Bab 50 Kepang Kecil yang Panjang
Sulan jatuh sakit sekembalinya dari Halaman Tingfeng.
Ia selalu bermimpi berjalan tanpa alas kaki di ruang kerja kakeknya, sementara sekelilingnya dipenuhi darah.
Ia merasa ngeri, dan betapapun ia memanggil kakeknya, tidak ada tanggapan sama sekali.
Tabib Tua memberikan akupunktur selama dua hari, dan ia pun berhenti bermimpi, namun tubuhnya menjadi sangat kurus kering.
Setelah kejadian ini, ia membutuhkan waktu belasan hari untuk memulihkan diri.
Kemarahan sama sekali tidak berguna, bersedih hati justru lebih tidak berguna lagi, keputusasaan terhadap dunia tidak berguna, dan balas dendam yang membabi buta pun tidak berguna.
Ia harus menjadi kuat; hanya orang kuat yang memiliki kemampuan untuk membersihkan nama baik kakeknya dan membunuh musuh!
Yang harus ia lakukan sekarang adalah menyingkirkan semua batu sandungan dan menggenggam erat segala sesuatu yang bisa diraihnya.
Hari itu, ketika ia sedang meracik racun, Changdong masuk dengan ekspresi yang tampak sedikit panik: "Nona, orang-orang dari keluarga Wang menerobos masuk!"
Alis Sulan berkerut.
Sebelumnya, ayahnya telah menolak kunjungan dari keluarga Wang dengan alasan kondisi kehamilan Wang Miaoxi yang tidak stabil dan membutuhkan istirahat total.
Belum sampai beberapa hari berlalu, seharusnya orang-orang dari keluarga Wang tidak datang berkunjung lagi, apalagi menerobos masuk secara paksa?
"Siapa yang datang?"
Changdong menjawab: "Dilihat dari gaya dan penampilannya, sepertinya salah satu nona muda sah. Dia membawa banyak pelayan, dan usianya tampak seusia dengan Nona."
Keluarga Wang hanya memiliki dua putri sah, dan yang seumur dengannya pastilah Wang Jianan si anak bungsu, gadis yang bertindak terlampau sewenang-wenang itu.
"Di mana orangnya?"
"Menuju ke Halaman Jinlan, Nona Yuyue telah mengadang mereka di luar pintu."
Jika yang datang adalah anggota keluarga Wang yang lain, selama menyandang status sebagai sesepuh, mereka harus disambut dengan ramah dan sopan, jika tidak, ia akan menjadi bahan gunjingan orang lain.
Namun, yang datang adalah Wang Jianan, dan ia bahkan menerobos masuk. Ini benar-benar memberikan sebuah celah yang sangat besar bagi Sulan.
Jika ia tidak memanfaatkannya, bukankah itu berarti menyia-nyiakan kehendak langit?
Benar saja, takdir berpihak padanya. Baru saja ia selesai membicarakan keluarga Wang dengan sang paman, si bodoh ini sudah mengantar diri ke depan pintu.
"Jangan halangi dia. Siapkan teh, dan persilakan dia masuk ke aula tamu."
Ketika Sulan tiba di aula tamu, Wang Jianan telah menunggu beberapa saat.
Ia mengenakan jubah brokat merah muda cerah, mengenakan tusuk konde emas bertatahkan batu rubi, dan bahkan sengaja merias wajahnya, membuatnya tampak sangat segar dan memesona.
"Mengapa Nona Muda Kesembilan datang tanpa memberitahu terlebih dahulu? Aku tidak menyiapkan apa pun di sini, sungguh tidak menyambut dengan layak."
Ini adalah sindiran tersembunyi bahwa Wang Jianan tidak tahu aturan.
Mendengar itu, Wang Jianan merasa tidak senang, namun ia tidak langsung melampiaskannya. Ia hanya menatap cat kuku di jemarinya dengan ekspresi tidak ramah.
"Kau tidak menyiapkan apa pun, tetapi aku harus masuk dengan begitu sulitnya. Jika aku memberitahumu terlebih dahulu, kurasa aku bahkan tidak akan bisa menginjakkan kaki di gerbang rumahmu."
Sulan tersenyum dan berkata: "Nona Muda Kesembilan berkata begitu, terdengar sangat asing. Keluarga kita berbesanan, memang sudah sepantasnya sering saling berkunjung."
