Bab Empat Puluh Dua: Jimat Ilusi Tersembunyi
Jiang Lisheng telah dikejar oleh Shanguo selama tiga hari tiga malam, dan kini ia merasa sangat lelah sekaligus mengantuk.
Ia terduduk karena tak lagi sanggup bertahan, lalu bertanya kepada Chen Liuan, "Kakak Senior Chen, berapa lama jimatmu ini bisa mengurung keparat itu?"
Melihat Shanguo terus berputar dan menubruk ke sana ke mari, sementara jimat itu terombang-ambing di pantatnya, Chen Liuan sendiri tidak begitu yakin berapa lama jimat itu bisa bertahan sebelum terlepas. "Menurut akal sehat, seharusnya bisa mengurung selama satu jam, tetapi makhluk ini terlalu ganas, aku juga tidak tahu pasti."
Ia balik bertanya kepada Jiang Lisheng, "Kau tadi bilang makhluk ini adalah Shanguo?"
Jiang Lisheng mengangguk. "Kau lihat penampilannya, bukankah sangat mirip dengan catatan mengenai Shanguo di dalam Kitab Monster?"
Chen Liuan menggaruk-garuk kepalanya dengan rasa canggung. "Aku tidak membaca tuntas Kitab Monster, jadi aku tidak begitu paham tentang banyak jenis monster. Sebelum berangkat, aku hanya mempelajari dengan teliti catatan para sesepuh sekte mengenai berbagai roh jahat yang mereka temui saat keluar masuk alam rahasia pegunungan aneh. Namun, sepertinya tidak ada makhluk ini di dalam catatan para sesepuh."
Jiang Lisheng menghela napas. "Makhluk ini berasal dari Gunung Ku. Alam rahasia pegunungan aneh yang kita masuki ini, seharusnya berada di Gunung Dawei, bukan? Saat aku pertama kali bertemu dengannya, aku juga merasa sangat kebingungan."
Ia melanjutkan dengan nada tak berdaya, "Jika ingatanku tidak salah, jarak antara Gunung Ku dan Gunung Dawei adalah lebih dari lima ratus kilometer. Bagaimana kita bisa terjatuh ke tempat ini?"
"Ah?" Chen Liuan terkejut. "Lalu, bagaimana ini bisa terjadi?"
Jiang Lisheng menggelengkan kepala. "Aku juga tidak tahu. Aku sudah terjatuh ke dalam hutan mati ini selama tiga hari, dan dikejar-kejar oleh keparat itu selama tiga hari penuh. Kecepatan terbang pedangku tadi kau lihat sendiri, tidak lambat, bukan? Tetapi selama tiga hari, aku tetap tidak bisa keluar dari hutan mati ini."
Chen Liuan mengangguk. "Aku juga terjatuh ke sini dan sudah berada di sini selama tiga hari. Namun, selama tiga hari ini, aku bahkan tidak melihat seekor tikus pun. Untunglah sekarang aku bertemu denganmu, Adik Perguruan Jiang. Kalau tidak, aku pasti sudah mulai menebang pohon-pohon di sini."
Jiang Lisheng juga merasa bersyukur karena telah bertemu dengannya. Jika tidak, ia pasti masih lari tunggang langgang tanpa sempat beristirahat. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan berkata, "Jadi, Kakak Senior Chen tadi berniat menebang pohon. Hutan mati yang ujungnya tidak kelihatan ini, butuh waktu berapa lama untuk ditebang habis?"
"Aku juga tidak tahu, tetapi kita tidak boleh hanya diam saja dan terus terkurung di sini." Chen Liuan juga telah berputar-putar selama tiga hari tanpa bisa keluar. Sekarang, setelah mendengar bahwa Jiang Lisheng telah menggunakan pedang terbangnya untuk melarikan diri selama tiga hari tiga malam namun tetap gagal keluar, ia langsung merasa bahwa menebang pohon pun mungkin hanya akan membuatnya kelelahan sampai mati tanpa hasil.
"Hah," Jiang Lisheng menghela napas. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Yang terpenting saat ini adalah membunuh keparat itu terlebih dahulu." Chen Liuan menatap Shanguo yang masih terus-menerus memarahi mereka, lalu bertanya, "Adik Perguruan Jiang, di dalam Kitab Monster yang kau baca, apakah tertulis di mana kelemahan makhluk ini dan bagaimana cara membunuhnya?"
