Bab 94: Apakah Ye Fei Sudah Mati?
Ye Fei diam-diam meningkatkan kewaspadaannya, bukan karena takut, melainkan karena kehadiran Jiang Qin di sana. Ketika lawan semakin mendekat, ia merasakan aura yang janggal dari lelaki itu, sehingga ia merasa perlu berjaga-jaga.
Namun anehnya, Ye Fei mendapati orang itu hanya lewat di sisinya. Meskipun terus menatap dirinya, lelaki itu sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun atau melakukan tindakan apa-apa. Tak lama, lelaki itu memutari meja Ye Fei, lalu keluar melalui pintu lain.
"Apa yang sedang kau lihat, Ye Fei?" tanya Jiang Qin, yang tadi membelakangi, sehingga tidak menyadari kehadiran Tuan Mu.
Ye Fei sempat tertegun. Ia mengira lelaki itu hendak mencari gara-gara, ternyata hanya dirinya yang terlalu curiga. Ia pun hanya menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa."
Saat itu, pelayan datang membawa pesanan mereka. Ye Fei dan Jiang Qin pun langsung mulai makan tanpa banyak bicara lagi.
Sementara itu, Tuan Mu yang telah keluar dari restoran, menyeringai penuh arti. "Anak muda, sepertinya itu adalah makanan terakhirmu. Nikmati selagi bisa!"
Tadi ia memang tidak meracuni Ye Fei secara terang-terangan, melainkan diam-diam menuangkan racun ke gelas anggurnya. Gerakannya sangat lihai, bahkan Ye Fei pun sama sekali tidak menyadarinya.
Alasannya tidak langsung meracuni Ye Fei seperti yang ia lakukan pada anak buah Bai Ling adalah karena ia ingin lebih berhati-hati. Lagipula, menurut penuturan Bai Ling, Ye Fei memiliki kemampuan yang tidak biasa.
"Mau pesan satu botol lagi?" Setelah satu botol anggur di atas meja habis, Jiang Qin bertanya pada Ye Fei.
Ye Fei menjawab, "Tidak usah, aku tahu kau kuat minum, tapi lebih baik jangan berlebihan."
"Baiklah, aku ikut saja," ujar Jiang Qin sambil mengangguk. Mereka pun melanjutkan makan.
Tiba-tiba, Ye Fei merasakan sakit yang menusuk di perutnya, dan energi dalam tubuhnya seperti terstimulasi, bergejolak dengan hebat.
"Beracun?" Alis Ye Fei langsung terangkat. Ia seketika menyadari apa yang terjadi.
Tanpa membuat gerakan mencolok, ia segera menjalankan teknik dalam tubuhnya untuk mengusir racun dengan energi murni.
"Nampaknya ini benar-benar ahli racun, sampai-sampai aku pun bisa terjebak. Bagus sekali, lain kali kalau bertemu lagi, aku tidak akan membiarkanmu lolos," gumam Ye Fei dalam hati, sadar bahwa dalangnya pasti lelaki pendek tadi.
Jiang Qin tampaknya tidak menyadari perubahan pada Ye Fei dan tetap asyik menikmati makanannya. Meski Ye Fei tidak memperlihatkan ekspresi apa pun, sebenarnya ia menahan rasa sakit luar biasa.
Racun itu mungkin tak terlalu berbahaya baginya, tapi cukup membuatnya kewalahan. Saat ini ia menahan racun itu dengan energi dalam, namun ia juga menemukan bahwa racun tersebut sulit dikeluarkan dalam waktu singkat.
"Sial, kali ini benar-benar kecolongan. Entah siapa bajingan yang menyuruh ahli racun ini," batin Ye Fei sambil tersenyum pahit.
Hingga satu jam berlalu dan makan selesai, barulah Ye Fei berhasil menekan racun itu sepenuhnya, meski belum bisa mengeluarkannya. Untungnya, racun itu tidak menyebar lagi dan rasa sakit pun berkurang.
"Aku ada urusan sebentar, aku duluan," ucap Ye Fei, buru-buru pamit dan langsung melajukan mobilnya, karena ia harus segera mengatasi racun itu sebelum menjadi masalah besar.
...
Tuan Mu kembali ke loteng. Bai Ling langsung tak sabar bertanya, "Bagaimana hasilnya?"
Tuan Mu menjawab dengan penuh percaya diri, "Tentu saja berhasil, masa Tuan Muda Bai masih meragukan kemampuanku? Aku yakin sekarang Ye Fei sudah jadi mayat."
"Bagus, sangat bagus! Silakan duduk, Tuan Mu!" Bai Ling tampak sangat gembira mendengarnya.
"Tidak perlu basa-basi, lebih baik segera berikan imbalannya. Aku masih banyak urusan," kata Tuan Mu, menolak duduk.
Bai Ling mengerutkan kening, tapi tidak memperlihatkannya. Ia memberi isyarat pada anak buahnya, yang segera masuk ke dalam dan kembali dengan sebuah kotak.
Kotak itu dibuka di hadapan Tuan Mu. "Silakan diperiksa."
Wajah Tuan Mu yang biasanya dingin berubah sumringah. Ia cepat-cepat mengambil botol porselen putih dari dalam kotak, membukanya, dan menghirup baunya dengan penuh kenikmatan.
"Bagus sekali! Terima kasih, Tuan Muda Bai." Setelah berkata demikian, ia langsung pergi tanpa basa-basi.
Bai Ling lalu berbisik pada anak buahnya, "Cari orang keluarga, habisi dia."
"Baik." Anak buahnya pun tidak banyak bicara. Bahkan, ia sendiri juga ingin segera menyingkirkan bajingan itu, karena kemarin ia sudah dibuat susah olehnya.
