Bab 92: Chi You – Coba Saja, Mati Seketika!
“Mari kita pergi, Penghormatan Hou Tu dan yang lainnya sedang menunggu kita di Istana Kegelapan,” ujar Xingtian sambil berbalik menatap gerbang dunia bawah yang perlahan tertutup, suaranya dalam dan berat.
Zhao Lang mengangguk tanda paham, lalu melangkah mengikuti sosok Xingtian di depan. Sepanjang perjalanan ini, dunia bawah benar-benar terasa sunyi dan tandus, sangat berbeda dengan dunia langit yang dikuasai oleh Dong Huang Taiyi dan Di Jun, dua bersaudara itu. Satu bagai langit, satu bagai bumi.
Namun, memang dunia bawah adalah tempat bersemayamnya arwah-arwah yang telah meninggal di alam semesta primitif. Hanya saja, meski kini Suku Wu telah menguasai dunia bawah, tempat itu sebenarnya belum sepenuhnya menampakkan diri, dan Enam Jalan Reinkarnasi pun belum memperlihatkan wujudnya. Banyak jiwa dan hantu yang terkumpul selama berbilang era masih tersebar di berbagai sudut dunia.
Kelak, ketika dunia bawah dan Enam Jalan Reinkarnasi benar-benar muncul, wilayah ini baru akan menjadi semakin makmur dan ramai.
“Tuan Xingtian, Anda juga datang? Eh, bukankah Anda...” Tiba-tiba terdengar suara heran dari depan, menarik perhatian Zhao Lang.
Mengikuti sumber suara, sudut bibir Zhao Lang melengkung membentuk senyum tipis. Seekor harimau, sebilah pedang, dan seorang pemuda—di dunia bawah ini, selain keponakannya yang menggemaskan, Chi You, siapa lagi yang bisa seperti itu?
Tak disangka, ketika ia sedang ingin berbincang ‘akrab’ dengan bocah itu, sang keponakan justru datang sendiri. Apakah ini yang disebut ikatan batin antara paman dan keponakan?
“Anak Chi You, kenapa kamu di sini? Apa para Penghormatan menyuruhmu menjemput kami?”
“Oh, semacam itu...” Chi You menggaruk kepalanya, tampak agak canggung.
Bisakah ia berkata kalau ia sebenarnya diam-diam keluar dan malah tanpa sengaja bertemu Xingtian dan paman ‘tercinta’-nya itu? Chi You masih sangat ingat betapa pamannya sangat memperhatikannya di Suku Manusia di Timur.
Kalau tidak, mana mungkin ia kembali diam-diam ke Suku Tanah dan akhirnya dimarahi habis-habisan oleh ibunya, Bai Xi?
“Kenapa, kamu sekarang jadi tidak sopan? Ketemu paman sendiri pun tidak menyapa?” Zhao Lang duduk di atas harimau hitam, tersenyum lebar.
“Eh, salam hormat, Paman...” Chi You meringis sambil menatap harimau hitam di bawah Zhao Lang, matanya menyipit curiga.
Jangan-jangan pamannya sengaja? Ia sendiri memelihara seekor harimau, entah sejak kapan pamannya juga punya harimau sebagai tunggangan. Kalau ini bukan sengaja, biar saja namanya dibalik!
Andai Zhao Lang tahu isi hati Chi You saat itu, pasti ia akan tertawa geli.
Aduh, kamu tuh seharusnya pelihara panda, kenapa malah rebutan harimau sama aku, calon Dewa Kekayaan? Harimau itu simbol wajib para dewa kekayaan, tahu!
Chi You melirik sekilas ke arah Zhao Lang, sudut bibirnya terangkat.
“Paman tercinta, keponakanmu sekarang sudah jadi Dewa Agung, kenapa pamanku baru mencapai tingkat Taiyi? Sungguh...”
Mendengar ucapan Chi You, meski Zhao Lang sudah melatih hatinya, tetap saja ia dibuat jengkel sekaligus geli oleh ucapan itu.
Kini ia mengerti kenapa Wu Xian yang biasanya sabar sampai harus menitipkan Chi You padanya untuk ‘dihajar’ sekali-sekali.
Kamu, anak pembawa keberuntungan di jamannya, mau adu kekuatan sama aku? Dasar bocah, memang perlu diajar!
“Tingkat Taiyi? Maaf-maaf saja, meski pamanmu cuma Taiyi, kalau mau menghajar kamu ya tetap bisa, bahkan dengan berbagai cara. Tidak percaya? Mau coba?”
Senyum Zhao Lang tampak berbahaya.
“Coba saja, siapa takut!” Chi You menepuk harimau tempurnya, menyeringai, “Harimau kecil, urus yang besar itu, aku hadapi paman sendiri!”
Sebagai Dewa Agung dengan tingkat Daluo, masa ia takut pada seorang Taiyi? Chi You sangat percaya diri.
Padahal, Zhao Lang yang telah mewarisi pengalaman bertarung seumur hidup Dewa Angin juga sangat yakin pada dirinya.
“Harimau kecil itu cukup lucu, pergilah bermain dengannya, tapi jangan terlalu keras,” bisik Zhao Lang pada harimau hitamnya setelah turun, menepuk lehernya lembut.
Xuanshan melirik harimau tempur yang jelas lebih muda dan lebih kecil, mengangguk tanda mengerti.
Harimau kecil itu kelihatan jelas piaraan rumahan, mana mungkin punya pengalaman bertarung? Hari ini Xuanshan akan mengajarinya, agar kelak tahu bagaimana seharusnya harimau bertempur, biar tidak mempermalukan bangsa harimau.
