Bab 49: Bisakah Aku Mengajakmu Berdansa (15)
Kejadian ini benar-benar tidak terduga.
Wen Chan tersenyum memandang Yu Xian dan Chu Nan.
Kedua orang itu saling berpandangan, Yu Xian menarik Chu Nan dan mundur beberapa langkah dalam diam, lalu berdiri bersama Fang Minghao.
Nomor 68 mendelik ke arah mereka bertiga, memutar tubuhnya, dan berdiri di hadapan Wen Chan untuk menghalangi pandangan mereka.
"Karena kau adalah seorang informan, aku tidak akan bertele-tele lagi. Seberapa banyak yang kau tahu tentang barang lelang kali ini?"
Profesi sebagai informan cukup lumrah ditemukan di dalam dungeon. Bagaimanapun juga, bagi para pemain yang ingin pulang, poin adalah segalanya bagi mereka.
Mereka akan melakukan apa saja demi mendapatkan poin agar bisa segera menukarkannya dengan tiket kereta.
Kini, citra Wen Chan di mata Nomor 68 telah berubah menjadi seperti itu.
Ia sedikit bisa memahami Wen Chan; jika tidak mencapai posisi setinggi ini, ia tidak akan bisa mendapatkan informasi tertentu, dan pada akhirnya tidak akan bisa melakoni pekerjaan sebagai informan ini.
Wen Chan sama sekali tidak terduga bahwa ia akan menanyakan hal ini.
Kebetulan tadi sore You Sha telah membocorkan beberapa hal kepadanya.
"Tulang ikan?" ucapnya mencoba menebak.
"Tulang ikan apa! Itu adalah sisa tulang belulang Dewa Laut! Informasimu kuno sekali, ya? Kenapa malah lebih buruk daripada pengetahuanku?" kata Nomor 68 tanpa sungkan.
Wen Chan tahu pasti dalam hatinya, ia berkata dengan tanpa mengubah ekspresi, "Kalau kau sudah tahu, kenapa masih bertanya padaku?"
Informasi yang mereka dapatkan saat ini sepertinya sengaja disebarkan oleh sang kapten untuk menarik perhatian.
Sisa tulang belulang Dewa Laut; siapa pun yang mendapatkannya akan dapat mewarisi kekuatan Dewa Laut.
Sungguh sangat memikat, bahkan para pemain pun ingin memilikinya.
Kemampuan yang didapatkan di dalam dungeon dapat terus mengikuti mereka ke dungeon-dungeon lainnya.
Jika mereka berhasil mendapatkan kekuatan Dewa Laut, bukankah mereka akan menjadi tak terkalahkan di dungeon bertema perairan di masa mendatang?
"Maksudku..."
Nomor 68 melihat sekeliling karena takut tepergok orang lain, lalu ia membungkukkan badan, mendekati Wen Chan, dan berbisik, "Apakah rumor tentang mendapatkan kekuatan itu benar atau tidak? Apakah kau punya informasi orang dalam?"
Wen Chan memasang senyum polos dan tak berdosa kepadanya, "Aku bilang itu tulang ikan, bagaimana menurutmu?"
Nomor 68 menjadi cemas, "Jangan berbicara dengan logat daerah begitu dong! Tulang belulang ya tulang belulang, apa pula tulang ikan itu? Ah... Dewa Laut kan memang ikan, kalau kau bilang begitu tidak salah juga sih."
Ia merenung sejenak, lalu mengangguk dan bergumam pada dirinya sendiri, "Paham..."
"Paham kepalamu! Maksudnya itu berita palsu, bukan tulang belulang apa pun, itu cuma tulang ikan biasa! Masih saja pakai ngeles logat, apa kau sudah gila?"
Chu Nan yang berada di samping merasa tidak tahan lagi, ia maju dan mendorong Nomor 68 menjauh.
"Pergi sana! Bertanya saja tidak becus."
Nomor 68: "Sialan, kau menguping pembicaraan kami lagi?"
