Bab Empat Puluh Tiga: Mengaku atau Tidak
Di belakang rumah, area sekitar kolam dipadati banyak orang, baik anak-anak maupun orang dewasa tampak berseluncur di atas lapisan es.
Tempat yang ingin dituju Lu Xiao jelas bukan di sini, melainkan tempat yang lebih jauh lagi.
Jalanan masih sangat licin. Ia mengulurkan tangan untuk memegang lengan pria itu agar ia bisa mengimbanginya.
"Sebenarnya kita mau menangkap ikan di mana?"
"Ke waduk. Meskipun kolam kecil di pinggir desa juga ada ikannya, tapi banyak anak-anak dan orang dewasa bermain di atas es. Kalau sampai esnya pecah dan tidak cukup kuat menahan beban lalu ada yang jatuh, itu akan merepotkan. Kita ke waduk saja, di sana jarang ada orang kecuali mereka yang memang ingin memancing."
Lu Xiao juga membawa beberapa peralatan di tangannya, seperti mata pancing yang dibuat dari jarum dan segumpal usus ayam.
"Apa ikan mau memakan benda ini?" tanya Shen Xi dengan nada jijik.
"Tentu saja ikan tidak memakannya secara langsung. Jadi, kita harus menangkap udang terlebih dahulu, lalu menggunakan udang itu sebagai umpan untuk memancing ikan." Sebagai anak yang paling mendominasi dan besar di desa, tidak ada seorang pun yang lebih ahli dalam urusan memancing, menangkap udang, dan mencari sarang burung selain dirinya.
Jika terlalu banyak bertanya, ia akan terlihat bodoh. Shen Xi akhirnya memilih untuk berhenti bertanya dan hanya mengikuti pria itu dengan patuh. Terserah bagaimana caranya, kalau dapat ya dimakan, kalau tidak ya mau bagaimana lagi.
Namun, siapa sangka, begitu mereka melangkah pergi dari rumah, Jia Ping langsung membawa sesuatu dan mendatangi kediaman keluarga Lu.
Hari itu, setelah kesadarannya pulih, ia langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat apakah bagian tubuhnya yang terluka itu masih bisa diselamatkan.
Lu Xiao sendiri yang menginjaknya, jadi akibatnya sudah bisa ditebak.
Di dalam hatinya, ia tentu merasa dendam, tetapi ia juga sadar diri. Jika ia berani melawan Lu Xiao, nyawanya mungkin akan melayang.
Namun, setelah menderita rasa sakit sehebat itu tanpa mendapatkan apa pun, harus ada seseorang yang bertanggung jawab.
Orang biasanya selalu memilih kesemek yang lunak untuk diremas. Ditambah dengan perkataan Shen Xi sebelumnya, karena takut pada kekerasan Lu Xiao, ia tentu hanya bisa mencari jalan keluar melalui Jiang Ran.
Begitu mengetahui bahwa Lu Xiao sedang tidak berada di rumah, ekspresi Jia Ping langsung berseri-seri gembira.
Baru dua hari ini tubuhnya pulih dan tidak lagi tersiksa oleh rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Kebetulan Lu Xiao sedang tidak ada, bukankah ini berarti bahkan langit pun sedang memberinya kesempatan?
Selain itu, jika nanti Lu Xiao mencari masalah dengannya, masih ada Shen Xi yang bisa dijadikan perisai di depan. Kali ini, dialah pihak yang sepenuhnya diuntungkan.
Setelah berpikir sejenak, ia bersikeras meninggalkan hadiah yang dibawanya, lalu bergegas pulang untuk merencanakan langkah selanjutnya.
***
Shen Xi berjongkok di tepi sungai selama separuh sore, namun hasil yang didapat cukup memuaskan. Dua ekor ikan mas berukuran empat hingga lima kati berhasil ditarik ke daratan.
Lu Xiao menarik kailnya dan berkata, "Sudah cukup, ayo kita pulang."
"Kenapa buru-buru pulang? Kita sudah datang jauh-jauh ke sini dan mengerahkan banyak tenaga untuk memecahkan lapisan esnya. Kenapa tidak ambil beberapa ekor lagi? Kebetulan cuacanya dingin jadi bisa dibekukan, bahkan stok ikan untuk Tahun Baru pun jadi aman."