"Cih!" Wang Jianan mencemooh. "Sudah lama kudengar bahwa kau adalah seorang munafik, hari ini melihatnya secara langsung, ternyata benar-benar terkenal."
Sulan tersenyum tipis dan sama sekali tidak merasa marah.
"Seorang terhormat tidak membicarakan orang di belakang mereka. Nona Muda Kesembilan sebaiknya tidak mendengarkan omongan sembarangan, agar tidak ikut terseret dan kehilangan integritas diri."
Wang Jianan bagaimanapun masih muda. Ia awalnya berniat memberikan pelajaran kepada putri sah dari keluarga pejabat rendah ini untuk melampiaskan kekesalannya, namun ia tidak menyangka justru terkena dua tusukan kata-kata halus secara beruntun.
Ia merasakan gelora kemarahan hendak meledak keluar dari dadanya. Ia bukanlah seseorang yang bisa menahan emosi, maka seketika itu juga ia menyambar mangkuk teh porselen putih di atas meja kecil dan membantingnya dengan keras.
Mangkuk teh itu membentur dinding dengan suara "brukk", lalu jatuh kembali ke lantai dan pecah berkeping-keping.
"Sulan, apakah kau lupa bagaimana cara tak tahu malu saat menjerat Kakak Kedua ku? Apa hakmu mengatakan aku tidak bermoral!"
Sulan mengedipkan matanya dengan polos: "Aku dan dia adalah tunangan. Kalau aku tidak menjeratnya, apa harus menjeratmu?"
Begitu teringat pada kakak keduanya, Wang Jianan merasa hal itu sangat tidak sepadan. Kakaknya itu bagaikan giok yang mulia, untuk apa harus terikat pada pernikahan seperti ini?
Sulan ini tidak berguna dalam hal apa pun selain berwajah cantik, ia sama sekali tidak layak!
"Kau benar-benar tidak tahu malu!" Wang Jianan maju beberapa langkah dan menunjuk batang hidung Sulan. "Selama kalian belum menikah, kau harus menjaga jarak darinya!"
"Kakak kedua ku adalah sosok kebanggaan surga, begitu banyak wanita dari keluarga terhormat yang mengaguminya, namun ia bahkan tidak melirikmu sedikit pun, perempuan penggoda!"
Sulan sangat ingin mematahkan jari yang menuding ke arahnya itu, namun ia tahu ia tidak boleh melakukannya. Transaksi yang merugikan tidak boleh dilakukan.
Ia menekan gejolak api di dalam hatinya, lalu mengubah ekspresinya menjadi tampak hendak menangis. "Nona Muda Kesembilan, bagaimana bisa kau memfitnahku sedemikian rupa?"
"Sejak kecil aku membaca Kitab Kesusilaan Wanita, di dalam buku dikatakan bahwa di rumah patuh pada ayah, setelah menikah patuh pada suami. Apa salahnya jika aku memperlakukan calon suamiku dengan sepenuh hati?"
Lebih baik jika Sulan tidak menangis; begitu ia menangis, sepasang matanya benar-benar mampu merenggut jiwa seseorang.
Wang Jianan merasa Sulan tampak seperti siluman yang menjelma, jika tidak, mengapa ia bisa terlihat begitu cantik saat menangis?
Orang lain biasanya menangis ingusan dan berair mata comberan, tetapi tetesan air matanya justru jatuh satu persatu bagaikan mutiara yang putus dari benangnya.
Dulu ia merasa Sulan Yi sangat terampil, gadis itu hanya berdandan seadanya dan tampak polos, namun para pria akan langsung merasa kasihan begitu melihatnya.
Baru sekarang ia menyadari bahwa para gadis dari keluarga Su adalah sekumpulan penggoda, yang satu lebih pandai memikat hati dibandingkan yang lain.
Alangkah baiknya jika ia juga bisa menangis seperti itu, ayah dan kakak-kakaknya pasti akan menuruti segala kemauannya.
Tidak, Sulan akan segera menikah ke keluarganya, jika gadis itu menangis pada saat itu nanti, masih adakah tempat bagi dirinya?
Kemarin ayahnya bahkan berkata kepada ibunya, begitu Sulan mencapai usia dewasa, pernikahan antara gadis itu dan kakak keduanya akan segera dilangsungkan.
Wang Jianan mencengkeram erat kerah baju Sulan: "Perempuan jalang, Kakak Kedua ku tidak ada di sini, untuk siapa kau menangis? Sekalipun ia ada di sini, ia hanya akan merasa jijik padamu."
