Bab 51 Siapa yang Memberimu Keberanian!
Su Lan semula mengira masih akan menerima dua tamparan lagi, tetapi seseorang keburu mencegahnya.
Ketika melihat Su Huai datang hendak menolongnya, ia menghindar dan berusaha berdiri sendiri. Namun, sebuah tangan kembali terulur di hadapannya.
Ia mendongak dan melihat Su Mingqi.
“Ayah,” sapanya.
Su Mingqi tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan untuk membantu putrinya berdiri. Begitu melihat pipi Su Lan yang bengkak kemerahan dan darah yang merembes dari sudut bibirnya, amarahnya seketika meledak.
Ia berjalan ke hadapan Wang Jianan dan berkata dengan suara mengancam, “Kau mengira keluarga Su mudah ditindas? Bisa kau maki dan pukuli sesuka hati?”
Tubuh Wang Jianan terasa sakit di sekujur tubuh akibat tusukan jarum. Pinggulnya juga terbentur saat jatuh. Dengan susah payah ia bangkit, tetapi kembali terjatuh.
Melihat raut wajah Su Mingqi, ia merasa takut dan berteriak dengan suara melengking, “Kalian semua sudah mati, ya? Cepat kemari dan bantu aku berdiri!”
“Heh.” Su Huai tertawa dingin. “Kau buta? Lihat sendiri, orang-orangmu masih sanggup membantumu?”
Tatapan Wang Jianan beralih ke halaman.
Begitu melihatnya, ia langsung tertegun.
Seluruh halaman dipenuhi lelaki berpakaian kasar dengan tubuh besar dan kekar. Para pelayan yang dibawanya telah ditahan, bahkan tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Ia seketika panik, tetapi gengsinya menghalanginya untuk memohon ampun. Dengan memaksakan keberanian, ia berkata, “Ayahku adalah seorang kanselir senior. Kau hanya tabib tingkat lima, berani-beraninya menyentuhku!”
Su Mingqi menatap Wang Jianan dengan tajam dan berkata berat, “Aku ini orang yang lebih tua, jadi memang tidak boleh menyentuhmu. Namun, putriku boleh.”
Lalu ia menoleh kepada Su Lan. “Kemari.”
Dengan langkah terhuyung-huyung, Su Lan menghampirinya. Tubuhnya tampak sangat lemah.
“Bagaimana dia memukulmu tadi? Sekarang balas pukul dia!”
Su Lan segera panik.
Tidak boleh memukulnya. Jika ia melakukannya, mereka akan dianggap saling menyerang dan ia akan kehilangan semua keuntungan.
“Ayah, dia…”
Melihat keraguannya, Su Mingqi langsung murka. “Bukankah kau sangat hebat? Siapa pun yang memukulmu harus kau balas! Sekarang kenapa kau tidak berani?”
Su Huai maju dan menarik Su Lan ke belakangnya. Ia berkata dengan suara rendah, “Kalau masalah ini membesar, pernikahan Kakak akan berakhir.”
“Bagus, bagus, bagus.” Su Mingqi mengangguk berulang kali karena marah. “Kalian kakak beradik benar-benar hebat!”
Melihat hal itu, Wang Jianan terkikik. Entah dari mana datangnya, tenaganya seakan kembali. Ia bangkit dan menunjuk Su Lan.
“Dia tidak berani menyentuhku terang-terangan. Dia takut kakak keduaku tidak menginginkannya.”
Setelah berkata demikian, ia menatap Su Mingqi dengan penuh tantangan.
“Memangnya kenapa kalau kalian lebih banyak orang? Pada akhirnya kau tetap harus membiarkanku pulang dengan patuh. Keluarga Wang kami bukan keluarga kecil seperti kalian yang bisa sembarangan menyinggung!”
“Siapa yang memberimu keberanian!”
Su Mingqi mengangkat kaki dan hendak menendang Wang Jianan, tetapi Su Lan yang sigap segera memeluknya.
“Ayah, tenanglah!”
Bagaimanapun, Su Lan adalah seorang perempuan. Ia tidak mungkin menahan Su Mingqi yang sedang murka. Seketika ia terlempar, tetapi segera ditangkap oleh Su Huai.
“Kakak, jangan maju sembarangan. Nanti kau terluka.” Su Huai mengerutkan kening. “Biar kuoleskan obat ke wajahmu!”
