Bab 41: Begitu Mendominasi
Si gendut benar-benar marah saat itu. Ia sama sekali tak menyangka, seorang bocah kecil yang tak berarti berani-beraninya datang dan merusak mobilnya. Sambil berteriak-teriak, tubuhnya yang bulat seperti bola itu meluncur ke arah Liu Xiaojun, berniat memukulnya. Namun Ye Fei tentu takkan membiarkan itu terjadi; ia segera melangkah ke depan, menghadang si gendut dengan suara dingin, "Sebaiknya kamu tidak maju, kalau tidak kamu akan menyesal."
"Siapa kamu? Mau selamat, minggir sana!" Si gendut yang masih terbakar emosi tak menyangka ada orang lain yang berani menghalanginya.
Baru saja ia hendak mendorong Ye Fei untuk menyerang Liu Xiaojun, Ye Fei sudah bergerak lebih dulu. Sebuah tendangan keras mendarat di perut si gendut. Walaupun tubuhnya besar, ia tetap terjungkal ke tanah, terlentang dengan tangan dan kaki ke atas.
"Bang Chen, kamu tidak apa-apa?" Zhao Xin yang melihat kejadian itu langsung berlari menolong si gendut.
"Bantu aku berdiri! Aku mau habisi bocah kurang ajar itu!" Si gendut menahan perutnya yang sakit sambil memaki Ye Fei, menunjukkan sikap siap mati-matian melawannya.
Dalam pikirannya, ia merasa barusan hanya karena kurang hati-hati saja sampai terpental. Ia pikir dengan tubuh besarnya, meski tak bisa mengalahkan Ye Fei, setidaknya bisa menindih sampai lawannya tak berdaya.
Zhao Xin pun marah. Ia tak menyangka Liu Xiaojun berani membawa temannya untuk membuat keributan. Setelah membantu si gendut berdiri, Zhao Xin melangkah ke depan Ye Fei dan langsung membentak, "Siapa kamu? Kenapa kamu berani memukul Bang Chen? Orang seperti kamu yang dekat-dekat sama Liu Xiaojun, pasti sama tak bergunanya! Hari ini kalian sudah menghancurkan mobil ini, jual pun kalian tak bisa ganti rugi! Bersiaplah masuk penjara!"
Ye Fei hanya mengangkat bahu dengan tenang, "Perempuan tak tahu malu seperti kamu, pantas disebut orang baik?"
"Kamu... kamu berani menghina aku? Bilang aku bukan orang baik? Biar aku ajari kamu!" Zhao Xin yang tak terima langsung menerjang ke arah Ye Fei.
Sebenarnya tanpa Zhao Xin menyerang, Ye Fei sudah bersiap. Ia memang tak suka memukul perempuan, tapi itu tergantung siapa perempuan itu. Tadi Zhao Xin sudah berani menghina ibunya, benar-benar sudah melewati batas.
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat, suaranya nyaring, bahkan melebihi suara Liu Xiaojun yang masih memecahkan kaca mobil. Zhao Xin berputar satu kali di tempat lalu jatuh ke tanah, darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Kamu berani memukulku? Bang Chen, dia memukulku... hiks..." Zhao Xin sempat linglung, begitu sadar langsung menangis sambil mengadu pada si gendut.
Si gendut makin marah, berteriak sambil melayangkan tinju ke wajah Ye Fei. Namun Ye Fei dengan mudah menangkap tinjunya, lalu menampar si gendut hingga tubuhnya terlempar lagi.
"Aku kasih tahu, kalian sudah tamat! Sudah rusak mobilku, memukul kami pula! Aku lapor polisi, kalian pasti masuk penjara!" Si gendut berteriak seperti orang gila, menutupi wajahnya sambil mundur, namun ia sudah tahu betapa kuatnya Ye Fei, jadi tak berani lagi menyerang.
Ye Fei hanya terkekeh dingin, "Orang seperti kalian, kalau bukan karena aku jijik menyentuh kalian, sudah kubunuh dari tadi."
Setelah itu, ia berjalan ke arah Liu Xiaojun yang tampak syok saat mendengar ancaman si gendut. Benar juga, mobil yang mereka hancurkan sangat mahal, mana mungkin mampu ganti rugi? Masuk penjara pun dia rela, tapi ia tak ingin menyeret Ye Fei ikut bermasalah.
"Maaf Ye Fei, aku terlalu emosi tadi. Kamu segera pergi, biar aku saja yang tanggung semua ini. Pergilah!" Liu Xiaojun buru-buru berkata.
Ye Fei menepuk bahunya, "Tenang saja, kita tidak apa-apa."
Ia pun menoleh ke tempat sampah, lalu berjalan ke taman kecil di pinggir jalan, mengambil sebuah batu bata dan menyerahkannya pada Liu Xiaojun, "Ini, pakai yang ini, lebih mantap. Hancurkan sepuasnya!"
