Bab Lima Puluh Enam: Melepaskan Gunung Gaoshan

A Fragrância dos Dez Li A paixão de Xi Shi 2486kata 2026-07-31 21:35:33

Wei Qinglan, yang masih beraroma air dan sedikit basah, dipanggil keluar kamar oleh Jiang Lisheng.

Jiang Lisheng menatap penampilannya, lalu mengerjap, "Kakak Senior Wei, Kamu... baru saja mandi?"

Wei Qinglan mengangguk, "Ada apa memanggilku?"

Jiang Lisheng memperhatikannya lekat-lekat lagi. Ia membatin dalam hati apakah kamarnya sendiri memiliki kolam pemandian, karena ia juga berencana untuk segera membersihkan diri. Selama ini pun ia merasa teknik pembersihan tidak sebersih dan senyaman air mengalir. Ia mengacungkan jarinya, "Berikan teknik pembersihan pada Shangu, kalau tidak ia akan mengotori kapal terbangmu."

Wei Qinglan mengikuti arah telunjuknya ke bawah kapal terbang. Shangu tampak kotor, menggigit Tibei di tengah terpaan angin dan hujan aneh, menunggu dengan patuh. Pria itu mengibas tangannya secara santai dan merapal mantra pembersih pada makhluk itu. Sebuah kubah energi spiritual melingkupinya dan seketika mengangkatnya naik ke atas kapal terbang.

Begitu tubuhnya bersih, Shangu menumpuk Tibei di kaki Jiang Lisheng dan mendengus tidak puas kepadanya, "Sebanyak ini sudah cukup, kan? Aku kelelahan."

"Cukup, cukup, kamu memang sangat bisa diandalkan," puji Jiang Lisheng tanpa ragu, "Teruslah ke timur, masih ada banyak gunung dan banyak benda bagus. Nanti kamu turun lagi untuk mengambilnya."

Shangu melotot.

"Aduh, bukankah sudah kubilang kalau aku ini sangat miskin? Mulai sekarang kalau kamu ikut denganku, aku miskin berarti kamu juga miskin. Kita berdua sudah sekmiskin ini, bagaimana bisa kamu tidak lebih giat? Setelah mendapatkan benda-benda bagus, sebagian bisa kita simpan untuk dipakai sendiri, dan sebagian lagi bisa kita jual. Nanti kalau sudah punya uang, kita bisa membeli makanan." Abak-abak sempoa di dalam hati Jiang Lisheng berderik nyaring saat ia mencuci otak makhluk itu.

Shangu memikirkannya dan merasa ada benarnya juga. Namun, merepotkan sekali, apakah Wei Qinglan akan setuju? Ia menoleh untuk menatap Wei Qinglan.

Jiang Lisheng juga teringat bahwa berhenti dan jalan terus-menerus ini sungguh merepotkan, lalu ia beralih memandang Wei Qinglan, "Kakak Senior Wei, benda-benda bagus yang dikumpulkan Shangu ini, sebagian juga milikmu."

Wei Qinglan mengangguk, lalu berjalan kembali ke kamarnya, "Panggil saja aku jika ada apa-apa."

Jiang Lisheng memasang senyum cerah, "Baiklah."

Ia memasukkan Tibei ke dalam kantong penyimpanan. Sambil memasukkannya, ia berbisik kepada Shangu yang sedang terengah-engah dan berbaring di dek kapal, "Dengan situasiku sekarang, aku harus mengandalkan Kakak Senior Wei dalam segala hal. Karena terlalu sering, kulit wajahku jadi menebal dan rasa sungkan pun sudah hilang. Duh, kalau guruku sampai tahu, dia pasti akan memarahiku setengah mati. Sebelum aku pergi ke Kunlun, dia sudah memperingatkanku dengan tegas agar tidak membuat masalah, apalagi mencari-carinya."

Ia menghela napas pelan, "Bukannya aku sengaja mencari-cari masalah, tapi sekarang hanya dia yang bisa mengurusku. Mau bagaimana lagi? Siapa suruh orang yang menemukan Gunung Kushan dan menyelamatkanku adalah dia, bukan guruku? Ini tidak bisa disalahkan padaku, kan?"

