Bab 79: Menemani Kekasih
Wang Wendong melepas headset dan mengajak, “Dai Heng, main game sebentar, yuk?”
Sebenarnya dulu mereka bertiga kadang-kadang memang suka main game bareng. Dai Heng jago main game, selain itu dia juga pemain sultan, perlengkapannya segudang. Mereka sering bisa pamer cuma dengan barang-barang yang udah nggak dipakai sama dia.
Tapi entah sejak kapan, Dai Heng mulai jarang main sama mereka?
Sepertinya...
“Enggak,” jawab Dai Heng.
Belum sempat Wang Wendong menyelesaikan pikirannya, suara rendah dan malas itu terdengar di sampingnya.
Zhou Mo juga menoleh, “Akhir-akhir ini kenapa kamu nggak pernah main game sama kita? Aku kangen banget masa-masa dibantu menang waktu itu!”
Di apartemen Dai Heng bahkan ada ruangan khusus yang didesain buat main bareng. Mereka pernah main di sana sekali, rasanya luar biasa—main game jadi benar-benar seru.
“Nggak ada waktu, aku mau nemenin pacarku.”
Jawabannya ringan saja, ia duduk di kursi dengan postur santai, bersandar malas, lalu mengeluarkan ponselnya.
“……”
Dengan kalimat itu, suasana kamar langsung jadi aneh dan hening.
Pintu kamar mandi memang tidak tertutup. Yu Yue sedang membungkuk mencuci tangan di bawah keran, mendengar suara itu ia pun terhenti sejenak.
???
Wang Wendong benar-benar syok.
Kapan lo punya pacar, anjir?!
Baru beberapa hari lalu waktu makan bareng masih jomblo, kan??
Kok tiba-tiba punya pacar? Cepat banget, bilang nggak mau pacaran ya beneran nggak mau, bilang mau pacaran, dua hari kemudian udah jadian.
Wang Wendong penasaran, “Siapa? Siapa?!”
Zhou Mo juga sangat ingin tahu, “Apa pacarmu itu gadis paling cantik di jurusan sebelah yang pernah naksir kamu waktu itu?”
“Aku penasaran, dengan seleramu setinggi itu, siapa sih yang kamu pilih? Siapa yang lebih cantik dari Yu Yue?!”
“Ayolah, bilang dong!!”
“Ayo, tolong jawab rasa penasaranku ini!!”
Dai Heng tetap menunduk, hanya tertawa ringan, “Kamu bukan pacarku, kenapa aku harus memuaskan rasa ingin tahumu?”
“……”
Wang Wendong menarik sudut bibir, masih ingin bertanya, namun saat itu Yu Yue keluar dari kamar mandi. Ekspresinya seperti biasa, tenang, tidak ada yang berbeda.
Tapi kenapa telinganya agak merah?
Dia tidak terlalu memperhatikan, lalu beralih ke orang lain.
Wang Wendong menyandarkan tubuh di sandaran kursinya, “Yu Yue, Dai Heng aja udah pacaran, kamu tahu pacarnya siapa?”
Suasana hening sejenak.
“Enggak tahu.” Jawabannya singkat dan kaku.
Zhou Mo menepuk meja, “Astaga, bahkan Yu Yue juga nggak tahu, makin penasaran aja gue!”
Keduanya masih membahas soal itu, hampir semua gadis cantik di kampus sudah mereka tebak satu per satu.
Tapi tetap tidak bisa memikirkan siapa yang akhir-akhir ini dekat dengan Dai Heng.
Padahal dia nggak pernah kelihatan ngobrol dengan cewek manapun!
Dari mana coba muncul pacar itu?
Akhirnya pembicaraan itu pun berlalu begitu saja. Mereka kembali memakai headset dan main game.
Yu Yue duduk di kursinya, tidak ikut dalam obrolan mereka, lalu menyalakan komputer.
Ada tugas kelompok untuk mata kuliah jurusan mereka, ketua kelompok sudah membagi tugas. Sebenarnya ia berencana mengerjakan belakangan, tapi hari ini siaran langsungnya selesai lebih cepat, jadi sekalian saja menyelesaikan tugas.
Karena sibuk mengumpulkan uang, jadwalnya makin padat. Selain harus kerja paruh waktu dan siaran langsung, ia juga harus menyelesaikan tugas-tugas dari beberapa mata kuliah. Tidak ada waktu senggang sama sekali.
Begitu sudah fokus pada sesuatu, Yu Yue benar-benar total, tak memedulikan apa pun di sekitarnya.
Setelah tugas hampir selesai, tubuhnya baru sedikit rileks.
Baru saat itu ia sadar, entah sejak kapan Dai Heng sudah menarik kursi dan duduk di sampingnya, dengan dagu bertumpu di tangan, menatapnya lekat-lekat.