Chu Nan: "Kau kan belum bayar, memangnya kenapa kalau aku dengar?"
Siang tadi ia takut identitasnya terbongkar sehingga terus menahan diri, tetapi sekarang penyamaran mereka telah terbongkar dan ia memiliki pendukung di sisinya, Chu Nan benar-benar melepaskan seluruh kendali dirinya.
Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di kedua sisi sandaran kursi Wen Chan, mengurung wanita itu di antara kursi dan dadanya.
Posisi yang sangat ambigu.
"Berapa lama lagi serangan monster laut berskala besar akan terjadi?"
Tatapannya terkunci lekat pada Wen Chan, memancarkan aura tekanan yang kuat.
Jelas sekali, informasi yang ia ketahui lebih banyak daripada si bodoh Nomor 68 itu.
Wen Chan mengangkat sebelah alisnya ke arahnya, "Bisakah kau bayar dulu uangnya? Dengan posisi seperti ini, kalian terlihat seperti sedang melakukan interogasi paksa."
"..." Pertahanan Chu Nan langsung runtuh dalam sedetik, momentum yang baru saja ia bangun musnah sekadar oleh kalimat itu.
Ia berusaha membelalakkan matanya, mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar terlihat garang.
Sayang sekali dengan wajah *baby face* miliknya itu, semakin besar ia membuka mata, semakin terlihat kekanak-kanakan, wajah anak kecil yang sama sekali tidak memicu rasa takut.
"Pft..." Wen Chan bahkan tidak bisa menahan tawa kecilnya.
Chu Nan menarik sudut bibirnya, berniat bangkit dan menyuruh Nomor 68 membayar terlebih dahulu.
Sedetik kemudian, tubuhnya tiba-tiba ditubruk hingga terpental ke samping.
Untungnya Yu Xian dengan sigap dan cekatan berhasil menangkapnya.
Seorang staf yang mengenakan kemeja dan rompi berdiri di hadapan Wen Chan dengan napas memburu.
Wen Chan langsung mengenalinya seketika.
Itu adalah Jack.
Jack yang memiliki mata lebam sebelah menatap Wen Chan dengan senyum yang tidak sampai mata, lalu berkata, "Nona Wen, saya tidak dapat menemukan Lucy. Bisakah Anda membantu saya mencarinya di luar?"
Wen Chan: "..."
Ia membuang muka, mengalihkan pandangannya melewati Jack, lalu menatap ke arah You Sha di kejauhan.
Tepat saat ia menoleh, You Sha langsung membuang muka, berpura-pura tidak terlalu memerhatikan wanita itu.
Sayang sekali, belum sampai dua detik, ia kembali menolehkan kepalanya, menatap wanita itu dengan tatapan penuh iba dan dirugikan.
Wen Chan tersenyum tipis, mengambil jaketnya dan bangkit berdiri, "Ayo pergi."
Para pemuda parasit yang suka numpang gratis ini sama sekali tidak ingin diladeni oleh Wen Chan.
Sungguh tidak tahu diri!
"Tunggu sebentar!" Chu Nan masih ingin mengatakan sesuatu, namun Yu Xian menahan lengannya.
Pada saat yang sama, Yu Xian mengetuk jam tangannya dan mentransfer sepuluh ribu poin kepada Wen Chan.
Wen Chan menerima notifikasi tersebut.
Hmm~ masih ada orang yang tahu aturan!
Wen Chan berbalik, memberikan senyuman ramah kepada Yu Xian, lalu menjawab, "Setelah lelang berakhir."
Setelah mengatakan itu, ia pun pergi mengikuti Jack.
Itu adalah jawaban untuk pertanyaan Chu Nan barusan.
You Sha mengatakan bahwa mereka akan segera memasuki area kabut beracun, itulah sebabnya ia terburu-buru melelang sisa tulang tersebut, yang berarti sesudah lelang usai, area kabut beracun akan segera tiba.
Begitu mereka memasuki wilayah tempat pesta pora para monster laut, bukankah serangan monster laut berskala besar sudah pasti akan terjadi?