Wajah Sulan sepucat selembar kertas.
"Kau bohong! Dia menyukaiku, dia jelas-jelas pernah mengatakannya! Di masa depan aku akan menjadi kakak iparmu, kau tidak boleh bersikap tidak hormat seperti ini padaku!"
Setelah berteriak, ia mendekat ke telinga Wang Jianan dan berbisik dengan suara pelan: "Soal menjadi jalang, aku jelas tidak bisa menandingimu. Aku paling-paling hanya bertindak murah di hadapan kakak kedua mu, tetapi kau justru bersikap murahan pada sembarang pria!"
"Kau pikir jika kau tidak melakukannya hingga tahap akhir, maka tidak akan ada orang yang tahu, dan kau masih tetap seorang gadis yang suci? Sungguh konyol!"
Wang Jianan membelalakkan matanya, tidak mengerti bagaimana Sulan bisa mengetahui trik-trik yang ia mainkan itu?
Sulan tersenyum, ini semua berkat jasa Sulan Yi.
Wang Jianan tidak jarang bersekongkol dengan Sulan Yi di masa lalu, namun setelah Sulan Yi menikah ke keluarga Wang, keduanya justru berselisih. Sulan Yi menggunakan hal inilah yang akhirnya memaksa Wang Jianan hingga bunuh diri.
Melihat mata Sulan yang dipenuhi dengan cemoohan, seolah-olah menguliti dirinya hingga tak bersisa.
Pelipis Wang Jianan berkedut hebat, ia mengayunkan tangannya dan melayangkan sebuah tamparan keras, yang diterima Sulan dengan menggertakkan gigi.
Wang Jianan dibesarkan secara manja di kediaman bangsawan dan tidak memiliki banyak tenaga, namun Sulan justru memanfaatkan momentum itu untuk menjatuhkan diri ke lantai dan menangis histeris.
Ia memegangi pipinya yang ditampar, mundur dengan panik sambil berteriak: "Nanxing, cepat panggil seseorang untuk memberitahu Ayah!"
Nanxing baru saja melangkah keluar ketika ia disergap oleh dua orang pelayan wanita Wang Jianan, lalu ditekan dengan kuat di halaman.
Nanxing melihat sekeliling halaman yang penuh dengan pesuruh keluarga Wang, lalu menangis dan berteriak: "Melakukan kejahatan di siang bolong di dalam rumah, apakah kalian masih punya hukum?"
Salah satu pelayan wanita keluarga Wang mengangkat tangannya dan menampar Nanxing, lalu mengancam: "Gadis sialan, berteriak lagi akan kuhancurkan mulutmu!"
Nanxing menarik ujung rok pelayan itu sambil menangis memohon: "Jangan sakiti Nona ku! Kumohon, jangan pukul dia!"
Wang Jianan di dalam ruangan masih merasa agak bingung karena Sulan berhasil ia jatuhkan ke lantai hanya dengan satu tamparan.
Apakah tenaganya begitu besar?
Melihat keributan yang begitu hebat, ia juga merasa sedikit takut. Jika kakak sulungnya sampai tahu, kakinya pasti akan dipatahkan.
Ia melangkah maju berniat membantu Sulan berdiri, tetapi siapa sangka Sulan yang tampak kurus itu ternyata sangat berat hingga justru menarik dirinya ikut terjatuh.
Tidak sekadar menariknya jatuh, Sulan bahkan menyembunyikan jarum di tangannya dan menusuk-nusuk dirinya secara membabi buta, membuat rasa sakit yang luar biasa hingga ia menjerit-jerit.
Ia dan Sulan seusia, suara jeritan mereka pun hampir mirip, sehingga orang-orang di luar mengira dirinyalah yang sedang menderita kesakitan, dan tentu saja tidak ada yang berani masuk.
Setelah entah menerima berapa banyak tusukan jarum, ia akhirnya mengerahkan seluruh tenaganya untuk menindih Sulan dan merangsek naik ke atas tubuhnya.
Ia mengangkat tangan hendak menampar wajah Sulan, namun begitu tangannya terangkat dan belum sempat mendarat, ia sudah ditarik dengan kuat oleh seseorang yang baru saja masuk.
Pintu rumah terbuka lebar, cahaya matahari yang menyilaukan membuat matanya berkunang-kunang, dan sebelum ia sempat melihat dengan jelas siapa orang yang datang, ia sudah dilempar terbang oleh tenaga yang sangat besar……