Bab 58: Bisakah Aku Mengajakmu Berdansa (24)
Pemain itu menelan ludah, "Kamu... apa yang mau kamu lakukan?"
Ia melihat beberapa staf berdiri di belakang Yusha, menatapnya dengan ekspresi tanpa emosi.
Ia tidak salah bicara, sebagian besar staf ini adalah monster laut, dan mereka juga dipimpin oleh Yusha.
Mereka memang telah memakan beberapa orang.
Meskipun Yusha tidak ikut menggigit, ia membawa monster-monster laut itu untuk menggigit orang, jadi tuduhannya tidak bisa dibilang salah!
Yusha tidak berkata apa-apa. Tangannya masih berada di puncak kepala pemain itu, sementara tatapannya tertuju pada jam tangan di pergelangan tangan sang pemain.
Ia ingat Chanchar juga memiliki satu di pergelangan tangannya.
Ia menarik kembali tangannya dari kepala pemain tersebut.
Melihat hal itu, reaksi pertama pemain itu adalah mencoba melompati pagar di depannya untuk kabur.
Ia sedang berdiri di koridor lantai dua, melompat dari lantai dua ke lantai satu bukanlah hal yang sulit baginya!
Namun, tepat pada detik saat ia melompati pagar, lengannya yang mengenakan jam tangan dicengkeram oleh Yusha.
Situasi seperti ini paling-pala membuatnya tidak jatuh ke bawah. Ia tanpa sadar meronta, berniat melepaskan lengannya dari genggaman Yusha.
Detik berikutnya, cipratan darah hangat menyembur ke wajahnya.
Tubuhnya meluncur jatuh dengan kecepatan tinggi, terbanting ke ruang tamu di lantai satu, dan seketika itu juga, rasa sakit yang luar biasa melanda seluruh tubuhnya.
"Aaaahhhh! Tanganku!"
Ia baru menyadarinya dan menjerit histeris.
Lengannya telah robek dan terlepas dari bahunya oleh Yusha secara paksa!
Sambil memegangi bahunya yang berdarah tiada henti dan kini telah buntung, ia berguling-guling di lantai karena kesakitan.
Yusha berdiri di lantai dua, menatapnya dengan pandangan merendahkan dari atas, lalu mengangkat lengan orang tersebut untuk melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
Untung saja ia bisa membaca. Meskipun belum pernah memainkannya, ia tahu arti dari tulisan-tulisan itu.
Ia mengeklik masuk ke dalam grup obrolan dan melihat seseorang dengan nama samaran Anonim 1 terus membelanya.
Setelah menggulir riwayat obrolan ke atas, ia tahu bahwa si nomor 1 ini adalah Wen Chan.
Pupil mata biru Yusha memancarkan secercah rasa senang.
Ia langsung menghapus dan menulis ulang pesan lalu mengirimkannya.
[Chanchar, aku Yusha. Setelah kamu pergi, aku tidak pernah melepasnya. Aku tidak ingin berciuman dengan mereka, juga tidak ingin menggigit mereka. Nanti saat kamu kembali, aku ingin menciummu, bolehkah?]
Semua orang di dalam grup: [………………]
Apakah mereka juga bagian dari drama romansa pasangan ini?
[Bukan! Bagaimana dia bisa masuk ke dalam grup obrolan?]
[Apakah ada yang bisa mengurus ini? Admin? Di mana admin?! Tendang dia keluar!]
[Anonim 9 ini sudah celaka, jam tangannya direbut oleh Yusha! Apakah setelah melihat ini kalian masih mengira kami sedang membohongi kalian? Gambar]
Seseorang di grup mengirimkan foto Yusha yang sedang berdiri di koridor, menunduk sambil memegang lengan berdarah dan mengamati jam tangan.
Di belakangnya berdiri beberapa staf berwajah garang bak pengawal, memancarkan aura preman yang kuat.
Melihat foto itu, Yusha mendongak dan dengan tepat menatap ke arah salah satu pilar di koridor seberang.
Tanpa menoleh ke belakang, ia melambaikan tangannya, dan beberapa staf di belakangnya berjalan teratur ke arah sana.
Orang itu masih berteriak di dalam grup: [Dia menemukanku! Dia mengirim monster-monster laut itu untuk memakanku, aku akan segera mati! Saudara-saudara di pulau, jika di atas aman, jangan kembali, benar-benar jangan kembali! Aku pergi menyelamatkan diri!]
[……]
Dampak visual dari foto itu memang cukup besar.
Yusha tampak seperti orang yang bersih dan tidak bersalah, namun di tangannya ia memegang tangan buntung yang begitu mengerikan.
Banyak orang yang tertinggal di kapal mulai mengutuk di dalam grup, takut kalau giliran merekalah yang berikutnya mati.
Mereka tidak hanya mengutuk Yusha, tetapi juga mengutuk tim yang pergi mengebom pulau, menuduh bahwa mereka pasti sudah tahu sebelumnya kalau para NPC ini akan mengamuk, makanya mereka melarikan diri ke pulau untuk mencari perlindungan.
Poin utamanya adalah, cukup banyak orang yang mempercayainya.
Saat ini di kapal paling banyak hanya tersisa selusin pemain, rasa solidaritas mereka benar-benar sedang memuncak melawan musuh bersama.
Anonim 1: [Hiu kecil, aku Wen Chan.]
