Bab Pertama
Sebelas tahun kemudian... awal tahun ke-63 era Zaosui.
Seorang anak laki-laki sedang melatih jurus kultivasinya di dekat sebatang pohon di depan pondok bambu. Setelah berlatih selama beberapa jam, ia mulai melayangkan pandangannya ke sekeliling. "Hei! Si Tua Licik, di mana kau?"
*Wusss!*
Suara angin berdesing tiba-tiba terdengar.
*Duk!*
Sebuah apel mendarat tepat di kepala seseorang. "Jiang Jin'an, kau bosan hidup, ya?!"
Seorang pria menatap Jiang Jin'an dengan amarah yang meluap-luap. Jiang Jin'an menyahut, "Maaf, Paman Kecil, aku tidak sengaja. Aku tidak tahu kalau Paman sedang tidur."
Paman itu berkata kepada Jiang Jin'an, "Kau pikir aku, Sun Sen, ini bodoh? Suara dengkuranku saja terdengar begitu keras, dan kau bilang tidak tahu aku sedang tidur?"
Pada saat itu, seorang pria tua berambut putih melompat turun dari pohon. Sambil menepuk-nepuk daun dan debu yang menempel di pakaiannya, ia berkata, "Sudahlah, kalian berdua tenang. Jiang Jin'an, tunjukkan hasil latihanmu."
Jiang Jin'an menarik napas dalam-dalam, mengepalkan tangannya, lalu melayangkan pukulan kuat ke depan. Dengan suara *prak*, sebatang pohon tumbang ke tanah.
Orang tua itu mengangguk. "Tidak salah lagi, kau memang murid yang diajar olehku, Chen Nian. Kecepatan kemajuanmu benar-benar di luar dugaanku."
Sun Sen bertanya, "Energi Darah? Tingkat berapa?" Chen Nian menjawab, "Sekitar tingkat kedua."
Sun Sen tersenyum bangga. "Saat aku berlatih dalam jangka waktu yang sama dulu, Energi Darahku sudah mencapai tingkat kelima, dan hampir menerobos ke ranah Xuan Emas."
Chen Nian membalas, "Mengapa kau membual! Kau sendiri tahu berapa banyak obat herbal yang telah kau telan!"
Sun Sen menyahut, "Omong kosong, hanya sekitar delapan ratus kati saja."
Chen Nian berkata, "Benarkah? Kau bahkan hampir menjadi orang-orangan sawah, perutmu penuh dengan rumput."
Sun Sen berkata, "Itu karena aku hebat."
Chen Nian membalas, "Kau hebat... kau...! Siapa yang membayar semua obat itu kalau bukan aku?!"
Sun Sen tersenyum. "Kita ini dari sekte yang sama, jangan pelit begitu."
Baru saja Chen Nian hendak membalas, Wu Jiu berjalan keluar dari pondok kecil. "Makanan sudah siap, semuanya."
Begitu Sun Sen bangkit berdiri, hembusan angin berdesir cepat melewati sisinya. *Wusss!* Sun Sen terkejut. "Eh, apa yang barusan lewat?"
Chen Nian menjawab, "Bukan apa-apa, hanya Jiang Jin'an yang berlari lewat." Sun Sen menggelengkan kepalanya. "Ini jauh lebih cepat daripada seni meringankan tubuhku."
Chen Nian terkekeh. "Jangan merendahkan dirimu sendiri, ayo makan."
Waktu Shen — Halaman Belakang
Chen Nian menghela napas, menggoyang-goyangkan kendi araknya yang kosong. Matanya menyipit dengan raut wajah penuh kecemasan. "Sejak ras iblis muncul di barat daratan, dunia ini tidak pernah damai. Tampaknya hari-hari tenang kita tidak akan lama lagi."
Sun Sen menatap matahari terbenam di ufuk barat dan menggelengkan kepalanya. "Bainnya pun tidak bisa dibilang damai. Mulai dari pertempuran sengit antara tiga dinasti besar hingga invasi ras iblis sekarang, dunia menjadi semakin kacau. Terlebih lagi bagi kita, para pendekar kelana Jianghu."
Chen Nian memandangi burung-burung yang terbang di langit lalu berkata, "Terkadang aku sangat iri pada burung-burung di langit itu, tidak perlu cemas atau terbebani oleh kekhawatiran dan kesedihan."
Sun Sen turut memandangi burung-burung itu dan berkata, "Jika itu aku, aku ingin menjadi seekor elang yang perkasa. Bebas dan tidak terikat oleh apa pun."
