038 Percakapan Ayah dan Putri
Begitu memasuki gerbang kompleks, Jing Xiaoxi baru melangkah beberapa langkah ketika tiba-tiba melihat dua orang di bawah pohon tak jauh dari sana menatapnya lekat-lekat. Ia terkejut, dan setelah memperhatikan dengan saksama, barulah ia menyadari bahwa itu adalah kedua orang tuanya.
Saat pulang berjalan-jalan bersama suaminya, Tang Juan langsung melihat dari kejauhan putrinya sedang bersama seorang pria. Penemuan itu membuatnya bersemangat, segera saja ia menarik suaminya bersembunyi di bawah pohon untuk mengamati.
Menyangka putrinya punya perkembangan asmara, Tang Juan pun bertanya bertubi-tubi, “Xiaoxi, siapa pria tadi? Pacarmu? Sudah berapa lama kalian berhubungan? Kerja apa dia?”
Jing Xiaoxi melirik ibunya yang begitu bersemangat, lalu berkata, “Nggak kenal, dia cuma tanya arah jalan.”
“Orang hanya tanya jalan kok ngobrol lama banget!” Mendengar jawaban itu, Tang Juan jadi kesal, “Lihat diri kamu, sudah sebesar ini masih santai aja! Xiao Nan saja sudah pernah bawa pacar ke rumah, kamu kok belum!”
Sambil memijat telinganya, Jing Xiaoxi buru-buru menarik lengan ayahnya dan berbisik, “Tolong, bantu aku.”
Jing Zhiyong pun bekerja sama, menunjuk ke arah tak jauh dari sana sambil berkata pada istrinya, “Bukankah kamu mau ketemu Direktur Wu? Tuh, dia lagi jalan-jalan sama anjingnya di sana.”
Tang Juan melirik ke arah yang ditunjuk, lalu menunjuk putrinya sambil menggeleng kecewa dan berbalik pergi.
Jing Xiaoxi menggandeng lengan ayahnya, lalu menghela napas panjang.
“Benar bukan pacarmu?” tanya sang ayah, mengangkat alis.
“Kalau iya, buat apa bohong?”
Ayahnya tersenyum, “Kalau memang ada yang baik, kamu juga harus pandai-pandai memanfaatkan kesempatan. Ibumu bilang belum pernah lihat kamu pacaran, sampai-sampai mau bawa kamu ke psikolog.”
Jing Xiaoxi hanya tersenyum.
Menatap putrinya, Jing Zhiyong ragu-ragu bertanya, “Xiaoxi, apa kamu… masih memikirkan Renzhen?”
Jing Xiaoxi menatap ayahnya, mulutnya mengatup, lalu menjawab pelan, “Tak sepenuhnya… Tapi aku memang sudah bersama dia sejak kecil, rasanya tak ada satu pun yang bisa cocok sepertinya.”
Jing Zhiyong mengelus kepala putrinya dan menghela napas, “Lupakan saja dia, dia sudah tiada.”
Jing Xiaoxi tak menjawab, hanya memeluk lengan ayahnya dan berjalan maju.
“Aneh juga, pria yang tanya arah di gerbang tadi, kenapa rasanya aku familiar dengan sosoknya?” gumam Jing Zhiyong. Jing Xiaoxi diam-diam terkejut, lalu mendengar sang ayah melanjutkan, “Belakangan ini di sekitar sini sering terjadi pencurian di supermarket, jangan-jangan itu pencuri yang lagi survei lokasi—Kamu hati-hati ya, besok akan aku minta polisi patroli lebih sering di sini.”
Jing Xiaoxi mengangguk di dada ayahnya. Jing Zhiyong mencium aroma dari tubuh putrinya, “Kenapa kamu seperti habis minum alkohol?”
“Oh… barusan makan dengan teman kantor, minum sedikit.”
“Nanti kalau ibumu dengar, pasti kamu dimarahi lagi—Tahu nggak kenapa dia cari Direktur Wu? Dia dengar keponakannya jadi dosen di universitas, masih lajang, langsung berusaha mengenalkan kamu!”
Jing Xiaoxi hanya bisa mengangkat tangan, tanda menyerah.
Tadi, saat mendengar ayahnya berkata ‘Renzhen sudah tiada’, rasa sedih yang dalam muncul dari lubuk hatinya. Sudah begitu lama berlalu, namun setiap kali teringat orang itu, ia tak bisa menahan diri dari rasa pilu dan kehilangan. Kepergiannya begitu mendadak, sampai sekarang pun ia masih sulit menerima. Kadang saat berjalan di sudut jalan, ia membayangkan bahwa begitu berbelok, ia akan bertemu dengannya.
Di saat yang sama, ayahnya juga telah mengingatkannya, dengan Yin Zhuowei, biarlah pertemuan mereka sekadar pertemuan singkat. Mereka sudah tahu masing-masing berdiri di posisi yang bertentangan, terlalu dekat hanya akan membawa masalah.
(Mungkin hari ini masih akan ada satu bagian lagi, aku mau pikir-pikir dulu bagaimana caranya Zhuoge muncul~)