Su Lan merasa semakin kesal hanya dengan melihatnya. Kalau bukan karena Su Huai, mungkin ayahnya tidak akan pulang secepat ini.
Rencana yang telah disusun dengan baik semuanya telah diacak-acak olehnya.
Mereka benar-benar tidak pernah cocok!
Ia memang ditakdirkan untuk menjadi malapetaka bagi dirinya!
“Pergi sana, jangan menggangguku!”
Mata Su Huai seketika memerah. Ia menarik ujung pakaian Su Lan dan berkata dengan tulus, “Kakak, aku tahu aku salah. Maafkan aku.”
Su Lan tidak ingin membuang waktu membicarakan soal memaafkan atau tidak memaafkan dengannya.
Sebab, di dunia ini, tidak ada yang lebih tidak berharga daripada penyesalan setelah hati seseorang terlanjur dingin.
Bukan hanya di kehidupan sebelumnya, bahkan dalam kehidupan ini pun, demi ibunya, ia pernah memberinya kesempatan. Namun, dialah yang tidak menghargainya.
Ia tidak akan pernah melunak lagi!
Kali ini Su Mingqi benar-benar murka. Ia kembali hendak menghajar Wang Jianan, tetapi Zhaixing yang muncul tepat pada waktunya segera menghalanginya.
Ia menoleh dan menatap Su Lan dengan marah.
“Kenapa aku bisa memiliki putri sepertimu! Kalau kejadian hari ini tersebar, bagaimana aku masih bisa menampakkan wajah di Biro Tabib Kekaisaran?”
Ia berteriak kepada Feng Qing, “Tangkap perempuan kecil dari keluarga Wang itu dan tampar dua puluh kali!”
Feng Qing berdiri di bawah serambi. Sejak tadi tubuhnya gemetar karena marah, tangan dan kakinya terasa dingin. Seandainya Su Lan tidak melarangnya memukul, ia tentu sudah tidak tahan lagi.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu maju dan membisikkan beberapa kata ke telinga Su Mingqi. Raut wajah Su Mingqi perlahan menjadi tenang.
“Ikat dia. Aku sendiri yang akan mengantarnya pulang ke keluarga Wang!”
Beberapa lelaki berpakaian kasar datang dan dengan cekatan mengikat Wang Jianan menggunakan tali rami.
Mereka semua adalah budak obat dari perkebunan obat. Karena bertahun-tahun melakukan pekerjaan kasar, tenaga mereka sangat besar. Tali rami itu diikat begitu kencang hingga hampir mengiris kulit.
Kulit Wang Jianan yang halus dan lembut seketika memucat karena kesakitan. Seluruh tubuhnya gemetar.
Namun, mulutnya masih saja keras. “Su Mingqi, kau akan menyesal! Ayahku tidak akan melepaskan kalian!”
“Aku juga tidak akan melepaskanmu!” Su Mingqi mencibir. “Orang-orang dari keluarga Su hanya boleh kupukul olehku sendiri. Orang lain tidak punya hak!”
“Hari ini aku akan mengikatmu seperti ini dan membawamu berjalan sampai ke rumah keluarga Wang. Biar seluruh penduduk ibu kota melihat seperti apa sebenarnya putri keluarga Wang!”
Wang Jianan sampai menangis ketakutan.
Ia adalah putri bangsawan dari keluarga terpandang. Bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya diikat, lalu dilihat oleh ribuan pasang mata?
Jika ia pulang dengan cara seperti ini, belum lagi apakah ayahnya akan menghukum keluarga Su, kehormatannya sendiri pasti akan hancur sepenuhnya.
“Tidak boleh! Kau tidak boleh melakukan ini!” Wang Jianan mendongakkan lehernya. “Kau tidak ingin lagi menjadi tabib kerajaan?”
“Manusia hidup demi muka, pohon hidup demi kulit. Kau telah menginjak-injak kehormatanku dan menggosok-gosokkannya ke tanah—itu sama saja dengan memaksaku mati!”
“Kalau nyawa saja sudah tidak ada, untuk apa aku mempertahankan jabatan? Keluarga Wang? Hari ini justru akan kutyinggung sekalian!”
Ia memang hendak mendatangi rumah mereka dan membuat keributan.
Tepat seperti yang diharapkan.