Chen Nian tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Sayang sekali, kau adalah manusia."
Sun Sen mengangguk. "Benar, aku adalah manusia."
Sun Sen menoleh ke arah Jiang Jin'an yang sedang tertidur di dekat mereka, lalu tersenyum dan berkata, "Mungkin bocah ini akan mencapai hal-hal besar di masa depan. Omong-omong, bagaimana sebenarnya asal-usul anak ini?"
Chen Nian menatap Sun Sen. "Kau ingin tahu?"
Sun Sen mengangguk. "Ya, aku ingin tahu."
Chen Nian perlahan mengucapkan dua kata, "Liyun..."
***
Tujuh tahun berlalu — awal tahun ke-70 era Zaosui.
Pagi-pagi sekali, Chen Nian mendatangi kamar Jiang Jin'an. Ia mengulurkan tangan kirinya dan menjentikkan jarinya. Seketika itu juga, terdengar jeritan histeris dari dalam kamar, disusul suara *brak!* pintu kamar ditendang hingga terbuka lebar. Jiang Jin'an berjalan keluar dengan amarah yang meluap-luap, lalu berteriak kepada Chen Nian, "Si Tua Licik, kau keterlaluan! Beraninya kau menusukku dengan jarum perak!"
Chen Nian mengelus janggutnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya berada di belakang punggung, lalu tertawa terbahak-bahak. "Muridku, hari ini adalah hari penting upacara kedewasaanmu, apa kau lupa? Haruskah gurumu ini mengingatkanmu?"
Wajah Jiang Jin'an sedikit memerah, dan bicaranya menjadi agak terbata-bata, "Ma... mana mungkin! Bagaimana mungkin aku... melupakannya?"
Melihat ekspresi Jiang Jin'an, Chen Nian melambaikan tangannya. "Sudahlah, tidak masalah jika kau tidak mengingat hal kecil seperti ini. Oh ya, Yan Xi telah menyiapkan banyak makanan lezat yang jarang bisa kita santap. Ikutlah denganku."
Jiang Jin'an merasa ragu. "Guru, benarkah?" Chen Nian tersenyum. "Kau ini, begitu mendengar tentang makanan langsung bersemangat. Kenapa? Apa kau pikir gurumu ini akan membohongimu?"
Jiang Jin'an menundukkan kepalanya sejenak untuk berpikir, lalu mulai menghitung dengan jari-jarinya. "Saat aku berumur dua belas tahun, di bulan kedua, Guru membohongiku untuk berlatih di atas es, yang akhirnya membuatku tercebur ke dalam sungai. Di tahun yang sama pada bulan ketujuh, Guru membohongiku untuk melatih Qi di Gunung Dewa, tetapi aku malah dikejar sejauh ratusan mil oleh beruang tingkat empat ranah Qiyu..."
Mendengar hal itu, Chen Nian segera melambaikan tangannya dan berkata, "Sudah, sudah, itu semua cerita lama, tidak perlu dibahas lagi."
Halaman Depan
Yan Xi berkata, "Makanan sudah siap, mari makan semuanya."
Mata Jiang Jin'an berbinar saat melihat makanan itu. "Wah, mewah sekali!"
Yan Xi menyahut, "Bagaimana? Demi upacara kedewasaanmu, aku telah bersusah payah menyiapkannya."
Jiang Jin'an tersenyum. "Kalau begitu, terima kasih banyak, Kak Yan Xi."
Wu Jiu menyajikan hidangan terakhir lalu menepuk tangannya. "Baiklah, semua hidangan sudah disajikan. Silakan dinikmati..."
***
Setelah Makan — Tengah Hari — Halaman Belakang
Chen Nian bertanya kepada Wu Jiu, "Bagaimana pergerakan ras iblis akhir-akhir ini?"
Wu Jiu meletakkan cangkir tehnya dan menggelengkan kepala sambil mendesah prihatin. "Situasi di Benua Tengah sangat tidak menjanjikan. Ras iblis terlahir kuat dan haus perang. Menurut orang-orang di Kabupaten Liang, tidak lama lagi ras iblis akan menyerang sampai ke tempat ini."
Chen Nian terdunduk diam, lalu berbalik dan bertanya kepada Jiang Jin'an yang berada di sampingnya, "Hei, bagaimana latihanmu selama tujuh tahun terakhir ini?"