Shangu tidak ingin berbicara.

Jiang Lisheng sebenarnya juga tidak berharap Shangu akan menanggapi. Setelah selesai membereskan Tibei, ia duduk bersandar di tepi lambung kapal terbang, lalu menusuk-nusuk telinga Shangu dengan jarinya dan melanjutkan bisiknya, "Jika Pemimpin Sekte Qin dari Kunlun tahu bahwa selama masa pertapaannya aku malah menjadi beban bagi murid kesayangannya, dia pasti akan menyesal karena telah menyetujui permintaan guruku untuk menampungku di Kunlun. Kurasa, setakat tiba di Gunung Dayu nanti, jika kita menemukan alam rahasia, aku terpaksa harus terus merepotkan Kakak Senior Wei lagi. Tapi jika alam rahasia itu tidak ditemukan, aku akan memintanya untuk mengirimku kembali ke Qingxu saja. Setelah ini, kalau tidak ada turnamen besar, aku juga tidak akan bisa menemuinya. Dengan begini, aku dianggap tahu diri, benar kan?"

Shangu tidak mengerti bagaimana seorang gadis muda bisa begitu banyak bicara, "Terserah apa katamu, sudahlah jangan dilanjut. Ini kapal terbang milik orang lain, bukan milikmu. Jika dia tidak menutup panca inderanya, apa pun yang kamu katakan pasti bisa kudengar dengan jelas, sepelan apa pun itu tidak ada gunanya."

Jiang Lisheng seketika terdiam.

Ia menatap Shangu; sendirian begini rasanya ia bahkan kalah paham dibanding seekor babi.

"Dia tadi baru mandi separuh jalan, lalu sepertinya kembali ke kamar untuk melanjutkan mandinya. Saat mandi, dia pasti takut kamu dengar, jadi dia memasang perisai di kamarnya. Tapi sekarang mandinya sudah selesai." Shangu meliriknya sekilas, menyiratkan arti: apa yang baru saja kamu katakan tadi kemungkinan besar tidak didengarnya, tapi lain kali jangan bicara sembarangan lagi.

Jiang Lisheng mengerti, lalu mengulurkan tangan untuk menusuk kepala Shangu, "Tidak kusangka memelihara makhluk sepertimu ini ada gunanya juga."

Shangu menghindari cakarnya, "Pergi sana!"

Perjalanan ke timur dilanjutkan sejauh lima puluh dua li hingga tiba di Gunung Fanggao. Jiang Lisheng tahu bahwa di gunung ini tumbuh sejenis pohon bernama pohon Meng. Daunnya menyerupai pohon Huai, berbunga kuning, dan tidak berbuah. Orang yang memakannya tidak akan dilanda keraguan. Keraguan seperti apa yang dimaksud, Jiang Lisheng sendiri tidak tahu. Apakah artinya pikiran menjadi jernih dan tenang? Hati menjadi terang? Ia juga ingin mencobanya.

Oleh karena itu, ia meminta Wei Qinglan untuk menghentikan kapal terbang, lalu menyuruh Shangu pergi memetiknya. Ia berpesan, "Di gunung ini ada penjaga gunung bernama Wenwen. Bentuknya menyerupai lebah, ekornya bercabang, lidahnya terbalik, dan suka memanggil-manggil. Buku-buku kuno tidak mencatat kemampuan khususnya, tetapi karena mirip lebah, ia mungkin bisa menyengat dan memiliki racun. Pergilah mencurinya secara diam-diam, jangan berkelahi dengannya agar kepalamu tidak bengkak disengat. Jika racunnya terlalu parah dan kamu keracunan, aku terpaksa harus merepotkan Kakak Senior Wei untuk mengobatimu. Tenaga spiritualnya itu bukanlah didapat secara cuma-cuma, dia sudah banyak menghabiskannya demi aku. Bersikaplah pengertian, jangan biarkan dia membuang tenaga lagi karenanya. Jika kamu tidak patuh dan pulang dengan kepala penuh bengkak, selama kamu tidak mati disengat, aku tidak akan membiarkannya mengobatimu."

