Bab 10: Memperkenalkan Pasangan
Ning Weidong berpikir panjang, menyadari bahwa urusan ini tak mungkin ia selesaikan sendiri, ia harus mencari teman untuk bekerja sama.
Dalam benaknya, tiba-tiba terlintas satu nama seseorang.
Namun pada saat itu juga, suara dari luar terdengar.
Ning Weidong pun buyar dari lamunannya.
Wang Yuzhen baru saja menaruh sepeda di luar, lalu masuk ke rumah, sibuk melepas mantel, dan langsung menuju dapur untuk memasak. Namun tiba-tiba ia berseru, “Aduh,” sambil membawa panci nasi keluar, “Weidong, kamu sudah mencuci berasnya?”
Ning Weidong tersenyum lebar, “Aku belum pernah masak nasi, jadi tak tahu harus pakai air seberapa banyak, takut nasinya malah jadi keras.”
Sebelum menyeberang waktu, ia sudah terbiasa memakai rice cooker listrik, memasak nasi dengan api kompor memang tak biasa bagi kebanyakan orang.
Wang Yuzhen hanya tersenyum tipis, lalu berbalik kembali ke dapur.
Ia memang perempuan yang cekatan, segala sesuatu dilakukan dengan gesit. Dari masuk rumah sampai hidangan siap disantap, semua tak lebih dari empat puluh menit.
Nasi hari itu terbuat dari beras jagung, lauknya tumis taoge dengan irisan sayur asin yang dimasak dengan minyak hewani, dan satu piring telur orak-arik dengan daun bawang.
Menjelang makan malam, Ning Lei pulang terburu-buru dari luar.
“Ma, malam ini makan apa?” Begitu masuk rumah, ia seperti anak yang kelaparan, langsung menuju pintu dapur.
Begitu melihat telur orak-arik daun bawang, ia langsung ingin mencuil sepotong.
Namun Wang Yuzhen melirik tajam, lalu membentak, “Cuci tangan dulu!”
Ning Lei memang tidak takut ayahnya, tapi selalu patuh pada ibunya. Ia pun menurut, menggulung lengan baju lalu mencuci tangan.
“Cuci yang bersih, pakai sabun!” Wang Yuzhen langsung menebak niat Ning Lei yang hanya ingin membasahi tangan sekadarnya.
Ning Lei pun tak punya pilihan, mengambil sabun batang di dekat keran, wajahnya seperti menanggung kerugian besar hanya karena harus mencuci tangan dengan sabun.
Selesai, ia hendak mengelap tangan ke baju, tapi Wang Yuzhen mengancam, “Berani-beraninya dilap ke baju, awas saja nanti!”
Tangan Ning Lei yang tinggal dua sentimeter lagi mendarat di baju langsung berhenti. Ia berkedip-kedip, dalam hati curiga apakah ibunya punya mata di belakang kepala, lalu lesu pergi mengambil handuk untuk mengelap tangan.
Saat itu, Ning Weidong sedang mengambil tahu fermentasi dari kendi kecil dengan sumpit.
Ning Weiguo, begitu sampai rumah, langsung masuk ke kamar, sepertinya ada berkas dari kantor yang harus segera ia tulis.
Wang Yuzhen keluar dari dapur membawa piring, memberi tahu Ning Weidong kalau makan sudah siap, lalu memanggil Ning Weiguo dari dalam kamar.
Ning Weiguo menyahut, keluar dengan rambut yang acak-acakan, tampaknya memang sedang pusing menulis berkas.
Nasi jagung yang baru dimasak itu agak lengket, tumisan taoge dan sayur asin dimasak dengan minyak hewani, dan telur orak-arik daun bawang menjadi lauk andalan.
Makan malam itu tidak bisa dibilang istimewa, namun jelas bukan makan malam yang buruk.
Ning Weidong menghabiskan dua mangkuk besar nasi, namun hanya merasa kenyang tujuh puluh persen saja.
Dibandingkan dengan pemilik tubuh sebelumnya, porsi makannya memang jauh lebih besar.
Ning Lei yang paling cepat makannya, nasi langsung dimasukkan ke mulut tanpa dikunyah lama, dalam beberapa suapan saja sudah habis, lalu ia meletakkan sumpit dan berkata, “Ma, aku mau ke kamar baca komik ya.”
Belum sempat Wang Yuzhen bicara, ia sudah melesat pergi.
Ning Weidong pun mempercepat makan, menghabiskan isi mangkuknya, lalu berkata, “Kak, aku mau keluar sebentar, boleh pinjam sepedanya?”
Ning Weiguo sempat tertegun, “Mau ke mana malam-malam begini?” Namun sambil bertanya ia sudah mengambil gantungan kunci dari pinggangnya.
Ning Weidong tersenyum, “Mau main ke rumah teman sekolah, sebentar lagi juga pulang.”
Ning Weiguo menyerahkan kunci, tanpa menanyakan teman yang mana.
Wang Yuzhen juga diam saja, menunggu Ning Weidong benar-benar keluar, baru ia bertanya, “Tadi waktu masuk, Pak Tua Lu di depan sana cari kamu, ada urusan apa?”
