Bab 50: Bertamu ke Rumah Orang
Kantor Presiden Direktur Perusahaan Ruitong.
Xie Yuan mengeluarkan naskah final wawancara dari tas selempangnya, lalu menyerahkannya kepada pria di seberang meja kerja. “Tuan Yin, silakan Anda lihat dulu, jika tidak ada masalah, akan kami terbitkan Senin depan.”
Tanpa terburu-buru membacanya sekilas, Yin Zhaowei menerima dan membacanya dengan saksama, kemudian mengajukan beberapa perubahan kecil. Setelah menaruh naskah tersebut, ia berkata, “Kita tetapkan saja seperti ini. Terima kasih atas kerja kerasmu. Malam ini, aku yang menjamu, ayo kita makan bersama.”
Wajah Xie Yuan langsung berseri-seri, namun ia mendengar pria itu menambahkan, “Ajak semua orang dari kantor.”
Senyumnya pun sedikit kaku. “...Baik, tapi mungkin tidak semua bisa datang. Xiao Xi sudah beberapa hari izin sakit.”
Melihat ekspresi Yin Zhaowei, Xie Yuan tahu dia tidak tahu situasi sebenarnya. Xie Yuan kembali ceria dan berpura-pura terkejut. “Tuan Yin, Anda tidak kontak dengan Xiao Xi?”
Yin Zhaowei hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat telepon dan menghubungi sekretaris untuk mengatur jadwal makan malam. Tempat yang ia sebutkan semuanya adalah restoran mewah yang hanya bisa didatangi orang-orang berkantong tebal, sekadar mendengarnya saja sudah membuat hati meringis. Namun ia tetap tampil murah hati dan penuh wibawa, membuat Xie Yuan semakin kagum pada pria di depannya ini.
*****
Menjelang sore, Tang Juan yang sedang menumis sayur melirik ke arah jam dinding, menutup wajan, lalu pergi ke ruang tamu untuk menelepon putrinya.
Begitu tersambung, suaranya langsung meninggi, “Jing Xiaoxi, kamu jadi pulang makan atau tidak? Setiap hari keluyuran saja! Sama saja seperti ayahmu, sekarang rumah ini tinggal aku sendiri, begitu?!”
Dari seberang, Jing Xiaoxi bersin. “Aku sedang perjalanan pulang, sebentar lagi sampai, sebentar lagi.” Sejak ia tidak datang ke acara perjodohan yang diatur ibunya, sang ibu tak pernah lagi menunjukkan wajah ramah. Akibatnya, ia pun tidak berani berdiam diri di rumah meski sedang izin sakit, takut-takut salah langkah dan kena semprot.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Tang Juan dengan kesal menutup telepon, berjalan ke pintu dengan wajah penuh emosi. Namun begitu melihat seorang pemuda tampan membawa keranjang buah, ekspresi galaknya langsung berubah menjadi ramah dan penuh senyum. “Mau cari siapa?”
Yin Zhaowei tersenyum sopan. “Halo, nama saya Yin. Saya teman Jing Xiaoxi. Dengar kabar dia sakit, jadi saya datang menjenguk.”
Tang Juan sangat gembira. “Wah, anak yang perhatian sekali! Saya ibunya Xiaoxi. Masuk, silakan!”
Setelah mengganti sandal, Yin Zhaowei melangkah masuk ke rumah yang tidak terlalu besar tapi sangat rapi dan bersih. Foto keluarga yang dipajang di dinding tampak begitu mencolok, memperlihatkan tiga orang yang tersenyum ceria. Ia meletakkan keranjang buah, lalu menerima secangkir teh hangat dari Tang Juan. “Bibi, tak perlu sungkan. Saya datang tanpa memberi tahu Xiaoxi lebih dulu, semoga tidak mengganggu.”
“Tidak mengganggu sama sekali! Malah sangat senang!” Tang Juan duduk di sampingnya, mengamati pria itu dari ujung kepala hingga kaki. “Nak Yin, kamu bukan rekan kerja Xiaoxi, kan? Bagaimana bisa kenal dengan Xiaoxi?”
“Waktu dia liputan, kami kebetulan bertemu. Setelah itu, kadang-kadang kami masih berkomunikasi.”
“Kalau begitu, Nak Yin, kamu bekerja di bidang apa?”
“Saya usaha kecil-kecilan,” jawabnya. Melihat Tang Juan tampak ingin bertanya lebih jauh, Yin Zhaowei pun menambahkan, “Saya bergerak di bidang distribusi kosmetik. Bisnis kecil saja.”
Tang Juan sedang berpikir apakah usaha itu punya prospek, ketika terdengar suara pintu terbuka. Jing Xiaoxi yang tampak lesu masuk dan mengganti sepatu. “Ma, aku pulang.”
Melihat sepasang sepatu pria yang asing di atas keset, ia baru saja hendak bertanya, lalu mendongak dan mendapati Yin Zhaowei tengah duduk di sofa bersama ibunya.
Pria itu hanya menatap dan tersenyum tipis padanya, namun itu sudah cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Saat mengangkat satu kaki untuk melepas sepatu, Jing Xiaoxi kehilangan keseimbangan, terhuyung, dan akhirnya kepalanya membentur lemari sepatu di samping.
[Selamat libur panjang~~]