Mata Dai Heng yang indah dalam itu menyorotkan perhatian penuh, sedikit cahaya jatuh di sana, membuatnya terlihat sangat serius.
Wang Wendong dan Zhou Mo kira tadi Dai Heng sedang chat sama pacarnya lewat HP.
Siapa sangka, ternyata benar-benar menemani pacarnya.
“……”
Yu Yue tidak ada waktu untuk peduli padanya.
Ia mengalihkan pandangan, lalu melanjutkan tugas.
Orang di sampingnya mengulurkan sesuatu ke bibirnya. Yu Yue yang sedang fokus ke layar, melirik ke bawah sekilas.
Ternyata itu segelas teh buah yang barusan dipesan Dai Heng.
Kebetulan ia memang haus, jadi langsung saja ia minum.
Suara rendah dan malas itu tiba-tiba terdengar di telinganya, “Lapar nggak, Sayang? Mau aku pesenin makanan lagi nggak?”
Yu Yue kaget sampai tersedak.
Batuk beberapa kali, leher dan telinganya jadi panas, ia menoleh, Wang Wendong dan Zhou Mo tampak tak memperhatikan mereka.
Yu Yue mendongak, menurunkan suara, “Lo bisa nggak sih nggak bikin jijik orang?”
Wajah Dai Heng tetap santai, menaruh teh buah di meja, dengan nada sengaja manja, “Kalau pacaran memang panggilannya begitu, kan?”
“……”
Di belakang, suara Wang Wendong dan Zhou Mo yang sedang main game sangat berisik, menutupi suara mereka.
Yu Yue menyandarkan tubuh di kursi, bahkan sudah kehabisan kata untuk memakinya.
Dai Heng mengangkat kelopak matanya, duduk tegak, lalu mendekat, “Besok ada waktu?”
Jari Yu Yue sempat terhenti, “Kenapa?”
“Besok bisa ke rumahku?”
“……”
Niatnya terlalu jelas.
Yu Yue sempat melirik ke arahnya, “Nggak bisa.”
Dai Heng menelan ludah, menahan diri, kakinya yang panjang menyentuh lutut Yu Yue, “Pak Guru Yu, waktuku mepet, jangan sengaja bikin susah aku.”
Yu Yue melihat jadwal kuliahnya, mengetuknya pelan dengan pulpen, menunjukkan ke Dai Heng, “Besok Kamis, aku penuh, malam ada kegiatan organisasi.”
“……”
“Kalau lusa?”
Yu Yue menengok jadwalnya, “Lusa sore aku nggak ada kuliah.”
Dai Heng menaikkan alis, “Berarti...”
Yu Yue dengan santai memotongnya, “Tapi lusa sore aku harus kerja paruh waktu.”
Dai Heng: “……”
Dai Heng menyandar di kursinya, hampir tertawa kesal, “Kamu sengaja, ya?”
Yu Yue memutar pulpen di tangannya, lalu tertawa kecil sambil menoleh ke samping.
Pandangan Dai Heng jatuh ke bibir Yu Yue, menahan diri supaya tak langsung mencium, lalu mengancam pelan, “Hati-hati nanti anakmu aku siksa.”
Yu Yue menatapnya sekilas, “Kamu masih punya jurus lain?”
Dai Heng menarik sandaran kursi Yu Yue, menariknya beserta kursi mendekat, menahan suara rendah, “Gue udah nggak tahan, kalau nggak mau ikut ke rumah, gue bakal cium kamu di sini.”
“……”
Gerakan Yu Yue memutar pulpen terhenti, menoleh ke arah dua orang yang masih asyik main game di belakang.
Dai Heng mengangkat dagu Yu Yue, memaksanya menengadah, mendekat, “Lagian gue juga nggak peduli, emang kenapa kalau gue gay?”
“……”
Dai Heng sudah sangat dekat, sebentar lagi bakal mendaratkan ciuman.
Sementara itu, Wang Wendong dan Zhou Mo baru saja selesai main satu ronde, kelihatannya kalah, mereka berdua ngomel-ngomel.
Wang Wendong, “Sial, goblok banget, kalah dua kali, semua gara-gara dia.”
Zhou Mo melepas headset, “Siapa sih dia? Dari mana kamu dapet orang itu!”
Wang Wendong, “Dari kamar sebelah juga, tiap hari minta aku bawa main bareng, padahal mainnya kayak sampah.”
Zhou Mo, “Sejak Dai Heng nggak pernah main bareng, udah lama banget nggak ngerasain menang bareng. Aduh, Dewa, tolong bawa aku!”
“……”
Mereka berdua sepertinya hendak berbalik badan.
Yu Yue sampai menahan napas, tangannya refleks menggenggam sandaran kursi.
“Besok,” ucap Dai Heng, menghentikan gerakannya, menatap Yu Yue.
Dengan wajah datar Yu Yue mendorongnya pergi, “Besok siang aku ke rumahmu.”