Bab Sepuluh: Meminjam Mobil
"Eh, perempuan di mobil itu bukannya Chen Xin?"
"Itu pasti sudah jadi orang kaya, kan? Aku sudah bilang dari dulu, Li Xuemei itu memang dari kecil kelihatan genit, besar pasti nggak bener!"
"Iya, benar banget. Cantiknya terlalu mencolok, entah sudah menggoda berapa laki-laki!"
Para ibu-ibu di gerbang desa begitu melihat Shen Fei mengendarai mobil bersama Chen Xin, langsung berubah sikap.
"Wah, bukannya Chen Xin? Akhirnya pulang juga! Tante sudah lama nunggu kamu!"
"Tante kedua juga!"
"Tante ketiga juga sama!"
Mereka tersenyum lebar, seolah melihat dewi rejeki saat menatap Chen Xin.
Shen Fei memarkir mobil di gerbang desa, lalu bersama Chen Xin menyapa para kerabat itu.
"Chen Xin pasti mau ketemu Xuemei, kan? Yuk, kita bareng saja," ujar tante pertama Chen Xin dengan senyum ramah.
"Baik," jawab Chen Xin manis, lalu mereka berdua mengikuti para kerabat masuk ke desa.
Sepanjang jalan, para tante itu terus merayu dan berkata-kata manis kepada Chen Xin.
Chen Xin jadi malu sendiri, sementara Shen Fei hanya mengangkat alis, merasa para ibu-ibu itu punya maksud tertentu.
Mereka baru berhenti setelah tiba di depan sebuah rumah bata.
Li Xuemei sedang duduk di luar sambil mengudap biji kuaci. Melihat Chen Xin, wajahnya langsung girang, namun ketika matanya tertumbuk pada Shen Fei, ekspresinya langsung berubah dingin.
"Ibu Chen Xin, kamu pasang muka begitu untuk siapa?" tanya tante pertama, menepuk pundak Li Xuemei.
Desa ini bernama Desa Keluarga Li, mayoritas penghuninya memang keluarga Li, jarang ada orang luar, tapi tante pertama termasuk salah satu yang bukan murni keluarga Li.
Tante pertama bernama Zhang Chun.
Tante kedua, Li Fang.
Tante ketiga, Li Fen.
"Chun, menurutmu aku masang muka begini untuk siapa lagi, tentu saja buat orang yang mengusirku dari rumah," balas Li Xuemei dengan melirik tajam ke arah Shen Fei.
Semua orang tahu bagaimana Li Xuemei sampai pergi dari rumah, semua karena menantunya yang dianggap tak berguna itu.
Namun bagi para tante itu, menantu ini sama sekali tidak payah. Ferrari itu adalah impian yang tak akan pernah mereka capai seumur hidup!
"Xuemei, jangan begitu. Kita semua keluarga, kalau dia salah ya suruh saja minta maaf. Jangan sampai kamu sakit gara-gara marah terus," kata Li Fang menengahi.
Dengan para tante yang menengahi, amarah Li Xuemei pun cepat mereda.
Shen Fei pun memanfaatkan momen itu, segera meminta maaf pada Li Xuemei.
"Baiklah, kali ini aku pulang," kata Li Xuemei, lalu berdiri hendak pulang bersama Shen Fei dan Chen Xin.
Zhang Chun yang melihat Li Xuemei hendak pergi, buru-buru menahannya. "Xuemei, jangan buru-buru pergi dong!"
"Iya, lihat tuh rumah kami, atapnya bocor. Kami cuma mau pinjam uang sebentar buat perbaikan," saut Li Fang.
"Saya juga sama," tambah Li Fen, tante ketiga.
Shen Fei mengangkat alis, merasa geli. Sejak awal ia memang curiga para tante itu punya maksud tersembunyi, rupanya mau pinjam uang.
Melihat usaha keras mereka membujuk Li Xuemei pulang, Shen Fei pun tak keberatan meminjamkan sedikit uang.
"Aduh, kalian bercanda ya? Kami juga sudah diusir dari keluarga Chen, mana ada uang?" Li Xuemei mengangkat tangan, benar-benar tidak punya uang sepeser pun untuk dipinjamkan.
"Kamu yang bercanda! Kami lihat sendiri menantumu bawa mobil apa!"
"Iya, mobil itu pernah kulihat di TV, Ferrari! Murah-murahnya saja satu dua miliar!"
"Benar banget!"
"Ferrari?" Li Xuemei bengong, keluarganya mana punya Ferrari? Satu-satunya mobil kecil itu pun mobil yang dibeli Chen Xin, harganya pun tak sampai seratus juta.
Saat itu, beberapa pemuda desa muncul.
"Bu! Kalian di sini rupanya. Mobil Ferrari di gerbang desa itu punyanya siapa?" tanya seorang pemuda berambut pirang pada Zhang Chun.
Mereka adalah anak-anak dari para tante itu.
Yang berambut pirang bernama Li Yigang, bersama Li Erniu dan Li Sanpao, yang sehari-harinya cuma bersantai.
"Punya siapa lagi? Tentu saja keluarga Xuemei!"
"Tapi sekarang Xuemei sudah kaya, sudah nggak peduli keluarga sendiri, sedikit-sedikit bilang nggak punya uang."
"Bikin kesal saja!"
