Bab 141 Takdir Baik
Melihat Ye Fei berjalan menjauh ke samping, Jia Hongjun agak terkejut. Namun, tak lama kemudian ia memahami maksud Ye Fei. Sepertinya sikap orang-orang itu yang terlalu dingin terhadap Ye Fei membuatnya enggan turun tangan membantu.
Jia Hongjun berpikir sejenak, lalu bertukar pandang dengan Dong Jun. Pada akhirnya, mereka tetap menyerbu ular piton raksasa itu. Bagaimanapun, mereka datang karena diundang. Jika tidak ikut bertarung, rasanya memang kurang pantas.
“Duar!”
Pria yang memegang senjata api itu akhirnya mendapatkan kesempatan dan menembakkan peluru ke arah ular piton raksasa. Saat itu, ular tersebut sedang menyabet Liu Tua dengan ekornya. Liu Tua tak berani menahannya secara langsung dan segera menghindar, tetapi kakinya tetap tersapu. Rasa sakit membuat keringat dingin bercucuran di dahinya.
Untung saja pria itu menembak ular tersebut. Seperti yang telah diduga Ye Fei, ular piton itu berhenti menyerang Liu Tua dan berbalik menerjang pria bersenjata tersebut. Dari gerakannya, tampak jelas bahwa ia sangat marah.
“Sial!”
Pria itu terkejut setengah mati. Peluru yang menghantam tubuh ular piton sama sekali tidak berpengaruh karena tertahan oleh sisik-sisiknya, tetapi tembakan itu berhasil membuatnya murka.
“Tuan Liu, tolong aku!”
Meskipun pria itu juga seorang praktisi bela diri tingkat pascalahir tahap awal, setelah melihat Liu Tua sendiri menderita kerugian, mana mungkin ia berani menghadapi ular piton itu? Ia melarikan diri sambil berteriak ketakutan.
Liu Tua baru saja hendak bangkit, tetapi rasa sakit kembali menusuk kakinya sehingga ia terpaksa duduk lagi. Pria lain dan Li Lin segera berlari menolongnya. Jia Hongjun dan Dong Jun pun tanpa ragu ikut maju menyelamatkan mereka.
Namun, ular piton raksasa itu sangat cerdas. Ia terus mengejar pria yang menembaknya. Tak lama kemudian, ia berhasil menyusul dan menyabetkan ekornya, membuat pria itu terlempar ke udara.
Jia Hongjun dan yang lainnya mengepung ular tersebut. Ular piton itu kembali mengibaskan ekornya. Kali ini, perempuan itu yang terkena sabetan. Pada saat yang sama, Jia Hongjun dan dua orang lainnya menyerang ular itu.
“Gak!”
Ular piton raksasa mengeluarkan suara melengking yang menyakitkan telinga. Sepertinya serangan mereka telah melukainya, sekaligus membuatnya semakin murka. Ia berbalik dan kembali menyabet Dong Jun hingga terlempar, kemudian memutar kepalanya dan melilit tubuh Jia Hongjun.
“Tuan Ye, tolong aku!”
Wajah Jia Hongjun memucat karena ketakutan. Ia sangat memahami akibat jika tubuhnya dililit ular piton raksasa itu, sehingga ia segera meminta bantuan Ye Fei.
Melihat keadaan tersebut, Ye Fei sudah lebih dahulu berlari ke arah mereka. Ia mungkin bisa saja tidak menolong orang-orang lain, tetapi ia tidak akan membiarkan Jia Hongjun begitu saja.
Namun, Liu Tua akhirnya menggertakkan gigi dan berlari mendekat. Ia bahkan membentak Ye Fei, “Kemampuanmu tidak cukup. Kalau maju, kau hanya akan mencari mati. Cepat menyingkir!”
Setelah berkata demikian, ia bahkan mendorong Ye Fei. Sudut bibir Ye Fei berkedut karena kesal.
Kemampuanku tidak cukup? Seberapa buruk pun, tetap saja aku lebih kuat darimu!
Namun, ketika melihat ular piton raksasa itu telah membuka mulutnya yang lebar dan hendak menelan Jia Hongjun, Ye Fei tak lagi memedulikan sikap Liu Tua. Ia segera menerjang ke depan.