Jiang Lisheng kembali menghela napas. "Ada catatannya. Konon pada zaman purba, Kaisar Ku sedang dalam perjalanan dan berpapasan dengan seekor makhluk seperti ini. Ia juga memaki-maki orang dengan kata-kata kotor, lalu akhirnya digigit hingga mati oleh Panhu, anjing peliharaan Kaisar Ku. Masalahnya, kita tidak punya Panhu."
Chen Liuan mendesah kecewa. "Zaman purba... kenapa makhluk seperti ini masih hidup sampai sekarang?"
Ia bahkan tidak berani membayangkannya lebih jauh. "Sekalipun ada Panhu, sepertinya tidak akan berhasil. Anjing zaman purba juga makan manusia, kan?"
Jiang Lisheng mengangguk. "Sepertinya begitu!"
"Ayo kita pergi!" kata Chen Liuan dengan tegas. "Adik Perguruan Jiang, karena kita tidak bisa membunuhnya, kita harus memanfaatkan waktu selagi jimat itu masih bisa mengurungnya untuk segera kabur."
Seluruh tubuh Jiang Lisheng terasa lelah, tetapi nyawa jauh lebih berharga. Ia merasa apa yang dikatakan Chen Liuan masuk akal, lalu segera berdiri. "Benar, ayo pergi. Kakak Senior Chen, mari kita lari."
"Berani sekali kalian lari? Sialan, ahhhhh, lepaskan aku!" Shanguo menjadi panik begitu melihat mereka hendak kabur.
Chen Liuan menarik napas dalam-dalam dan tidak dapat menahan rasa amuknya. "Keparat, suatu hari nanti Karto ini akan membunuhmu."
"Sialan, akan kumakan kau, akan kuoyok-oyok kau!"
"Keparat, akan kupetik kulitmu, kuambil uratmu, lalu kucemplungkan ke dalam wajan minyak panas!"
"Pengecut tak Berguna, kalau punya nyali hadapi aku! Lepaskan aku, akan kuoyok tubuhmu hidup-hidup..."
"Kelakuan buruk sekali. Baru kuberi satu jimat, kau langsung terkurung. Barang tak berguna, lagaknya saja yang sombong."
"Sialan, kalau berani jangan lari!"
"Kalau berani, teruslah mengejar, keparat..."
Jiang Lisheng melihat Chen Liuan tidak dapat menahan diri untuk membalas maki-maki makhluk itu. Setelah terdiam sejenak, ia terbatuk pelan. "Kakak Senior Chen, ayo pergi. Jangan menyamakan diri dengan binatang."
"Iya, iya, iya, Adik Perguruan Jiang, ayo jalan." Chen Liuan merasa malu. Ia tidak menyangka hampir terpengaruh oleh keparat itu hingga tertular sifat buruknya.
Kedua orang itu segera melompat ke atas pedang terbang mereka dan kabur tergesa-gesa.
Shanguo menjadi sangat marah hingga sekujur tubuhnya seolah mengepulkan api. Sumpah serapahnya menggelegar seperti petir, tetapi ia hanya bisa menonton kedua orang itu semakin menjauh.
Melihat Jiang Lisheng terus melesat maju tanpa menoleh, Chen Liuan yang terbang di belakangnya bertanya, "Adik Perguruan Jiang, ke arah mana kita menuju sekarang? Apakah arah kita sudah benar?"
"Ke timur, terus ke arah timur. Jika tempat ini benar-benar Gunung Ku, kita hanya bisa pergi ke timur jika ingin menuju ke Gunung Dawei," jawab Jiang Lisheng dengan suara lantang.
Chen Liuan mengerti, lalu membalas dengan suara keras pula, "Aku ikuti keputusanmu!"
Kecepatan terbang pedang mereka tidak bisa dikatakan lambat, tetapi setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, Chen Liuan merasakan punggungnya mendadak sangat panas. Hawa panas yang menderu datang menerpa, membuatnya merasa ada yang tidak beres. Ia pun menoleh dengan tiba-tiba dan langsung terkejut bukan kepalang. "Adik Perguruan Jiang, keparat itu mengejar kita!"
Jiang Lisheng ikut terkejut. Ia langsung menoleh ke belakang, lalu membelalakkan matanya dengan ngeri seraya berseru, "Kakak Senior Chen, kecepatan keparat itu sepertinya meningkat dua kali lipat! Ia... ia... ia telah naik tingkat!"