Mendengar itu, Shangu mengamuk dan seketika merasa hidup ini tidak adil. "Aku tidak pernah mencuri, lalu kamu menyuruhku mencuri? Aku lebih baik berkelahi dengannya, aku ini bukan pengecut."

Ia merasa tidak puas, "Hanya kamu saja yang layak diobati olehnya, begitu? Demi kamu, dia menghabiskan sebagian besar tenaga spiritualnya. Bahkan ketika tenaga spiritualnya masuk ke dalam lautan spiritualmu bagaikan batu yang tenggelam di dasar laut, selama kamu tidak sadarkan diri pun dia tetap mentransfer tenaga spiritual untukmu setiap dua hari sekali. Kenapa giliran aku, hal itu dianggap tidak boleh disia-siakan? Apakah kamu manusia?"

Jiang Lisheng menatap pintu kamar Wei Qinglan yang tertutup rapat dengan perasaan rumit. Ia menduga tenaga spiritual pria itu terkuras terlalu parah sehingga kini ia mengurung diri di dalam kamar untuk berkultivasi dan memulihkan diri, bukan? Kalau begitu, apakah tindakannya yang berulang kali meminta kapal terbang berhenti dan mengganggunya ini merupakan hal yang benar?

Atau, batalkan saja pemetikan daun itu? Lagipula, benda-benda itu bukanlah sesuatu yang harus didapatkan mati-matian.

Saat ia sedang berpikir demikian, kapal terbang berhenti. Suara Wei Qinglan yang tenang terdengar dari dalam kamar, ditujukan kepada Shangu, "Pergilah!"

Shangu mendengus ke arah Jiang Lisheng dengan kesal, lalu melompat turun dari kapal terbang dengan penuh amarah.

Jiang Lisheng menatap pintu kamar yang tertutup rapat itu, merasa seluruh tubuhnya tidak nyaman. Sesaat kemudian, ia tidak dapat menahan diri untuk berjalan ke depan pintu yang tertutup rapat tersebut dan memanggil, "Kakak Senior Wei, apa kamu baik-baik saja?"

Suara Wei Qinglan menyahut, "Baik. Ada apa?"

Jiang Lisheng menggaruk kepalanya, "Apa yang sedang kamu lakukan? Sedang berkultivasi? Aku terus-menerus menyuruhmu menghentikan kapal terbang, apa itu sangat merepotkan dan mengganggumu?"

"Tidak merepotkan, tidak mengganggu, dan aku tidak sedang berkultivasi." Wei Qinglan langsung mengibaskan tangannya untuk membuka pintu kamar. Namun, ia tidak berdiri di ambang pintu, melainkan berbaring santai di atas ranjang empuk di dalam kamar. Di tangannya tergenggam buku pedoman pedang yang dibacanya tadi. Ia mengangkat pandangannya menatap gadis itu, "Aku hanya sedang mempelajari pedoman pedang."

Sekilas Jiang Lisheng melihat penataan di dalam kamarnya: meja, kursi, tempat tidur, dupa, meja teh, ranjang empuk, dan bantal sandaran semuanya tersedia lengkap, tertata dengan elegan dan rapi. Pria itu sendiri berbaring dengan malas dan santai. Jika Jiang Lisheng tidak tahu identitas aslinya dan bahwa kini ia berada di kapal terbang miliknya, sekilas ia akan mengira pria ini adalah tuan muda dari keluarga bangsawan terpandang di dunia fana.

Sangat pemilih dan memerhatikan detail. Sikapnya yang seperti ini sungguh bertolak belakang dengan aturan ketat, kaku, dan penuh disiplin mengenai cara berdiri, duduk, berbaring, serta tekad berkultivasi yang dituntut oleh sekte keabadian Kunlun.

Ia juga tidak tahu bagaimana pria itu tumbuh besar di Kunlun di bawah aturan yang begitu keras hingga bisa menjadi orang seperti ini. Sikapnya di balik pintu tertutup ini sangat berbeda jauh ketika ia berada di hadapan orang banyak.