Akan tetapi, tepat ketika Ye Fei mendekati ular piton itu, hewan tersebut seolah merasakan sesuatu. Ia mendadak menoleh. Sepasang matanya yang biasanya dingin ternyata memancarkan kebingungan dan ketakutan—perasaan yang seharusnya hanya dimiliki manusia.
“Hmph, sekarang kau tahu takut, bukan?”
Liu Tua melepaskan seluruh aura praktisi bela dirinya. Melihat ular piton itu menghentikan niatnya menelan Jia Hongjun dan justru menoleh ke arahnya, ditambah ekspresi ketakutan yang tampak di wajahnya, Liu Tua mengira ular tersebut akhirnya gentar oleh auranya yang kuat.
Namun, Ye Fei malah berkata, “Belum juga kau lepaskan?”
“Anak muda, jangan menyela. Hati-hati membuatnya marah. Tidak lihat bahwa sekarang ia sudah ketakutan olehku? Jangan bersuara. Akan kutakut-takuti lagi.”
Liu Tua menoleh dan melotot kepada Ye Fei.
Ye Fei sama sekali tidak memedulikannya. Ia segera melepaskan auranya sendiri. Ular piton raksasa itu akhirnya benar-benar merasakan aura seorang praktisi kultivasi dari tubuh Ye Fei dan dengan cepat melepaskan Jia Hongjun.
Kemudian, ular itu melata mendekati Ye Fei. Ya, ia melata, bukan menyerang.
“Hahaha, akhirnya takut juga, ya!”
Melihat ular piton itu menundukkan kepala, Liu Tua merasa sangat bangga. Pada saat yang sama, ia agak menyesal. Mengapa tadi, ketika menyerang, ia lupa menggunakan aura praktisi bela diri tingkat pascalahir tahap menengah untuk menakut-nakutinya? Akibatnya, ia sampai terkena sabetan ekor dengan sia-sia.
Namun, begitu tawanya berhenti, ia langsung terperangah.
Ular piton itu ternyata bukan melata ke arahnya, melainkan menuju Ye Fei yang berdiri di sampingnya. Ular tersebut mengangkat kepala, memiringkannya, lalu memandang Ye Fei sambil menjulurkan lidah panjangnya perlahan, seolah-olah sedang menunjukkan niat bersahabat.
“Ini... ini...”
Liu Tua begitu terkejut hingga tak mampu berkata-kata. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Ye Fei mengulurkan tangan dan menepuk kepala ular itu.
“Kau baru saja berevolusi menjadi hewan spiritual. Dari keadaan lautan energimu yang kurasakan, usiamu sebagai ular seharusnya belum mencapai seratus tahun, bukan?”
Ular piton itu ternyata mengangguk kepada Ye Fei.
Ye Fei melanjutkan, “Benar dugaanku. Mampu berevolusi menjadi hewan spiritual dalam waktu sesingkat ini dan sekaligus membuka sebagian kecerdasan spiritual memang bukan hal mudah. Itu merupakan keberuntungan besar bagimu. Semula... aku berniat membunuhmu untuk mengambil empedumu dan menggunakannya sebagai bahan alkimia, serta mengambil kulitmu untuk membuat jimat. Namun, karena kita dipertemukan oleh takdir, lupakan saja.”
“Pergilah!”
Setelah berkata demikian, Ye Fei melambaikan tangan dan menyuruhnya pergi.
Ya, sejak awal Ye Fei memang ingin membunuh ular itu untuk mengambil empedunya sebagai bahan pemurnian pil dan kulitnya sebagai bahan pembuatan jimat. Namun, setelah merasakan bahwa ular tersebut masih muda tetapi telah berhasil menjadi hewan spiritual, ia tak tega membunuhnya. Bagaimanapun, mereka sama-sama termasuk makhluk yang menempuh jalan kultivasi.
Sebab, makhluk siluman yang mampu menyerap karunia langit dan bumi untuk berkultivasi juga dianggap sebagai praktisi kultivasi. Selain itu, usia makhluk siluman biasanya jauh lebih panjang. Jadi, meskipun ular itu telah hidup hampir seratus tahun, di mata Ye Fei, ia masih tetap seekor anak kecil.