"Tapi..."
Kebetulan di sebelah ada dealer Audi. Ye Fei menunjuk ke dealer itu, "Kamu hancurkan BMW rongsokan itu, aku ganti dengan Audi yang lebih bagus!"
Selesai bicara, ia melangkah ke dalam dealer, menunjuk pada Audi A8, "Yang itu, saya beli. Suruh si gendut itu ke sini, biar dia urus surat-suratnya. Saya bayar pakai kartu."
Semua pegawai dealer yang melihat kejadian itu tertegun. Tak menyangka anak muda ini begitu berani, sudah menghancurkan mobil orang, malah mau ganti dengan yang lebih mahal. Setelah Ye Fei mengulangi perintahnya, barulah mereka sadar, tak peduli ada masalah apa, yang penting dapat untung. Mereka langsung menggesek kartu, lalu ada yang membantu membawa si gendut masuk untuk mengurus administrasi.
Sebenarnya, tujuan Ye Fei hanya ingin membuat Liu Xiaojun tenang, sekaligus membalas dendam dan mengangkat harga dirinya.
Ye Fei lalu mendekati si gendut dan Zhao Xin, "Ingat, jangan pernah meremehkan orang lain. Kadang saat kamu bilang orang itu miskin, justru dia tidak menganggapmu apa-apa."
Kemudian ia menatap Zhao Xin, "Dan kamu, kamu tidak pantas untuk Xiaojun. Aku akan buat kamu lihat, Xiaojun kelak akan berdiri di puncak yang tak terjangkau olehmu. Ingat itu baik-baik!"
Selesai berkata, Ye Fei tak peduli lagi pada mereka, langsung menuju Liu Xiaojun yang tampak kaget. Astaga, Ye Fei benar-benar mengganti mobil itu untuknya?
Tapi teringat ucapan Ye Fei sebelumnya, ia hanya memakai kartu bosnya. Namun tetap saja, setelah memakai uang orang, harus diganti. Ia buru-buru berkata, "Ye Fei, maaf, gara-gara aku kamu jadi repot. Catat saja berapa yang sudah kamu pakai, nanti pasti akan aku ganti."
Ye Fei tertawa kecil, "Tidak usah diganti. Nanti aku jelaskan alasannya. Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah melampiaskan semuanya. Mobil ini sudah aku beli, hancurkan saja!"
"Terima kasih!" Mata Liu Xiaojun berkaca-kaca. Ia segera mengambil batu bata dan menghantam mobil itu sekuat tenaga, seakan-akan melampiaskan semua sakit hatinya pada si gendut.
"Gila, ini baru orang kaya beneran!"
"Iya, luar biasa. Aku sampai pengen ikut coba hancurkan mobil, dari dulu belum pernah ngerusak BMW, gimana ya rasanya?"
Orang-orang yang menonton heboh sendiri. Mereka mengira Ye Fei dan Liu Xiaojun benar-benar orang kaya. Sebagian merasa sayang pada mobil itu, tapi juga penasaran ingin ikut-ikutan menghancurkan.
Bahkan beberapa gadis sampai berbinar-binar matanya. Orang kaya seperti ini, benar-benar menarik!
Setelah lebih dari sepuluh menit, Ye Fei dan Liu Xiaojun meninggalkan tempat itu di bawah tatapan rumit Zhao Xin. Liu Xiaojun pun benar-benar sudah move on, hatinya lepas! Mungkin cinta itu juga ikut hilang saat ia menghancurkan mobil tadi.
Setelah bangkit kembali, ia menepuk bahu Ye Fei, "Ye Fei, kata-katamu tadi pada Zhao Xin memang benar. Dia memang tidak pantas untukku. Aku pasti akan berusaha, biar dia tak bisa menggapai aku."
"Bagus Xiaojun, laki-laki boleh saja tak punya uang, tapi tidak boleh kehilangan harga diri. Mulai sekarang berusahalah sungguh-sungguh, aku yakin kamu akan berhasil," Ye Fei pun mengangguk puas.
...
Setelah berpisah dengan Liu Xiaojun, Ye Fei pergi membeli beberapa ramuan yang dibutuhkannya. Ia kira urusannya sudah selesai. Namun saat hendak naik taksi pulang ke vila, sebuah mobil polisi menahannya.
Dua petugas muda turun dan berkata, "Maaf Pak, kami mendapat laporan, Anda diduga terlibat dalam sebuah kasus pidana. Mohon ikut kami untuk pemeriksaan."
Ye Fei sempat tertegun, lalu langsung paham. Ini pasti ulah si gendut tadi yang melapor polisi. Rupanya ia belum kapok.