"Hah!" Lu Xiao menertawakannya. "Pikiranmu terlalu muluk. Meskipun ikan di sungai ini liar, sesekali datang menangkap untuk lauk itu tidak masalah. Tapi kalau mengambil terlalu banyak, itu bisa dianggap sebagai barang milik umum. Kalau sampai dilaporkan, kita bisa dituduh memanfaatkan negara dan merugikan kaum sosialis."
"Hm..." Shen Xi sama sekali tidak memikirkan hal itu. Ia bahkan terlihat lebih gugup daripada Lu Xiao. "Kalau begitu, ayo kita cepat pergi, jangan sampai ada orang yang melihat."
Bagaimanapun, pria itu mendaki gunung setiap beberapa hari sekali, entah untuk menangkap ayam hutan atau kelinci. Sejak Lu Xiao pulang dari wajib militer, hampir tidak pernah ada hari tanpa daging di rumah mereka, sehingga ia sangat khawatir dilaporkan orang lain.
Untung saja rumah mereka terletak agak di ujung desa dan tidak ada tetangga di sekitarnya. Kalau tidak, halaman yang setiap hari mengepulkan aroma daging itu pasti sudah lama didatangi orang.
"Tenang saja, kita semua warga sekampung. Selama tidak keterlaluan, tidak akan ada yang sengaja mencari masalah dengan kita," hibur Lu Xiao saat melihat istrinya ketakutan.
"Belum tentu juga," gumam Shen Xi pelan, lalu mendesak pria itu untuk segera pulang.
Kerabat di desa mungkin tidak akan melaporkan mereka, tetapi orang-orang yang membenci mereka belum tentu berpikiran sama.
Contohnya Jiang Ran, yang selalu merasa tidak senang melihatnya hidup baik.
Perempuan itu juga seorang yang terlahir kembali (reinkarnator). Meskipun di dalam alur cerita asli bagian tentang kehidupan masa lalunya tidak banyak diceritakan, tetapi sebagai orang yang terlahir kembali, ia pasti tahu banyak hal dan tidak menutup kemungkinan akan melakukan tindakan nekat.
"A-Xiao, kamu harus berhati-hati pada Jiang Ran. Aku selalu merasa dia bersikap aneh. Padahal hubungan kami dulu sangat baik, tapi sejak sekitar dua bulan lalu, dia mulai memusuhi dan menyasar diriku entah kenapa. Setiap kali, dia selalu bisa menebak hal-hal yang bahkan belum terjadi. Pokoknya, pasti ada yang tidak beres dengannya."
Lu Xiao tidak menjawab perkataannya, tetapi ia mencatat hal itu di dalam hatinya.
Menurutnya, trik murahan Jiang Ran sama sekali tidak ada artinya, tetapi setiap kali nama itu disebut, Shen Xi selalu menunjukkan kewaspadaan yang sangat tinggi.
Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan seorang kenalan yang menyapa. Setelah tahu mereka baru saja menangkap ikan di waduk, orang itu bahkan meminjam kail Lu Xiao untuk mencoba peruntungannya.
Lapisan es yang baru saja dipecahkan belum membeku kembali, jadi tidak butuh banyak tenaga untuk mencoba memancing, dapat atau tidak urusan belakangan.
Lu Xiao tidak keberatan membiarkan orang lain memancing karena ikannya sendiri sudah cukup, ia hanya berpesan agar kailnya tidak sampai hilang.
Begitu mereka berjalan mendekati perbatasan desa, mereka melihat sekelompok orang berkerumun di dekat hutan kecil.
***
Lu Xiao melirik sekilas ke arah kerumunan itu, lalu menyerahkan keranjang berisi ikan kepada Shen Xi. "Aku mau ke sana lihat ada apa. Kamu bawa dulu ikannya pulang, bilang ke Ibu kalau kita simpan satu ekor, dan satu ekor lagi tolong antarkan ke rumah Paman Tertua."
"Oh," Shen Xi baru saja mengiyakan ketika ia mendengar suara teriakan dari kerumunan itu.