"Cepat lari!" bentak Chen Liuan.
"Aku sudah tidak bisa berlari lebih cepat lagi."
"Aku punya Jimat Angin Cepat." Usai berkata demikian, ia langsung menempelkan selembar Jimat Angin Cepat ke gagang pedang Jiang Lisheng dengan gerakan cepat.
Kecepatan Jiang Lisheng seketika meningkat dua kali lipat.
Chen Liuan lantas buru-buru menempelkan satu lembar lagi pada pedangnya sendiri, membuat kecepatannya juga ikut meningkat dua kali lipat.
Jiang Lisheng hampir menangis terharu. "Kakak Senior Chen, berapa lama Jimat Angin Cepat milikmu ini bisa bertahan?"
"Satu jam."
Jiang Lisheng berseru keras, "Berapa banyak jimat seperti ini yang masih kau punya?"
"Hanya tinggal dua lembar."
Jiang Lisheng terdiam.
"Aku masih punya jenis jimat yang lain, tetapi tidak ada satupun yang bisa membunuhnya. Sekalipun digunakan, efeknya paling-paling hanya bisa bertahan selama satu jam seperti sekarang." Chen Liuan menduga-duga, "Meskipun makhluk ini bentuknya mirip babi, sepertinya ia punya hidung anjing. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia bisa melacak dan mengejar kita sejauh ini?"
"Penciumannya memang sangat tajam." Di antara mereka berdua, Jiang Lisheng adalah orang yang paling merasakan kepedihan karena dikejar-kejar tanpa bisa melepaskan diri selama tiga hari. Ia merasa jika keadaan ini dibiarkan, mereka berdua pasti akan berakhir dimakan oleh makhluk itu, maka ia pun berseru, "Kakak Senior Chen, mendekatlah padaku."
Chen Liuan langsung mengarahkan pedangnya untuk mendekat.
Begitu Chen Liuan berada dekat, Jiang Lisheng mengeluarkan selembar jimat lagi dan menempelkannya ke tubuh pria itu, lalu dengan cepat menempelkan satu lembar lagi ke tubuhnya sendiri. Menghabiskan dua lembar jimat sekaligus membuat hatinya terasa sangat sakit. Ia menggertakkan gigi dan berkata, "Kakak Senior Chen, makhluk ini sangat cerdas. Mulai sekarang, jangan bersuara, ikuti aku."
Selesai berkata demikian, ia tiba-tiba membelokkan arah pedangnya dan melesat pergi ke utara.
Chen Liuan memberi tanggapan singkat, lalu tanpa berpikir panjang langsung mengarahkan pedangnya mengikuti di belakang Jiang Lisheng.
Beberapa saat kemudian, Chen Liuan dengan wajah penuh keheranan melihat Shanguo ternyata tidak mengejar ke arah mereka, melainkan terus meraung, mengamuk, dan memaki-maki sambil melesat pergi ke arah timur. Ia sempat membuka mulutnya, namun tidak berani bersuara, dan hanya bisa patuh mengekor di belakang Jiang Lisheng sambil berlari ke utara dalam diam.
Setelah berlari beberapa saat, Jiang Lisheng kembali membelokkan arah ke barat, praktis menuju ke arah yang berlawanan dengan Shanguo.
Terus berlari selama satu jam penuh hingga masa berlaku Jimat Angin Cepat di pedang mereka habis, Jiang Lisheng baru merasa aman dan akhirnya membuka suara, "Kakak Senior Chen, sekarang sudah boleh bicara."
Chen Liuan yang sudah menahan diri sejak lama langsung bertanya, "Adik Perguruan Jiang, jimat apa sebenarnya ini? Keparat itu bahkan tidak menyadari keberadaan kita dan terus mengejar ke timur. Kenapa aku belum pernah melihatnya seumur hidupku? Sungguh luar biasa!"
"Ini adalah salah satu jenis jimat menghilang yang telah ditambahi dengan ilmu ilusi, dinamakan Jimat Ilusi Penghilang Wujud."
Chen Liuan mendadak paham. "Jimat ini hebat sekali! Di mana kau membelinya?"
Mendengar pujian itu, Jiang Lisheng merasa senang. "Aku buat sendiri."
Chen Liuan tertegun.