Semangat Su Lan kembali bangkit. “Ayah, aku akan ikut bersamamu.”
“Kau mau ikut untuk apa? Memanfaatkan kesempatan ini untuk menekan Wang Jinghe agar memperlakukanmu lebih baik?”
“Siapa di seluruh ibu kota yang tidak tahu bahwa kau adalah putri sah keluarga Su? Tidak bisakah kau sedikit menjaga sikap? Tidak bisakah kau menyisakan sedikit harga diri?”
Su Lan tidak membantah meski dimarahi.
Bahkan ia merasa perkataan Su Mingqi benar. Bukankah di kehidupan sebelumnya ia memang terus-menerus merendahkan diri demi Wang Jinghe?
Kalau dikatakan dengan indah, itu disebut jatuh cinta kepadanya.
Namun, jika bicara terus terang, bukankah itu sama saja dengan bersikap hina?
Ia mengangguk dan bergumam pada diri sendiri, “Aku tahu aku salah. Kali ini aku tidak akan mengulanginya.”
Su Mingqi sama sekali tidak menaruh harapan pada ucapan itu. Ia sangat memahami tabiat putrinya.
Sebelum bertemu Wang Jinghe, mulutnya memang keras. Namun begitu bertatap muka dengannya, ia seolah-olah kerasukan, dengan seluruh tatapan hanya tertuju kepada lelaki itu.
Jika Wang Jinghe menyuruhnya pergi ke timur, ia tidak akan berani melangkah ke barat.
Rombongan itu baru saja hendak meninggalkan rumah ketika Nyonya Zhou datang bersama beberapa pelayan kepercayaannya. Langkahnya tergesa-gesa.
“Anakku, kemarilah. Dengarkan beberapa patah kata dari Ibu.” Ia melambaikan tangan kepada Su Mingqi.
Su Mingqi sedang kesal dan tidak ingin memedulikan siapa pun.
Nyonya Zhou maju beberapa langkah, lalu berbisik kepadanya, “Miaoxi sedang lemah. Dia memintaku datang untuk berbicara denganmu.”
Begitu mendengar tentang istrinya, raut wajah Su Mingqi melunak.
Saat ini istrinya sedang mengandung. Kandungannya tidak stabil, sehingga ia hanya bisa berbaring dan beristirahat. Tubuhnya pun telah menyusut jauh karena kehilangan berat badan.
Bagaimanapun, keluarga Wang adalah keluarga mendiang ibunya. Jika hubungan mereka benar-benar retak dan hal itu mengejutkan Miaoxi hingga memengaruhi kandungannya, apa yang harus dilakukan?
Nyonya Zhou melanjutkan, “Keluarga Wang itu keluarga seperti apa? Di dalamnya ada seorang kanselir senior. Bagaimana mungkin kau mampu menyinggung mereka?”
“Aku tahu gadis keluarga Wang itu telah mempermalukanmu, tetapi sekalipun kau mendatangi rumah mereka, apa yang bisa kau lakukan?”
“Keluarga Wang cukup mengatakan bahwa anak-anak hanya sedang bermain-main, lalu masalah ini akan selesai. Terlebih lagi, masih ada pernikahan Lan’er. Sebaiknya kau memberikan kelonggaran kepada keluarga Wang dan menjadikannya sebuah kebaikan.”
Su Mingqi terdiam.
Ia merasa dirinya benar-benar telah dikuasai amarah. Miaoxi ternyata memikirkan semuanya dengan jauh lebih matang.
Usianya sudah lanjut dan kariernya pun tidak akan berkembang lebih jauh. Namun, masih ada kesempatan bagi anak-anak lain dalam keluarga, terutama Su Huai.
Musim gugur tahun ini, Su Huai akan mengikuti ujian tingkat daerah. Jika keluarga Wang bersedia membantu dari belakang layar, masa depannya pasti akan cerah.
Demi kejayaan keluarga Su, apa artinya menahan diri kali ini?
Su Lan melihat semuanya dengan jelas dari samping. Setelah amarah awalnya mereda, ayahnya mulai goyah.
Ia tersenyum mencela dirinya sendiri.
Ayahnya egois dan mudah marah, tetapi juga mudah dipengaruhi. Terhadap Wang Miaoxi, ia selalu menuruti segala perkataannya.
Sejak awal, ia memang tidak pernah benar-benar berharap banyak darinya…