Bab Sembilan: Virus PF
Mata Rokan menyipit sedikit, secara naluriah ia melirik ke arah Zhang Shuai yang berdiri di sampingnya.
Rokan masih ingat betul bahwa Zhang Shuai sangat berambisi mengakuisisi Perusahaan Kosmetik Aimei. Jangan-jangan, sisa tiga puluh persen saham itu ada di tangan Zhang Shuai.
“Rokan... Tuan Rokan, sisa tiga puluh persen saham itu memang ada padaku. Aku akan segera meminta orang untuk menyiapkan surat peralihan sahamnya,” ucap Zhang Shuai dengan tubuh gemetar, keringat dingin mengucur deras. Ia pun buru-buru memerintahkan sekretaris wanitanya untuk segera menyusun surat peralihan saham Perusahaan Kosmetik Aimei.
Tak lama kemudian, Zhang Shuai dan Rokan pun dengan cepat menandatangani surat itu dan menyerahkannya ke tangan Lin Hanyan yang tampak masih terpaku.
“Hanyan, tandatangani saja. Mulai sekarang, Perusahaan Kosmetik Aimei ini milikmu,” kata Su Ming seraya tersenyum lembut kepada Lin Hanyan yang ada di sampingnya.
Lin Hanyan menarik napas dalam-dalam, baru kemudian tersadar. Tatapan indahnya penuh rasa terima kasih saat ia menatap Su Ming, lalu berkata tulus, “Su Ming, terima kasih.”
Setelah berkata demikian, Lin Hanyan mengambil pena di atas meja panjang dan langsung menuliskan namanya.
Di sisi lain, Lin Ao mengepalkan tangan erat-erat, menatap semua yang terjadi dengan wajah suram.
Lin Ao benar-benar tak habis pikir. Ia sudah susah payah menjual saham itu ke Changsheng Properti, tapi pada akhirnya justru Su Ming yang diuntungkan!
“Su Ming! Kau menantu keluarga Lin, atas dasar apa kau berani melawanku!” Mata Lin Ao menyipit tajam seperti serigala lapar, menatap Su Ming dengan penuh amarah. “Su Ming, dengar baik-baik, cepat atau lambat kau pasti akan kubinasakan!”
Lin Ao mendengus dingin, menepuk meja, lalu berbalik hendak keluar dari ruang rapat.
Namun Su Ming tetap duduk tenang di tempatnya dan berkata datar, “Kembali dan minta maaf.”
Langkah Lin Ao terhenti sejenak, lalu ia berbalik menatap Su Ming dengan nada mengejek, “Su Ming, kau sudah gila ya?! Kau pikir aku akan minta maaf hanya karena kau suruh?! Kau pikir punya uang berarti segalanya?!”
Raut wajah Lin Ao menegang, tubuhnya bergetar hebat. Ia meluapkan kemarahannya, “Su Ming, hari ini aku tidak akan minta maaf! Mau apa kau?!”
Lin Ao semakin terbakar amarahnya dan terus memaki Su Ming.
Su Ming hanya sedikit mengangkat kepala, lalu menatap Rokan. “Rokan, setahuku Pasar Grosir Makanan Laut Pelabuhan Sanya itu milikku, betul?”
Rokan pun menunduk hormat, menjawab, “Tuan Su, tiga tahun lalu, Pasar Grosir Makanan Laut Pelabuhan Sanya dibangun dengan dana dari Changsheng Properti. Jadi memang benar, pasar itu milik Anda.”
Mendengar itu, hati Lin Ao jadi tak tenang, ia mulai merasa tegang.
Di bawah naungan Lin Ao, ada sebuah perusahaan katering bernama Changsheng Katering. Perusahaan itulah sumber utama pendapatan Lin Ao.
Yang paling penting, Changsheng Katering berfokus pada makanan laut, dan semua pasokan makanan lautnya diperoleh secara eksklusif dari Pasar Grosir Makanan Laut Pelabuhan Sanya.
Menyadari hal itu, Lin Ao pun menatap Su Ming dengan perasaan campur aduk.
“Rokan, suruh penanggung jawab di Pelabuhan Sanya hentikan suplai makanan laut ke Changsheng Katering,” kata Su Ming santai di bawah tatapan Lin Ao.
Rokan mengangguk hormat, lalu segera menelepon penanggung jawab di Pelabuhan Sanya.