Zhang Chun mulai merengek, membuat Li Xuemei tambah bingung.
Karena dia sendiri tidak tahu apa-apa soal Ferrari, soal pinjam uang, atau mobil siapa di gerbang desa.
Li Yigang yang mendengar, langsung berubah sikap. Jika Ferrari itu milik Li Xuemei, berarti juga milik keluarga mereka.
"Tante, jangan begitu dong, kita kan keluarga sendiri, masa masih ditutup-tutupi?" kata Li Yigang, matanya mulai melirik ke arah Chen Xin yang berdiri di samping Shen Fei.
Sekali pandang, ia langsung terpana melihat wajah dan tubuh Chen Xin, sampai bibirnya kering dan tubuhnya memanas.
"Aduh, Yigang, ibu nggak bohong, soal Ferrari ibu benar-benar nggak tahu!" kata Li Xuemei.
Namun para tante tidak peduli, mereka langsung menyeret Li Xuemei ke gerbang desa untuk melihat Ferrari itu.
Chen Xin dan Shen Fei berjalan di belakang. Melihat kejadian itu, Chen Xin hanya bisa menghela napas.
"Ada apa?" tanya Shen Fei, menyadari Chen Xin tampak gelisah.
"Sudah sering begini. Mereka selalu memaksa ibuku meminjamkan uang, tapi uang yang dipinjam tidak pernah dikembalikan. Totalnya sudah lima puluh ribu, seratus ribu pun belum pernah dikembalikan!" keluh Chen Xin pelan, kesal.
Shen Fei hanya bisa menggeleng, merasa tak habis pikir. Sepanjang hidupnya, ia belum pernah bertemu kerabat yang begitu tidak tahu malu, datang-datang sudah ingin cari untung.
Tiba-tiba, Shen Fei merasa firasat buruk.
"Chen Xin, jelaskan ke ibu, sebenarnya mobil ini punya siapa?" Li Xuemei begitu melihat Ferrari itu, sempat gembira, tapi tak lama kemudian wajahnya mengeras.
"Itu mobil Shen Fei..." jawab Chen Xin.
"Tidak mungkin!" Li Xuemei mengerutkan dahi, tidak percaya. Bukankah Shen Fei itu cuma pengangguran, mana mungkin punya Ferrari semewah itu?!
"Bu, memang mobilku. Tapi mobil itu aku dapatkan setelah kemarin menolong seorang pengusaha besar yang tenggelam. Dia memberikannya padaku sebagai hadiah," kata Shen Fei santai, membuat Li Xuemei makin bingung.
Tapi selain alasan itu, ia memang tak tahu lagi bagaimana Shen Fei bisa memiliki Ferrari.
Sementara itu, tiga pemuda itu sudah sibuk berfoto dengan Ferrari.
"Kalian dengar sendiri, mobil itu pemberian orang, kami benar-benar tidak punya uang untuk dipinjamkan," ujar Li Xuemei dengan wajah lesu.
Wajah para tante pun langsung berubah, dari sebelumnya penuh senyum kini menjadi sinis.
"Tante, pinjamkan saja mobil ini ke kami dua hari, buat bikin video pendek. Sekarang video pendek bisa jadi duit!" kata Li Erniu sambil duduk di kursi sopir, menggesek-gesekkan tubuhnya di jok, lalu mengangkat ponsel untuk selfie dengan pose kemenangan.
Kalau sekretaris Wang yang mengantarkan mobil itu melihat, pasti sudah memarahi Li Erniu.
Beruntung Shen Fei cukup sabar sehingga tidak marah di tempat.
Li Xuemei tampak ragu, ia tahu betul betapa mahalnya Ferrari, kalau sampai lecet, ia benar-benar tak rela.
Zhang Chun lalu meraih tangan Li Xuemei, mengerutkan dahi dan berkata, "Ah, toh bukan mobil sendiri, kenapa pelit? Biar anak-anak pakai dua hari, paling juga nggak bakal kenapa-kenapa."
Li Xuemei tahu, tapi menghadapi keluarga sendiri, kata-kata penolakan selalu tertahan di tenggorokan.
Ia pun menoleh ke arah Chen Xin meminta pendapat.
Tapi karena itu bukan milik Chen Xin, ia hanya melirik Shen Fei.
Shen Fei tersenyum, mengangguk.
Mendapat lampu hijau, ketiga pemuda itu langsung melonjak kegirangan.
"Makasih, Kakak Ipar!" seru Li Erniu dan Li Sanpao.
Tapi Li Yigang langsung mendorong Li Erniu, duduk di kursi sopir, menginjak gas, dan melajukan Ferrari itu dengan suara meraung.
Shen Fei hanya menggeleng, pasrah.
Berhadapan dengan kerabat seperti itu, selain menjauh, apa lagi yang bisa dilakukan?
"Maaf ya,"
Di atas traktor, Chen Xin menatap Shen Fei penuh rasa bersalah.
Naik kendaraan seperti itu saja, Chen Xin sudah merasa malu, apalagi Shen Fei yang notabene pewaris keluarga Shen.
"Tidak apa-apa, selama ada kamu di sisiku, duduk di mana pun aku tetap bahagia," jawab Shen Fei sambil tersenyum.
Namun ucapan mereka justru membuat Li Xuemei kesal bukan main.