Bai Ling memang segan pada Tuan Mu, tapi bagi keluarga Bai, menyingkirkan seorang ahli racun rendahan seperti Tuan Mu bukanlah perkara sulit.
Tuan Mu berbeda dengan Ye Fei. Persoalan Ye Fei adalah urusan pribadi Bai Ling dengan Qi Ziyao, jadi ia enggan melibatkan keluarga karena takut menjadi bahan tertawaan. Namun, menyingkirkan Tuan Mu lain soal; cukup mengatakan bahwa Tuan Mu berusaha mencelakai Tuan Muda Bai, sudah pasti keluarga akan mengutus ahli untuk membereskannya.
...
Ye Fei kembali ke vila, lalu segera menjalankan teknik dalam untuk mengatasi racun dalam tubuhnya. Hingga lewat pukul empat sore, setelah tiga jam berjuang, barulah ia menarik napas lega.
Setelah memeriksa tubuhnya dan memastikan racun benar-benar hilang, Ye Fei pun mengangguk puas. Namun ia juga harus mengakui kehebatan lelaki pendek tadi—berhasil meracuninya tanpa terdeteksi, dan racunnya begitu ganas. Jika bukan karena energi dalamnya, ia pasti sudah tewas.
Memang, energi dalam bukanlah segalanya, tapi untuk mengatasi racun seperti ini, masih sangat ampuh. Racun Tuan Mu itu sangat berbahaya; siapa pun praktisi di bawah tingkat Xiantian sudah pasti takkan selamat. Benar-benar mematikan secara diam-diam.
Namun, sayangnya lawan yang dihadapi adalah seorang kultivator seperti Ye Fei, yang memiliki energi dalam dan segera menyadari ada yang tidak beres. Racun itu tak mampu membunuhnya. Tuan Mu terlalu percaya diri, sampai-sampai setelah meracuni Ye Fei, ia langsung pergi tanpa memastikan hasilnya. Ia benar-benar tidak percaya bahwa Ye Fei sanggup menetralkan racunnya.
Sementara itu, Bai Ling benar-benar yakin Tuan Mu telah melihat Ye Fei tewas, sehingga ia pun merasa Ye Fei sudah tak ada lagi. Kini, tanpa penghalang, siapa lagi yang bisa dijadikan Qi Ziyao sebagai alasan menolaknya?
"Qi Ziyao, ke mana pun kau lari, kau tetap tidak akan lolos dari genggamanku. Siapa pun yang berani menghalangi, pasti mati!" ujar Bai Ling dengan jumawa. Qi Ziyao memiliki arti penting baginya; ia harus mendapatkannya. Saat ini, ia pun mulai memikirkan cara baru untuk mendekati Qi Ziyao.
Ye Fei baru saja selesai bermeditasi ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata, panggilan dari Tabib Jiang, sesuatu yang cukup mengejutkannya karena sudah lama tidak berkomunikasi.
Setelah menerima telepon dan mendengar suara cemas dari Tabib Jiang, Ye Fei segera mencari tahu masalahnya, lalu melajukan mobilnya ke tempat yang disebutkan.
Sekitar setengah jam kemudian, Ye Fei tiba di lokasi. Di hadapannya berdiri sebuah kompleks apartemen mewah yang tampak sangat elit—penghuninya pasti orang-orang kaya dan terpandang.
Setelah memarkir mobil, Ye Fei berniat menelepon Tabib Jiang untuk menanyakan letak unitnya. Namun, seorang pria berbaju hitam yang berpenampilan seperti pengawal menghampirinya. "Apakah Anda Tabib Ye?"
Ye Fei mengamati pria itu lalu mengangguk. "Benar, aku Tabib Ye. Kau pasti diutus Tabib Jiang untuk menjemputku?"
"Betul. Silakan ikut saya," jawab pria itu, lalu mengantar Ye Fei masuk ke lift di samping.
Mereka naik sampai ke lantai paling atas, di mana hanya ada satu unit apartemen. Saat pintu dibuka, Ye Fei tercengang—unit itu luasnya lebih dari lima ratus meter persegi, bahkan lebih besar dari kebanyakan vila.
Bagian dalamnya pun dihias dengan sangat mewah, hampir seperti istana. Namun Ye Fei tetap heran, mengapa orang sekaya ini tidak membeli vila, tapi memilih tinggal di apartemen?
Tentu saja, setiap orang punya selera masing-masing, dan Ye Fei tidak mau terlalu memikirkannya.
"Tabib Ye, akhirnya kau datang juga. Tolong selamatkan aku!" Tiba-tiba, suara Tabib Jiang yang terdengar putus asa memecah lamunannya.
Tabib Ye segera menoleh dan terpana melihat kondisi Tabib Jiang. Wajahnya bengkak parah, kalau bukan karena suara, Ye Fei pasti tak akan mengenalinya. Murid Tabib Jiang pun sama, wajahnya juga babak belur.
"Tabib Jiang, bagaimana bisa kau jadi seperti ini?" tanya Ye Fei dengan terkejut.
Baru saja Tabib Jiang hendak bicara, dari kamar sebelah keluar seorang pria paruh baya yang tampak sangat berwibawa. Ia langsung memotong ucapan Tabib Jiang dan menatap Ye Fei.
"Jadi, kau ini Tabib Ye yang sering disebut-sebut? Rupanya Tabib Jiang cukup berani juga, menipuku dan mengincar uangku. Kalau kau juga tidak bisa menyelesaikan masalah ini, jangan harap bisa keluar dari sini," ujar pria itu dengan nada mengancam.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Ye Fei dengan dahi berkerut, masih belum mengerti situasi yang dihadapinya.