
“Apa kejam? Menurutku itu Aula Bela Diri Kota Air Biru sendiri yang cari masalah. Pertandingan yang adil mereka kotori dengan cara-cara licik. Orang seperti mereka memang pantas mendapat hukuman.”
“Benar, apa yang menimpa Aula Bela Diri Kota Air Biru memang salah mereka sendiri, tak bisa menyalahkan orang lain.”
…
Kerumunan pun mulai ramai membicarakan peristiwa itu. Saat membahas cara Michius menangani Aula Bela Diri Kota Air Biru, beberapa orang masih menyimpan sedikit ketidakpuasan, namun suara mereka segera tenggelam oleh suara-suara yang membela Michius.
Bagi kebanyakan orang, Michius adalah sosok ajaib di mata mereka. Terhadap orang seperti itu, orang cenderung mudah melupakan sisi-sisi yang tidak menyenangkan dan terus membesar-besarkan kehebatannya, hingga tampak semakin sempurna.
Michius tentu tak tahu tentang semua itu, bahkan jika tahu pun ia pasti hanya akan tersenyum. Peristiwa Aula Bela Diri Kota Air Biru sudah lama ia lepaskan dari hatinya.
Di ruang utama penginapan, hampir semua orang telah berkumpul. Setelah Michius menceritakan pengalamannya di perpustakaan Katedral, wajah semua orang tampak antusias.
Ge Fei melirik Michius dengan penuh terima kasih. Dalam ceritanya tadi, Michius sama sekali tidak menyebut soal penyerangan di jalan.
“Keempat, keluarkan Batu Sembilan Permata itu, biar kami semua bisa melihatnya. Aku sudah tak sabar!” Setelah mendapat pengampunan dari Michius, Ge Fei kembali ke sifat aslinya. Orang-orang lain menatapnya dengan jengkel, masih kesal pada kecerobohannya di jalan tadi. Namun Ge Fei hanya tersenyum geli.
Michius mengeluarkan kotak kayu kecil dari dalam bajunya, wajahnya pun tampak bersemangat. Batu Sembilan Permata itu memang sangat berguna baginya. Jika ia benar-benar bisa memadukan dua arus energi dalam tubuhnya dengan batu itu, ia bisa mulai mencoba membentuk pusaran energi di pusat-pusat tubuhnya.
“Sebetulnya aku juga ingin tahu seperti apa wujud Batu Sembilan Permata itu,” ujar Michius sambil tersenyum, lalu membuka kotak kayu itu.
Terdengar suara desir aneh, lalu tampak sebuah batu kecil penuh lubang-lubang kecil muncul di hadapan mereka. Batu itu bergetar pelan dan mengeluarkan suara menyerupai tangisan bayi.
“Ini Batu Sembilan Permata?” Michius mengamatinya dengan saksama. Selain suara aneh itu, tak ada yang istimewa pada batu itu.
“Benar-benar Batu Sembilan Permata! Akhirnya aku melihatnya juga,” kata Hami sambil tersenyum, “Dulu aku pernah membaca tentangnya di menara, memang ciri khasnya berbunyi tanpa angin. Tak salah lagi.”
Hami berasal dari Menara Pendengar Angin, paling tahu soal informasi. Jika Hami sudah berkata begitu, maka tak diragukan lagi bahwa itu memang Batu Sembilan Permata. Hanya saja, penampilan batu itu sangat sederhana, jauh dari bayangan semua orang.
“Jadi ini Batu Sembilan Permata? Kelihatannya terlalu biasa, tak sebanding dengan namanya,” kata Ge Fei dengan heran.
“Meski tampak biasa, ini memang Batu Sembilan Permata,” ujar Hami sambil tersenyum. “Banyak hal di dunia ini tak bisa dinilai dari penampilannya saja. Yang sederhana kerap kali paling berharga.”
Semua tertawa mendengar ucapan Hami yang mengandung petuah.
“Ngomong-ngomong, Keempat, bukankah kau bilang akan memberi kejutan pada kami? Sekarang boleh dikeluarkan, kan?” Carlos tersenyum pada Michius. “Kami semua menunggu, nih.”
“Keempat itu orang jujur seperti aku, tak mungkin menipu. Jadi kita tunggu saja dengan sabar!” Kruk memang berkata demikian, tapi matanya menatap Michius lekat-lekat, seakan ingin segera tahu apa kejutan itu.
Michius tersenyum penuh rahasia. “Kejutan itu belum bisa kuberikan sekarang, tapi tenang saja, pasti ada kejutan untuk kalian.”
Beberapa orang menatapnya sinis, sedikit kecewa. Mereka sangat mengenal Michius, jika ia sudah berkata begitu, pasti memang ada kejutan. Namun belum bisa tahu sekarang tetap saja membuat mereka kecewa.