Secercah rasa terima kasih tampak di mata ular piton itu. Ia sendiri juga mampu merasakan aura praktisi kultivasi dari tubuh Ye Fei dan tahu bahwa dirinya bukanlah lawannya. Karena Ye Fei bersedia melepaskannya, ia benar-benar merasa berterima kasih. Begitulah hewan spiritual yang telah membuka sebagian kecerdasan spiritualnya.
Namun, saat ular piton itu berbalik hendak pergi, Liu Tua langsung membentak, “Jangan biarkan ia pergi! Cepat bunuh!”
“Tuan Liu, dalam bertindak, sisakanlah jalan keluar bagi orang lain. Jangan membunuh sesuatu yang tidak seharusnya dibunuh. Kalau tidak, aku pun tidak akan bisa menyelamatkanmu.”
Suara Ye Fei terdengar dingin.
“Hmph, siapa kau sampai berani menggurui?”
Meskipun tadi Liu Tua sempat tercengang melihat ular piton itu mampu memahami ucapan manusia, setelah rasa terkejutnya berlalu, ia justru menjadi semakin bersemangat.
Jika daging makhluk seperti itu dapat dimakan, manfaatnya bagi dirinya pasti luar biasa. Mungkin saja ia bahkan memiliki kesempatan untuk menembus tingkat bawaan. Karena itulah, pikirannya telah dibutakan oleh keuntungan.
“Kurang ajar!”
Liu Tua kembali membentak dan menyerang Ye Fei.
Tatapan Ye Fei berubah dingin. Ia mengangkat tangan, lalu melepaskan kekuatan dahsyat yang menghantam Liu Tua. Liu Tua mengerang dan tubuhnya terlempar ke belakang.
Sebelum sempat bangkit, ular piton raksasa itu berbalik dan menerjang. Dalam sekejap, ia melilit tubuh Liu Tua. Rupanya, serangan Liu Tua terhadap Ye Fei juga telah membuat ular itu murka. Bagaimanapun, Ye Fei sebelumnya telah mengampuni nyawanya.
“Anak kecil, ampuni nyawanya,” kata Ye Fei kepada ular tersebut.
Mendengar perkataan itu, ular piton raksasa melepaskan lilitannya dari tubuh Liu Tua.
Ye Fei merasa cukup berterima kasih kepada makhluk kecil itu karena ia tahu membalas budi. Sifatnya bahkan lebih murni daripada tabiat manusia. Siapa bilang ular piton adalah makhluk berdarah dingin? Ia kini telah menjadi hewan spiritual dan memiliki kecerdasan, tentu saja ia memahami arti membalas kebaikan.
Ketika Ye Fei memanggilnya anak kecil, ular itu sama sekali tidak membantah. Sebaliknya, ia kembali melata mendekati Ye Fei untuk menunjukkan niat bersahabat. Tentu saja, jika dihitung-hitung, Ye Fei telah hidup lebih dari lima ratus tahun. Ia memang berhak memanggil ular yang belum genap seratus tahun itu sebagai anak kecil.
Melihat betapa cerdas dan peka makhluk itu, Ye Fei berkata, “Kita dipertemukan oleh takdir, dan kau juga tahu membalas budi. Baiklah, akan kuberi sedikit petunjuk. Hewan-hewan spiritual yang pernah kulihat sebelumnya berkultivasi dengan menyerap energi spiritual langit dan bumi secara naluriah. Kebetulan aku memiliki satu metode kultivasi untuk makhluk siluman. Akan kuturunkan kepadamu.”
Setelah berkata demikian, Ye Fei menekan jarinya ke kepala ular piton itu dan menyalurkan metode tersebut ke dalam lautan kesadarannya. Metode itu diperoleh Ye Fei dahulu di dunia kultivasi, setelah ia merebutnya dari para makhluk siluman kuat dalam sebuah pertempuran. Bagaimanapun, semakin banyak metode kultivasi yang dimiliki tentu semakin baik, maka Ye Fei menyimpannya. Ia tak pernah menyangka metode itu akhirnya akan berguna bagi makhluk ini.