Tak lama, sebuah mobil polisi lain datang. Di dalamnya ada Liu Xiaojun yang baru saja pergi. Ini makin menguatkan dugaannya, pasti si gendut itu pelakunya.
Ya sudah, ikut saja, pikir Ye Fei. Kalau tidak, nanti Liu Xiaojun malah ikut celaka, bisa kena masalah.
Maka ia pun dengan kooperatif naik ke mobil polisi.
Namun saat Ye Fei baru saja masuk ke dalam, kebetulan Ji Siyue yang sedang ada urusan di sekitar situ melihatnya. Ia mengerutkan dahi, memastikan apakah benar yang ia lihat, dan ternyata memang Ye Fei.
Ia berteriak, tapi mobil polisi langsung melaju. Ji Siyue segera berlari mencari informasi dari orang-orang di sekitar, dan akhirnya tahu duduk persoalannya—Ye Fei memecahkan mobil orang dan memukul seseorang, makanya dibawa polisi.
Karena kejadian itu baru saja terjadi dan toko obat tempat Ye Fei belanja juga di dekat situ, banyak saksi yang melihat. Ji Siyue pun mendapatkan keterangan dengan mudah.
Ia jadi panik. Memukul orang dan merusak mobil memang bukan kejahatan besar, tapi juga tidak kecil, tergantung siapa korbannya.
Ia khawatir tak mampu membebaskan Ye Fei, maka langsung menelepon Jiang Qin. Ia tahu kekuatan Jiang Qin, membebaskan Ye Fei pasti bukan masalah besar, apalagi Ye Fei bukan penjahat kelas berat.
Begitu mendengar kabar itu, Jiang Qin langsung naik pitam. Mana berani mereka menangkap Ye Fei? Ia segera pergi ke kantor polisi.
Mendengar Jiang Qin menyebut Ye Fei sebagai "miliknya", hati Ji Siyue terasa tidak nyaman, tapi ia tak berkata apa-apa. Setelah menutup telepon, ia pun berniat menyusul ke kantor polisi.
Sementara itu, di luar vila tempat dua orang dari keluarga Qi menunggu, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore dan Ye Fei belum juga pulang. Mereka bahkan belum makan siang.
Tak tahu kapan Ye Fei akan kembali, menunggu terus rasanya sia-sia. Jia Hongjun pun menelepon anak buahnya untuk mencari nomor telepon direktur perusahaan Jindong. Karena Ye Fei tinggal bersama Ji Siyue, selama dapat nomor Ji Siyue, mereka bisa menghubungi Ye Fei.
Keluarga Qi cukup berpengaruh di daerah itu. Ji Siyue sebagai direktur perusahaan, nomornya mudah didapat. Dalam beberapa menit, nomor Ji Siyue sudah didapat dan Jia Hongjun langsung meneleponnya.
Saat itu Ji Siyue sedang menyetir menuju kantor polisi. Ketika menerima telepon tak dikenal, ia tahu itu dari keluarga Qi yang ingin meminta bantuan Ye Fei.
Tapi Ji Siyue tak sempat memikirkan urusan apa yang ingin mereka minta. Ia langsung menceritakan apa yang terjadi dengan Ye Fei pada Jia Hongjun.
Setelah mendengar penjelasan itu, Jia Hongjun menutup telepon dan berkata pada Qi Ziyao, "Pantas saja Ye Fei belum kembali. Ternyata tadi ia ada masalah di kota dan sedang dibawa ke kantor polisi."
"Oh? Masalah apa?" Qi Ziyao terkejut.
Jia Hongjun pun menyampaikan cerita Ji Siyue pada Qi Ziyao. Setelah mendengar, Qi Ziyao mengangguk, "Ternyata hanya masalah kecil, mari kita ke kantor polisi menjemputnya."
"Benar juga, anggap saja ini membalas budi Ye Fei. Ayo!" Mereka pun segera naik mobil menuju kantor polisi.
Sementara itu, si gendut yang tadi setelah menandatangani surat mobil langsung pergi bersama Zhao Xin, tampak sangat puas. "Huh, berani-beraninya dia memukulku. Dia kira setelah ganti mobil, urusan selesai? Tidak semudah itu. Kepala unit He di kantor polisi itu saudara angkatku. Tadi aku sudah telepon, suruh mereka urus dua orang itu baik-baik."
"Bang Chen memang hebat! Wajahku sampai bengkak begini. Kali ini mereka harus benar-benar dihukum, biar dipenjara beberapa tahun sekalian," sahut Zhao Xin sambil menutupi wajahnya yang bengkak, penuh dendam.
Si gendut tertawa, "Tenang saja, aku pastikan mereka mendapat 'layanan' terbaik. Melawan aku? Mereka masih bau kencur."