Setelah beberapa saat suasana menjadi meriah, Max masuk dari luar. Dua hari ini ia memang sibuk. Sejak Aula Bela Diri Talos menjadi juara, kedudukannya sebagai kepala aula pun naik pesat di kerajaan. Ia pun berniat memanfaatkan kesempatan ini untuk meninggalkan Kota Talos dan mencari peluang lebih besar.
“Seru sekali kalian!” Max tertawa dan duduk di tengah mereka. “Kalian dapat banyak pelajaran di perpustakaan Katedral, ya?”
“Lumayan!” jawab Ge Fei dengan bangga, “Sayangnya hanya nemu satu-dua teknik tingkat menengah.”
Max menatap Ge Fei dan tersenyum getir. “Baru tingkat menengah saja, di Aula Talos sendiri tak punya satupun. Kau benar-benar tak tahu diri.”
Yang lain tertawa melihat tingkah Ge Fei dan Max. Sebenarnya dari wajah mereka sudah bisa ditebak, bisa mendapat teknik menengah saja sudah sangat bagus. Tapi memang begitulah watak Ge Fei, semua sudah terbiasa.
“Pertandingan peringkat sudah selesai, kalian semua punya rencana apa?” Max tiba-tiba menjadi serius. “Kalian semua sudah lulus dari aula bela diri, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?”
Suasana langsung menjadi berat. Selesainya pertandingan berarti mereka akan berpisah. Setelah enam tahun hidup bersama, apalagi di usia seperti mereka, ikatan yang terjalin sangatlah dalam.
“Untuk apa buru-buru memikirkan itu? Aku sih tak berniat pergi sekarang. Sudah jauh-jauh ke Kota Holi, masa tidak puas-puas bermain?” Mi Bin melirik kedua orang tuanya, lalu tersenyum, “Lagipula, kepala aula tak akan mengusir kita. Kesempatan begini jarang ada.”
Penginapan ini memang sudah dibayar penuh oleh Max, jadi mereka tak perlu khawatir soal biaya.
Max tertawa lepas. “Kalian mau tinggal berapa lama pun di penginapan ini, aku tak keberatan menanggung biayanya.”
Sebenarnya Mi Bin hanya bercanda. Setelah pertandingan, semua orang sudah mendapat hadiah dari Katedral dan kerajaan. Meski belum bisa dibilang kaya raya, tapi untuk hidup setahun dua tahun di Kota Holi mereka pasti mampu.
Ucapan Mi Bin membuat suasana kembali hangat dan semua pun ramai mengobrol.
“Wah, seru sekali!” Beberapa orang masuk dari luar: Hams, Kolenda, Gambia, dan Kolon.
“Kami tak mengganggu suasana, kan?” Hams tersenyum dan mendekat.
Michius berdiri dan tersenyum, “Kakak-kakak ada waktu ke sini, sungguh tamu istimewa.”
“Kali ini kami membawa kabar baik. Kalau tidak, mana berani sembarangan masuk,” kata Kolon sambil tersenyum. “Tapi kita urus dulu yang penting, Sri Baginda Raja punya titah untuk kalian semua.”
Semua terkejut, lalu berdiri dan memberi salam.
“Tak perlu formal begitu, kami hanya menyampaikan pesan Sri Baginda Raja,” ujar Hams. “Raja meminta kalian berlima dan Kepala Aula Max untuk menghadap ke istana.”
Hams lalu berjalan ke arah Michius, tersenyum dan berkata, “Mulai sekarang kami tak bisa lagi memanggil Anda adik kecil. Lain kali, mungkin kami harus memanggil Anda Tuan Count.”
Semua orang tertegun, lalu tersenyum pada Michius. Mereka sudah tahu raja akan memberi penghargaan pada Michius, tapi langsung memberikan gelar Count sungguh di luar dugaan.
“Jadi, raja benar-benar mengangkat Keempat jadi seorang Count!” ujar Carlos dengan tawa, “Bagus, sekarang kami punya pelindung di kerajaan!”
Semua pun tertawa riang. Lalu Hams berkata lagi pada yang lain, “Raja sangat murah hati, kalian juga akan mendapat penghargaan, termasuk Kepala Aula Max.”
Dari enam bersaudara, Hami dan Ge Fei memang tak terlalu peduli pada penghargaan dari Kerajaan Tara. Tapi bagi Kruk, Mi Bin, dan Carlos yang berasal dari keluarga biasa, penghargaan kerajaan sangat berarti.
Apalagi untuk Max. Beberapa hari ini ia memang sibuk mengurus hal itu. Mendengar namanya masuk daftar penerima penghargaan, ia pun tertawa lebar dengan mulut menganga.