Wen Chan memperkenalkan dirinya di dalam grup.
Yusha membalas dengan menggunakan ID Anonim 9: [Aku tahu kok, Chanchar adalah yang paling baik padaku!]
Setelah membaca obrolan grup, hanya wanita itu satu-satunya yang membantunya berbicara. Pantas saja ia paling menyukai Chanchar.
Wen Chan: [Lalu bagaimana situasi di tempatmu?]
Wen Chan tidak akan percaya pada apa yang dikatakan orang lain. Karena Yusha bisa menghubunginya, ia ingin Yusha menjelaskannya sendiri.
Yusha menjawabnya dengan jujur: [Tidak lama setelah kalian pergi, mereka mulai saling bunuh dan menarik perhatian beberapa rekan kerjaku. Mereka saling mengobrol, lalu situasinya jadi seperti ini.]
Rekan kerjanya...
Maksudnya adalah beberapa staf di dalam foto yang tidak tampak seperti orang normal itu?
[Rekan kerjanya memakan orang-orang yang berkelahi tadi!] seseorang menyahut di sela-sela obrolan.
Yusha: [Mereka tidak menurut.]
[Chanchar, kamu akan kembali, kan? Kamu sudah berjanji padaku.]
Ia berpikir sejenak. Ia tidak terlalu peduli apakah orang lain akan kembali atau tidak, tapi ia takut orang lain juga melarang Chanchar untuk kembali.
Ia menambahkan lagi: [Sekelompok orang itu membohongi kalian, kalau kalian tidak kembali, kalian hanya bisa tinggal di sana selamanya. Saingan mereka berkurang, jadi nanti semua barang bagus akan menjadi milik mereka.]
[Setelah pangkalan di pulau itu lenyap, racun di zona kabut beracun ini juga akan hilang, saat itu kita bisa menemukan jalan pulang.]
Semua orang: [……]
Tidak ada yang lebih menarik daripada bisa meninggalkan tempat ini. Bahkan jika kembali ke kapal mungkin berbahaya, jika tidak kembali ke kapal, mereka tidak akan pernah bisa menyelesaikan misi.
Orang-orang di pulau sudah bisa mempertimbangkannya dalam hati.
Para pemain di kapal masih berusaha membujuk: [Kalian ini bodoh ya? Lebih memilih percaya pada monster daripada bangsa sendiri?]
[Betul! Semuanya hati-hati! Pasangan bajingan ini bersekongkol dan khusus membunuh para pemain, jangan sampai percaya! Di antara orang-orang yang keluar bersama kami, ada seorang gadis kecil bernama Qina, dia sudah dibunuh oleh Wen Chan! Menurutku pulau itu sekarang juga sudah tidak aman lagi.]
Kambing hitam yang terlambat datang itu akhirnya ditimpakan juga ke punggung Wen Chan.
Beberapa orang yang telah melihat rekaman CCTV: [……]
Nomor 68 yang belum pernah melihat rekaman CCTV: [……]
Ia menoleh menatap Wen Chan dan bertanya dengan bingung, "Tanganmu sepanjang itu?"
Bisa-bisanya membunuh orang di tepi pantai padahal sedang berada di dalam pangkalan?
Wen Chan menjawab dengan tenang, "Iya, aku bahkan bisa berteleportasi, membunuh orang tanpa berkedip."
Nomor 68: "?"
Tanpa memberinya kesempatan untuk bicara lebih banyak, Wen Chan mengetikkan sebaris kalimat di dalam grup.
[Bagaimana kamu bisa yakin kalau dialah yang membunuhku?]
[Dia menggenggam salep yang kamu berikan, lagipula aku melihatnya sendiri saat itu!]
Wen Chan: [Kabut racunnya begitu pekat, apa matamu bisa melihat dengan jelas?]
[Tidak bisa melihat wajahmu, tapi bukankah bentuk tubuhmu masih bisa dilihat? Cuma kamu yang pakai pakaian selam, bentuk tubuhmu begitu jelas, aku kan tidak buta!]
Anonim 3: [Itu... kalian sekarang ada di mana?]
Chu Nan tidak bisa menahan diri untuk tidak memotong obrolan mereka berdua.
[Di pantai lah! Kalau tidak, bagaimana aku bisa tahu Qina sudah mati? Ck ck, dendam apa coba sampai puluhan luka tusuk di tubuhnya. Oh ya, sebentar lagi Wen Chan kembali, kita tangkap saja dia. Hubungannya dengan Yusha begitu mendalam, menangkapnya untuk mengancam Yusha nanti, sepertinya tidak akan terjadi masalah apa-apa.]
Ia bahkan sudah memikirkan semua rencana untuk tahap selanjutnya.
[Chanchar?]
Yusha tidak tahu apa yang sedang terjadi di pulau, tapi dari membaca riwayat obrolan ia tahu bahwa wanita itu sedang dalam bahaya. Saat ini ia sangat ingin bisa terbang ke sisinya dan merobek orang yang mengucapkan kata-kata barusan menjadi dua bagian.
[Aku baik-baik saja.]
Wen Chan memberikan kalimat penenang, lalu mengirimkan video rekaman pengawas ke dalam grup obrolan.
[Dari kejadian hari ini, aku akhirnya paham. Rupanya ada orang yang ingin memecah belah kita dari dalam. Rencana yang bagus! Hanya saja kurang memperhitungkan kekuatan teknologi.]