Jiang Jin'an mengepalkan kedua tangannya, mengalirkan 'Qi' ke seluruh tubuhnya. Lambat laun, aura hijau muda terpancar di sekitar tubuhnya. Jiang Jin'an menjawab, "Tingkat kedua ranah Qiyu."
Chen Nian mengangguk pelan. "Ya, tidak buruk. Kau telah meningkat pesat dalam tujuh tahun ini, tetapi itu masih terlalu lambat. Manfaat yang diberikan oleh *Kitab Kultivasi Qi* kepadamu masih terlalu sedikit. Guru akan menghadiahkanmu sebilah pedang dan satu set jurus pedang." Setelah berkata demikian, ia mengeluarkan sebuah kotak giok panjang yang dibungkus kertas dari bawah meja. Saat dibuka, di dalamnya terbaring sebilah pedang panjang berwarna perak berkilau yang memancarkan hawa dingin, serta sebuah kitab berjudul *Kitab Pedang Lihe*.
Chen Nian mengangkat pedang itu dan berkata perlahan, "Pedang ini bernama Zhidong. Ditempa dari besi dingin berusia ratusan tahun dari gunung salju, dinamai demikian karena hawa dinginnya yang membekukan. Sedangkan kitab pedang itu ditinggalkan oleh seorang tokoh legendaris. Mengenai isinya, hanya kau sendiri yang bisa memahaminya."
Jiang Jin'an menerima pedang dan kitab pedang tersebut. "Aku mengerti, Guru."
Chen Nian menghela napas. "Ada beberapa hal yang juga sudah saatnya kau ketahui." Setelah berkata demikian, ia mengeluarkan sepucuk surat yang telah menguning dimakan usia dari balik bajunya.
Chen Nian berkata kepada Jiang Jin'an, "Sebenarnya, sejak awal gurumu ini telah membohongimu. Kau bukanlah anak yang dibuang oleh orang tuamu. Ibu kandungmu adalah seorang putri dari keluarga terpandang, sedangkan ayah kandungmu, aku belum pernah bertemu dengannya. Namun yang harus kau ingat, tempat ini bukanlah dunia tempatmu seharusnya berada. Ini adalah dunia yang penuh bahaya, kecerobohan sekecil apa pun bisa membuatmu kehilangan nyawamu dengan mengenaskan. Kau mungkin memilih untuk tetap tinggal di sini, tetapi hidup di bawah perlindungan kami tidak akan pernah membuatmu menjadi kuat."
Chen Nian mengeluarkan sebuah kotak kayu lagi. "Oh ya, ini ditinggalkan oleh ibumu, mungkin ada petunjuk di dalamnya."
Jiang Jin'an menerima kotak kayu itu dari Chen Nian. Saat membukanya, ia melihat setengah keping liontin giok di dalamnya. Jiang Jin'an merasa bingung. "Liontin giok? Kenapa hanya setengah?"
Wu Jiu berkata kepada Jiang Jin'an, "Aku tidak tahu, Nyonya menyerahkannya kepadaku memang dalam keadaan seperti itu." Sun Sen menunjuk ke arah kotak kayu dan berkata, "Ukiran ini... sepertinya adalah lambang dinasti." Sun Sen menatap Jiang Jin'an. "Bagaimana kalau kau membaca surat itu?" Jiang Jin'an mengangguk, membuka amplop di tangannya, lalu mengeluarkan surat itu dan mulai membacanya.
Waktu berlalu detik demi detik. Jiang Jin'an menatap kertas surat itu dengan pandangan kosong tanpa emosi sedikit pun. Tepat ketika Sun Sen yang merasa heran hendak mengambil surat itu untuk dibaca, *wusss!* api tiba-tiba berkobar di atas surat tersebut. Hanya dalam hitungan detik, surat itu telah hangus terbakar, menyisakan sudut kecil yang digenggam di tangan Jiang Jin'an.
Perubahan mendadak ini membuat Sun Sen terkejut setengah mati, tetapi ia segera menenangkan diri. "Teknik Api Fosfor? Ini..."
Chen Nian mengangguk. "Ya, persis seperti yang kau pikirkan."
Sun Sen berkata, "Ini... ini tidak mungkin!"
Chen Nian memandangan ke kejauhan. "Tidak ada hal yang mustahil di dunia ini."
Kemudian Chen Nian menunjuk ke arah Celah Wentian. "Celah Wentian ini, sebentar lagi akan bersimbah darah..."
Bab Satu — Selesai
Baru — Bagian Celah Wentian — Mulai