“Gak, gak, gak!”
Setelah menerima metode kultivasi tersebut, ular piton raksasa itu berseru dengan penuh kegembiraan. Kemudian, ia segera melata masuk ke dalam hutan dan menghilang dari pandangan.
“Hehe, anak kecil ini,” ujar Ye Fei sambil tersenyum.
Namun, ketika ia berbalik memandang Jia Hongjun dan yang lainnya, mereka semua sedang menatapnya dengan pandangan kosong.
Ye Fei berkata kepada Jia Hongjun, “Tuan Jia, mengapa kalian semua menatapku seperti itu?”
Dong Jun menjadi orang pertama yang berbicara.
“Tuan Ye... kau berbicara dengan binatang buas itu? Ia... ia bisa memahami bahasa manusia?”
Ye Fei kembali tersenyum, lalu mengangguk.
“Binatang memang pada dasarnya berdarah dingin, tetapi mereka lebih memahami arti rasa syukur. Tuan Dong, mulai sekarang jangan lagi memburu atau membunuh binatang buas. Pertama, kalian bukan tandingan mereka. Kedua, mereka telah memiliki kecerdasan spiritual. Jika sampai diprovokasi, akibatnya akan sangat serius.”
Ye Fei tidak sedang menakut-nakuti mereka. Jika mereka gagal membunuh hewan spiritual itu, lalu suatu hari makhluk tersebut berhasil mencapai tingkat kultivasi tinggi dan turun gunung untuk membalas dendam kepada mereka atau keluarga mereka, akibatnya benar-benar bisa menjadi bencana besar.
“Baik, aku akan mendengarkan perkataan Tuan Ye.”
Dong Jun sudah benar-benar ketakutan. Entah karena ular piton raksasa itu menunjukkan perilaku seperti manusia, atau karena kekuatan yang baru saja diperlihatkan Ye Fei, ia kini sangat yakin kepada Ye Fei.
Liu Tua dan yang lainnya akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi. Satu-satunya pria yang masih mampu bergerak pergi membantu Liu Tua berdiri. Setelah itu, Liu Tua berjalan ke sisi Ye Fei.
“Maaf, Tuan Ye. Orang tua ini benar-benar tidak mengenali kehebatanmu dan telah menyinggungmu.”
“Tuan Liu terlalu baik.”
Ye Fei hanya menjawab dengan datar. Ia sama sekali tidak memiliki kesan baik terhadap Liu Tua. Jika Liu Tua tidak melihat bahwa dirinya memiliki kekuatan yang cukup, apakah orang tua itu akan menyerah begitu saja?
Ye Fei melambaikan tangannya, lalu mereka semua mulai kembali menuruni gunung. Namun, pikiran Liu Tua dan yang lainnya kini dipenuhi kerumitan. Sesekali mereka melirik Ye Fei.
Kekuatan yang baru saja diperlihatkan Ye Fei, meskipun belum mencapai tingkat bawaan, setidaknya pasti sudah berada di puncak tingkat pascalahir tahap akhir, bukan? Sayangnya, mereka tidak mampu merasakan tingkat kekuatannya.
Yang lebih mengejutkan lagi, Ye Fei ternyata bisa berbicara dengan ular piton raksasa itu. Makhluk tersebut begitu kuat, tetapi di hadapan Ye Fei ia bersikap jinak seperti seekor anak kucing.
Siapakah sebenarnya Ye Fei?
Dari ketiga orang lainnya, Li Lin-lah yang paling merasa takut setelah kejadian itu. Sebelumnya, ia terus berbicara sinis kepada Ye Fei dan memandang rendah dirinya. Namun, dua kemampuan yang ditunjukkan Ye Fei hari ini benar-benar berada di tingkat yang sama sekali berbeda darinya.
Sehebat apa sebenarnya praktisi ini?
Li Lin bahkan mulai berpikir apakah ia perlu meminta maaf kepada Tuan Ye dan membangun hubungan baik dengannya. Bisa mengenal seorang ahli seperti itu tentu akan menjadi sesuatu yang dapat ia banggakan di kemudian hari.