"Kalian berdua ini sebenarnya sedang berpacaran atau melakukan perbuatan amoral (hubungan gelap)? Kalau berpacaran, itu wajar karena terbawa perasaan, paling-paling kalian hanya akan mendapat teguran dan setelah itu tinggal hidup bersama. Tapi kalau melakukan perbuatan amoral, itu bisa dijatuhi hukuman penjara!"
Ucapan yang disampaikan dengan penuh semangat itu berasal dari Janda Liu di desa.
Begitu mendengar kata "perbuatan amoral", semangat Shen Xi langsung melonjak seketika.
Area itu dikelilingi oleh banyak orang sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang ada di tengah, tetapi di dalam hatinya ia sudah memiliki tebakan, dan ia tentu tidak boleh pulang sekarang.
Ia menyerahkan kembali keranjang itu kepada Lu Xiao. "Berat sekali, aku tidak kuat membawanya. Lebih baik kamu antar ikannya dulu ke rumah baru menyusul ke sini."
Sepasang mata jernihnya memancarkan ekspresi polos, seolah-olah ia tidak dibuat-buat, padahal sebenarnya ia memang sengaja melakukannya.
"Bahkan membawa barang sepuluh kati saja tidak kuat. Shen Xi, manja juga harus ada batasnya," pikir Lu Xiao bahwa istrinya hanya sedang malas.
"Tapi aku benar-benar tidak kuat membawanya. Coba lihat tanganku..." Ia membuka telapak tangan yang memegang keranjang, memperlihatkan dua bekas guratan merah yang cukup dalam.
Itu adalah bekas yang sengaja ia buat dengan cara mencengkeram erat tali keranjang tadi.
Dengan perasaan pasrah, Lu Xiao mengambil alih keranjang itu. Sambil merasa kesal dan gemas, ia berkata, "Kuduga kamu ini akan mati karena malas. Dengan sifat manjamu ini, beruntung kamu menikah denganku. Kalau menikah dengan orang lain, kamu mungkin sudah dipukuli sehari delapan kali."
"Aku tahu kamu memang yang paling baik," kata Shen Xi sambil memamerkan mata berbinar-binar penuh kagum, lalu mengantar kepergian punggung pria itu yang berjalan pulang.
Sesaat kemudian, ekspresi di wajahnya langsung berubah. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju kerumunan orang.
"Kami sedang berpacaran, sungguh, kami sedang berpacaran!" Jia Ping masih berusaha keras menjelaskan sambil mengulurkan tangan untuk meraih pergelangan tangan Jiang Ran, lalu berbisik memperingatkan di telinganya, "Kamu harus berpikir baik-baik. Mengaku berpacaran paling-paling hanya akan membuatmu dinikahkan denganku. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu. Dua tahun lagi, kalau kamu sudah menemukan cara untuk kembali ke kota, kamu tetap akan menjadi gadis suci yang bersih. Siapa di kota yang akan tahu apa yang terjadi padamu di desa? Tapi kalau tidak mengaku, itu namanya melakukan perbuatan amoral, kita berdua bisa ditembak mati."
Melihat Jiang Ran masih ragu-ragu, ia melanjutkan dengan gigi gemeletuk, "Kamu juga baru saja tahu sendiri bagaimana kondisi fisikku. Sekalipun aku ingin berbuat macam-macam padamu, aku tidak punya kemampuan lagi. Jiang Ran, apakah kamu benar-benar ingin dicap sebagai pelaku asusila dan dipermalukan dalam sesi kritik publik?"
"Jia Ping, kamu menjebakku, kamu pasti akan mati mengenaskan!" Jiang Ran tentu tidak ingin menyerah begitu saja pada takdir. Ia memasang ekspresi sangat menyedihkan dan berkata, "Akulah yang ditindas oleh Jia Ping. Hari ini dia memanggilku keluar dengan alasan ada urusan penting, tapi begitu sampai di sini dia malah berbuat tidak senonoh. Sebagai seorang perempuan, tenagaku tidak sebanding dengannya. Saat aku meronta, pakaianku sampai robek, dan kebetulan Bibi Liu bersama yang lain melihat kejadian itu..."