“Su Ming, tindakanmu hanya akan membuat Changsheng Katering merugi. Kerugian segitu masih bisa kutanggung!” Lin Ao menahan amarahnya, menatap Su Ming seperti serigala lapar.
Su Ming menggeleng pelan, mengeluarkan ponsel, mencari nomor Liu Kaiyuan, lalu menghubunginya, “Liu, tolong hubungi pihak bank, minta mereka segera menagih utang Changsheng Katering.”
Setelah itu, Su Ming langsung menutup telepon.
Meski sudah tiga tahun menjadi menantu keluarga Lin yang dianggap rendah, Su Ming cukup paham kondisi keluarga Lin.
Contohnya, Changsheng Katering yang selalu ingin berkembang pesat, sering meminjam uang ke bank untuk ekspansi.
Selama beberapa tahun ini, pinjaman Changsheng Katering ke bank setidaknya sudah lima hingga enam miliar.
Jika di saat seperti ini bank menagih utang, bisa-bisa Changsheng Katering akan menghadapi risiko kebangkrutan.
“Su Ming, sok hebat kau! Walau kau kaya, apa kau pikir bisa mempengaruhi bank juga?! Apa bank itu milik keluargamu?!” Wajah Lin Ao semakin menegang, marah sampai keunguan.
Tiba-tiba...
Dering telepon Lin Ao berbunyi.
Lin Ao mengernyitkan dahi, mengeluarkan ponsel dan mengangkatnya.
“Pak Lin, gawat! Tadi bank tiba-tiba menagih utang, kita tidak sanggup membayar, bank langsung membekukan dana kita. Sekarang, kita sudah mengajukan kebangkrutan.”
Suara panik terdengar dari seberang telepon.
Lin Ao mematung dengan telepon di tangan, memandang Su Ming dengan tatapan membeku. Tak lama kemudian, ia muntah darah saking marahnya dan langsung pingsan.
Hening.
Ruang rapat mendadak sunyi senyap. Pak Cao, Lili, dan yang lain menatap dengan mata terbelalak, benar-benar tak menyangka Lin Ao bisa sampai pingsan karena marah.
Beberapa saat kemudian, Lili baru mengambil ponsel dan menelepon ambulans untuk Lin Ao.
Bagaimanapun juga, kalau Lin Ao sampai meninggal di Perusahaan Kosmetik Aimei, perusahaan itu pasti akan terseret masalah.
Setelah Lin Ao dibawa ambulans, rapat pun benar-benar selesai. Su Ming baru mengeluarkan nasi goreng buatannya dan meletakkannya di depan Lin Hanyan.
“Hanyan, pasti kau lapar? Ini nasi goreng yang kubuat sendiri untukmu.” Su Ming membuka kotak makan, butiran nasi keemasan menebar aroma menggoda di depan Lin Hanyan.
Lin Hanyan tertegun sejenak, menatap Su Ming dengan penuh terima kasih, lalu berkata, “Su Ming, terima kasih. Kalau bukan karena kau, Perusahaan Kosmetik Aimei pasti sudah hancur hari ini.”
“Hanyan, aku ini suamimu, semua ini sudah seharusnya kulakukan.” Su Ming tersenyum, duduk di samping Lin Hanyan, berbicara lembut, “Sudah, makanlah nasi gorengnya dulu.”
Sambil berkata begitu, Su Ming mendorong kotak nasi goreng lebih dekat ke Lin Hanyan.
Lin Hanyan tersenyum cerah, mengangguk, lalu mengambil sendok, menciduk satu sendok nasi goreng keemasan dan memasukkannya ke mulut.
Begitu gigi Lin Hanyan menggigit butiran nasi itu, rasanya seperti ledakan kecil yang membanjiri lidahnya, membuatnya tenggelam dalam kenikmatan.
Wajah Lin Hanyan sedikit memerah, ia menikmati setiap suapan, lalu menciduk lagi dan lagi. Tak sampai satu menit, semangkuk besar nasi goreng itu sudah tandas.
“Lezat sekali.” Lin Hanyan menatap kotak makan yang kini kosong tanpa butiran nasi sama sekali, masih belum puas.
Sepanjang hidupnya, baru kali ini Lin Hanyan mencicipi makanan seenak itu.
Bahkan makanan di hotel bintang lima pun tidak bisa menandingi semangkuk nasi goreng ini!