Yu Xian dan Chu Nan saling berpandangan, rona wajah kedua orang itu tampak kurang baik.
Waktu persiapan mereka tidak banyak lagi.
Nomor 68 menggaruk bagian belakang kepalanya, "Apa maksudnya?"
Fang Minghao ragu-ragu apakah harus menyusul Wen Chan, setelah berpikir sejenak, ia tiba-tiba menyadari satu hal, "Dia... apakah dia menerima misi dari NPC?"
Semua orang: "!!!"
Nomor 68: "Keparat! Informan pilihan surga!"
Di dalam dungeon, tempat di mana terdapat NPC pasti memiliki misi, tetapi orang yang bisa mendapatkan misi sangatlah sedikit, dan biasanya misi semacam ini berkaitan dengan alur cerita tersembunyi.
Membuka alur cerita tersembunyi memberikan poin terbanyak.
Mata semua orang langsung berbinar-binar; hal ini jauh lebih memikat daripada acara lelang.
Jika pendengaran mereka tidak salah, staf tadi baru saja mengatakan bahwa Lucy tidak dapat ditemukan...
Lucy... Lucy siapa?
Mereka saling bertukar pandang, lalu tiba-tiba membubarkan diri dan berpencar untuk mencari Lucy.
Acara lelang tidak lagi menarik bagi mereka.
......
Di lantai enam bagian atap terbuka, Wen Chan menumpukan kedua tangannya di atas pagar pembatas, memandang kejauhan ditemani cahaya rembulan.
Hujan telah berhenti sejak malam menjelang, udara terasa sangat sejuk saat itu, hanya saja sekelilingnya tampak gelap gulita dan begitu menyesakkan hingga membuat orang merasa sulit bernapas.
Jack memintanya mencari orang hanyalah sebuah alasan belaka, saat ini ia sedang sangat santai, sementara di lantai bawah acara lelang seharusnya sedang berlangsung.
Sayang sekali, ia tidak bisa pergi menonton keramaian.
Wen Chan bersiap untuk beristirahat sebentar lagi sebelum kembali ke kamar untuk tidur, tanpa diduga sudut matanya menangkap kemunculan dua sosok bayangan di geladak lantai bawah.
Salah satu dari mereka memanggul orang lain, berjalan dengan mengendap-endap entah hendak melakukan apa.
Orang yang dipanggul adalah seorang gadis berambut pirang, yang terlihat sedikit familiar.
Wen Chan berniat menyalakan senter untuk menakut-nakuti mereka.
Pintu atap tiba-tiba didorong terbuka oleh seseorang, Jack berlari tergopop-gopop menghampiri, "Wen... Wen... Lucy... Lucy benar-benar hilang!"
Bruk——
Tepat saat Wen Chan menoleh ke arah Jack, terdengar suara benda jatuh ke dalam air dari lantai bawah.
Wajah Wen Chan sedikit berubah, ketika ia menoleh kembali, sosok kedua orang di geladak tadi sudah lenyap.
Gawat, itu Lucy!
Tanpa pikir panjang, Wen Chan melompati pagar pembatas dan melompat turun ke arah lautan yang gelap gulita.
Jack menerjang ke depan dengan gestur terbang namun terjatuh di lantai, gagal meraih wanita itu.
Wajahnya langsung memucat seketika, "Lucy hilang kenapa malah kau yang melompat ke laut! Harusnya kan aku yang melompat! Kalau begini bagaimana aku harus melapor pada You Sha? Dia akan membunuhku!"
"Aaaaa!!! Ada orang yang melompat ke laut untuk bunuh diri!!!"
Saat Wen Chan terjun ke dalam laut, seorang tamu penting di ruang lelang yang berada dekat jendela kebetulan melihatnya jatuh, seketika menjerit histeris.
Suasana lelang langsung menjadi kacau balau.
Wen Chan yang kebetulan mendengarkan teriakan itu: "..."
Ia ke sana untuk menyelamatkan orang, bukan mau bunuh diri!!