Dulu, demi memperkuat keamanan, di setiap kompleks perumahan tua di Beijing selalu ada petugas keamanan lingkungan.
Mirip seperti sistem jaga malam zaman kuno, bekerjasama dengan dewan militer dan kelurahan, khusus menangani aktivitas musuh negara yang dulu marak.
Beberapa tahun belakangan, hubungan dengan Amerika mulai mencair, situasi eksternal lebih longgar, jadi kampanye keamanan itu pun perlahan ditinggalkan.
Pak Lu dulunya adalah petugas keamanan lingkungan di kompleks depan, sebelum pensiun ia adalah tukang besi tingkat tujuh di Pabrik Baja Bintang Merah.
Pada masa itu, di seluruh pabrik hanya ada dua tukang tingkat delapan, dan tingkat tujuh saja sudah cukup terpandang di bengkel.
Sekarang meski sudah pensiun, di kompleks ia tetap disegani, selalu siap membantu kalau ada keluarga yang butuh.
Tadi waktu masuk, Pak Lu sempat menghadang Ning Weiguo, tapi Wang Yuzhen buru-buru pulang untuk memasak.
Ning Weiguo mengunyah beberapa suap nasi, lalu menjawab, “Bukan Pak Lu, tapi Bu Lu…”
“Bu Lu?” Wang Yuzhen terkejut, “Beliau cari kamu untuk apa?”
Ning Weiguo mengambil sejumput sayur asin, “Itu lho, si Bungsu, adiknya Bai Fengyu, pagi tadi kamu lihat sendiri kan…”
Wang Yuzhen cepat tanggap, langsung mengerti, “Bai Fengyu minta tolong Bu Lu buat menjodohkan adiknya dengan si Bungsu?”
Ning Weiguo mengangguk, “Iya, maksudnya begitu.”
Wang Yuzhen mengangkat alis, “Kamu sudah mengiyakan?”
Ning Weiguo buru-buru menggeleng, “Masa iya, urusan sebesar ini, aku berani mengiyakan tanpa diskusi sama kamu?”
Wang Yuzhen menggigit bibir, melirik ke suaminya, “Dasar, ngomongnya kayak aku galak saja.” Meski mulutnya berkata begitu, hatinya justru senang. Namun begitu mengingat adik Bai Fengyu, ia kembali serius dan merenung, “Pagi tadi sempat lihat, memang anaknya cantik.”
Meskipun ia kurang dekat dengan Bai Fengyu, ia tetap obyektif. Bai Fengqin itu tinggi, cantik, dan masih SMA.
Bisa masuk SMA saja sudah membuktikan ia anak cerdas.
Satu-satunya kekurangan adalah dia adik Bai Fengyu.
Tapi Wang Yuzhen tidak buru-buru memutuskan, ia bertanya, “Keluarganya gimana?”
Ning Weiguo menghela napas, “Nasibnya juga malang, ayahnya sudah lama tiada, ibunya baru saja meninggal tahun lalu, di atasnya ada kakak laki-laki…”
Wang Yuzhen mengangkat alis, menyela, “Hubungannya kurang baik dengan kakak dan kakak iparnya?”
Sebenarnya sudah bisa ditebak, kakak kandung dan sepupu, kalau hubungan baik, mana mungkin ia meninggalkan kakak lalu tinggal bersama sepupu.
Wang Yuzhen bergumam, seketika merasa gadis itu tidak terlalu menarik lagi.
Singkatnya, Bai Fengqin hanyalah seorang yatim piatu, jika benar menikah dengan Ning Weidong, kedua belah pihak tak punya orang tua, kelak bila punya anak pun tak ada yang membantu.
Satu lagi, statusnya sebagai pelajar SMA.
Menurut Wang Yuzhen, itu justru jadi nilai minus, bukan nilai tambah.
Beberapa bulan lagi ujian masuk perguruan tinggi, jika benar-benar lulus universitas, dengan wajah secantik itu, apakah ia mau hidup sederhana bersama adik iparnya yang polos dan lugu?
Semua pertimbangan itu berputar di benaknya, semakin merasa urusan ini tidak meyakinkan.
Tapi karena yang bersangkutan adalah Ning Weidong, dan ia hanya kakak ipar, bukan ibu kandung.
Wang Yuzhen mengungkapkan semua kekhawatirannya, lalu berkata, “Nanti setelah Weidong pulang, kamu bicara langsung sama dia, lihat sikapnya bagaimana, kalau dia setuju ya jalani saja.”
Ning Weiguo heran, “Kamu nggak melarang?”
“Kalau ini tentang Xiao Lei, dengan kondisi seperti itu, aku pasti tidak setuju, tapi Weidong…” Wang Yuzhen menghela napas, “Dia juga sudah cukup dewasa, ada beberapa urusan memang harus dia putuskan sendiri.”
Ning Weiguo mengerti maksud istrinya, terlalu banyak ikut campur malah bisa jadi musuh.