“Su Ming, apa kau akan membuatkan nasi goreng lagi untukku?” Tatapan Lin Hanyan berbinar, memandang Su Ming, tiba-tiba bertanya.
Su Ming mengangguk sambil tersenyum, “Tentu saja.”
“Kalau begitu, ayo kita pulang sekarang. Aku mau makan nasi goreng lagi!” Lin Hanyan berdiri penuh semangat, menarik tangan Su Ming dan bergegas ke luar kantor.
Namun, baru saja mereka keluar dari ruang rapat, ponsel Lin Hanyan berdering.
Lin Hanyan menghentikan langkah, mengambil ponsel dari tas Gucci di pundaknya, dan mengangkat telepon.
“Ayah, Anda sudah pulang? Baik, saya akan menjemput Anda sekarang juga.” Setelah berbicara dengan ayahnya, Lin Hanyan menutup telepon.
“Su Ming, sepertinya hari ini aku tidak sempat makan nasi goreng buatanmu.” Lin Hanyan menyimpan ponsel, menatap Su Ming sambil berkata, “Ayahku baru saja pulang ke tanah air, temani aku menjemputnya, ya.”
Lin Hanyan mengepalkan tinju mungilnya, seakan baru saja membuat keputusan besar.
Biasanya, Lin Hanyan tidak akan pernah mengajak Su Ming bertemu dengan ayahnya, karena keluarga Lin memang tidak menyukai Su Ming.
Namun kini, setelah menyaksikan berbagai kemampuan Su Ming, Lin Hanyan merasa ayahnya perlu mengenal Su Ming lebih baik.
Lin Hanyan menggeleng pelan, menyingkirkan pikirannya, lalu menggandeng tangan Su Ming dan keluar dari kantor.
Dengan Su Ming di sisinya, Lin Hanyan masuk ke Maserati miliknya dan langsung melaju menuju Bandara Binhai.
...
Bandara Binhai terletak di pinggiran kota Binhai, sekitar 20 kilometer dari Perusahaan Kosmetik Aimei.
Lin Hanyan mengendarai Maserati dengan kecepatan tinggi, hanya butuh setengah jam untuk sampai ke bandara.
Begitu keluar dari mobil, seorang pria paruh baya berbalut mantel panjang dan mengenakan topi bundar, berjalan ke arahnya sambil menarik koper hitam.
Lin Hanyan bersandar di Maserati, pupil matanya di balik kacamata hitam bergetar menahan haru saat memandang pria paruh baya itu.
Pria itu adalah ayah Lin Hanyan, Lin Guozheng.
“Ayah!” Wajah Lin Hanyan dipenuhi senyum, ia melangkah cepat, memeluk Lin Guozheng, lalu mengambil alih koper hitam dari tangan ayahnya dan memasukkannya ke bagasi Maserati.
“Ayah, silakan masuk,” kata Lin Hanyan setelah selesai menata koper.
Begitu masuk ke mobil, Lin Guozheng baru menyadari kehadiran Su Ming di kursi belakang.
“Paman Guozheng, lama tak jumpa,” sapa Su Ming. Keluarga Lin memang tidak pernah mengakui Su Ming sebagai menantu, bahkan tak pernah mengizinkan Su Ming memanggil mereka ayah-ibu.
Karena itu, Su Ming selalu memanggil Lin Guozheng dengan sebutan Paman Guozheng.
Lin Guozheng hanya melirik sekilas, mengerutkan kening dan mengangguk, tanpa berkata banyak. Suasana di dalam mobil seketika menjadi hening.
“Ayah, bukankah ayah sedang belajar di luar negeri? Kenapa tiba-tiba pulang ke Binhai?” tanya Lin Hanyan sambil menyetir, sesekali melirik Lin Guozheng lewat kaca spion.
Wajah Lin Guozheng langsung berubah muram, ia menghela napas dan berkata, “Bencana besar terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Pertama Binhai.”
“Kemarin, beberapa dokter utama menelponku. Katanya, virus PF yang merebak lima puluh tahun lalu kini mulai menyebar lagi. Dalam sebulan terakhir saja, Rumah Sakit Umum Daerah Pertama Binhai sudah menemukan sepuluh kasus pasien virus PF.”
“Jika kita tidak segera menemukan antibodi virus PF, bukan hanya Rumah Sakit Umum Daerah Pertama Binhai, tapi seluruh kota Binhai akan kacau balau!”