Anggap saja sebagai latihan bersama.
“Kalian... Chi You, bukankah kamu dikirim para Penghormatan untuk menjemput kami?” Xingtian benar-benar bingung dengan perkembangan ini.
Apa memang semua paman dan keponakan seperti ini?
“Om Xingtian, ini cuma sparring biasa kok, tak bakal bikin masalah. Betul, kan, paman tercinta?”
“Dewan Agung Xingtian, tenang saja, aku cuma mau mengajari keponakanku ini bagaimana menghormati orang tua, tidak akan lama,” ujar Zhao Lang sambil melambaikan tangan, meminta Xingtian tidak ikut campur.
Ia yang telah menyerap pengalaman bertarung Dewa Angin, memang sedang butuh ‘karung tinju’. Kebetulan Chi You datang sendiri, sayang kalau Xingtian malah merusak suasana.
Sebagai paman, ia paling suka keponakan yang keras kepala seperti ini!
Xingtian benar-benar tak paham.
“Pa... paman, kalau memang jantan, jangan pakai harta pusaka! Pakai harta pusaka itu curang!” teriak Chi You ketika melihat Zhao Lang mengeluarkan Tali Penakluk Naga, teringat trauma masa lalu.
Meski ia bisa melatih jiwa, ayahnya Wu Xian tidak memberinya banyak pusaka hebat.
“Tak pakai juga tak apa, biar kamu tahu, pamanmu meski tanpa pusaka tetap bisa menghajarmu sampai bengkak!” kata Zhao Lang sambil menyimpan Tali Penakluk Naga, lalu mengayunkan Cemet Emas Penakluk Laut ke arah Chi You.
Chi You tidak mau kalah, mengayunkan pedang panjangnya menyambut serangan itu.
Dua orang itu bertarung puluhan jurus, Chi You makin terkejut di dalam hati.
Ia tahu pamannya itu seorang penganut Daois, tapi sejak kapan penganut Daois di dunia bawah tidak terkena tekanan sedikit pun? Sudah bertarung lama, tetap saja segar bugar!
Ia sampai curiga, jangan-jangan pamannya bukan penganut Dao, melainkan Suku Wu yang khusus melatih tubuh jasmani...
Bertukar serangan puluhan kali, Chi You mulai tak sabar. Ia mengangkat pedang panjangnya menahan cambuk, lalu sambil berteriak menerjang Zhao Lang dengan tinjunya.
Ia tak percaya, masak seorang penganut Dao bisa menang duel tinju melawan Dewa Agung Suku Wu sepertinya?
“Bagus!” Melihat Chi You menerjang, mata Zhao Lang berbinar.
Beginilah seharusnya pertarungan lelaki, saling hantam dengan tangan kosong!
Ia, Leluhur Bela Diri Bangsa Manusia, bukan gelar kosong belaka!
Zhao Lang berteriak rendah, melangkah, lalu melayangkan tinju!
Dua kepalan tangan, satu besar satu kecil, bertubrukan di udara, menggelegar keras.
Chi You merasakan puluhan aliran kekuatan aneh—ada yang ganas, lembut, panas, dingin—menyerbu dari tinju lawan, menembus pertahanan fisiknya yang dibanggakan, menyusup ke lengannya. Seketika tubuhnya kaku, gerakannya melambat.
Zhao Lang tersenyum, mengikuti gerakan Chi You yang meledak-ledak, ujung kaki menjejak tanah untuk mengalirkan kekuatan.
Tak peduli bekas lubang sebesar lapangan bola sepak di tanah, Zhao Lang memutar pinggang, mengayunkan kaki kanannya seperti cambuk baja, menghantam Chi You dari samping.
Baru saja Chi You pulih dari guncangan darah, mendadak bayangan kaki raksasa memenuhi pandangan, wajahnya berubah drastis. Namun, sudah terlambat untuk bertahan.
Dum! Dum dum! Dum dum dum!
Di bawah tatapan Xingtian yang seperti melihat hantu, Chi You, Dewa Agung baru Suku Wu, dihajar habis-habisan oleh Zhao Lang yang hanya seorang Taiyi.
Bayangan kaki bertubi-tubi mengurung Chi You, suara pukulan padat seperti genderang perang.
Rasa sakit di sekujur tubuh membuat Chi You kesal setengah mati, tapi sayang, Zhao Lang tak memberinya kesempatan membalas.
Dengan pengalaman bertarung ribuan tahun Dewa Angin, Zhao Lang bahkan mampu menaklukkan Dewa Agung baru seperti Chi You dengan mudah.
Hanya mengandalkan kekuatan tubuh, Chi You sekarang cuma jadi samsak besar bagi Zhao Lang untuk memperkaya pengalaman bertarungnya.
“Menyerah atau tidak?” tanya Zhao Lang dengan senyum puas, memandang Chi You yang kini bengkak seperti dipompa.
“Tid... ti... tidak...” Chi You yang ngos-ngosan, matanya melirik tinju Zhao Lang yang terangkat, tubuhnya gemetar, bibirnya bergerak, lalu menunduk lesu.
“Baik... aku menyerah...” ucapnya pasrah.
Mendengar jawaban Chi You, Zhao Lang merasa sedikit kecewa.
Wah, samsak berkualitas tinggi yang tahan banting, kini berkurang satu lagi...
Chi You: Paman, kamu benar-benar tidak tahu sopan santun!